
“Lo gak bawa uang, Al?”
Pertanyaan dari mulut Danera dengan nada terkejut saat mengetahui di dalam dompet Almira tidak ada selembar uang sekalipun. Danera meringis melihat itu dan di ikuti Almira meringis sambil menatap sahabatnya yang ada di depannya.
Mata Almira dan Danera menoleh kearah Nera. Hanya Nera yang selalu ada saat waktu mendesak, raut wajah tenang seperti biasa menatap Almira dan Danera bergantian.
“Lo ada gak, Ner?” tanya Almira dan Danera secara bersamaan sehingga mereka saling tatap.
“Gue gak bawa!”
Hancur sudah harapan kedua gadis yang saling lempar pandangan oleh jawaban Nera yang sangat santai.
“Terus ini gimana.” jerit Danera sambil menelungkupkan kepalanya di sela-sela tumpukkan lengan yang ada diatas meja bundar.
“GUE GAK TAU… GUE GAK TAU…” teriak Almira sangat kencang sambil menelungkupkan kepalanya seperti Danera.
“Almira? Lo kenapa?”
Panggilan seseorang membuat ketiga cewek bersamaan menoleh menatap ke sumber suara.
Nera dan Danera memandang seseorang itu dengan tatapan tajam, berbeda dengan Almira yang menampilkan raut wajah syok melihat Roy yang sudah berada di depannya.
“Lo ngapain sih di—“
“Al, kenapa hm?”
Ucapan Danera terpotong karena pertanyaan dari mulut Roy yang tidak menghiraukan kedua gadis yang menatapnya seperti ingin memakan dia hidup-hidup.
Almira saat akan menjawab pertanyaan itu langsung saja terdiam saat melihat tatapan datar dari Nera yang sangat seram. Bila itu yang menatap Danera, maka Almira tidak akan peduli. Tapi sekarang yang menatap dirinya adalah Nera, maka dia akan diam sesuai intruksi Nera.
Tanpa di sengaja Nera melihat raut wajah emosi dari Roy dan dia beralih ke bawah melihat kedua tangan itu terkepal sehingga menimbul urat-urat bewarna hijau.
“Gue telfon pacar dulu, biar dia yang bayar.” ujar Danera membuat mereka menatap berbagai tatapan.
Nera berdehem sedikit keras membuat Almira menatap ingin protes, Danera mengangguk mengiyakan.
“Dia kesini sama temannya.” ujar Danera setelah mematikan sambungan telfon.
Keadaan menjadi hening dan hanya ada hawa dingin di sekeliling Almira. Dia hanya diam memakan makanannya yang ada di depan, mencoba tidak menghiraukan tatapan intens dari Roy yang sejak tadi memandangnya.
“Danera.”
__ADS_1
Panggilan sedikit keras membuat semua menoleh menatap Rio bersama Kenzo dan Nigel.
Danera memberikan kode kepada Rio yang langsung di pahami oleh si pacarnya. Rio langsung menyingkut lengan Kenzo untuk menghampiri Almira dan memisahkan kedekatan Roy yang duduk di samping gadis yang menunduk.
Kenzo yang mendapatkan kode seperti itu langsung saja berjalan cepat menghampiri Almira. Saat sudah sampai di samping istrinya, tanpa mengeluarkan suara tangan Kenzo terulur di atas kepala Almira lalu mengelusnya membuat si empu mendongakkan kepala karena terkejut.
Almira saat mengetahui siapa yang memegang kepala dan mengelus adalah Kenzo, dia tersenyum membuat si empu terpesona.
“Kenapa hem?” tanya Kenzo yang langsung dihadiahi cengiran tidak jelas.
“Niatnya mau traktir mereka, eh gak bawa uang.” jawab Almira membuat para cowok langsung menoleh dengan wajah cengo, berbeda dengan kedua sahabatnya yang mengendus kesal.
Dengan gemas, Kenzo mengacak-acak hijab yang terpasang di kepala Almira yang di balas hanya terkekeh melihat raut wajah Kenzo.
“Kok—“
“Terus ini semua siapa yang bayar?”
Pertanyaan dari Rio membuat Roy tidak melanjutkan ucapannya. Roy tahu kalau cowok yang memotong ucapannya itu sengaja. Di lihat dari menatap sinis kearahnya.
“Lo.” balas ketiga cewek bersamaan membuat Rio memandang cengo dan syok.
Rio mengembuskan nafas kasar membuat ketiga cewek tersenyum devil tanpa ada yang tahu.
“Perlahan-lahan kau akan hancur dengan sendirinya. Ini masih awal, Rio.”
***
“UANG GUE…”
Sedari tadi, suara rengekkan dari mulut Rio tidak ada berhentinya. Tadi dia terkejut saat tahu ketiga cewek itu membeli makanan-makanan yang harganya sangat mahal, betapa banyak uang Rio yang hilang.
Ketiga gadis tidak mempedulikan rengekkan Rio yang terus saja mereka dengar dari pulang caffe sampai rumah Oma Diana.
“Almira.”
Panggil seseorang dengan nada lembut membuat mereka menatap ternyata dia adalah Oma Diana yang memandang sendu kearah Almira. Almira hanya diam memalingkan pandangan ke ponsel yang tiba-tiba berbunyi menandakan ada panggilan.
“Assalamualaikum, kenapa?”
Almira mengangkat panggilan itu dengan nada malas saat mengetahui yang menelfon dirinya ada sepupu dari sang Bunda.
__ADS_1
“Waalaikum salam. Jemput gue bandara sekarang ya, gue liburan di Indonesia di rumah Oma Diana.”
“Gue gak mau lo inap disini, Justin.”
“Gue gak peduli, cepat jemput gue di bandara sekarang juga. Jangan lama, tidak ada bantahan Almira sayang.”
Setelah Justin mengucapkan kata-kata itu, benda pipih Almira mati menandakan Justin sudah mematikan sambungannya sepihak membuat Almira mendengus kesal.
Tanpa bicara kepada yang lain, Almira keluar dari rumah menaikki kendaraan beroda dua dengan kecepatan penuh membuat Kenzo mengikuti tanpa di ketahui oleh istrinya.
Kenzo melihat Almira makin menambah kecepatannya membuat Kenzo mengeram kesal dan mempercepat laju kendaraannya.
“GUE DISINI.”
Teriakan sangat lantang membuat semua orang yang sedang berlalu lalang menatap Justin dengan pandangan aneh, Almira hanya bisa meringis malu menghampiri sepupunya itu.
Dengan cepat Kenzo merangkul bahu Almira membuat si empu terkejut kedatangan Kenzo tanpa tidak di ketahui. Saat akan bertanya, suara seseorang mengejek kearahnya membuat dia tidak jadi mengeluarkan suara.
“OHO. Laku juga lo, Al.” ejek Justin sambil tertawa lepas saat melihat raut wajah Almira yang sedang cemberut di rangkulan Kenzo.
“Salam kenal Bang, sorry waktu kalian menikah, gue gak datang. Gue Justin, sepupunya istri kecil lo, Bang.” ucap Justin sambil mengulurkan telapak tangan di depan badan Kenzo dengan senyuman tulus.
“Kenzo.” balas Kenzo menjabat tangan Justin sambil tersenyum kecil tapi masih terlihat membuat aura ketampanannya menguar.
“Bukannya lo yang selalu sama Almira waktu kecil itu kan, Bang?” tanya Justin menatap selidik kearah Kenzo.
“Iya.” jawab Kenzo bernada santai tapi sebenarnya dalam hati dia gemetar.
“Wah, Bang. Almira selalu cerita tentang lo, Bang. Sampai-sampai dia itu—“
“Justin.” peringat Almira memandang tajam membuat Justin meringis dan mengeluarkan cengiran bodohnya sambil berjalan mendahuli mereka berdua.
Setelah Justin sedikit jauh dari kedua suami istri itu, dia berlari menghampiri Almira mengadahkan kedua tangan sambil tersenyum dan menaik turunkan kedua alisnya. Almira yang tahu apa yang di maksud sepupunya itu, langsung saja memberikan kunci motor besarnya kepada Justin yang sudah tersenyum senang.
Tanpa mempedulikan mereka, Justin berlari sambil lompat-lompat kecil membuat semua penghuni Bandara menatap aneh kepada Justin.
“Omongannya Justin tidak perlu di dengarkan. Aku bareng kamu ya?” ujar Almira menatap Kenzo yang sama menatapnya.
“Boleh.” Jawab Kenzo sambil menggandeng tangan kiri Almira dengan lembut membuat si empu menoleh menatap terkejut yang hanya di balas dengan senyuman.
“Aku sangat mencintaimu, Almira Sayyida Alindra.”
__ADS_1