
“Sekarang waktunya makan malam. Nih sudah aku bawain makanan kesukaan kamu, Say.”
Suara itu membuat Almira sedang berbaring merubah dengan duduk menatap Kenzo yang berjalan menghampiri dirinya sambil membawa mangkuk bewarna putih. Tubuh tegap itu duduk di pinggiran kasur sambil menatap Almira dengan pandangan biasa saja, seperti tidak terjadi apapun.
Tidak ada yang memulai pembicaraan diantara mereka.
Kenzo yang sibuk dengan makanan yang ada di mangkok untuk menyuapkan ke Almira. Almira yang hanya menatap Kenzo setiap gerak-gerik saja.
Saat sendok berisi makanan itu berada di depan mulut Almira, dengan cepat Almira membuka mulutnya untuk melahap makanan itu dengan diam.
Sedari tadi Kenzo menahan rasa gemetarnya dan degupan jantung melihat Almira sangat dekat. Betapa sangat cantik istrinya itu.
Setelah suapan demi suapan di terima Almira, Kenzo berhenti mengambil segelas air dingin kesukaan Almira. Dengan senang hati, Almira menerimanya.
Usapan lembut di kepala Almira yang terbalut dengan hijab instan membuat Almira memberhentikan acara meminum. Almira mendengar Kenzo membacakan surah Al-Qur’an yang tidak diketahui Almira.
Tiba-tiba jantung Almira berdetak sangat kencang, rasa hangat dan nyaman menjalar ke seluruh badannya.
Cup!
Kecupan lembut mendarat ke kening Almira dan si pelaku adalah Kenzo dengan menampilkan senyuman manis tapi sangat kecil.
“Cepat sembuh…” ujar Kenzo sebelum pergi mengusap lembut kepala Almira dan berlalu pergi meninggal Almira terdiam membeku.
Almira masih belum tersadar dari lamunannya, dia memegang dada dengan telapak tangan kanan.
“Jantung gue…”
***
“Nera, Danera. Temui Oma di ruang kerja sekarang juga.”
Itulah perintah membuat Danera menelan salivanya susah payah dan gemetar, Nera hanya tersenyum geli melihat raut wajah Danera yang pucat.
Tanpa menunggu Danera sadar dari rasa takut, Nera menarik pergelangan tangan kanan Danera menuju ruang kerja Oma sebelum kata-kata mutiara keluar dari mulut wanita berumur itu.
Saat Danera akan protes, Nera lebih dulu menatap Danera tajam membuat si empu menciut.
“Sial banget hidup gue…” batin Danera merutuki hidupnya yang di kelilingi orang menakutkan.
Saat sudah di ruangan yang di maksud oleh sang Oma, kedua gadis masuk tanpa mengucapkan satu katapun kepada Oma yang sudah duduk di kursi besarnya.
Aura yang di keluarkan Oma membuat Danera makin gemetar takut. Danera bila bertemu Oma yang sudah menjadi pemimpin, dia sangat takut apalagi saat Oma sedang berada di samping Almira pasti akan sangat lembut seperti kain sutra.
__ADS_1
Oma akan lembut bila ada Almira, sang cucu satu-satunya yang tersayang.
“Bagaimana?” tanya Oma sambil memainkan cangkir kaca yang ada kopi di dalamnya tanpa melihat kedua gadis itu.
Danera menyingkut lengan Nera untuk menjawabnya, dia sudah sangat gemetar tidak bisa menjawab. Near hanya menaikkan satu alisnya melirik Danera yang sudah emas.
“Danera, bagaimana?” tanya Oma menatap Danera yang sudah meremas jari-jarinya.
Sang Oma sangat suka menggoda Danera saat dirinya ketakutan, sangat berbeda sekali saat mereka sedang bercanda saat ada Almira. Oma terhibur dengan raut wajah lemas dari Danera.
“Almira su-su-sudah, pu-putus, Oma.” jawab Danera dengan nada terbata-bata menatap sang Oma yang ada di depannya.
Setelah Danera mengucapkan kata-kata itu, dia mendengar nada tawa lepas dari sang Oma dan terkekeh kecil dari mulut Nera. Danera hanya bisa tersenyum kecil tidak berani ikut tertawa, dia sudah sangat takut.
“Cucunya siapa sih seperti ini.” ucap Oma di sela-sela tertawanya.
“Kakek Zidan.” jawab Danera dengan nada takut.
Bukannya Oma marah, dia malah tertawa sangat kencang saat mengingat sahabatnya itu. Diantara sahabatnya, Zidan lah yang kocak dengan perilakunya.
Oma tidak kaget dengan perilaku Danera yang sama persis dengan Kakeknya. Dalam persahabatan, Oma hanya punya dua sahabat laki-laki yaitu Zidan—Kakek Danera dan Dirga—Kakek Nera.
Tiba-tiba raut wajah ceria itu menjadi sendu menatap kedua gadis itu yang hanya diam.
Setelah pintu itu tertutup, Oma menelungkupkan kepala ke sela-sela tangan yang dia tumpukkan ke meja.
Mengingat kedua laki-laki yang selalu bersamanya membuat dia sedih. Tapi itu tidak berarti, karena kedua laki-laki itu sudah pergi ke pangkuan Allah.
Dirga ataupun Zidan, mereka sangat menyayanginya lebih dari apapun. Saat dia butuh ginjal dan kedua mata, mereka menyumbangkan dengan sukarela sehingga mengakibatkan mereka meninggal dunia.
Pergi untuk selamanya.
“Aku merindukan kalian. Aku selalu menyayangi cucu kalian seperti cucu ku sendiri. Aku akan membuat Almira mencintai Kenzo lagi. Terima kasih untuk pengorbanan kalian.”
***
“Al, ayo jalan-jalan?”
Ajakan itu membuat Almira yang sedang menatap kosong di luar jendela kamar menoleh menatap kedua sahabatnya yang berjalan menghampiri.
Tanpa aba-aba, Almira memeluk kedua sahabat dengan rasa senang. Tanpa di tahan, air mata Almira menetes ke pipi dan isakkan kecil keluar dari mulut Almira membuat kedua sahabatnya langsung melepaskan pelukan mereka menatap Almira yang masih saja menangis tanpa henti.
Kedua mata berkaca-kaca, hidung memerah, kedua pipi cubby menaikkan turunkan membuat Danera tertawa sangat kencang dan Nera hanya tersenyum sedikit lebar melihat itu.
__ADS_1
Tawa Danera dan senyuman sedikit lebar dari Nera membuat Almira mendengus sebal lalu mengusap bekar air mata dengan kasar.
“Bagus gak, acting gue? Seperti cewek menyedihkan gak?” tanya Almira yang makin mengundang tawa dari Danera dan senyuman lebar dari Nera.
“Lebay lo.” ujar Danera sambil menjentikkan ke kening Almira sedikit kencang membuat si empu cemberut.
“Mau ikut jalan-jalan gak?” tanya Nera menatap Almira dengan menaikkan satu alisnya.
“Kemana?” tanya Almira mengerutkan kening.
“PASAR MALAM DONG.”
“BERANGKAT…”
Teriakan dari mulut Danera dan Almira membuat Nera hanya tersenyum memandang kedua sahabatnya yang sangat gila, bagi dirinya.
Nera sangat bersyukur bisa bersahabatan dengan mereka dan juga dia sangat senang bisa kenal dengan mereka. Dulu waktu Nera masih kecil, dia diajak pergi ke rumah Kakek Zidan karena ada acara pesta persahabatan. Saat ikut, Nera bertemu dengan dua gadis kecil sedang berebutan boneka kecil. Saat itulah, Nera bertemu dengan Danera dan Almira.
“Ayo ki—“
“Kalian mau kemana?” tanya Rio memotong ucapan Danera yang sedang memakai sepatu dinas berada di samping Kenzo yang menatap ketiga cewek.
“Ke pasar malam dekat sekolah.” jawab Danera dengan nada girang.
“Tidak boleh.” ujar Rio dengan cepat.
“Apaan sih lo, kita tetap pergi kok.”
“Gak boleh, gue larang.”
“Gue gak peduli.”
“Awas aja lo pergi.”
“Emangnya lo siapa gue, hah?”
“Gue masa depan lo.”
“HAH?”
Setelah teriakan kaget dari Almira dan Danera menggema, Rio memalingkan pandangannya kearah sepatu dinasnya. Raut wajah memerah akibat memanas langsung saja dia usap dengan telapak tangan dengan kasar. Rio merutuki dirinya di dalam hatinya.
Dia sudah keceplosan.
__ADS_1
“Lo suka sama Danera?”