Suami Pilihan Oma

Suami Pilihan Oma
EMPAT PULUH DELAPAN


__ADS_3

"Sayang, aku malu..."


Sedari tadi Almira termenung diam menatap lurus ke depan kearah Oma Diana yang sedang memejamkan kedua mata, ucapan Kenzo yang tadi sore membuat Almira terkejut dan terdiam.


Selalu saja kata-kata itu yang terlintas di pikirannya tanpa sebab, sehingga membuat dia bingung menatap kosong.


Merasa lucu mengingat raut wajah Kenzo yang sedang cemberut sehingga memajukan bibirnya. Sangat imut dan lucu sehingga dia gemas kepada pria itu, tapi Almira tahan karena tinggi sekali ego dirinya.


"Kenapa harus kata itu yang di ucapkan Kenzo, sehingga membuat gue, Akkhhh... Gemes banget sih..." jeritan Almira membenamkan wajahnya ke bantal yang ia pegang di atas paha.


"Almira, nduk."


Panggilan dengan nada pelan membuat wajah Almira mendongak menatap kearah Oma Diana yang sedang menatap kearahnya dengan wajah pucat membuat Almira langsung berdiri berjalan menghampiri tempat tidur Oma Diana dengan cepat.


Almira duduk di samping sambil menggenggam sebelah tangan Oma Diana yang tidak di infus dengan kedua tangan. Tidak tau kenapa saat Oma Diana tersenyum kepadanya membuat hati Almira tiba-tiba terasa sesak.


"Kamu sudah sebesar ini dan sudah berumah tangga, waktu begitu cepat ya. Seperti baru kemarin kamu suka merengek dan berdebat dengan Oma saat kamu ingin membeli sesuatu dengan suara cadel. Oma sudah berhasil didik kamu kan?" ucap Oma Diana dengan nada lembut dan jangan lupakan sebelah alis terangkat mencoba menggoda Almira.


Almira tersenyum sambil menganggukkan kepala atas jawaban dari pertanyaan Oma Diana, tidak tau kenapa lidah Almira menjadi keluh tidak berani mengeluarkan suara karena mencoba menahan rasa sesak di hatinya.


Usapan lembut dengan pelan dari sebelah tangan Oma Diana yang di infus di kepala Almira membuat gadis itu menunduk menyembunyikan kedua mata yang sudah berkaca-kaca tidak tau kenapa.


Tanpa sepengetahuan Almira dan Oma Diana, sedari tadi Kenzo dan Justin berada di ambang pintu sedari tadi mendengarkan ucapan mereka dan melihat raut wajah Almira yang sedang menahan tangis.


Kenzo mengepalkan kedua tangan di dalam saku celana menatap gerak gerik Almira, berbeda lagi dengan Justin yang meremas ujung bajunya tidak kuasa melihat dua perempuan yang dia sayang seperti ini.


"Gue harus bilang apa ke lo, Al. Gue bingung, sorry belum membicarakan masalah serius ini. Gue gak mau kalau lo kan sedih mendengar berita ini." batin Justin menatap kearah Almira dengan raut wajah sendu dan menghela nafas.


"Al, sekarang bukan tanggung jawab Oma kepada kamu. Tapi sekarang tanggung jawab hidup kamu ada di tangan Kenzo, jadi kamu harus menjadi seorang istri yang baik. Jangan pernah membuat hati Kenzo sakit, Al. Kamu sudah besar dan sudah mengerti apa tugas seorang istri kepada suami. Paham?" ucap Oma Diana saat melihat Kenzo dan Justin di ambang pintu.


"Paham Oma, apapun terjadi Al akan melaksanakan tugas seorang istri kepada Kenzo. Oma cepat sembuh, tadi pagi Al bertemu dengan Paman." ujar Almira membuat Kenzo menatap dengan wajah serius dari gadis itu membuat hatinya terasa hangat.


"Oh iya, bocah itu nakal sekali. Oma sedang sakit seperti ini, tapi dia masih mengurus perusahaan bukan Oma. Padahal kan Oma sangat merin-"


"Oma merindukan Paman? Kan Oma sendiri yang menghukum Paman, kenapa sekarang Oma rindu?" sahut Almira saat ucapan Oma Diana berhenti dengan membungkam mulutnya sendiri pakai telapak tangan kanan.


Almira tersenyum menggoda kearah Oma Diana yang membuat wanita paruh baya itu kesal dengan menarik kepala Almira ke pelukannya untuk menyembunyikan, karena Almira sedari tadi sudah menggoda sambil mengejek kearahnya.


"Hayo Oma, merindukan Paman." kata kata itu terus saja terucap dari mulut Almira yang membuat Oma Diana kesal.


"Sudahlah, diam. Mau Oma kasih tau tentang Paman mu tidak?" ujar Oma Diana yang sangat menggiurkan membuat Almira langsung mendongak.


"Mau Oma, aku sangat penasaran bagaimana Paman masuk ke keluarga Alindra." ucap Almira dengan nada semangat langsung duduk di tempat.


Saat Oma Diana akan berucap, tiba-tiba Almira menegang di tempat saat ada yang menepuk di puncak kepala. Tangan kekar yang dingin dan sangat familiar sekali aroma parfum seorang itu, dengan cepat Almira menoleh mendapati Kenzo yang sedang menatap lembut kearahnya lalu pria itu mengambil kursi besi mengarah ke samping Almira sangat dekat.


Almira hanya melihat apa yang di lakukan Kenzo sedari tadi sibuk sendiri. Almira beralih menatap Oma Diana yang langsung tersenyum kearahnya dengan kedua mata berbinar karena senang.


"Baiklah, bukan Almira saja yang akan Oma ceritain tentang Paman kalian itu. Kalian bertiga tidak boleh memotong cerita Oma dan tidak boleh bertanya lebih dulu, tunggu cerita Oma selesai. Mengerti?" ucap Oma Diana kepada Almira, Kenzo dan Justin menatap bergantian.


"MENGERTI." jeritan dari mulut Almira dan Justin bersamaan dengan semangat.


Berbeda lagi dengan Kenzo yang hanya mengangguk dan twrsenyum kecil kepada Oma Diana.

__ADS_1


"Saat itu...


Flashback On.


"PUTRA-PUTRA SAYA MENDAPATKAN PERLAKUAN TIDAK BAIK DI SEKOLAH INI, KALIAN PARA GURU HANYA DIAM. HANYA KARENA BOCAH ITU ANAK PEMILIK SEKOLAHAN, KALIAN TAKUT."


Bentakan sangat nyaring dengan wajah memerah karena emosi dan marah sangat kelihat jelas dari seorang lelaki paruh baya dengan tegap dan tinggi. Lelaki berpakaian jas setelan rapi dengan rambut hitam ******* rapi, tampan tapi tatapan sangat tajam sehingga semua orang yang berada di koridor ketakutan.


Tidak jauh beda dengan para muris sangat ketakutan saat melihat sang Ayah dari ketiga cowok kembar sedang marah, sangat menakutkan bagi mereka.


Ayah dari tiga kembar cowok itu menelpon seseorang dengan wajah datar dan mengeluarkan aura yang mencengkam.


"Cepat urus berkas-berkas pembelian sekolah Garuda Pancasila sekarang juga, saya tidak mau menunggu sampai hari esok."


Semua mata menoleh kearah pria tersebut dengan wajah terkejut karena ucapan sang Ayah dari tiga cowok kembar pendiam itu yang langsung membeli sekolah mereka. Berbeda lagi dengan tiga cowok yang membola terkejut dan lebih parahnya raut wajah bocah laki-laki yang berada di tengah.


"Lihat, saya yang akan menjadi pemilik sekolah ini. Dan para guru yang tidak membela anak saya selama ini, akan saya keluarkan. Para murid yang ikut mencelakai ketiga putra saya, saya keluarkan dan akan memberi nilai merah di rapor kalian masing-masing." ucapan menusuk dan penuh penekanan dengan nada dingin membuat mereka makin terkejut.


Pria itu menggiring ketiga putranya untuk berjalan keluar dengan wajah datar dan menegakkan pandangannya.


"Pak, maafkan kami..."


"Pak saya mohon, jangan memecat kami. Kami mohon maaf, Pak."


"Jangan keluarkan kami, Pak. Maafkan kami sudah membuat tiga kembar tertekan."


Banyak sekali yang mengikuti pria paruh baya itu dengan jeritan kesedihan meminta maaf, tapi hanya di acuhkan saja dan menyuruh para bodyguard untuk mencegah mereka.


Saat akan menuju gerbang, ada bocah lakilaki sedang berlari dengan nafas tersengal-sengal. Tiga kembar berlari menuju bocah laki-laki dengan membawa air minum di botol.


"Indra."


Bocah laki-laki yang sedang mengatur nafasnya menoleh mendapati tiga kembar lalu salah satu diantara mereka memberikan botol minum yang langsung minum oleh bocah laki-laki bernama Indra.


"Aku gak telat kan, Bro?" tanya Indra dengan nafas putus-putus meskipun tidak seperti sebelumnya.


"Sekarang telat dua puluh lima menit." jawab salah satu tiga kembar yang sebelah kiri dengan melihat jam tangan di pergelangan tangan kirinya.


"Akhhh... di hukum lagi." jerit Indra menghela nafas lelah.


"Seperti biasa, Ndra?" pertanyaan itu hanya di jawab anggukkan kepala dari Indra yang sedang menutup wajahnya karena frustasi.


"Lebih baik Ayah kamu masukkan ke penjara saja, dari pada kamu capek seperti ini terus."


"Tidak bisa, meskipun seperti Ayah ku seperti itu, dia masih Ayah ku. Aku sebagai seorang Anak harus berbakti dan aku juga sekarang hanya punya Ayah saja dan kalian bertiga tentunya." balas Indra sambil mendongakkan kepala menatap tiga kembar itu dengan senyuman manis.


"Akhhh... Sayang kalian banyak-banyak..." jerit Indra sambil memeluk tiga kembar membuat mereka mendengus kesal.


Selalu saja seperti ini.


Indra memang bocah yang humoris, ceria dan banyak ekspresi. Sangat berbeda sekali dengan tiga kembar yang pendiam dan tatapan datar saja.


"Kamu, siapanya anak-anak saya sampai sampai berani memeluk mereka. Kamu itu cowok, NGAPAIN PELUK COWOK JUGA." ujar sang Ayah dari tiga kembar dan berteriak membuat Indra terkejut lalu melepaskan.

__ADS_1


"Eh?" kaget Indra menatap pria yang sesang memandang tajam dan datar kearah.


Indra langsung beringsut di belakang tubuh salah satu dari tiga kembar yang baginya sangat kuat.


"Pria itu siapa? Sangat menyeramkan." bisik Indra kepada tiga kembar pelan tapi masih di dengar oleh telinga tajam sang Ayah.


"Indra, pria ini adalah Ayah ku yang akan mengangkat kamu menjadi anaknya."


Flashback Off.


Karena ucapan Ayah kamu, Indra menjadi anak kami dan menjadi adik mereka. Saat Indra masuk di keluarga Alindra, rumah kami menjadi ramai karena bocah nakal itu. Oma dan Opa kamu tidak pernah membedakan tiga kembar dengan Indra, jadinya mereka menjadi empat kembar. Sangat lu-"


"Mama."


Belum sempat Oma Diana melanjutkan ucapannya ada seseorang memanggil di ambang pintu membuat mereka menoleh dan mendapati pria yang sudah berumur tapi masih kelihatan tampan, memakai jas formal dengan membawa bungkusan macam-macam buah di tangannya.


"Indra."


***


"Ayah, Bunda aku sangat merindukan kalian."


Lirih seorang gadis duduk di taman rumah sakit dengan memandang seorang bocah perempuan sedang sakit makan bersama kedua orang tuanya dengan tawa senang mereka merekah. Almira menatap sendu mereka yang tiba-tiba mengingat kedua orang tua.


Setelah Paman Indra datang, mereka membicarakan masa-masa masih muda dengan senang.


Almira menangkap pembicaraan Paman Indra dan Oma Diana kalau diantara tiga kembar itu, yang paling hebat dan pendiam adalah Ayah Almira. Almira yang mendengar itu hanya tersenyum saja menanggapi Paman Indra yang sedang menggoda kalau dirinya akan sama seperti sang Ayah.


Tidak ada yang tau, kalau di dalam hati Almira terasa amat sedih saat tiba-tiba mengingat pahlawannya.


"Sebenarnya aku tidak kuat seperti Ayah ataupun tidak lemah lembut seperti Bunda, aku lemah disini tanpa kalian. Kenapa begitu cepat kalian meninggalkan aku, meskipun aku belum remaja pun." ucap Almira dengan meremas kedua tangan di depan.


Tiba-tiba ada usapan lembut dari seseorang di kepala Almira membuat gadis itu mengetahui siapa pelaku tersebut tanpa menoleh sekalipun. Aroma wangi dan tangan kekar yang membuat dia nyaman dengan usapan itu.


"Jangan pernah tinggalkan aku sendiri seperti dulu, Ken." ujar Almira tanpa menoleh kearah Kenzo yang menatap lekat.


"Tidak akan, sayang." balas Kenzo dengan nada lembut membuat Almira senang di dalam hatinya, tanpa sadar.


Almira mengangguk lalu membawa tangan Kenzo yang ada di kepalanya sedang mengusap menuju di sampingnya agar ikut duduk di kursi panjang bewarna coklat.


"Aku masih bingung sama kamu, Ken. Kenapa kamu dulu begitu jahat sama aku, pqdahal kita waktu itu tidak ada kesalahan sama sekali. Tapi waktu itu kamu berubah, bagiku kamu aneh tiba-tiba seperti itu. Dan lebih parahnya lagi, kamu tinggalkan aku sendiri dan kamu menghilang seperti di telan bumi saja." ujar Almira membuat Kenzo mengepalkan sebelah tangan yang tidak di pegang oleh Almira.


Melihat Kenzo hanya diam saja membuat Almira menghembuskan nafas lelah terhadap pria tersebut. Dengan lembut, ibu jari Almira mengusap lembut di telapak tangan Kenzo yang dia genggam, membuat Kenzo menegang di tempat dan jangan lupakan dengan detakan jantung yang sangat kencang.


Hati Kenzo sekarang ini sangat senang dan menghangat.


"Apa tidak ada penjelasan dari kamu tentang masa lalu kita, Ken?"


Pertanyaan dari mulut Almira membuat Kenzo menatap bola mata gadis itu yang memancar kesedihan dan penuh harap menatap Kenzo dengan lekat.


Kenzo bingung, antara ingin menjelaskan semuanya atau menyembunyikan semuanya sampai waktu yang tepat tiba.


Tapi Kenzo tidak tau kapan waktu tepat itu datang.

__ADS_1


"Maaf." hanya satu kata itu keluar dari mulut Kenzo membuat Almira menatap sendu.


"Ternyata kamu masih sama seperti dulu ya, Ken. Pecundang."


__ADS_2