
"Gue sendiri lagi seperti ini, meskipun ada bang Alex atau pun bang Eza di apartemen ini, tapi gue sendiri seperti waktu itu. Oma, Al kangen. Hanya Oma yang bisa mengerti perasaan Al selama ini, maafin Al. Aku mohon, maafin cucu mu yang nakal ini"
Ucapan dengan nada lirih dari mulut Almira menatap ponsel menampilkan wajah Oma Diana dan dirinya sedang tersenyum lebar seperti tidak punya beban.
Sejak tadi, Almira tidak memegang ponsel dan tidak menghidupkan data seluler.
Almira sedari tadi hanya menatap laptop yang menampilkan berkas berkas penting dari perusahaan cabang kirim lewat email dirinya sehingga baru selesai sore ini.
Tiba tiba ada nama Kenzo yang memanggil panggilan biasa bukan whatsapp membuat dia mengernyitkan kening tidak tau.
Setelah beberapa menit ponsel itu berhenti bergetar membuat Almira menghela nafas kesal kepada Kenzo yang meninggalkan dirinya di apartemen ini yang kesepian dan juga tanpa pamit kepadanya.
Saat akan menutup kedua mata sambil bersandar, ada bunyi memanggil di ponselnya. Saat melihat siapa yang menelpon langsung saja Almira mengangkat lalu mengarahkan ke telinga kiri Almira dengan wajah senang.
"Assalamualaikum, Dan. Lo pasti sama Nera lagi siap siap ya? Kenapa telpon, Dan?" salam Almira bertanya sangat beruntun sehingga si pelaku telepon yang berada di seberang sana tersenyum.
"Waalaikum salam, gue sama Nera belum siap siap." jawab Danera di seberang sana sambil menghapus air mata yang tiba tiba jatuh ke pipi cubby membuat Nera mendekat dan merangkul bahu gadis tersebut.
Sebenarnya Nera juga sedih saat mendengar suara Almira yang mencoba baik baik saja dengan semua ini.
"Loh, lo nangis? Kenapa? Jangan buat Nera repot, tau sendiri kan kalau gue yang selalu tenangin lo bukan Nera. Jadi jangan nangis." ucap Almira saat tidak sengaja mendengar suara sesenggukkan dari mulut sahabatnya.
"Lo jangan nangis lah, Dan. Gue malah ikut nangis juga..." lirih Almira membungkam mulutnya dengan telapak tangan.
Tidak ada yang bersuara, hanya ada sesenggukkan dari Danera maupun Almira.
Nera menatap keatas untuk menghalau air mata meskipun mereka di tatap oleh Kenzo, Nigel dan juga Rio.
Mereka tidak peduli sekitar.
"Dek, kenapa?" tanya seseorang dari seberang telepon Almira membuat semua menatap ponsel tersebut.
__ADS_1
"Tidak, tidak apa apa." jawab Almira menghapus air matanya dan menyembunyikan ponselnya agar tidak di ketahui oleh Alex yang berjalan mengarah kepada Almira lalu mengelur puncak kepala yang tertutupi hijab instan kesukaan cewek tersebut.
"Yaudah, sekarang sudah waktunya tidur." suruh Alex yang berlalu pergi.
"Bang, sekarang saja masih jam enam malam, ini masih mangrib. Sebaiknya waktu itu aku tidak memaksa Abang kesini, dari pada bang Alex seperti ini ke aku." ucap Almira yang membuat langkah Alex terhenti.
Tidak hanya mereka saja yang mendengar, melainkan di seberang telepon yang sejak tadi mendengar.
Mereka hanya bisa diam dan mendengar ucapan Almira dan Alex tentunya.
"Aku disini juga tidak ngapa ngapain, tidak ada kerjaan sama sekali. Bang Alex tidak tau memang seperti apa sifat dan perilaku yang sebenarnya, Bang Alex tidak pernah benar benar mengetahui apa yang aku ingin kan. Bang, sekarang adalah hari kebahagiaan ku saat kesedihan ku sudah berakhir, tapi kenapa Abang merengutnya dari aku? Benar kata aku, aku di dunia ini sendiri saat tidak ada Oma dan kedua sahabat ku pergi hanya karena abang." sambung Almira membuat badan Alex membalikkan badan menatap kearah Almira yang sudah berderai air mata membuat hati Alex sesak melihatnya.
"Ada apa ini?" suara dari mulut Eza yang baru saja datang menatap mereka secara bergantian.
Tapi saat tatapan matanya bertemu dengan kedua mata Almira yang sudah banyak air mata membuat dia terkejut.
"Aku benci bang Alex dan aku lebih sayang bang Eza." ucap Almira dengan nada lirih membuat kedua pria dewasa terkejut dan syok.
"Silahkan pergi dari kamar ku dan selamat malam."
Setelah Almira mengucapkan kata kata itu, Alex pergi meninggalkan kamar apartemen Almira dengan Eza yang sedang menatap heran.
Saat akan menghampiri Almira, Eza berhenti mendadak.
"Lebih baik, bang Eza pergi saja. Aku hanya ingin sendiri dan selamat tinggal."
***
"NERA, AYO BERANGKAT. SUDAH MAU MULAI..."
Teriakan heboh memekikkan kedua telinga Nera yang sedang memakai sandal hak tinggi, kalau saja ini bukan keinginan Danera untuk membujuknya karena tidak Almira. Maka dialah yang kena.
__ADS_1
Sungguh malang bagi mu, Syainera Dwi Dullond.
"NERA, AYO... SUDAH JAM TUJUH NIH." teriak lagi dari mulut Danera yang membuat gadis yang sedang duduk di sofa menggeram kesal menatap Danera.
Danera yang merasa ada yang menatap penuh permusuhan dan seperti ingin memakan dirinya hidup hidup membuat pandangannya menatap kearah Danera yang sudah berdiri dan menatap sangat err... Menyeramkan dan mengerikan.
Danera menampilkan cengiran tidak jelas sehingga menampilkan deretan gigi putihnya dan mengacungkan kedua jari, jari telunjuk dan jari tengah.
Nera sangat menyeramkan menghalahkan hantu apapun itu, pikir Danera yang langsung menggandeng lengan kiri Nera lalu menarik agar menaikki taksi yang sudah mereka pesan.
Selama perjalan Nera mengoceh tidak bermutu membuat hanya bisa menghela nafas pelan agar tidak di ketahui oleh Danera tentunya.
Danera sangat menjengkelkan, bagi Nera tentunya.
Saat sudah sampai di gedung sekolah mereka, Danera lebih dulu menggandengan lengan sang sahabat yang hanya bisa pasrah saja mengikuti ke mana Danera pergi.
"Silahkan duduk." sapa seorang pelayan yang mempersilahkan mereka yang baru masuk untuk duduk di tempat yang sudah di sediakan.
"Duduk di depan ya, Ner?" tanya Danera sambil menunjukkan binaran kedua mata yang membuat Nera menatap ngeri dan jijik.
"Terserah!" jawaban dari Nera membuat Danera tersenyum puas kearahnya.
Semua mata yang ada di sekitar duduk mereka langsung menoleh menatap kearah Danera menyapa tersenyum dan saat ke Nera mereka menyapa dengan senyum canggung karena tatapan tajam dari gadis tersebut.
Nera menghela nafas lelah dan pelan karena melihat mereka saat dirinya diam di tempat duduk mereka masih membicarakan dirinya dengan bisik bisik, sangat aneh dan berisik mengganggu.
"Loh, kok Almira tidak ada? Di mana Almira, Dan?" tanya dari salah satu mereka dengan memandang mengejek kearah gadis tetsebut akibat Almira tidak datang.
Pergerakan dari Danera maupun Mera terhenti sambil menoleh menatap kearah gadis yang sudah angkuh memandang mereka.
Dia adalah, Ella.
__ADS_1
Masih ingat kan dengan nama Ella ini bagaimana?