Suami Pilihan Oma

Suami Pilihan Oma
SERATUS DELAPAN END


__ADS_3

"Sayang, kamu sedang apa? Kenapa mengacuh kan aku?"


Pertanyaan dengan nada rengekkan keluar dari mulut Kenzo yang sedang duduk di atas brankar tempatnya berbaring, sudah beberapa hari ini Kenzo berada di rumah sakit karena sedang proses penyembuhan untuk penyakitnya atas paksaan dari Almira tentunya.


Tim kepolisian yang tempat Kenzo bertugas pun sudah memberi kan izin untuk istirahat terlebih dulu dan juga para teman teman dari anggota Polisi pun sudah datang menjenguk sang Kapten yang sedang berada di rumah sakit.


Almira yang sedang melipat lipat baju Kenzo yang kotor dan juga perempuan hamil besar itu selalu bolak balik ke rumah sakit dan rumah, meskipun waktu itu dilarang keras oleh Kenzo karena sangat khawatir dengan mereka.


Tetapi namanya Almira itu sifatnya keras kepala sehingga Kenzo hanya bisa pasrah dan selalu membawa bodyguard untuk sang istri saat pulang mengguna kan taxi.


Siang ini adalah waktunya Almira untuk pulang ke rumah seperti biasa menyelesai semua pekerjaan yang tidak bisa di cegah siapa pun, sebenarnya Kenzo merasa kan aneh dengan tingkah Almira akhir akhir ini. Tetapi saat pria itu menanya kan ada apa, Almira dengan semangat mengata kan kalau dirinya akan menjadi ibu sebentar lagi karena usia kandungannya sudah memasuki sembilan bulan.


Kenzo sangat senang mendapat kan jawaban itu, tapi di hatinya ada perasaan yang aneh dengan Almira istrinya, ada kejanggalan yang tidak bisa di pahami oleh Kenzo tentunya.


Tetapi Kenzo mencoba untuk menghilang perasaan anehnya itu dan tidak mau mengganggu waktu bahagia Almira dengan perasaan aneh yang di dalam hatinya.


"Sayang, mau peluk." ucap Kenzo lagi yang hanya di acuh kan perempuan itu yang sedang memberes beres kan sekelingnya yang sedikit berantak kan karena tadi ada keluarga besar dari Kenzo datang menjenguk dan juga banyak sekali anak kecil.


"Mas, aku tadi senang banget saat melihat adek sepupu kamu yang masih bocil bocil itu, mereka lucu. Aku jadi tidak sabar untuk menanti kan anak kita Mas." ucap Almira yang tiba tiba menatap ke arah Kenzo dan sudah duduk di kursi samping brankar milik Kenzo menatapnya dengan pandangan berbinar membuat Kenzo tersenyum senang melihat sang istri.


"Kita juga habis ini mempunyai bocil sayang." ujar Kenzo dengan nada gemas dan mencuri ciuman ke bibir mungil Almira dengan cepat lalu menjauh kan wajahnya saat mendapati raut wajah melotot tidak terima sang istri.


Kenzo tersenyum lebar menatap raut wajah kesal dari Almira, perempuan itu makin terlihat sangat menggemas kan di mata Kenzo.


Cup.


Cup.


Cup.


"Wlek, kamu kalah Mas sama aku." ujar Almira mengejek ke arah Kenzo dengan memelet kan lidahnya dengan senyum merekah di bibirnya setelah mencium bibir Kenzo dengan cepat dan berkali kali membuat pria itu terdiam membeku.


Kenzo tidak menyangka kalau Almira akan membalasnya seperti ini, dirinya kira Almira akan marah marah atau kesal kepadanya karena telah mencuri ciuman di bibir dengan tiba tiba meskipun itu hanya sebentar.


"Ku kira kamu bakal ma-"


"Marah? Tentu tidak lah, Mas." sahut Almira memotong ucapan Kenzo sambil mencubit sebelah pipi suaminya itu dengan senyuman lebar dari sebelumnya.


Kenzo tersenyum juga meskipun tidak selebar Almira, tiba tiba saja perasaannya mulai aneh seperti sebelumnya yang mencoba untuk dia hilang dan sekarang malah perasaan itu datang lagi.


"Sini peluk, katanya mau peluk. Tetapi ingat, jangan sampai kegencet, awas saja kamu Mas." ucap Almira sambil meretang kan kedua tangannya lebar lebar membuat Kenzo langsung memeluknya sangat erat tetapi tidak terlalu membuat Almira kesakitan melain kan perempuan itu merasa nyaman sampai sampai memejam kan kedua matanya.


"Aku sangat mencintai kamu Mas, terima kasih untuk semuanya. Aku sangat beruntung mendapat kan pasangan hidup yaitu kamu, terima kasih Mas Suami yang ku sayang." ucap Almira dengan nada lembut tanpa melepas kan pelukan mereka karena dirinya merasa hangat dan nyaman sekali saat berada di pelukan sang suami.


Kenzo yang mendengar itu perasaannya menjadi berbunga bunga dan sangat senang, hilang sudah perasaan aneh yang tadi sekarang terganti kan perasaan bahagianya.


Kenzo mengelus elus bahu Almira dengan tangan kekarnya dengan gerak kan lembut dan ke hati hatian.


"Sebenarnya waktu kita masih kecil, aku sudah mulai egois sama kamu Mas. Waktu itu, sebenarnya aku lah yang membully mereka dan saat kamu datang aku yang menjadi korban. Aku tidak mau kalau kamu sama perempuan lain, dulu waktu kita masih kecil aku selalu kesal saat kamu jalan bareng atau pun kerja kelompok bareng sama perempuan selain aku. Maaf, Mas." ucap jujur dari Almira membuat pelukan mereka terlepas dan saling menatap, Almira menatap ke arah Kenzo dengan tatapan bersalah dan takut kalau pria itu marah karena dirinya sudah berbohong.


Kenzo malah tersenyum lebar bukannya marah seperti pemikiran Almira dan Almira juga mendapat kan ciuman di keningnya sangat lama dan dalam seperti sedang menikmati rasa hangat yang menjalar di tubuh mereka satu sama lain.


"Aku sudah tau sayang kalau kamu seperti itu saat kita masih kecil." ujar Kenzo dengan nada santai membuat kedua mata Almira membola karena terkejut.


"Kamu... Tau dari mana?" tanya Almira dengan nada bingung menatap senyuman lebar dari Kenzo dan tatapannya yang sulit dia arti kan, yang tidak bisa di fahami oleh perempuan hamil itu.


"Aku tau sendiri, sebenarnya sebelum kamu jadi korban aku lebih dulu sudah datang dan melihat perlakuan kamu kepada mereka." jawaban santai dari Kenzo sambil mendekat kan wajahnya ke wajah Almira sehingga hidung mereka sudah menempel.


"Terus, kenapa kamu malah membantu aku bukannya mereka? Dan juga kalau kamu sudah tau kenapa kamu tidak marah atau pun benci sama aku karena sudah membully mereka? Kan itu sama saja perbuatan tercela, Mas." tanya Almira dengan deretan pertanyaan beruntun dari Almira membuat Kenzo menggesek gesek kan ujung hidungnya ke ujung hidung milik Almira karena gemas melihat raut wajah yang sangat imut yang ada di depannya.


"Karena aku mencintai mu." ujar Kenzo dengan nada serius dan serak serak yang membuatnya terlihat sangat seksi di kedua mata Almira sekarang ini sehingga membuat perempuan itu menelan salivanya susah payah dan semburat merah sudah ada di kedua pipinya.


Cup.


Kenzo menempel kan bibirnya ke bibir Almira lalu ********** pelan dan lembut membuat perempuan itu seketika terbuai sehingga kedua tangan Almira mengalung kan ke leher Kenzo dan juga memejam kan kedua matanya yang membuat Kenzo tersenyum tipis di sela sela ciuman mereka.


Seseorang di balik layar besar sedang menatap adegan sepasang suami istri dengan kepalan yang sangat erat, jauh di lubuk hatinya kalau sebenarnya dia masih mencintai Almira tetapi dia mencoba untuk menutup perasaan itu sangat rapat sehingga hanya ada dendam di hatinya.


Tatapan yang mengisarat kan cemburu tetapi raut wajahnya mengeras, sangat berbeda sekali dari kedua matanya yang mengata kan jujur bagaimana perasaannya sebenarnya.

__ADS_1


"Sialan." umpat seseorang itu lalu membanting layar yang ada di depannya sehingga terjatuh ke lantai dingin dan layarnya berubah menjadi gelap di sertai retak kan di layarnya tersebut.


Brak.


***


"Mas aku pulang dulu ya, kamu jangan nakal kalau aku tinggal. Assalamualaikum."


Pamit Almira lalu memeluk tubuh Kenzo yang menatapnya bingung karena pelukan itu, tetapi saat melihat Almira yang menggerling kan kedua matanya berniat menggoda Kenzo membuat pria itu terkekeh kecil melihatnya. Almira itu ada ada saja kelakuannya, sangat aneh tetapi lucu.


"Mau di cium kening sama kamu Mas." ucap Almira lagi yang malah membuat Kenzo tertawa.


Aneh aneh saja istri tercinta ini, tanpa banyak bicara Kenzo langsung saja membawa kepala Almira untuk mendekat ke arahnya karena Kenzo sedang duduk di brankar karena baru saja selesai pemeriksaan di lab sehingga membuat pria itu masih lemas.


Cup.


Kenzo mengecup kening Almira sangat lama menikmati perasaan nyaman di antara mereka masing masing sehingga kedua mata terpejam, Almira tersenyum tipis karena senang dan bahagia.


"Dadah Mas, selamat tinggal..." lambaian tangan dari Almira dengan senyuman lebar membuat Kenzo ikut tersenyum lebar dan melambai kan tangan ke arah sang istri dengan semangat meskipun tubuhnya sekarang masih merasa kan lemas.


Ceklek.


Setelah pintu ruangan Kenzo tertutup dan sudah tidak terlihat lagi tubuh sang istri, pria itu masih mempertahan kan senyumnya yang masih bahagia dan senang karena perempuan di cintainya.


"Ibu hamil makin menggemas kan..." gumam Kenzo dengan nada pelan sambil menunduk menyembunyi kan rona merah.


Di tempat lain, seorang pria memakai pakaian serba hitam dan juga topi hitam menampil kan senyuman seringainya lurus ke depan yang masih berada di mobil bewarna hitam tanpa plat nomor.


Melihat seorang perempuan yang sudah masuk ke dalam mobil taxi yang sejak tadi pria itu tunggu membuatnya menyeringai lebar, saat mobil taxi itu sudah jalan langsung saja pria yang berkendara mobil hitam itu mengikuti dari belakang yang jaraknya cukup dekat dengan mobil taxi.


Melihat ke kanan ke kiri, jalan raya yang mulai sepi membuatnya tersenyum seringai lalu memasang masker bewarna hitam sehingga wajahnya tidak terlihat, yang terlihat hanya kedua matanya saja yang menatap penuh dendam lurus ke depan.


"Selamat datang di Neraka, perempuan bodoh." ucapnya lalu memaju kan mobil hitamnya sehingga menabrak mobil taxi yang ada di depannya, saat mobil hitam itu berhenti di tengah jalan berbeda lagi dengan mobil taxi itu yang tertabrak pohon besar sehingga menimbul kan suara kecelakaan yang cukup nyaring membuat pria yang berada di dalam mobil hitam tersenyum seringai dan melaju kan mobilnya dengan kecepatan tinggi.


Brak.


***


"Iya, ini saya sendiri. Kenapa handphone istri saya ada di anda?"


"Istri anda mengalami kecelakaan di jalan Asahi nomor delapan, sekarang sudah berada di rumah sakit Medika-"


Tut... Tut... Tut...


Belum sempat suara di seberang telepon melanjut kan kata katanya, langsung saja Kenzo melepas infusnya dan berlari keluar dari ruangannya, beruntung saja rumah sakit Medika adalah rumah sakit yang sekarang dia inap.


Saat keluar ruangan betapa terkejutnya semua keluarga saat melihat Kenzo yang di landa kepanik kan dan ada darah di punggung tangan Kenzo bekas infus, Edo langsung saja mencengkal sebelah tangan Kenzo sehingga pria itu berhenti dan ke arah laki laki itu dan menatap sekeling.


"Ada apa? Apa ada masa-"


"Almira kecelakaan!" jawaban Kenzo yang memotong ucapan Edo membuat semua makin terkejut dan terdiam membeku di tempat.


"Maksud lo apa?" tanya Justin dengan pandangan datarnya ke arah Kenzo sangat serius, Justin sangat tidak suka kalau bercanda menyangkut keadaan Almira.


"Gak usah banyak bicara, cepat." ujar Kenzo lalu berlari ke arah perawat yang berada di ruang tamu sedang melayani pasien lainnya untuk mendaftar.


"Pasien yang baru saja datang karena kecelakaan dimana?" tanya Kenzo dengan nada datar tetapi raut wajahnya sangat frustasi dan khawatir.


"Oh yang ibu hamil itu? Sekarang masih berada di ruang operasi, kare-"


Perawat itu tidak melanjut kan ucapannya karena semua orang yang tadi bertanya langsung pergi tanpa menunggu kelanjutan ucapannya.


Tampilan baju pasien Kenzo sudah tidak rapih dan rambutnya sudah acak acak kan tetapi pria itu janya acuh saja karena pikirannya hanya terlintas satu nama yaitu Almira sang istri. Tidak jauh beda dengan Kenzo, para sepupu laki laki dari Almira sangat khawatir dan takut kalau yang di kata kan Kenzo dan perawat itu benar kalau itu adalah Adek sepupunya.


Di depan ruang operasi sudah ada pria paruh baya dan wanita paruh baya sedang menatap ruang tersebut sambil memegang ponsel yang di kenali oleh Kenzo membuat hatinya terasa sesak.


"Permisi, apa benar di dalam ruangan itu ada perempuan hamil dan juga korban kecelakaan?" tanya Kenzo dengan nada beratnya karena menahan rasa sesak yang di hatinya mencoba untuk menahan.


"Iya benar, anda yang tadi saya telpon kan? Ini pak ponsel korban, kalau gitu saya permisi." ucap pria paruh baya itu sambil mengembalik kan ponsel di tangan Kenzo yang menatap ke arah benda tersebut lalu pergi meninggal kan mereka yang terdiam.

__ADS_1


Kenzo masih menatap kosong ke arah ponsel yang sudah ada di genggamannya, lalu tiba tiba saja suara pintu terbuka membuat lamunan pria itu buyar dan menampil kan seorang perempuan memakai jas dokter sehingga mereka semua mendekat ke arahnya.


"Dengan keluarga Nona Almira?" tanya Dokter perempuan itu dengan menatap ke arah mereka yang berjumlah cukup banyak.


"Iya, saya suaminya. Ada apa Dok? Apa istri dan calon anak saya baik baik saja?" ujar Kenzo bertanya beruntun sambil meremas ponsel yang ada di genggamannya untuk menghalau pikiran pikiran negatif yang tiba tiba muncul.


"Nona Almira sudah bangun, tetapi saya minta maaf karena saya harus menyelamat kan salah satu dari pasien. Ibunya atau anaknya, secapatnya keluarga pasien harus memberi keputusan kepada kami. Mari pak untuk masuk dan berdiskusi dengan Nona Almira. Tetapi sebelumnya kami sudah bilang ke Nona Almira tentang ini dan jawabannya adalah Nona Almira ingin menyelamat kan kandungannya. Maaf, ini saja yang bisa kami lakukan. Salah satu nyawa hanya bisa tertolong." ucap Dokter perempuan itu lalu masuk ke dalam ruangannya lagi meninggal kan mereka dengan keadaan yang tidak baik baik saja.


Suara tangis pilu sudah terdengar di telinga Kenzo membuatnya menunduk kan kepalanya tidak seperti biasanya yang selalu mengangkat kepala.


Perasaannya hancur seketika saat mendapat kan jawaban dari sang istri yang lebih memilih anak mereka dari nyawanya sendiri.


Ceklek.


Kenzo membuka pintu dengan pelan berjalan memasuk ruangan tersebut yang sudah ada Almira sedang terbaring lemah banyak dari di seluruh tubuhnya membuat air mata yang sejak tadi dia tahan tiba tiba menetes dengan deras. Melangkah cepat lalu memeluk tubuh Almira dengan erat sambil menangis dengan diam tidak ada suara isak tangis, rasanya sangat menyakit kan di hati Kenzo.


"M- Mas..." panggil Almira dengan nada terbata bata karena dirinya mengeluar kan suara sangat susah.


"Jangan tinggal kan aku.... Ku mohon jangan... Aku janji tidak akan nakal dan aku pasti lebih menurut sama kamu sayang, jadi jangan pergi. Ku mohon..." racau Kenzo dengan geleng geleng kepala masih memeluk tubuh terbaring Almira.


"Mas... Jaga anak kita... Aku mau dia yang hidup... Aku mencintai mu Mas..." ujar Almira dengan nada terbata bata dan helaan nafas tidak beraturan.


"Dokter, selamat kan anak ku..." ucap Almira menatap ke arah Dokter perempuan itu yang sudah berkaca kaca kedua matanya melihat sepasang suami istri.


"TIDAK.... TIDAK.... SAYANG AKU TIDAK MAU KAMU PERGI.... SAYANG..... HEY, KAMU TIDAK BOLEH PERGI, TIDAK BOLEH. AKHHHH...." teriakan sangat kencang membuat Edo, Alex, Justin, Eza di ambang pintu menatap sedih lalu menarik badan Kenzo yang tidak mau lepas dari Almira.


Mau tidak mau mereka harus melepas kan dengan paksa, Kenzo tetap berteriak sangat kencang mencoba untuk menghenti kan pergerak kan sang Dokter yang mendekati istri sedang tersenyum manis ke arahnya.


"SAYANG, AKU TIDAK MAU.... AKU TIDAK MAU SAYANG... AKU MOHON, AKU MOHON SAYANG.... AKU MOHON...." racau Kenzo makin kencang sehingga sang Ayah dari pria itu ikut menahan tubuh Kenzo yang terus berontak.


Saat pintu ruang operasi itu sudah tertutup dan mereka langsung melepas kan Kenzo yang mulai menggedor gedor pintu tidak mempeduli kan di sekitarnya yang sekarang menatap ke arah pria tampan itu yang sangat kacau sekali.


"SAYANG, JANGAN TINGGAL KAN AKU... AKU MOHON... AKU MOHON...." teriak Kenzo terus saja menggedor gedor pintu ruangan tersebut tanpa henti.


Keluarga mereka yang memandang Kenzo yang sangat kacau membuatnya menatap iba dan sedih karena pasangan suami istri itu sangat kuat menghadapi semua ini.


"Aku mohon sayang..." lirih Kenzo meluruh ke bawah lantai dingin dengan menunduk di depan pintu ruangan tersebut.


Tidak jauh beda dengan kenzo, Edo dan yang lain para sepupu laki laki dari Almira menatap ke bawah. Mereka sangat sedih, sangat.


Ceklek.


Pintu ruangan operasi terbuka yang menampil kan Dokter perempuan sehingga semua menatap ke arahnya dan Kenzo langsung berdiri menunggu jawaban baik dari Dokter tersebut dengan keadaan istrinya.


"Selamat anak Bapak berjenis laki laki dan juga sehat, tetapi maaf untuk sang Ibu tidak bisa di selamat kan. Waktu kematian jam 14.30 WIB. Saya turut berduka cita." ucapan Dokter perempuan itu seketika kaki Kenzo terasa lemas seperti jelly sehingga tidak bisa menyanggah dirinya untuk berdiri.


Kenzo menatap kosong ke arah depan yang menampil kan tubuh kaku terbaring lemah di brankar tersebut, tetapi bagi Kenzo istrinya itu masih kelihatan cantik meskipun wajahnya pucat. Melangkah pelan menghampiri tubuh istrinya itu dan menatap dengan tatapan sendu, menggenggam sebelah tangan istrinya lalu mencium punggung tangan dan beralih mengecup kening istrinya itu dengan lembut dan lama.


"Ternyata ucapan selamat tinggal yang keluar dari mulut kamu benar benar membuat ku sesak, ciuman dan pelukan terakhir itu juga sangat sesak saat aku tidak menyadari tingkah aneh kamu sayang. Anak kita laki laki tampan sayang, aku akan kasih nama Zoal, Rainer Zoeal Samudra." bisik Kenzo tepat di samping telinga Almira dengan nada serak karena menahan air matanya yang mau turun.


***


ALMIRA SAYYIDA SAMUDRA yang bertulis kan di batu nisan itu yang sudah di makam kan sore itu juga meskipun menunggu adzan ashar terlebih dahulu, banyak sekali orang yang datang ke pemakaman Almira karena perempuan itu mempunyai bisnis dua yaitu perusahaan dan butik, perempuan itu juga memiliki banyak teman.


Sejak tadi Danera sudah menangis menatap gunduk kan yang banyak sekali bunga bunga bewarna warni, dia merasa gagal dan juga dia sangat kesal kepada Nera yang tidak bisa pulang ke negara Indonesia. Tadi setelah di hubungi oleh Justin, perempuan itu langsung saja memesan pesawat terbang meskipun hanya luar kota. Selama perjalan pun Danera menangis dengan diam tanpa isakkan yang keluar dari mulutnya.


Berbeda lagi dengan Kenzo yang hanta menatap kosong ke arah batu nisan yang bertulis kan nama sang istri dan menatap foto pigura yang cukup besar di depan batu nisan tersebut. Tidak ada yang tau kalau sebenarnya kedua matanya sudah memerah jarena pria itu memakai kacamata hitam.


Rasa sesak di dalam hatinya sangat kerasa sekali saat melihat senyum manis Almira yang ada di foto pigura tersebut.


"Kenzo, ayo pulang." ajak Rio sambil menepuk bahu sahabatnya itu dengan pelan yang hanya di jawab dengan deheman saja dari Kenzo.


Semua orang sudah mulai pergi satu persatu setelah melafal kan doa untuk sang istri, tepuk kan pelan di terima Kenzo lagi saat melihat ternyata Edo yang mengangguk seperti mengajak untuk bangkit.


"Duluan saja." ucap Kenzo membuat Edo langsung menghembus kan nafasnya pelan.


Edo mengerti bagaimana perasaan Kenzo sekarang ini, dia juga merasa kan sesak yang sangat luar biasa saat melihat tubuh kaku dari Adek perempuan satu satunya yang selama ini dia jaga. Lalu Edo menjauhi Kenzo yang masih menatap dan duduk dekat dengan pemakaman dari sang istri.


"Sayang, sepertinya akan susah hidup tanpa kamu. Aku janji akan selalu menjaga anak kita yang sudah kamu taruh kan dengan nyawa, aku tidak akan menyia nyia kan anak kita sayang." ucap Kenzo sambil mengusap usap batu nisan tersebut dengan tangan kekarnya dengan gerak kan lembut.

__ADS_1


"Sampai jumpa istri ku tercinta yang sangat cantik, aku selalu mencintai kamu." ucap Kenzo sambil mengecup batu nisan tersebut dengan lembut sambil air mata tiba tiba menetes dan tidak Kenzo hapus, pria itu membiar kan dirinya menangis dengan diam.


*************TAMAT***************


__ADS_2