
"Sayang, aku tidak mau kamu tinggal kan aku, aku sangat mencintai kamu. Tolong jangan pergi dari aku..."
Racauan dari mulut Kenzo membuat Almira yang berada di sampingnya terkejut saat melihat banyak sekali keringat di kening pria itu.
Dengan cepat Almira menepuk nepuk pipi Kenzo dengan lembut, tapi Kenzo tetap meracau makin keras menyebut kan nama Almira dengan nada takut membuat Almira membeku di tempat. Almira menatap Kenzo yang masih meracau terus saja sambil keringat terus saja menguncur di kening pria itu.
"Ken, Kenzo. Ini aku, hei bangun. Ken, jangan gini, aku selalu ada di samping kamu kok, Ken bangun dulu ya..." ucap Almira dengan nada sedikit keras dan menepuk kedua pipi Kenzo membuat pria itu membuka kedua mata dengan pandangan lemah seperti bukan seorang Kenzo yang dingin dak tidak punya perasaan kepada siapa pun yang mengusik dirinya.
Almira mengusap keringat yang ada di kening Kenzo dengan telapak tangannya membuat pria itu menoleh ke arah sang istri, saat tau siapa yang menyeka keringatnya, langsung saja Kenzo memeluk tubuh Almira sangat erat dan menyembunyi kan kesedihan karena takut akan mimpinya yang seperti nyata tersebut.
Almira mengelus rambut hitam legam Kenzo yang sekarang pria itu membenam kan kepalanya di ceruk leher Almira membuat gadis itu mudah untuk mengelus rambut hitam legam itu. Saat Kenzo makin mengerat kan pelukkannya membuat Almira menatap Kenzo dengan pandangan yang sulit di artikan.
"Tidak apa apa, itu hanya mimpi buruk saja kok. Sudah tidur lagi ya..." ucap Almira dengan nada lembut dan pelan yang langsung di anggukki oleh Kenzo tentunya.
Mereka masih mempertahan kan pelukan tanpa melepas kan sampai mereka memejam kan kedua mata, tapi saat Almira sudah akan masuk ke alam mimpi, gadiz itu tiba tiba mendengar suara tangis membuat Almira terkejut lalu menoleh ternyata itu adalah Kenzo yang sambil memejam kan kedua mata dan air mata yang terus mengalir.
"Ken, kamu kenapa?" tanya Almira sambil membangun kan Kenzo dengan kasar karena gadis itu sudah sangat khawatir.
Almira tidak pernah tau Kenzo menangis seperti sekarang ini, tangisan Kenzo sangat membuat hatinya sesak hanya melihat saja.
Almira melihat kalau kedua mata Kenzo terbuka dengan perlahan, saat kedua mata mereka saling tatap membuat jantung Almira berdetak sangat kencang sehingga berbunyi dan dapat bisa di dengar oleh Kenzo karena pria itu sekarang lehernya menempel di dada Almira.
"Kamu harus janji tidak pernah meninggal kan aku?" ujar Kenzo dengan nada lirih dan pelan yang masih bisa di dengar sama Almira tentunya.
"Iya, aku janji. Sudah ya jangan bahas ini, aku tidak suka melihat pahlawan ku ini menangis seperti orang lemah." ujar Almira dengan nada menenang kan membuat Kenzo langsung menghapus air mata dengan cepat lalu menatap ke arah Almira dengan pandangan lekat dan dalam.
Kenzo langsung merubah tempatnya untuk mengukung Almira di bawahnya membuat Almira yang tidak siap langsung sudah berada di bawah Kenzo dengan melotot kan karena terkejut.
Kenzo memaju kan wajahnya ke wajah Almira dengan senyuman manis membuat gadis yang ada di bawahnya terpesona dan membeku di tempat. Kenzo sangat senang menatap Almira yang terdiam karena dirinya, serasa Almira terpesona akan dirinya membuat hatinya sangat bahagia dan senang yang mendapat kan tatapan dari Almira.
"Aku tidak ada bosan bosannya sayang, aku selalu mengucap kan kata ini ke kamu. Aku cinta kamu, Almira Sayyida Samudra."
Cup.
Kenzo mencium bibir Almira dengan lembut setelah mengucap kan kata kata yang selalu dia ucap kan, menekan tengkuk Almira untuk memperdalam ciuman mereka.
Almira yang sudah terbuahi langsung mengalungkan kedua tangan di leher Kenzo membuat pria yang berada di atasnya makin mengikis jarah di antara mereka agar menempel.
Di sela sela ciuman mereka, Kenzo tersenyum senang saat Almira menerima dengan senang hati dan membalas ciuman mereka meskipun istrinya masih sangat pelan.
Sebelah tangan Kenzo mengalung kan ke pinggang ramping Almira lalu menarik pinggang itu sehingga sekarang tempat mereka berubah, Almira berada di atas tubuh Kenzo membuat ciuman mereka terlepas karena gadis itu terkejut dengan pergerak kan pria yang sekarang ada di bawahnya.
Nafas mereka saling bersahutan dan saling menerpa di wajah masing masing, terasa hangat membuat Kenzo menarik sudut bibirnya ke atas yang di balas dengan Almira senyuman manis juga.
__ADS_1
Kenzo melepas kan hijab instan yang masih ada di Almira membuat gadis itu hanya diam melihat saja, saat sudah terlepas rambut panjang Almira berjatuhan di wajah Kenzo membuat pria itu tercium aroma wangi lavender di rambut Almira.
"Kamu belum mendapat kan hukuman, sayang." ucapan Kenzo saat sudah melepas kan pungutan ciuman mereka membuat kedua mata Almira membola.
"Hukuman?" ujar Almira dengan nada bertanya dan terkejut.
"Gue kira dia akan lupa, ternyata... Akh..." jerita Almira di dalam hati menatap Kenzo yang langsung menimbul kan senyuman manis di bibirnya yang membuat Almira selidik.
"Hukumannya besok saja sayang, sekarang waktunya aktifitas sehari hari, hem." ucap Kenzo dengan nada menggoda.
Ctak.
Almira menyentil kening Kenzo sedikit keras kesal karena ucapan pria tersebut yang malah tersenyum makin lebar bukannya meringis kesakitan, saat Almira akan memarahi Kenzo menjadi tidak jadi karena melihat kening Kenzo yang habis dia sentil memerah.
Almira langsung mengelus kening Kenzo dengan pandangan bersalah menatap Kenzo.
"Kalau kamu usap saja tidak akan sembuh sayang, coba kamu cium pasti langsung sembuh." ujar Kenzo dengan nada santai membuat Almira menoleh ke arahnya.
"Emang bisa seperti itu, Ken?" tanya Almira dengan pertanyaan bodohnya membuat Kenzo melebar kan senyumannya.
Almira kalau dalam situasi khawatir dan tergesa gesa kan terlihatlah sifat polosnya.
"Bisa, coba saja. Tapi harus dengan hati menciumnya, pelan, lembut, dan lama pasti langsung sembuh tidak memerah lagi." jawab Kenzo yang di balas dengan anggukkan kepala oleh Almira.
"Sudah sembuh pastinya." ujar Almira setelah meniup kan nafasnya di kening Kenzo setelah mencium lama kening tersebut membuat Kenzo tersenyum makin lebar.
"Aku sangat mencintai kamu Al, aku tidak akan membiar kan lelaki mana pun merebut kamu dari aku. Kamu hanya milik ku, hanya milik ku." ucap Kenzo membuat Almira terdiam membeku.
Cup.
Kenzo mengecup kedua pipi Almira dengan lembut membuat gadis itu terdiam menatap Kenzo.
Cup.
Berganti mengecup keninga Almira dengan lembut.
"Aku mencintai mu, Almira Sayyida Samudra istri ku." ucap Kenzo dengan nada serius tapi lembut yang membuat Almira tersenyum manis.
***
"Ner, kenapa disini ada mereka juga? Gue males jadinya."
Bisikan dari Danera tepat di samping telinga Nera dan yang mendengar hanya mereka berdua karena suara bisikan Danera sangat pelan tidak tau kenapa gadis itu belajar dari mana bersuara sangat pelan.
__ADS_1
"Sama." jawab Nera dengan pelan yang langsung di anggukki oleh gadis di sampingnya.
Mereka sekarang masih berada di ambang pintu menatap ke depan menatap dua pria yang sedang berbincang sambil meminum tidak mengetahui kalau ada gadis yang mereka cintai.
Saat tidak sengaja tatapan mereka bertemu satu sama lain, betapa terkejutnya melihat Danera dan Nera yang memandang datar ke arahnya lalu kedua gadis itu berjalan masuk tidak berjalan ke arah mereka membuat kedua pria yang sejak tadi menatap Nera dan Danera dengan diam menatap dari kejauhan saat para gadis itu sudah berlalu ke arah si pembuat acara yang sedang tersenyum.
"Selamat, sukses terus Paman. Maaf, Al tidak bisa datang karena ada urusan mendadak di luar kota. Tapi tenang saja Paman, Al sudah membawa hadiah ini." ujar Danera dengan nada ceria dan Nera hanya tersenyum kecil saja ke arah pria paruh baya di depannya ini yang sednag tersenyum lebar.
"Terima kasih, sepertinya kalian akan tidak punya waktu ke caffe ini lagi ya? Betapa sedihnya..." ujar pria paruh baya itu dengan nada sedih membuat kedua gadis itu tersenyum karena merasa lucu dengan pria paruh baya tersebut.
"Paman bisa saja aktingnya." ujar Nera yang membuat pria paruh baya itu terkekeh pelan.
"Kamu itu selalu saja tau, sekali kali Paman sedih gitu loh. Tapi kalau sama kalian itu Paman selalu tertawa bahagia terus." ujar pria paruh baya lalu mengusap pencak kepala Nera lalu beralih ke Danera.
Nera maupun Danera sama sama tersenyum ke arah pria paruh baya tersebut. Selama ini Paman yang ada di depannya lah yang selalu membantu mereka apa pun itu.
"Nera mau pamitan juga ke Paman, kalau satu minggu lagi Nera akan pergi ke luar negeri buat melanjut kan pendidikan." ujar Nera membuat pria paruh baya itu memberhenti kan tawanya dan menatap sendu ke arah gadis itu.
"Danera juga pamit, Danera akan melanjut kan pendidikan di luar kota. Paman tolong jaga Almira selama kami tidak ada di sampingnya dan juga jaga diri Paman juga jangan terlalu bekerja kan sudah mempunyai pegawai, Paman tidak perlu ikut bekerja lagi. Oke, Paman?" sambung Danera membuat pria paruh baya tersebut menunduk menyembunyi kan raut wajah sedih.
Danera yang melihat itu menyingkut lengan Nera yang membuat gadis itu mengangguk, dengan pelan kedua gadis itu memeluk tubuh pria paruh baya yang sudah sedikit membungkuk sambil menepuk nepuk punggung pria tersebut yang malah membuatnya menetes kan air mata yang di balas dengan senyuman hangat dari kedua gadis itu.
Tanpa di ketahui oleh mereka, sedari tadi Rio dan Nigel mendekat sehingga mereka bisa mendengar apa yang mereka ucap kan. Tapi saat Nera mulai membicara kan luar negeri dan Danera juga yang membicara kan akan ke luar kota membuat kedua pria itu berhenti dari langkahnya.
Rio maupun Nigel mengepal kan kedua tangan di samping badannya.
Mereka sama sama tidak terima dengan ucapan kedua gadis yang sangat sangat berarti untuk hidupnya, tapi kenapa mereka akan pergi meninggal kan mereka.
"Kenapa harus pisah dengan Al? Apa kalian lupa kalau Al baru saja kehilangan Omanya, kenapa malah kalian harus pergi meninggal kan Almira sendiri, Nduk." ujar pria paruh baya itu membuat kedua gadis menunduk kan pandangan dan di lihat oleh Rio maupun Nigel berhenti dari langkahnya lagi yang tadi akan menghampiri tapi tidak jadi, karena rasa penasaran tiba tiba datang dari dalam dirinya.
"Sebenarnya kami tidak tega buat meninggal kan Al sendiri, tapi ini adalah permintaan orang tua, Paman. Aku maupun Nera sama sama di suruh menempuh pendidikan di luar, lalu kamu bisa apa Paman? Kami hanya bisa menurut ucapan mereka saja, Paman tau kan bagaimana keluarga aku maupun Nera." jawab Danera dengan nada lirih tapi masih di dengar sambil menunduk kan pandangan tidak berani mendongal kan sama sekali.
Rio dan Nigel saling menatap satu sama lain dengan pandangan terkejut, mereka mengangguk anggukkan kepala mengerti apa alasan dari Nera maupun Danera untuk meninggal kan mereka.
Puk... Puk...
Tepukan di bahu Danera membuat gadis itu menoleh ke arah belakang, saat mengetahui siapa yang melakukan seperti itu langsung saja Danera mundur di belakang tubuh Nera yang juga memandang kedua pria tampan yang sekarang berada di depannya.
"Paman, kami permisi dulu. Ayo, Dan." ajak Nera langsung menarik pergelangan tangan Danera membawa keluar dari caffe membuat kedua pria yang melihat langsung berlari mengejar mereka.
"Kalian jangan menghindari kami lagi, kami mohon."
Ucapan dengan nada lirih membuat langkah Danera dan Nera berhenti lalu membalik kan badan melihat Rio dan Nigel yang sudah memegang sebelah tangan gadis itu dengan lembut.
__ADS_1
"Kami dengar, kalian akan pergi. Boleh kan kami membuat kenangan indah untuk cewek yang kami cintai?"