
"Lari sepuluh putaran untuk pemanasan karena sinar matahari sangat sehat bagi tubuh, mengerti?"
Suara lantang dengan nada tegas dari pria bertubuh tegap menatap para peserta dengan pandangan datar, tapi ada satu perempuan yang dia pandang dengan tatapan kedua mata memancar kan Cinta.
"Mengerti." jawab mereka tidak serempak dan bernada lemas karena terkejut.
"Lebih keras, mengerti?" sahut pria yang menjadi Kapten Kepolisian dengan nada sedikit membentak tapi sebenarnya bukan niat untuk membentak melain kan lebih keras dan tegas.
"MENGERTI." jawab para peserta dengan nada keras dan lantang jangan lupa kan dengan wajah sedikit tertekan.
"Mulai."
Perintah dari Kapten langsung saja mereka laksana kan dengan gerutuan pelan agar tidak bisa di dengar oleh pria tersebut, Almira sejak tadi hanya diam dan pandangannya tidak lepas dari Kenzo yang ada di depan dengan perasaan bangga melihat sang suami yang hebat seperti ini.
Almira berada di barisan belakang bersama ketiga gadis yang satu kamar dengannya, nafas mereka sudah tersenggal senggal meskipun baru saja dua putaran yang mereka lalui.
"Capek banget..."
"Betul, jahat banget sih Kapten itu..."
"Rasanya mau mati saja gue..."
Gerutuan demi gerutuan dari ketiga teman sekamar Almira yang di balas dengan wanita itu hanya senyuman saja dan mengelus bahu mereka memberi kan semangat membuat ketiga gadis itu menghela nafas lalu mengikuti Almira.
Tanpa di ketahui Almira, sejak tadi Kenzo menatap khawatir di dalam kedua matanya meskipun raut wajahnya hanya menampil kan datar tanpa ekspresi. Kedua tangan Kenzo terkepal erat saat melihat Almira tersenggal senggal capek dan banyak sekali keringat di wajahnya. Rasanya Kenzo ingin menghampiri istrinya, tapi mengingat ucapan Almira yang harus sportif membuat pria itu menggeram pelan sambil menunduk.
Tiba tiba saja tatapan Almira menoleh ke arah Kenzo membuat mereka saling menatap, Almira melihat pancaran khawatir dari kedua mata sang suami langsung saja wanita itu memberi kan senyuman kecil yang hanya di mengerti oleh Kenzo saja bahwa dia baik baik saja sehingga kedua matanya menyipit lalu menoleh ke arah depan melanjut kan kegiatannya.
"Sayang..." geram Kenzo bernada gumaman kecil sehingga tidak ada yang bisa mendengar karena terlalu pelan.
Prit....
Suara peluit tiba tiba bunyi membuat mereka semua menatap ke arah Kenzo dengan pandangan bingung dan heran karena kalau sang Kapten membunyi kan peluit maka tandanya mereka selesai, para anggota Polisi hanya diam sambil menatap saja tidak berani protes karena para peserta masih tujuh putaran sehingga kurang tiga putaran lagi.
Setelah bunyi suara peluit, para peserta langsung terduduk ke tanah dengan mengipasi dirinya sendiri dengan topi bewarna putih yang ada lambang pelatihan tersebut.
Tidak jauh beda dengan Almira yang langsung menselonjar kan kedua kakinya dan di ikuti oleh ketiga gadis yang sejak tadi berada di dekat Almira.
Saat Kenzo sudah melangkah satu langkah tiba tiba dia berhenti karena ada seorang pria peserta juga menghampiri Almira dan memberi kan minuman dingin kepada istrinya, membuat dia mengetat kan rahangnya dan mengepal kan kedua tangan di saku celana baju dinasnya sambil menatap intens ke arah mereka.
Kenzo makin kesal dan marah saat Almira malah menerima minuman dingin itu lalu pria yang memberi kan tadi tersenyum dan pergi, tapi saat Kenzo akan menghampiri Almira tiba tiba saja istrinya itu malah memberi kan minuman dingin tadi kepada salah satu dari ketiga teman sekamarnya, lalu Kenzo sedikit mendekat kan dirinya agar bisa mendengar pembicaraan mereka dengan jelas.
"Buat lo saja, gue tidak haus kok. Nanti kalau gue haus, gue minum di kamar, gue sudah ada yang bawain." ucap Almira dengan nada santai lalu memberi kan ke salah satu tiga gadis itu.
"Lah, terus kenapa lo terima Almira? Aneh lo." sahut gadis yang menerima minuman dingin itu.
"Oh, karena gue masih ingat kalian yang sedang haus, makanya gue terima, hehe." jawab Almira dengan cengiran tidak jelasnya lalu ketiga gadis itu langsung bercanda ria dengan Almira karena jawaban konyol dari wanita itu.
Kenzo yang mendengar sejak tadi menarik sudutnya ke atas meskipun kecil, Almira sangat menurut sekali kepadanya membuat Kenzo sangat senang karena tanpa di sengaja Almira menolak pria tadi.
"Istri ku memang yang terbaik, aku makin cinta sama kamu sayang, aku makin tergila gila sama kamu. Kamu selalu hanya punya ku, Almira." gumam Kenzo pelan lalu melangkah ke para anggota Kepolisian yang lain yang sedang menyusun sesuatu yang untuk para peserta.
Almira sejak tadi hanya bercanda kepada ketiga gadis sekamarnya sampai sampai dirinya tidak mengetahui kalau Kenzo menatap ke arahnya, karena tatapan Kenzo tidak setajam seperti biasanya maka Almira tidak merasa kan kalau ada yang sedang menatap ke arahnya.
__ADS_1
"Kembali ke barisan seperti semula." teriak dari pak Polisi yang memakai mic kecil dan ada salon kecil sehingga mereka semua bisa mendengar dengan jelas tanpa pak Polisi itu berteriak.
Para peserta langsung saja menghampiri dan berbaris seperti sebelumnya saat mereka belum berlari, memakai topi dari pelatihan itu membuat mereka makin gerak dan keringatan, lalu mengenai sinar matahari yang sangat mencolok sekali.
"SIAP GRAK."
Pemandu dari Kapten yang sambil bergerak ke kanan dan ke kiri sambil melihat lihat para peserta yang berbicara atau pun ramai sendiri.
"Disini saya hanya mengumum kan untuk siap siap nanti malam ada uji nyali, kelompok sudah kami siap kan. Kalian hanya untuk siap siap dengan mental karena kami akan menyerang mental kalian, ini lah strategi untuk kuat dalam menghadapi masalah di perusahaan kalian masing masing. Jadi sekarang kalian boleh kembali ke kamar masing masing. Bubar barisan jalan." perintah Kenzo dengan suara lantang dengan pandangan datar lalu pergi dari mereka yang lain.
Para peserta menunduk kan kepalanya menghormati Kenzo lalu pergi ke kamar masing masing bersama teman se kamar sendiri.
Saat Almira sudah di tarik oleh salah satu teman kamarnya, dia sedikit melirik ke arah Kenzo yang duduk di tempat pos mereka sedang menatap ke arahnya dengan datar seperti biasa. Hanya beberapa menit saja mereka bertatapan lalu Almira menatap ke lurus ke depan dan Kenzo kehilangan punggung Almira.
Puk.
"Kapten, kalau boleh tau kenapa anda tadi memberhenti kan lari para peserta padahal kan kurang tiga putaran lagi?" tanya anggota Polisi salah satu yang dekat dengan Kenzo sambil menepuk bahu pria itu dengan pelan tapi bagi para anggota Polisi lain meringis ketakutan dengan keberanian pria tersebut.
Padahal para anggota Polisi lainnya memilih diam dan tidak mengukit tentang itu, tapi si Polisi termuda malah menanya kan itu kepada Kapten mereka secara langsung.
"Diam. Kembali ke rencana untuk nanti malam, jangan banyak bicara yang tidak penting." ujar Kenzo dengan nada datar dan tatapan tajam mengarah ke arah mereka semua membuat para anggota Polisi lainnya melotot kan kedua mata ke arah Polisi termuda tadi yang menanya kan ke sang Kapten.
Polisi termuda di antara yang lain hanya bisa menyengir tidak jelas menampil kan deretan gigi putihnya sambil meringis takut dengan tatapan dari Kenzo dan para anggota yang lainnya.
"Mampus gue, mati gue, bodoh banget gue malah membangun kan singa yang sedang tidur..." batinnya merutuki kebodohannya sendiri.
***
"Panggil peserta atas nama Almira Sayyida Alindra ke ruangan saya, sekarang."
Sambungan langsung dia mati kan tanpa menunggu jawaban dari si penerima telepon, bagi dirinya itu sangat tidak penting lalu dia membuka laptop untuk melihat video yang di kirim kan oleh sahabatnya yang sedang menyiksa dua manusia yang berbeda gender tapi satu saudara, ada senyuman seringai saat melihat raut wajah kesakitan dari dua manusia itu.
Dirinya merasa bangga mempunyai sahabat seperti Edo yang pandai sekali menyiksa fisik dan mental mereka secara bersamaan, saat mendengar jeritan ingin mati dari salah satu dua manusia itu membuat dia makin merasa bangga dan senang menatap ke arah layar laptop.
Tapi saat dirinya akan berucap tiba tiba suara ketukan pintu membuat dia langsung saja memati kan layar laptop lalu berteriak menyuruh masuk.
Melihat siapa yang datang membuat senyuman kecil dari dia muncul tanpa ada yang tau lalu dirinya memberi kan isyarat untuk temannya pergi dari ruangannya agar dirinya bisa berduaan dengan wanitanya tanpa ada hang mengganggu, lalu pria itu menutup pintu setelah teman Polisinya keluar dan mengunci pintu memasuk kan ke dalam saku celananya.
"Kenapa kamu panggil aku lagi sih Mas? Nanti malah buat anggota kepolisian curiga dan juga para peserta lainnya." ucap Almira karena sudah kesal kepada suaminya yang malah menarik tangannya untuk duduk di sofa empuk dan kepala Kenzo dia baring kan ke atas paha Almira yang tertutupi roknya.
Bukannya Kenzo menjawab melain kan pria itu menarik salah satu tangan Almira mengarah kan ke keningnya agar mengusap lalu dengan cepat Almira menuruti keinginan suaminya.
Almira memandang wajah Kenzo yang sudah memejam kan kedua mata menikmati usapan lembut dari wanitanya, saat ini Kenzo terlihat sangat polos saat memejam kan kedua mata dengan damai membuat Almira merasa gemas kepada pria tersebut.
"Sifat manja kamu kambuh Mas." ucap Almira yang hanya di balas dengan deheman saja oleh Kenzo.
Almira geleng geleng kepala melihat Kenzo, lalu dia menarik kepala Kenzo sehingga wajah pria itu menempel di perut Almira meskipun tertutupi baju besarnya yang malah membuat Kenzo makin nyaman dan membenam kan wajahnya.
"Katanya para peserta harus siap siap untuk nanti malam, kenapa kamu malah mengganggu siap siap ku Mas." ujar Almira karena tidak suka dengan kesunyian saat berada di dekat Kenzo.
"Ini kan kamu lagi siap siap sayang." balasan Kenzo membuat Almira mendengus kesal lalu menarik rambut hitam legam itu meskipun pelan tapi bisa membuat Kenzo meringis.
"Kamu tuh ya Mas, ngeselin ba-"
__ADS_1
"Sudah ya sayang, sekarang pejam kan kedua mata kamu lalu istirahat, Oke? Nanti saat sore aku bangun kan." sahut Kenzo memberi alasan yang membuat Almira terdiam berpikir.
Setelah lama berpikir akhirnya Almira mengangguk kan kepala pertanda setuju dengan Kenzo, lalu Almira menyender kan kepalanya ke punggung sofa dan memejam kan kedua mata dengan damai tanpa tergangguk sedikit pun saat Kenzo mengangkat tubuh istrinya, Kenzo membawa Almira ke kamar rahasianya yang pintunya adalah lemari macam buku buku dan membaring kan badan wanitanya ke kasur empuk lalu dirinya juga ikut berbaring di samping Almira sambil memeluk pinggang ramping istrinya mendekat kan badannya ke badan dirinya.
Cup.
Kecupan lembut di kening Almira membuat wanita itu melenguh tidak nyaman lalu dengan hati hati Kenzo mengelus puncak kepala sang istri dengan lembut sehingga Almira membenam kan wajahnya ke dada bidang sang suami dengan nyaman. Tempat yang sangat nyaman bagi seorang istri memang.
"Aku sangat mencintai kamu sayang, maaf sudah membuat kamu lelah sama pelatihan pelatihan ini semua. Tanpa kamu ketahui aku tidak akan membuat kamu capek dan lelah lagi sayang, kamu hanya merasa kan capek hanya sebentar saja lalu akan ku buat kamu semangat lagi dan ceria." ucap Kenzo lalu mengecup kening Almira lagi dengan lama sambil mendekat kan wajahnya ke leher istrinya yang sudah dia lepas kan hijab pasmina dengan hati hati.
Tiba tiba saja kedua mata Almira terbuka lalu segera melepas kan pelukan Kenzo sehingga pria itu langsung membuka kedua mata dengan terkejut lalu menatap ke arah sang istri dengan pandangan bingung dan heran seketika. Almira yang di tatap intens oleh Kenzo langsung saja menampil kan senyuman lembutnya lalu mengelus sebelah pipi dengan ibu jarinya yang malah membuat Kenzo makin bingung dengan sang istri.
Tanpa di ketahui oleh Kenzo kalau Almira mengambil kunci di saku celana suaminya pelan pelan, sehingga pria itu hanya fokus kepadanya padahal sang istri mengambil kesampatan.
Cup.
Ciuman yang tiba tiba dari Almira ke bibir Kenzo membuat pria itu terdiam menatap lekat ke arah sang istri, mendapat kan keterdiaman dari Kenzo membuat Almira tersenyum di dalam hati. Rencananya tidak sia sia.
"Dadah Mas, aku keluar dulu." ucapan Almira membuat Kenzo tersadar dari keterdiamannya lalu menatap kaget ke arah Almira yang tersenyum mengejek ke arahnya yang sudah membuka pintu ruangannya dengan kunci yang ada di sakunya.
"Sayang..." geram Kenzo saat memahami apa yang di rencana kan oleh istrinya membuatnya sedikit kesal.
"Maaf Mas, tapi kalau aku tidak begitu maka kamu tidak akan pernah membiar kan aku keluar. Sampai ketemu nanti Mas, Papay..." lambaian tangan Almira lalu menutup pintu ruangan tersebut dan berlari meninggal kan Kenzo yang menggeram kesal tapi di sudut bibirnya tercetak seringai kecil tanpa di ketahui sang istri.
Kenzo masih menatap ke arah pintu yang sudah tertutup dengan pandangan yang sulit di arti kan, melangkah maju menghampiri pintu itu lalu mengambil kuncinya dan menatap ke arah benda kecil tersebut dengan senyum seringai lebarnya sehingga kalau terlihat oleh orang lain akan ketakutan dan heran secara bersamaan.
Kenzo berjalan ke arah kursi kebesarannya dengan langkah tegap dan senyum seringai, lalu duduk dengan memutar mutar kunci kecil tersebut.
"Kamu makin nakal sayang, tunggu saja waktunya aku bakal kasih hukuman untuk kamu Almira sayang ku. Wah, aku sangat menanti kan hukuman ini untuk mu sayang, aku jamin pasti kamu akan sangat menyukainya." ucap Kenzo sambil seringai lebar dengan nada bangganya.
***
"Lo kenapa di panggil sama Kapten datar tapi tampan itu, Al?"
Sambutan saat Almira baru saja membuka kamarnya dan bukannya menjawab salamnya melain kan bertanya yang menurutnya sangat konyol itu, memang salah satu teman se kamarnya ini banyak sekali ngomong seperti Danera, mengingat itu membuat Almira selalu jadi ingat gadis itu dan Nera tentunya.
Di dalam kamar tersebut di huni empat perempuan bersama dengannya, tapi hanya ada kasur dua saja sehingga mereka harus tidur berdua dan Almira mendapat kan teman tidur yang gadis tadi yang banyak sekali bicara yang baginya tidak penting. Tetapi Almira lebih dekat dengan gadis tersebut dan dia senang kalau ada yang satu server dengannya.
Berbeda lagi dengan dua perempuan itu yang anaknya memang pendiam dan kalem tidak seperti mereka, tapi mereka kalau bersama Almira dan gadis tadi maka mereka pasti ikut sepertinya.
Almira sangat senang mendapat kan teman se kamar yang sama sepertinya, tapi saat itu dirinya sempat berfikir kalau ini semua adalah ulah Kenzo yang memilih kan kamarnya. Almira tidak marah maupun kesal, melain kan dia senang karena apa pun pilihan suaminya selalu terbaik untuknya, tidak pernah mengecewa kan pilihan Kenzo.
Jadi Almira hanya pasrah saja apa yang di lakukan oleh suaminya tersebut.
"Hanya berbicara seperlunya saja." jawaban Almira membuat gadis itu yang sedang duduk di lantai dingin mendengus tidak terima.
"Tapi loh ya Al, lo itu di panggil terus sama Kapten tampan itu. Apa lo ada se-"
"Sudah lah burung kicau, sekarang waktunya untuk siap siap nanti malam. Lo jangan kicau saja terus, nanti malam takut nangis lagi. Sekarang diam." ucapan nyelkit dari perempuan yang sejak tadi membaca novel di genggamannya menatap ke arah gadis itu membuat dia cemberut kesal dan di balas oleh Almira dan salah satunya perempuan yang sedang melaku kan olahraga tertawa melihatnya.
"Nah, rasa kan tuh." ledek perempuan yang sedang olahraga lalu melanjut kan aktivitasnya kembali tanpa memperduli kan lainnya.
Almira makin tertawa keras sampai sampai dia mengeluar kan air mata karena melihat gadis burung kicau itu kena bully an dari kedua perempuan pendiam, mereka tau kalau itu semua hanya bercanda ria saja makanya gadis banyak bicara itu ikut tertawa juga.
__ADS_1
Mereka benar benar satu server dan juga saling mengerti satu sama lain, padahal sebelumnya hanya orang asing saja.