Suami Pilihan Oma

Suami Pilihan Oma
SEMBILAN PULUH DUA


__ADS_3

"Apa yang sudah kamu lakukan ke pria itu, Mas?"


Pertanyaan dari mulut Almira setelah melepas kan genggaman ke pergelangan tangan Kenzo dengan nada datar menatap ke arah suaminya yang sedang tersenyum seringai kecil, sehingga yang hanya terlihat dari kedua mata Almira hanya raut wajah datar seperti biasa seorang Kenzo Sagara Samudra.


Raut wajah makin datar saat tidak mendapat kan jawaban dari pria yang di depannya, kedua tangan Almira berada di kedua bahu Kenzo sedikit menekan sambil menatap kedua mata yang indah tersebut dengan lekat seperti ingin mencari sesuatu.


Almira dan Kenzo sekarang berada di halaman belakang, hanya ada tanaman tanaman saja dan jarang sekali ada orang yang lewat ari belakang, makanya Almira menarik Kenzo ke tempat yang di rekomendasi kan dari teman se kamarnya karena perempuan itu bertanya tentang tempat tempat di area pelatihannya.


Almira sebenarnya tidak mencurigai Kenzo karena berita heboh tadi yang katanya ada yang membunuh ketua kelompoknya dengan sadis sehingga beberapa bagian ada yang sudah terpotong potong menjadi beberapa bagian bagian. Akan tetapi saat ucapan Kenzo terlintas saat kegiatan semalam membuatnya curiga kepada sang suami. Berita itu sangat heboh di tempat pelatihannya, untung saja para anggota Polisi bisa menangani dengan baik sehingga tidak sampai ke luar jalur kota pelatihannya.


Pria yang terbunuh dengan sadis adalah pria yang memberi kan minuman dingin dan yang memeluk pinggangnya tanpa sengaja karena dirinya terpeleset semalam. Lalu paginya ada kabar kalau pria itu sudah meninggal dengan keadaan yang sangat mengenas kan. Bagi Almira, itu sangat mendadak dan tiba tiba membuatnya curiga.


Ada perasaan bersalah di dalam hatinya tanpa sebab, Almira juga tidak tau kenapa dengan perasaan bersalah seperti ini.


"Mas jawab pertanyaan ku, apa benar itu kelakuan kamu? Apa yang sudah kamu lakukan ke pria itu? Apa kamu yang membu-"


"Sayang, apa kamu curiga sama aku? Memangnya buat apa aku membunuhnya hem. Pembunuh adalah kesalahan yang besar loh sayang, jelas aku tidak mau membuat kesalahan besar seperti itu." ujar Kenzo memotong ucapan Almira.


"Memang bukan tangan ku sendiri yang membunuhnya, tetapi anak buah ku lah yang membunuh pria itu, sayang. Aku akan menyingkir kan siapa pun yang membuat kita terhalang." batin Kenzo melanjut kan ucapannya di dalam hati sambil tersenyum seringai kecil.

__ADS_1


Almira diam menatap Kenzo dengan tatapan penuh selidik dan Kenzo malah merubah tatapannya menjadi polos seperti anak kecil. Sehingga Almira menghembus kan nafasnya lega lalu memeluk tubuh suaminya erat, tanpa sepengetahuan kalau Kenzo menyeringai lebar lebar sambil mengelus bahu sang istri dengan lembut.


"Aku sempat curiga sama kamu Mas, alhamdulillah bukan kamu yang membunuh pria itu dengan sadis." ujar Almira sambil melepas kan pelukan mereka sehingga tatapan mereka saling bertubruk kan.


"Iya sayang." jawab Kenzo dengan nada lembut se lembut mungkin sambil mengelus puncak kepala sang istri dengan lembut juga penuh kasih sayang.


"Kalau gitu ayo kem-"


"Almira? Almira kan?"


Suara yang tiba tiba membuat Almira dan Kenzo menoleh secara bersamaan, kedua mata Almira sudah berkaca kaca melihat seorang gadis yang berstatus sahabatnya ada di depan mata kepalanya sendiri.


Tanpa banyak kata lagi, Almira langsung berlari menghampiri gadis itu lalu memeluk tubuh gadis itu dengan erat sama menangis, tidak jauh beda dengan gadis itu yang menangis tersedu sedu memeluk Almira erat. Kenzo maupun pria yang ada di samping gadis itu hanya diam lalu saling menatap satu sama lain.


Ya, gadis itu adalah Danera dan pria yang berada di sampingnya adalah Rio. Tanpa sengaja mereka bertemu saat di depan gerbang tempat pelatihan tersebut, dan Danera di paksa oleh Rio yang menariknya agar mengikuti.


Dengan pasrah Danera mengikuti langkah Rio dan ternyata pria itu membawanya lewat pintu belakang, tapi dia sangat senang di lewat kan ke pintu belakang karena dirinya lebih dulu bertemu dengan sahabatnya setelah sekian lama dirinya berada di kota orang.


"Iya Al, gue ada di kota ini. Gue kuliah sambil kerja jadi wartawan seperti jurusan gue gitu. Gue kangen banget sama lo dan Nera juga, gue... gue..." isak tangis Danera lebih dulu keluar sebelum menyelesai kan ucapannya.

__ADS_1


Almira langsung saja kembali memeluk tubuh Danera sambil mengelus bahu sahabatnya dengan lembut sambil membisik kan kata kata penenangan seperti dulu kala, bukannya Danera berhenti tangisnya melain kan gadis itu menangis tersedu sedu sambil memeluk Almira erat dan membenam kan wajahnya ke sahabatnya.


"Gue minta maaf aama lo Al, Nera pergi tinggal kan lo, gue malah ikut pergi juga ninggalin lo sendiri menghadapi semuanya. Gue minta maaf Al, gue minta maaf." lirih Danera dengan nada berbisik yang malah membuat Almira juga terisak menangis yang sejak tadi dirinya tahan, tapi saat mendengar ucapan Danera yang dirinya sendiri menghadapi semuanya membuat hatinya merasa kan sesak.


Almira tidak memberi kan balas dari ucapan Danera, yang malah perempuan itu hanya menangis dengan terisak saja.


Kenzo yang sejak tadi menatap ke arah sang istri yang sedang menangis membuat hatinya sakit dan mengepal kan kedua tangan untuk menahan rasa sakit di hatinya yang tiba tiba hanya dengan melihat sang istri tercinta bersedih dengan pilu. Kenzo hanya diam menatap saja, dirinya tidak tau harus melaku kan apa untuk Almira karena dirinya juga bingung.


"Ayo ikut gue ke kamar kelompok gue, gue mau cerita banyak ke lo Dan." ajak Almira yang langsung di anggukki mantap oleh Danera.


Setelah mendapat kan jawaban dari Danera, dengan cepat Almira menarik pergelangan tangan Danera untuk pergi meninggal kan kedua pria yang sejak tadi menatap ke arah kedua perempuan tersebut. Almira sama sekali tidak menatap ke arah Kenzo, sehingga membuat pria itu memandang sang istri dengan pandangan tidak percaya. Berbeda lagi dengan Rio yang menghembus kan nafas kesal melihat perempuan dua tersebut yang seperti tidak menganggap dirinya dan Kenzo.


"Padahal tadi gue paksa Danera dengan susah payah, eh malah di bawa sama Almira dengan mudahnya. Keselin banget." gerutu Rio dengan nada kesal yang bisa di dengar oleh Kenzo membuat pria itu menatap tajam ke arah sahabatnya yang masih cemberut kesal.


Puk.


Pukulan di bahu Rio dari tangan kekar Kenzo sangat keras sehingga berbunyi cukup nyaring di pendengaran mereka, Rio menatap tidak terima ke arah Kenzo yang di balas dengan pandangan tajam se tajam silet.


Rio menampil kan cengiran tidak jelasnya sehingga memperlihat kan deretan gigi putihnya dan menunjuk kan dua jarinya di depan Kenzo, lalu Rio merangkul bahu lebar Kenzo dengan satu tangannya dan menarik untuk berjalan ke arah tempat pelatihan dengan bersenandung tidak mempeduli kan tatapan datar dan tidak terima dari Kenzo. Tetapi sebenarnya di dalam hati Rio, dirinya sudah ketar ketir sendiri karena takut dengan sahabatnya yang menyeram kan ini.

__ADS_1


Rio mencoba untuk bersikap biasa saja, tetapi saat aura mencengkam dan mendingin dari Kenzo yang dia keluar kan membuat tangan Rio yang sebelumnya berada di bahu pria itu langsung saja turun dengan sendirinya karena dirinya makin takut kepada seorang Kapten Kenzo Sagara Samudra.


"Merinding gue... Rasanya seperti di kejar hantu saja, tetapi ini lebih menakut kan dari hantu sih..." batin Rio meringis ketakutan parah tanpa mau menoleh ke arah Kenzo sedikit pun, dirinya hanya berani melirik saja.


__ADS_2