
"Almira kemana sih? Padahal sekarang ada pelatihan lagi, kan jadi gue yang repot."
Suara dengan nada kesal sambil melihat ke kanan dan ke kiri menatap sekeliling yang sudah sepi karena semua peserta sudah berkumpul di lapangan tempat pelatihan mereka, akan tetapi dirinya yang bukan peserta malah di sibuk kan untuk mencari sahabatnya yang tiba tiba menghilang tidak tau kemana.
Dirinya ke tempat pelatihan ini adalah bekerja, jadi dirinya di perboleh kan oleh ketua pusat yang mengada kan pelatihan tersebut berkat perizinan dari Kenzo tentunya.
Gadis itu menepuk keningnya keras sehingga dirinya meringis merasa kan panasnya dan sakitnya di kening karena kebodohannya sendiri, mengingat tentang Kenzo membuat dia menghela nafas lelah tidak ada pikiran sama sekali saat mengingat kalau Almira adalah istri dari Kenzo yang sekarang bertugas menjadi Kapten di pelatihan ini.
"Pasti Almira ke ruangannya, dasar Danera bodoh kenapa tidak berpikiran sama sana sih, kan jadi capek sendiri cariin bocah somplak itu. Ngeselin banget ih." gerutu Danera dengan nada kesal.
Mengambil kamera yang berada di dalam tas selempangnya dan mengarah kan ke arah taman belakang yang indah, tetapi saat memencet tombol cekrek tiba tiba saja ada wajah yang membuatnya muak dan kesal terpampang nyata di layar kameranya sehingga taman yang indah tidak terlihat.
Dengan wajah kesalnya Danera, gadis itu menatap pria yang malah menampil kan wajah senyum yang bagi Danera sangat memuak kan membuat kesapalan tangan kirinya yang berada di saku hoodie mengerat tanpa sengaja.
"Sedang apa kamu di sini, sayang ku?" tanya pria tersebut sambil menatap ke arah Danera dengan pandangan menggoda dan jangan lupa kan dengan sebelah alisnya yang naik turun.
"Sayang pala lo peyang hah." sahut Danera dengan suara lantang dan keras karena dirinya sudah muak dan kesal kepada pria yang ada di depannya.
Danera membalik kan badannya bersiap untuk pergi meninggal kan pria tersebut, tapi baru satu langkah lengannya di pegang membuat gadis itu berhenti dan menoleh kan kepalanya menatap ke arah pria tersebut dengan tatapan kesal. Dengan cepat Danera menghempas kan tangannya sehingga genggaman di lengan Danera terlepas dengan sekali hentak kan dan Danera menatap pria tersebut dengan tatapan datar tapi di kedua matanya terpancar kekesalan yang sangat tingkat tinggi.
"Maaf, maaf untuk kesalahan ku tentang semuanya Dan. Maafin aku." ucapan itu terdengar tulus tapi bagi Danera hanya angin yang berlalu saja sehingga membuatnya memutar bola matanya malas.
"Rio, gue benar benar muak sama lo." tungkas Danera sambil menunjuk ke arah pria yang berada di depannya dengan jari telunjuknya.
Ya, pria itu adalah Rio sang mantan kekasih dari Danera. Makanya Danera sangat muak dan kesal saat di depan pria tersebut, karena saat dirinya bersitatap dengan Rio maka Danera seketika mengingat bagaimana Rio berselingkuh di belakangnya.
Almira sangat menyesal sudah memberi kan cintanya ke pria tersebut saat mereka sudah pacaran, sebenarnya mereka pacaran karena terpaksa saat Rio menembaknya tanpa minta persetujuan atau pun jawaban darinya. Tetapi saat hati Danera sudah mulai cinta ke Rio, pria tersebut malah menyelingkuhi dirinya.
Rasa sakit dan menyesal, sekarang hanya ada perasaat itu lah di dalam hatinya untuk seorang Rio.
"Dan, jangan seperti ini. Kita bisa memulainya dari awal lagi, gue janji tidak akan melaku kan kesa-"
"Diem lo, lebih baik lo tidak perlu bicara sama gue. Gue benar benar muak sama tingkah lo Rio, dengan bodohnya gue malah masih kepikiran sama lo. Tetapi tenang saja, sekarang ini gue sudah bisa menghilang kan lo dari pikiran gue. Tidak di pikiran saja, melain kan di hati gue juga. Jadi, tidak ada lagi memulai dari awal sama lo. Paham hah?" ucap Danera lalu pergi meninggal kan Rio dengan diam tanpa mencegah.
Melihat punggung Danera yang mulai menjauh dan perlahan menghilang membuat Rio menatap lekat dan dalam tanpa mau mengalih kan pandangannya, mencoba untuk mencerna ucapan dari gadis yang dia cintai.
"Berarti kamu masih mencintai ku Danera, sangat lucu sekali beruang kecil ku ini. Kamu tidak akan pernah bisa pergi dari ku, tidak akan pernah. Karena aku akan pasti kan kalau kamu selalu bersama ku, kamu akan menjadi milik ku sebentar lagi, tunggu saja Danera Kuiland." ucap Rio dengan senyuman smirknya lalu membenar kan tatanan topi dinasnya dan pergi meninggal kan taman yang indah menjadi saksi di antara mereka.
"Apa semua ini besti? Sangat rumit sekali kisah Danera dan Rio, kasihan sekali sahabat ku ini." gumam seseorang yang sejak tadi melihat dan mendengar kan pembicaraan mereka di balik pohon bersama sang suami yang menatap datar ke arahnya karena kesal dengan rencana istrinya untuk mengintip pasangan gagal move on tersebut.
***
"Beruntung saja tadi lo tidak terlambat karena Kapten Kenzo belum datang, Al."
__ADS_1
Suara yang mulai pembicaraan mereka yang pastinya di mulai oleh gadis cerewet dari se kamar dengan Almira tentunya. Ke lima perempuan yang duduk di tempat meja kantin berada di tengah tengah, lumayan jauh dengan tempat duduk para anggota Polisi sehingga membuat mereka lebih leluasa membicara kan apa pun.
Almira menoleh ke arah seseorang yang menatap kesal, tetapi saat Almira menoleh ternyata dia adalah Danera yang sangat kesal kepadanya, sangat terlihat sekali dari tatapan kedua matanya dan raut wajahnya membuat Almira menyengir dan menunjuk kan tanda peace saat dirinya melahap makanannya sehingga hanya sahabatnya yang mengetahui tanda peace tersebut. Danera memaling kan pandangannya ke arah makanan yang ada di depannya dan langsung nelahap makanan tersebut dengan kesal membuat Almira meringis melihatnya.
Almira lalu mengalih kan pandangan saat mendengar bisik bisikan dari tempat sebelah mereka makan, tidak jauh beda dengan teman temannya juga menoleh ke arah dua perempuan yang tersipu malu.
"Kapten Kenzo sedari tadi menatap gue, mleyot gue..."
"Kapten Kenzo itu lihatnya ke gue bukan lo kelles, Kapten juga pemilih lah pastinya dia milih yang cantik kaya gue."
Bisikan itu terus saja mereka dengar membuat teman teman se kamar Almira mendengus kesal dan memutar bola matanya malas, karena dua perempuan itu cewek judes dan memakai pakaian terbuka membuat mereka semua para peserta tidak suka kepada dua perempuan tersebut.
Berbeda lagi dengan Danera yang langsung menatap ke arah Almira yang hanya menghela nafas pelan membuatnya mengelus bahu sahabatnya dengan pelan tidak ada yang menyadari. Almira menoleh ke arah sahabatnya dengan raut wajah murung membuat pria yang sejak tadi menatap ke arahnya mengerut kan kening kecil sehingga hanya terlihat raut wajah datar saja.
Kenzo sedari tadi menatap ke arah Almira tanpa mau mengalih kan pandangan membuat para anggota Polisi lainnya kecuali Rio tentunya menatap heran dan menebak nebak, tidak tau saja sebenarnya Rio mendengus kesal melihat sahabatnya yang super bucin sekali.
"Gue ke kamar mandi dulu ya, titip loh, jangan di habisin, awas saja." ujar Almira dengan nada bercanda membuat mereka tertawa melihatnya dan mengangguk.
Melihat persetujuan dari mereka membuat Almira berdiri dari tempat duduknya lalu pergi meninggal kan kantin dan dengan cepat Kenzo pun juga pergi dari kantin mengikuti Almira tapi lumayan jauh dengan jarak keluar wanitanya. Saat berada di depan toilet perempuan, tangan Almira tiba tiba ada yang mencengkal membuatnya berhenti dari langkahnya dan menoleh ke arah si pelaku yang membuatnya berhenti.
Saat mengetahui siapa yang memberhenti kan dirinya, Almira menoleh ke kanan dan ke kiri melihat apa ada orang atau tidak di sekitarnya.
Sepi, aman baginya lalu menatap ke arah seseorang yang berada di depannya dengan raut wajah datar tanpa ekspresi.
Almira tentu terlonjak terkejut dan membelalak kedua matanya seperti ingin protes tapi saat melihat raut wajah datar tatapan yang sulit di arti kan dari Kenzo membuatnya untuk mencoba bersikap biasa saja.
"Kamu yang kenapa sayang? Apa ada orang yang membuat mu tidak nyaman? Bilang ke aku sekarang juga, akan ku basmi me-"
"Mas..." tegur Almira memotong ucapan Kenzo yang sudah bernada emosi dan Almira langsung mengelus rahang tegas milik sang suami agar emosinya mereda.
Perlakuan Almira sangat manjur untuk Kenzo, pria itu menghembus kan nafasnya pelan pelan sambil menatap sang istri dengan lembut membuat Almira tersenyum manis dan tangan Kenzo menangkup kedua pipi Almira dengan mengelus pipi cubby tersebut dengan ibu jarinya saja.
"Kalau kamu tidak mau cerita siapa yang telah membuat kamu tidak nyaman, maka aku akan mencarinya sendiri sayang." ucap Kenzo yang merubah nadanya menjadi lembut sambil mengelus pipi cubby milik Almira dengan lembut juga.
"Tidak ada Mas, cuman mau ke kamar kecil saja. Lepasin tangannya, udah kebelet banget..." ujar Almira dengan suara kecil di akhir karena dirinya malu yang malah di balas oleh Kenzo senyuman geli dan menjawil hidung Almira lalu melepas kan pegangan di pinggang ramping, sehingga Almira lalu berlari terbirit birit ke kamar kecil yang di tatap oleh Kenzo.
Kenzo malah terkekeh melihat punggung Almira yang mulai masuk ke toilet dengan terburu buru.
"Jangan tertawa mengejek kamu Mas, awas saja kamu." teriak Almira yang sudah berada di dalam toilet yang masih mendengar tawa suaminya dari luar meskipun kecil, terdengar karena sepi.
"Ampun sayang ku..." jawab Kenzo dengan berjalan bersandar di dinding sebelahnya dan mencoba untuk menahan tawanya agar tidak di dengar oleh istrinya.
Tiba tiba saja raut wajahnya berubah menjadi datar tanpa ekspresi, lalu tersenyum seringai menatap ke bawah ke arah sepatu hitamnya.
__ADS_1
"Siapa pun yang membuat kamu tidak nyaman, akan ku basmi dan ku hilang kan tanpa sisa. Karena yang penting adalah istri ku, Almira ku agar tetap nyaman dan bahagia tanpa ada rasa sedih." batin Kenzo yang makin melebar kan senyum seringainya.
Berbeda dengan Almira yang berada di dalam toilet sedang memikir kan pembicaraan dua perempuan tadi yang berada di kantin tadi, mendengar tidak ada suara di luar membuat Almira menghela nafas karena pastinya Kenzo sudah pergi lebih dulu meninggal kan dirinya.
"Benar ucapan mereka, kalau Kenzo pasti memilih perempuan yang cantik dan berpendidikan tinggi, lah gue saja cuman pendidikan SMA terus gak cantik cantik banget, jauh beda sama mereka." ujar Almira sambil menyender kan bahunya ke pintu toilet yang besi sehingga menimbul kan bunyi tapi Almira hanya acuh saja.
Almira lagi dan lagi menghela nafas panjangnya sambil menatap ke atas.
"Apa gue tidak pantas untuk Kenzo yang sempurna itu? Sepertinya benar kalau gue tidak pantas buat Kenzo, pilihan yang tepat untuk menyembunyi kan status hubungan pernikahan ini dari pelatihan ini." lanjut Almira dengan menghela nafas panjang lagi.
"Oma, kenapa Oma memilih pasangan hidup buat aku yang sempurna seperti Kenzo? Aku takut Oma, hati ku jadi ragu sama Kenzo. Apa lebih baik aku menjaga jarak dari Kenzo saat kami masih di area pelatihan ini? Apa menjaga jarak sama Kenzo adalah pilihan terbaik?" ucap Almira sambil memijat keningnya yang merasa pusing.
"Sepertinya harus seperti itu, huh... Mulai sekarang aku akan menjaga jarak sama Kenzo, harus bisa. Semangat Almira, semangat." ujar Almira dengan nada semangat yang berkobar lalu membenar kan hijab pasminanya agar helaian rambutnya tidak keluar.
Tanpa di ketahui Almira, sedari tadi Kenzo sudah mengepal kan kedua tangan karena emosi saat mendengar ucapan dari istri tercintanya. Dia sangat tidak suka kalau Almira akan menjauhinya, tidak akan pernah pikir Kenzo.
"Tidak akan ku biar kan sayang, akan ku buat mereka yang membuat kamu menjauhi ku hilang di telan bumi dengan cara ku sendiri." batin Kenzo lalu pergi dengan langkah pelan agar tidak di ketahui Almira kalau masih ada dirinya.
Kenzo langsung saja masuk ke dalam ruangannya dengan membanting pintu saat menutup dan menguncinya, lalu tiba tiba membanting semua barang di atas mejanya sehingga berserak kan ke mana mana. Amarahnya masih ada di dalam dirinya karena mendengar ucapan sang istri tercinta, dia sangat tidak suka dengan keputusan Almira yang memilih untuk menjaga jarak dengannya.
Kenzo mengambil ponsel yang ada di dalam saku celana lalu mengetik nomor seseorang dengan raut wajah datar tanpa ekspresi dan tatapan tajam dari kedua matanya.
"Cari siapa pun yang telah membuat istri gue tidak nyaman saat di kantin tadi, gue tunggu lima menit dari sekarang. Lo harus bisa nemuin siapa pun itu, Rio." ucapnya lalu memati kan sambung ponselnya dengan sepihak tidak mendengar jawaban dari si penerima telepon yang sedang mendengus kesal melihat layar yang sudah bewarna hitam.
"Sahabat gue makin gila, mengeri kan..." lirih Rio langsung beranjak dari tempat duduknya yang dari tadi berada di kantin menatap ke arah Danera dengan langkah cepat membuat gadis yang sejak tadi tatap langsung menatap balik ke arah Rio dengan raut wajah heran dan juga penasaran tentunya.
Puk.
"Hey, kenapa lo?"
Suara dan tepukan di bahu Danera membuat gadis itu langsung menoleh mengalih kan pandangannya menatap ke arah Almira yang mulai duduk di tempatnya semula dengan tatapan bertanya, langsung saja Danera menjawab dengan gelengan kepala yang membuat Almira mengangguk kan kepala lalu melanjut kan makannya yang tertunda dengan nikmat.
Almira tidak tau saja kalau dirinya sudah membuat singa yang sedang mengamuk sekarang ini, tapi malah perempuan itu makan makanannya dengan nikmat tanpa beban. Teman teman se kamarnya hanya menatap dengan diam saja ke arah Danera dan Almira, mereka mengetahui privasi dari dua perempuan tersebut makanya mereka tidak berani hanya mengaju kan pertanyaan.
Mereka menghormati privasi dari dua perempuan yang berada di depannya ini. Mereka juga senang mendapat kan teman yang seperti Almira dan Danera, mereka juga banyak sekali belajar tentang apa pun.
"Yaah... Kapten Kenzo tidak kembali... Ayuk ke kamar kalau begitu." ucapan dari dua perempuan yang berada di samping tempat meja makan lima perempuan itu langsung pergi dengan nada kecewa.
Danera langsung menatap ke arah Almira dengan menaik kan satu alisnya bertanya dan di jawab oleh Almira dengan menaik kan bahunya tidak tau meskipun dengan kecil yang langsung di mengerti oleh sahabatnya.
"Yang sabar ya, begitu lah kalau mempunyai suami yang tampan." bisik Danera dengan pelan mencoba untuk menghibur sahabatnya sambil mengelus bahunya dengan pelan.
Almira menjawab dengan angguk kan kecil dan senyuman tipis ke arah Almira lalu melanjut kan makannya lagi.
__ADS_1
"Pilihan yang tepat untuk menjaga jarak dari Kenzo untuk sementara waktu, maaf kan aku Mas. Tapi, ini yang terbaik untuk kita." batin Almira mencoba untuk menghibur dirinya sendiri juga.