
"Aku berangkat ya Bang, nanti kalau ada masalah di butik, aku pasti hubungi Abang buat minta tolong kok."
Pamitan Almira kepada Edo yang sedang menatap taman dengan duduk di temani kopi buatan Almita yang dari tadi mereka mengobrol banyak hal sampai tidak terasa sudah satu jam lebih, saat Almira melihat jam tangan yang sudah menunjuk kan pukul sembilan siang gadis itu langsung berlari masuk ke rumah untuk bersiap siap di kamar.
Edo hanya menatap diam saja ke arah Almira yang sudah berada di depannya dengan hijab pasmina, memakai masker, kacamata hitam, dan juga memakai jaket bewarna hitam, sangat tidak cocok sekali untuk bepergian ke Butiknya meskipun gadis itu yang punya toko itu.
"Kenapa memakai baju seperti ini hem?" tanya Edo lalu berdiri sambil membawa cangkir kopi menatap Almira dari atas sampai bawah menyelidiki.
Bukannya menjawab, Almira justru tertawa yang malah membuat Edo hanya bisa geleng geleng kepala lalu mengulur kan sebelah tangannya dengan cepat Almira menyambutnya dengan baik bersalaman.
"Jangan lupa bawa helm, kata Kenzo nanti ada Operasi tilang di jalan lampu merah itu." pesan Edo saat Almira sudah berbalik akan pergi meninggal kan.
"Operasi tilang." gumam Alkira sambil menampil kan senyuman seringai di balik maskernya lalu menunjuk kan ibu jarinya ke arah Edo tanpa berbalik.
Almira mengeluar kan sepeda motornya dari bagasi lalu sudah berada di depan gerbang dan menutupnya setelah dia melewati gerbang tersebut, Almira menaruh helmnya di bawah sehinga tertutupi baju gamisnya helm tersebut dan Almira menghidup kan mesin motor tanpa memakai helm.
"Ini akan seru saat mengulangi kejadi di masa lalu meskipun aku sendiri tidak bersama duo besti." gumam Almira dengan wajah berseri seri.
Almira mengendarai dengan kecepatan tinggi dan bernyanyi dengan suara kecil sehingga tidak ada yang tau karena gadis itu memakai masker, tapi saat di lampu lalu lintas ada banyak sekali Polisi sedang mentilang pekendara lainnya.
Tiba tiba saja Nigel yang sedang menoleh kesana kemari menatap ke arah Almira yang tidak memakai helm segera di hampiri, bukannya takut atau apa lah Almira malah tersenyum di balik maskernya.
"Selamat siang, boleh menepi dulu." ujar Nigel dengan nada santai dan serius membuat Almira mau tidak mau menepi.
"Kenapa anda tidak memakai helm? Apa surat suratnya lengkap? Boleh di tunjuk kan." tanya Nigel lagi.
"Saya tidak membawanya Pak." jawab Almira dengan nada di buat buat agar tidak ketahuan oleh Nigel.
"Kalau gitu, tunggu di sini sebentar." ujar Nigel yang di anggukki oleh Almira membuat pria itu langsung pergi menghampiri Polisi lainnya.
Saat Almira menunduk kan wajahnya sehingga dirinya tidakntau siapa yang Nigel panggil, tapi saat ada suara yang dia kenali tiba tiba dekat dengan keberadaannya membuat gadis itu mendongak kan wajahnya.
"Selamat siang, anda tidak memakai helm kenapa dan di mana surat surat kendaraan anda?"
Di balik masker Almira tersenyum melihat Polisi yang menampil kan raut wajah datar tanpa ekspresi sedikit pun membuat Almira ingin tertawa kencang tapi dia mencoba untuk menahan.
"Pak, sebaiknya di pos saja." ujar Nigel yang tiba tiba saat melihat banyak anak muda berkendara yang tidak memakai helm dan masker.
Polisi berwajah datar itu hanya mengangguk lalu pergi meninggal kan Almira dan Nigel yang hanya diam saja.
"Silahkan mengikuti beliau." ujar Nigel mempersilah kan Almira untuk mengikuti.
Setelah Almira mengangguk lalu pergi, Nigel langsung bertugas kembali seperti tadi.
Almira mengikuti dengan diam dan menatap punggung pria berwajah datar itu lalu masuk ke dalam pos kecil yang hanya satu kotak saja, di dalam hanya ada satu Polisi yang sedang mencatat yaitu Rio dan mereka.
"Kenapa anda tidak memakai helm dan tidak membawa surat suratnya?"
Pertanyaan itu lagi dari mulut Polisi berwajah datar tanpa ekspresi setelah duduk padahal Almira belum duduk sudah bertanya mengulang seperti itu.
"Maaf Pak." jawab Almira setelah duduk di depan Polisi itu hanya terhalang meja panjang bewarna coklat dan lebar.
"Kalau begitu di mana surat suratnya?" tanya Polisi itu lagi dengan mencatat tanpa menatap je arah Almira.
"Ada di suami saya Pak." jawab Almira masih dengan nada yang di buat buatnya, ingin tertawa tapi dia tahan karena setelah mengucap kan kata kata itu.
"Kalau begitu, hubungi suami anda dan suruh datang ke pos ini." ujar Polisi itu.
"Sekarang Pak?" tanya Almira dengan tersenyum tanpa ada yang tau.
__ADS_1
Polisi itu hanya menjawab dengan deheman saja, karena baginya itu adalah pertanyaan yang tidak penting.
"Baiklah Pak."
Almira mengambil ponselnya lalu mengetik kan nomor telepon sang suami dan menaruh ke sebelah telinga, tiba tiba saja suara nada dering kaca pecah berbunyi membuat kedua Polisi itu saling menatap dan Polisi berwajah datar itu mengangkat ponselnya dengan linglung sambil menatap ke arah Almira yang memandangnya santai meskipun tertutupi kacamata hitam.
"Assalamualaikum Mas, aku di pos, aku lagi di tilang sama Polisi datar." ucap Almira membuat Polisi yang berada di depannya terkejut dan juga Rio pun sama tak kalah terkejutnya menatap penampilan Almira yang berada di depan sang ketua.
"Almira?" ucap Kenzo dengan nada terkejut membuat Almira tertawa kecil.
Almira langsung melepas kan kacamata hitamnya dan masker lali menatap ke arah Kenzo dan juga Rio dengan cengiran menampil kan deretan gigi putihnya.
"Hallo..." sapa Almira sambil melambai kan sebelah tangannya ke arah Kenzo sang Polisi datar yang ada di depannya.
Dengan cepat Kenzo berdiri lalu menghampiri Almira dan duduk di samping gadis itu, tanpa aba aba Kenzo mencubit sebelah pipi Almira karena kesal campur gemas dengan sang istri.
"Kamu..." ujar Kenzo melepas kan cubitannya yang bukannya Almira marah atau pun kesal melain kan gadis itu tertawa.
"Aku di tilang sama suami ku sendiri, cepat sana urusin sama Polisi datar, kan aku di tilang." ucap Almira dengan nada mengejek yang membuat Kenzo langsung mencium pipi gadis itu berkali kali karena gemas dan kesal masih ada di dalam tubuhnya karena Almira.
"Polisi datar itu suami kamu sayang..." ucap Kenzo sambil mencium Almira berkali kali dan di balas dengan tawanya.
Rio yang sejaka tadi melihat adegan suami istri yang sedang bemesraan membuatnya cengo di tempat, dia sangat iri melihatnya. Rio seperti tidak terlihat bagi dua manusia itu. Sangat membagongkan sekali baginya.
"Mereka seperti di dunia sendiri, yang lainnya hanya mengontrak saja." gumam Rio dengan nada pelan sambil menghela nafas menatap ke arah mereka yang masih berpelukan dan Kenzo menciumi pipi Almira berkali kali.
#PoorRio
***
"Disini banyak sekali gaya gaya baru, ternyata butik ini bisa sangat terkenal seperti ini. Oma, butik ini sudah berjaya tapi perusahaan sedang bergoyang. Maaf Oma."
Saat tangan Almira menempel di baju bergaun bewarna putih anggun, tiba tiba saja ada tangan juga yang menempel baju tersebut membuat mereka saling menatap. Almira menoleh ke arah gadis yang memakai hijab instan bewarna coklat muda dan baju gamis yang dia pakai, sangat berbeda dari Almira yang berpakaian memakai jaket tapi dalamnya itu gamis berlengan pendek dan juga memakai kacamata hitam bermasker.
"Maaf ya mbak, saya yang terlebih dulu memegang gaun ini." ujar Almira dengan santai.
"Tidak bisa mbak, saya yang lebih dulu memegang gaun ini maka saya yang membeli gaun ini mbak." sahut gadis itu seperti bernada angkuh dan kesal secara bersamaan membuat Almira menaik kan satu alisnya tidak ada lihat.
"Ini saya mbak yang duluan, maka gaun i-"
"Tidak bisa mbak, saya yang memegang gaun ini duluan. Saya ini suaminya manager di butik ini, jadi anda jangan macam macam dengan saya. Kalau ini punya saya, maka punya saya." ucapan bernada angkuh dari gadis itu seperti seumuran dengan Almira.
Almira yang mendengar itu seketika mengepal kan sebelah tangan yang ada di dalam saku dengan erat, menatap ke arah gadis itu yang sangat angkuh dan semena mena.
"Ada apa ini?"
Suara itu membuat dua gadis menoleh mendapati pria yang memakai jas formal dengan wajah angkuh dan di sebelahnya ada pelayan perempuan yang menunduk kan wajahnya.
"Sayang, padahal aku dulu yang memegang gaun anggun ini, tapi perempuan ini malah bersikeras ingin memiliki gaun ini sayang." adu gadis angkuh tadi ke arah pria tersebut sambil memeluk pinggang membuat Almira yang sedari tadi menatapnya menutar bola matanya malas tanpa di ketahui oleh mereka karena tertutupi kacamata hitam.
"Hey anda, kalau istri saya bilang ini anda juga harus menurutinya, saya ini manager di butik ini. Padahal di lihat lihat, anda pastinya tidak akan mampu membeli gaun gaun yang ada di sini apalagi gaun yang itu, sangat tidak mungkin." ujar sang pria yang memakai jas formal tersebut.
Almira diam saja, saat ada suara dari wanita paruh baya datang membuat kedua manusia tadi yang angkuh menjadi menunduk kan wajahnya tapi berbeda lagi dengan Almira yang malah tersenyum seringai melirik ke arah dua manusia tadi yang menjelek jelek kan dirinya.
"Ada apa ini, kenapa ribut ribut?" tanya wanita paruh baya itu.
"Begini Bu Bos, perempuan ini yang membuat keributan di butik kita. Perempuan ini ribut dengan istri saya karena gaun anggun itu, padahal tidak mempunyai uang loh Bu Bos. Sangat rendah sekali." ujar pria itu yang makin membuat Almira sangat kesal.
Saat wanita paruh baya itu akan berbicara kepada Almira, Almira lebih dulu melepas masker dan kacamata hitam dengan kasar membuat mereka semua menatap ke arah. Raut wajah terkejut sangat terlihat jelas sekali dari mereka semua yang menatap, tapi Almira hanya menatap ke arah dua manusia yang status suami istri itu dengan pandangan marah.
__ADS_1
"Pecat manager ini dengan tidak sopan, sekarang juga." perintah Almira dengan nada datar sambil menunjuk ke arah pria itu.
"Maaf Bu, maaf kan saya. Saya tidak tau kalau Bu Almira, saya minta maaf. Tolong jangan pecat saya Bu." mohon pria itu di depan Almira tapi tidak di peduli kan oleh pria itu.
Sang istri terdiam membeku tidak melaku kan apa apa menatap ke arah Almira yang memandang datar tanpa ekspresi.
"Bibi, kenapa bibi memperkeja kan orang seperti ini? Al kan sudah bilang, kalau manager itu Bibi, bukan orang lain. Saya kira butik ini nyaman dan tentram, ternyata tidak. SEMUA PEKERJA DATANG KEMARI." perintah Almira dengan nada tinggi dan keras membuat mereka semua langsung datang di depan Almira dengan pandangan takut.
"Ada masalah hem?"
Pertanyaan tiba tiba dengan suara datar tapi sangat mengeri kan dari arah pintu masuk membuat mereka semua menoleh ke arah tempat itu dan melihat pria berbadan tegap dan tatapan tanpa ekspresi sedikit pun berjalan menghampiri Almira dengan memasuk kan kedua tangan di dalam saku celana.
"Bang Edo." panggil Almira terkejut saat Edo sudah berada di sampingnya dengan menaik kan satu alisnya ke arah Almira.
"Abang urus pria ini dan istrinya, berikan hukuman yang sangat setimpal dan untungnya mereka tidak mempunyai anak satu pun. Jadi terserah Abang." ujar Almira dengan nada tegas membuat mereka semua makin takut dan lebih takutnya lagi adalah kedua suami istri itu yang sudah memucat pasi.
"Akhirnya dapat mainan, selama di Indonesia kamu tidak memberi kan mainan untuk ku Dek." balas Edo membuat mereka bergidik ngeri.
Almira hanya membalas dengan senyuman kecil yang di ketahui oleh Edo dan langsung pria itu memanggil para bodyguardnya untuk membawa dua manusia itu keluar lalu di ikuti oleh Edo.
"Bang Edo, tunggu sebentar." cegah Almira yang langsung membuat Edo dan bawahannya berhenti belum sampai ke pintu keluar.
Almira menyala kan ponselnya dan terdengar suara mencemooh dari dua manusia itu kepadanya membuat Edo mengepal kan kedua tangan di dalam sakunya sangat erat, Edo sangat benci saat ada yang mencemooh Almira.
"Itu tadi ucapan mereka ke aku Bang." ucap Almira dengan nada santai tapi membuat Edo berubah raut wajahnya menjadi sangat menyeram kan dan memerah di seluruh wajahnya seperti sedang marah dan emosi bercampur.
Edo menarik kerah baju pria yang berada di pegangan anak buahnya dengan erat membuat pria itu tercekik lehernya karena Edo, Edo tidak membiar kan suara suara dari mereka yang menyuruh berhenti dan juga berteriak takut. Sekarang yang dia pikir kan adalah pria ini harus mati dan mati, hanya itu saja.
"BANG EDO." teriak Almira menyadar kan Edo lalu melepas cekikannya membuat pria itu tersungkur ke bawah.
"Ini belum seberapa untuk kalian yang berani sekali menghina Almira, CEPAT BAWA MEREKA DI TEMPAT BIASA." bentak Edo lalu pergi karena sudah sangat emosi membuat Almira hanya diam memandang punggung tegap itu.
"Nanti saja kalau sudah ada di rumah." batin Almira.
Almira berbalik menatap ke arah mereka dengan pandangan mereka membuat semuanya menunduk kan wajahnya.
"Manager sekarang adalah Bibi dan saya yang memantau butik ini dari masalah kecil sampai besar, tolong untuk Bibi jangan mengelak lagi." ujar Almira dengan nada tegas.
"Tapi Al, kaku tau sendiri kan bagaimana Bibi..." ujar wanita paruh baya itu dengan nada memelas.
"Tenang saja Bi, Al sudah menyiap kan semuanya. Bibi menjadi Manager di butik ini, tidak ada bantahan." ujar Almira dengan senyuman manis menatap mereka semua yang ikut tersenyum juga.
"Semangat bekerjanya, mohon bantuannya untuk butik ini." ujar Almira yang di anggukki semangat dan gadis itu berlalu meninggal kan mereka berjalan ke arah ruangannya.
"Sangat susah sekali mengurusi dua pekerjaan, padahal aku sangat ingin kuliah. Tapi melihat kondisi itu sangat susah. Aku harus bekerja mengurus butik, perusahaan, dan suami. Oma, Al capek..." batin Almira dengan jalan lemah dan membuka pintu ruangannya dengan pelan lalu berjalan duduk menghampiri kursi kebesaran dan menyender kan punggungnya.
"Oma, ini semua sangat susah buat ku. Rasanya aku ingin menyerah dengan semua ini, tapi mengingat ada mereka yang sayang sama aku membuat aku harus lebih semangat lagi. Oma, meskipun ada suami dan bang Edo, tetap saja rasanya beda tanpa ada Oma. Nanti sore aku akan mengunjungi Oma, Al sangat merindu kan Oma." ujar Almira dengan menatap ke arah atas dengan pandangan sedih.
Drt... Drt... Drt...
Tiba tiba suara ponsel berbunyi membuat Almira mengambil benda itu yang berada di meja tempatnya dan saat melihat dari layar si penghubung membuat Almira menghapus air mata yang tanpa sengaja turun dengan cepat.
"Assalamualaikum Mas, kenapa?" ucap Almira.
"Waalaikum salam sayang, sayang aku sudah menyiap kan keperluan kita untuk bulan madu dan aku juga sudah membeli kan baju untuk kita malam per-"
"DASAR OTAK MESUM." teriak Almira segera lah memati kan sambung telepon itu dan menaruh ke mejanya lagi dengan menutup semua wajahnya yang tiba tiba memerah karena malu dengan ucap Kenzo sang suami tentang malam pertama.
"Kenzo kalau seperti ini, rasanya aku mau tenggelam di danau Toba." gerutu Almira.
__ADS_1