Suami Pilihan Oma

Suami Pilihan Oma
TIGA PULUH


__ADS_3

"Oma gimana kalau aku pulang, Justin itu anaknya ceroboh."


Sedari tadi Almira tidak berhenti berbicara kepada Kenzo untuk tidak mau pulang. Mereka membangunkan Almira sangat pagi sekali lalu mereka menyuruh Justin untuk menjaga Oma Diana.


Itu sangat susah Almira terima, karena dia tau bagaimana cerobohnya seorang Justin Alindra.


"Ayok, Al. Waktunya kita harus berangkat, nanti itu semester." ucap Danera yang sudah menarik pergelangan tangan Almira.


"Tapi jangan Justin ju-"


"Heh, lo sudah pencemaran nama baik gue Almira. Sudah sana pergi, janji gue selalu jaga Oma. Hus hus sana." usir Justin memotong ucapan Almira yang sedari tadi sudah membuat dirinya sangat kesal.


Kenzo berpamitan kepada Oma Diana di ikuti yang lainnya kecuali Danera dan Almira yang sudah keluar sejak tadi akibat tarikan paksa dari Danera. Almira hanya bisa mengikuti saja, pasrah saja.


Di dalam sebuah mobil mereka semua hanya diam tidak ada yang mengeluarkan suara sedikitpun, tidak tau kenapa aura menyeramkan dari Almira.


Almira hanya menampilkan raut wajah datar membuat mereka tidak berani mengajak berbicara. Tidak tau saja, sebenarnya Almira merasakan takut gelisah secara bersamaan.


Tidak tau kenapa.


Elusan lembut di puncak kepala Almira membuat si empu hanya melirik saja tidak mempedulikan, semua ini karena Kenzo. Ini salah cowok itu.


Tanpa sadar, Almira mengepalkan kedua tangan di dalam saku jaket yang di berikan Kenzo kepadanya. Melirik kearah cowok itu membuat amarah dan emosi di dalam tubuh Almira seketika berkorbar ingin keluar tapi dia tahan.


"Tunggu waktu yang tepat untuk pembalas gue ke lo, Kenzo Sagara Samudra. Gue akan membuat lo sangat sengsara dan menyiksa." batin Almira.


***


"Ken, lo tidak apa-apa?"


Tepukan di lengan tangan Kenzo dari Rio dan Nig sedang menatap bingung kearah sahabatnya. Mengetahui bagaimana perasaan Kenzo yang saat melihat Almira yang dengan marah kepadanya.


Kenzo hanya bisa diam menatap punggung Almira yang mulai menghilang menjauh dari pandangannya, tidak ada yang bisa menebak jalan pikiran cowok itu.


"Hem, kita pamit pulang dulu Ken." pamit Nigel sedikit menyenggol perut Rio yang mengangguk mengiyakan.


Kenzo hanya berdehem saja membuat kedua laku-laki memandang saling tatap, lalu pergi setelah sedikit pamitan dengan gaya mereka sendiri.


Kenzo menatap langit membuat helaan nafas lelah keluar dari mulut Kenzo. Wajah lelah dan capek dengan cepat keluar begitu saja di raut wajah Kenzo.


"Apa aku bisa menyelesaikan berbagai masalah yang datang kepada ku? Aku pun tidak tau." ucap Kenzo.


***


"Lo kenapa sih seperti ini, Almira?"


Pertanyaan dari mulut Danera membuat mereka saling menatap di tempat duduknya, raut wajah Almira tetap gelisah tidak enak di lihat. Takut saja tiba-tiba merasakan perasaan saat meninggalkan ruang rawat Oma Diana.

__ADS_1


"Gue gak tau, gue selalu merasakan perasaan tidak enak di setiap saat setelah pulang dari Surabaya." jawab Almira membuat kedua sahabatnya menatap serius.


"Yaudah, ayo ke kantin. Semoga saja itu tidak terjadi hal buruk dalam hidup lo, Al." ujar Danera yang langsung di anggukki kedua sahabatnya berjalan meninggalkan kelas mereka.


Saat masih di koridor kelas anak jurusan berbeda dari mereka, tiba ada seseorang yang tiba-tiba berada di depan Almira yang sudah menampilkan raut wajah sinis dan menyeringai mencoba mengejek Almira dengan cara tatapan.


Mereka semua murid yang sedang berlalu lalang melambatkan langkahnya ingin melihat bagaimana Almira saat marah, karena raut wajah sangat menyeramkan dan membuat mereka takut.


Llu berbeda lagi dengan Ella yang sedang berada di depannya.


Almira mengepalkan kedua tangan mencoba menahan emosi yang sudah sangat tsrpancing akibat Ella saja. Sebenarnya Almira sangat mudah mengendalikan emosinya, tapi waktu sekarang tidak lah bagus untuk Almira tidak emosi.


"Wah... Tuan putri sudah datang dari kegelapan. Gue kira kalian bertiga ini menjaga perbuatan kalian dari cowok lain, eh ternyata kalian pergi ke luar kota bersama para laki-laki yang sudah om om. Sungguh sangat memalukan." ujar Ella dengan nada panjang dan tinggi sehingga para murid lainnya mendengar ucapan dari Ella.


Semua memandang kearah Almira,Nera dan Danera berbagai tatapan lain membuat mereka mengepalkan kedua tangan di samping badannya.


"Lebih parah ada seorang cewek sedang berciuman dengan pria yang sudah berumur seperti bapak-bapak di depan umum. Malah cewek itu masih memakai seragam sekolah kita itu loh, iya kan Dan?" ucap Almira dengan nada tinggi dan keras mencoba mengalihkan kearah sahabatnya.


"Betul, gue lihat mereka ciuman aja sudah muntah. Apalagi tuh cewek, iyuh." ujar Danera membuat raut wajahnya seperti ingin muntah.


"Sebut nama, Ner." ujar Almira memoerlihatkan senyuman sinis kearah Ella yang sedang me gepalkan kedua tangan sambil wajahnya memerah menahan amarah.


"Ella si cabe." balas Nera dengan nada dingin dan datar.


Almira dan Danera yang mendengar jawaban dari Nera, seketika langsung saja tawa dari kedua gadis itu menyalur ke murid lainnya ikut tertawa sangat kencang juga.


Niat hati Ella ingin mempermalukan Almira dan kedua sahabatnya, malah yang kena adalah dirinya sendiri yang semakin malu saat ada foto dirinya sedang berciuman di dalam grub whatsapp sekolah, sehingga Ella sangat malu.


"Ayo." ajak Nera kepada kedua sahabatnya yang mengangguk mengiyakan.


Saat Almira akan melewati Ella yang masih diam di tempat membuat dia berhenti lalu memajukan wajahnya ke telinga gadis thr itu tanggung jawab untuk baginya.


"Kalah lagi lo, Ella si cabe. Almira di lawan? Tidak akan bisa." bisik Almira tepat sekali di samping telinga Ella.


***


"Assalamualaikum... Almira pulang."


Teriak Almira memenuhi rumah yang sekarang sangat sepi membuat gadis itu menghembuskan nafas dengan kasar. Dia sangat tidak suka dengan kesepian.


Almira Sayyida Alindra... Passwordnya apa?


Imut lucu menggemaskan...


"Assalamualaikum Justin, kenapa?" tanya Almira setelah salam dia ucapkan di dalam sambungan teleponnya.


"Waalaikum salam. Lagi dimana? " jawab salam Justin lalu bertanya dengan nada khawatir.

__ADS_1


"Di rumah kok, kenapa?"


Suara helaan nafas menandakan dia sangat legah dengan ucapan Almira, Almira hanya menatap teleponnya sambil tersenyum kecil.


"Syukur deh."


"Oma bagaimana kabarnya?" raut wajah yang tidak bisa tersembunyikan saat bertanya tengan Oma Diana.


Tidak tau kenapa, Almira merasakan takut masih menjalar di seluruh badannya.


"Keadaan Oma semakin buruk, tadi habis kejang-kejang. Beruntung sekali Dokternya bisa menyelamatkan Oma dengan alat-alat medisnya."


Almira membeku di tempat tidak tau harus berekspresi seperti apa, berarti rasa takut dan tidak mau meninggalkan berarti perasaan itu untuk Oma Diana yang paling dia sangat sayang.


"Gue datang ke sana ya, Justin."


"Tidak perlu, Al. Sekarang sudah tidak apa-apa. Ku tutup dulu, Assalamualaikum."


"Waalaikum salam."


Sambungan telepon terputus dari si penelpon membuat Almira membeku dan langsung meluruh ke bawah sambil melipatkan kedua tangan di atas lipatan kakinya.


"Gue gak bisa hidup tanpa Oma, semua yang gue lakuin itu saja Oma yang mengarahkan. Semoga hal buruk tidak muncul di kehidupan ku dan sang Oma." lirih Almira dengan nada pelan.


Kedua mata membentuk, hidung yang bewarna merah dan jangan luoakan dengan suara yang seperti orang putus asa.


"Oma sudah berjanji tidak akan meninggalkan dirinya sendiri. Tidak akan pernah dan Oma Diana akan menempati janji tersebut." lanjut Almira sambil menundukkan pandangan.


"Almira?"


Panggilan dari seseorang dengan nada berat seperti laki-laki membuat Almira mendongakkan wajahnya menatap Kenzo yang memandang khawatir.


Kenzo langsung saja membawa Almira ke dalam pelukan hangatnya saat melihat wajah Almira yang sehabis menangis membuat hatinya tersayat sakit.


"Mau cerita, hem?" tanya Kenzo sambil mengelus punggung Almira dengan lembut.


Hanya gelengan kepala dari Almira membuat Kenzo menghela nafas mencoba mengerti dengan situasi yang sekarang ini. Bukan apa-apa, Kenzo sangat khawatir kepada Almira.


"Kamu tau kan kalau aku sangat mencintai kamu, Al. Maka jangan membuat ku gila hanya karena khawatir dengan kamu seperti ini. Rasanya tidak enak tau, sayang." ucap Kenzo membuat Almira hanya diam.


Almira tidak tau harus melakukan apa atau berekspresi seperti apa dia tidak mengerti. Tiba-tiba jantungnya berdebar saat Kenzo mencium kening Almira sangat lama.


Almira tidak tau sejak kapan dirinya merasakan perasaan yang sangat aneh tapi sangat bahagia. Itu yang membuat dia bingung dan merasa aneh dengan hati dan pikiran tidak sejalan saat berada di samping Kenzo atau berdekatan dengan cowok itu.


Almira mencoba menatap wajah Kenzo yang sayangnya sangat tampan bila dari dekat. Tanpa di duga, Almira memegang pipi Kenzo sebelah agar mereka saling tatap dan dirinya mengusap pelan dengan lembut memakai jari-jari kecil tersebut.


"Kenapa harus kejadian itu ada diantara kita, Gara. Itu yang sangat membuat hidupku boomerang dengan kamu Kenzo. Saat ingin membuka buat kamu, kejadian itu tiba-tiba terlintas membuat ingin pergi dari hidup kamu. Aku benci kamu, Kenzo Sagara Samudra." ujar Almira mengeluarkan unek-unek membuat Kenzo menatap lekat dan intens.

__ADS_1


"Aku tidak akan membiarkan kamu pergi atau pun meninggalkan aku, Almira Sayyida Alindra." batin Kenzo dengan senyum seringai tanpa di ketahui oleh Almira lalu memeluk sangat erat.


__ADS_2