Suami Pilihan Oma

Suami Pilihan Oma
EMPAT PULUH LIMA


__ADS_3

"Mulai sekarang jangan pernah berbicara sama Rio ataupun saling pandang saja, paham Danera Kuiland?"


Ucapan Almira membuat tangis Danera makin kencang dan mengangguk saja tidak kuat mengucapkan satu katapun, karena Danera baru merasakan pacaran dan jatuh cinta.


Ternyata rasanya sangat menyakitkan, pikir Danera.


Tatapan Danera mengarah ke wajah Almira yang sedang menepuk-nepuk bahunya dengan lembut tapi sedikit keras.


"Kenapa?" tanya Almira bingung saat mendapatkan tatapan intens.


Nera hanya menatap mereka tanpa mengucapkan kata-kata, dia lebih suka menjadi pendengar dan memahami ucapan kedua sahabatnya yang meskipun sedikit gila baginya.


"Ternyata patah hati rasanya sesakit ini, gue baru pertama kali ini. Gue sekarang paham kenapa lo sangat membenci Om Kenzo, pasti lo sakit hati kan sama dia? Sorry, waktu itu gue gak pahami lo yang sedang patah hati dan kecewa. Sorry Al, gue malah dukung Kenzo dari pada lo." ucapan Danera yang langsung memeluk tubuh Almira yang sedang membeku saat melihat tubuh Kenzo di depannya sedikit menjauh.


Almira hanya terkejut saat Danera membicarakan Kenzo ada orangnya yang bisa mendengar ucapannya. Nera tau kalau ada Kenzo dan Nigel yang sedang menatap mereka, pandangan Nera beralih menatap Almira yang hanya diam saja sambil menatap kearah Kenzo.


"Rasanya sakit banget ternyata, Al. Al, meskipun lo sama dia sudah menjadi suami istri, gue tidak akan pernah mendukung lo sama Om Kenzo. Rio sahabatnya aja seperti itu, apalagi Om Kenzo yang sudah membuat lo kecewa dan patah hati." ucap Danera setelah melepaskan pelukannya.


Tanpa ada yang tau kalau sedari tadi Rio bersembunyi di belakang dinding sedang memandang Danera dengan sendu. Rio mengakui kalau ini salahnya.


"Lo juga Ner, jangan mau sama Om Nigel." sambung Danera yang langsung di anggukki Nera dengan cepat membuat Nigel mengepalkan kedua tangan di samping badannya dengan melototkan kedua bola matanya.


"Sialan, semua ini gara-gara Rio." umpat Nigel pelan sedang menggeram tapi bisa di dengar oleh Kenzo dan Rio yang berada di belakang mereka.


"Sebaiknya kita ke ruang rawat Oma Diana sekarang juga, Justin chat gue suruh kita kesana." ucap Nera sambil menunjukkan handphonenya.


"Woah... Lo punya nomornya Justin?" heboh Danera yang langsung membuat kedua bola mata Nera malas.


"Lo tau kan kalau Justin itu suka sama lo, lo gak lupa kan kalau dia pernah nembak lo tapi lo tolak. Lo gak lupa kan Nera?" tanya Almira yang membuat Nigel terkejut dengan ucapan gadis itu.


"Gue tau." balas Nera singkat karena tidak mau memanjang permasalahan ini.


Setelah itu, Nera menarik lengan Almira dan juga Danera untuk menjauh. Sebenarnya Nera tau kalau Nigel pasti mendengar ucapan mereka yang tentang Justin pernah menembak dirinya, tapi Nera tidak terlalu memperhatikan raut wajah Nigel sedang menatapnya.


Bugh!


Pukulan sangat keras dari Nigel ke dinding sehingga membuat punggung tangan kanan berdarah, Nigel sedang sangat emosi hanya karena perselingkuhan Rio, Nigel juga kena imbasnya.


"Sialan, Bangsat, Rio berengsek." umpat Nigel sambil terus memukul dinding di sebelahnya.


Kenzo tersadar dari keterdiamannya lalu menoleh mendapati Nigel yang sudah berdarah di punggung tangan kanan, mau tidak mau Kenzo menarik badan Nigel dengan kencang sehingga Nigel tersungkur ke bawah.


"Ken, hanya karena itu anak. Gue... Gue... Akkhhh..." teriak Nigel frustasi sambil mengacak-acak rambutnya.

__ADS_1


***


"Enak banget, Oma. Siapa nih yang beli?"


Ucapan Danera heboh membuat Oma Diana tersenyum senang karena melihat wajah senang dari wajah yang sangat mirip sekali dengan sahabatnya Zidan. Beralih menatap Nera yang sifatnya sama persis dengan Dirga sahabatnya yang sangat pendiam dan dingin itu.


Oma Diana merasa bahagia saat mereka berdua berada di dekat Almira ataupun dirinya. Oma Diana seperti melihat kedua sahabatnya yang sudah meninggal itu, tak terasa air mata menetes dengan cepat Oma Diana menghapus agar tidak kelihatan oleh mereka.


"Siapa yang beli, lo ya Justin?" tanya Danera lagi saat tidak mendapatkan jawaban dari semua orang sedang menyantap makanan mereka masing-masing.


"Gue yang beli, tapi bukan ide gue." jawab Justin dengan menyengir tidak jelas.


"Emang ide siapa?" tanya Almira ikut menatap kearah Justin.


Tidak jauh beda dengan semua manusia yang sedang berada di ruang rawat Oma Diana, meskipun ketiga pria yang duduk di sofa hanya diam saja tapi Danera masih menjadi dirinya sendiri tidak ada rasa canggung apapun.


Tapi Almira ataupun Nera mengerti dengan situasi hati Danera yang mencoba bersikap biasa saja.


"Om Rio tadi yang kasih ide buat gue." jawab Justin dengan nada menggoda kearah Danera yang langsung terdiam.


Justin tidak tau apapun makanya dia seperti biasa menggoda Danera dan Rio karena mereka pasangan yang sangat lucu bagi Justin.


Danera melepaskan bungkusan tempat makanan berat di lantai, karena ketiga gadis itu sedang duduk di atas karpet lembut di lantai. Almira dan Nera hanya memandang kearah Danera yang masih terdiam menatap makanan yang ada di genggaman tangannya.


Oma Diana sudah tidur sejak tadi, jadinya wanita tua itu tidak mendengarkan pembicaraan anak muda.


Almira maupun Nera sama-sama saling menatap satu sama lain lalu menoleh kearah Danera yang sedang meremas bungkusan yang sudah habis berada di sampingnya. Kedua gadis itu hanya menatap saja tanpa mengeluarkan suara apapun.


Rio sedari tadi hanya menatap kearah Danera yang terus menunduk mengacuhkan Justin yang sedang menggodanya.


Justin berhenti menggoda Danera saat dia tidak mendapatkan perlawanan dari gadis itu yang suka sekali heboh saat Justin menggodanya. Tapi sekarang tidak ada Danera yang heboh sampai membuat pria itu bingung menatap heran kearah gadis yang sedang menunduk tidak tau sedang apa.


"Dan, lo kok gak seperti biasanya? Ada masalah? Kenapa?" pertanyaan dari mulut Justin beruntun membuat Danera mendongakkan wajahnya menatap pria itu dengan tatapan biasa.


"Jangan di ulangi lagi." ucap Danera sambil tersenyum paksa membuat Almira dan Nera langsung mendekat menjadi duduk di samping gadis itu sambil mengusap bahu belakang tanpa ada yang tau.


"Maksudnya? Gue gak paham." ucap Justin bingung sampai mengerutkan kening heran.


"Gue sama Om Rio sudah putus. Jadi jangan seperti itu, oke Justin."


Ucapan Danera membuat suasana di sekitar makin mencengkam tidak tau kenapa.


Justin sangat terkejut, sangat kentara sekali dari raut wajah pria itu sambil menatap Danera dan Rio secara bergantian. Justin berdehem menetralkan rasa keterkejutannya lalu menghela nafas panjang menatap Danera yang masih tersenyum kearahnya.

__ADS_1


Tanpa aba-aba Justin memeluk tubuh Danera sambil menepuk nepuk bahu gadis itu yang sudah melemas. Ketiga pria itu terkejut, apalagi Rio yang sudah mengepalkan kedua tangan ingin menghampiri tapi saat mengingat kesalahannya dia hanya diam di tempat.


Setelah pelukan itu terlepas, Justin tersenyum lembut sambil menepuk lengan Danera dengan pelan.


"Sekarang ada pasar malam di taman kota, tadi gue beli tiket untuk kita. Mau berangkat?" tanya Justin yang membuat Danera tersenyum senang.


"MAU..." teriak heboh dari mulut Danera sangat kencang sehingga membuat Oma Diana terbangun dengan wajah terkejut.


Diana meringis malu kearah Oma Diana sambil meminta maaf lalu wanita tua itu tidur lagi. Justin menyentil kening Danera membuat gadis itu melenguh kesal yang di sambut oleh pria itu dengan tawa lalu di ikuti Almira dan Danera, Nera hanya tersenyum kecil menatap mereka.


"Dan, ingat ucapan gue. Kalau ada masalah cerita langsung ke gue, gue sama kalian bertiga itu sudah sejak kecil selalu bersama meskipun kalian sangat suka membully gue." ucap Justin dengan wajah serius tapi menampilkan senyuman manis.


Danera, Almira, ataupun Nera tersenyum lembut dan mengangguk mengiyakan ucapan Justin lalu tertawa kecil karena takut membangunkan Oma Diana lagi.


Sangat berbeda sekali dengan ketiga pria yang sedang duduk di sofa empuk itu. Kenzo yang berada di tengah antara Nigel dan Rio.


"Gara-gara kesalahan lo, gue dan Kenzo kena imbasnya. Gue kan sudah bilang, jangan melanjutkan perselingkuhan lo sama cewek itu. Tapi apa? Lo gak dengerin ucapan gue kan? Puas lo sekarang Rio. Padahal gue belum bisa menyatakan perasaan cinta gue ke Nera, tapi lo sudah merusak semua usaha gue." gumam Nigel tapi masih di dengar oleh kedua pria yang sedang duduk di sampingnya.


"Sorry. Maafin gue." ucap Rio pelan dengan memandang Nigel dengan pandangan melas tapi tidak di hiraukan oleh pria itu yang malah menatap Rio sinis.


"Lo-"


"Semua sudah terlambat dan sudah terjadi, gak ada yang harus di salahkan." sahut Kenzo dengan nada datar tidak ada ekspresi apapun dari wajahnya.


"Tapi semua terjadi karena Rio yang salah, Ken." ujar Nigel sangat kesal beruntung saja hanya kedua sahabatnya yang mendengar.


Rio mengusap wajahnya dengan telapak tangan kanan dengan gusar, sekarang dirinya sangat frustasi dengan kesalahan yang dia perbuat sendiri.


"Bodoh." batin Rio sambil melirik kearah Danera yang sedang bercanda ria dengan sahabat-sahabatnya.


"Gak ada yang harus di ubah, sudah terjadi juga." ujar Kenzo sambil memandang tajam kearah Nigel yang sedang kesal.


"Seandainya Rio tidak pernah selingkuh, pasti kita tidak seperti ini. Gue belum apa-apa saja sudah harus mundur, apa kabar sama lo yang sudah menjadi suami istri. Hahaha, sangat lucu. Lo tau kan apa yang akan Almira lakukan ke lo? Almira sudah benci karena masa lalu kalian dan sekarang pasti dia sangat benci sama lo karena Danera sahabatnya di sakiti sama Rio sahabat lo." jelas Nigel panjang dengan nada penuh penekanan sambil terkekeh merasa lucu.


Kenzo yang mendengar ucapan Nigel membuat dia mengepalkan kedua tangan di dalam saku celana dan rahangnya mengetat, dia tidak terima dengan ucapan Nigel yang mengatakan tentang Almira yang membenci dirinya.


"Meskipun kamu benci sama aku, tapi ku pastikan kalau kamu tidak akan bisa berpisah ataupun pergi meninggalkan ku, Almira. Kamu akan selalu berada di samping ku selamanya sampai maut memisahkan. Aku sangat mencintai kamu, Almira Sayyida Alindra." batin Kenzo menatap Almira yang sedang tersenyum membuat hati Kenzo berbunga-bunga menatapnya.


Bagi Kenzo, bila Almira sedang tersenyum senang itu sangatlah cantik dan manis secara bersamaan membuat pria itu terpesona dan jatuh cinta yang paling dalam lagi.


Tanpa sepengetahuan ketiga pria itu, sedari tadi Almira mendengarkan ucapan mereka dengan sangat jelas. Karena telepon Kenzo, Almira pasang alat perekam sehingga tersambung di teleponnya yang memunculkan tulisan di layar tersebut saat mereka sedang bicara.


Alat perekam itu Almira dapatkan dari sepupu cowok yang sekarang berada di London.

__ADS_1


"Tunggu saja kehancuran mu, Kenzo Sagara Samudra. Akhh... Aku sudah sangat tidak sabar menanti hari itu tiba, permainan akan di mulai. You lose atau you win? Pasti sangat menyenangkan." batin Almira menampilkan seringai kecil tanpa ada yang tau.


__ADS_2