
“ASSALAMUALAIKUM… AL PULANG.”
Teriakan sangat kencang dari mulut Almira yang sudah membuka pintu rumah yang menampilkan Oma dan Kenzo sedang duduk di ruang tamu.
Tanpa menoleh, Almira melewati kedua manusia itu dengan menatap lurus tatapan biasa saja seperti biasanya. Tetapi di dalam hatinya, sangat sesak saat melihat Oma.
“Almira.” panggil dari mulut Oma Diana membuat cewek berhijab itu seketika berhenti.
Kenzo hanya melihat tanpa mengeluarkan suara apapun. Saat melihat Almira berbalik badan menatap mereka dengan diam tanpa bersuara.
“Kamu—“
Sebelum menyelesaikan ucapan sang Oma, Almira lebih dulu menguap membuat ucapan Oma berhenti memandang sang cucu yang sedang mengantuk.
“Kenzo aku lelah, aku duluan.” ujar Almira menoleh kearah Kenzo yang memandang diam.
Saat Almira sudah pergi meninggalkan keheningan di ruangan tersebut, Oma menunduk merasa bersalah dengan ucapannya kemarin malam.
Oma hanya menyatukan Kenzo dan cucunya, itu saja maksudnya.
“Oma—“
“Kamu temani Almira aja. Oma ke kamar dulu ya.” potong Oma menampilkan senyuman menenangkan kearah Kenzo yang menatap lekat.
Kenzo menjawab dengan anggukkan kepala saja sambil menatap sang Oma yang sudah berlalu pergi. Kenzo yang masih berada di duduknya menghela nafas pelan. Dengan cepat dia pergi ke kamar untuk menemui Almira membicarakan masalah dengan Oma.
Ceklek!
Sebelum Kenzo membuka pintu itu, terlebih dulu pintu itu sudah terbuka menampilkan Almira yang sudah berganti pakaian sambil menatap Kenzo intens. Almira mundur ke ranjang dan Kenzo langsung masuk sambil menutup pintu dan menguncinya.
Almira tidak berani menatap Kenzo, dia hanya menunduk membuat Kenzo heran dengan sifat Almira yang berubah dari kemarin.
“Al…” panggil Kenzo membuat Almira mendongakkan wajahnya menatap Kenzo.
“Maaf…” ucap Almira dengan nada lirih.
Kenzo yang tidak tega melihat seseorang dia cintai langsung saja membawa tubuh Almira ke pelukan hangatnya.
Sebenarnya Kenzo sedikit bingung dengan perubahan Almira tiba-tiba. Bagi dia, ini tidak wajar.
Elusan lembut di kepala Almira dari telapak tangan besar Kenzo membuat dia sedikit nyaman dengan perlakuan Kenzo kepadanya. Almira memejamkan kedua mata menikmati rasa nyaman yang dia rasakan dan menempel ke dada bidang Kenzo yang kokoh tersebut.
“Gak baik seperti itu ke Oma. Oma sama seperti pengganti Orang tua kamu.” ujar Kenzo bernada sangat lembut sambil mempertahankan elusan lembut.
__ADS_1
Almira mengangguk di dalam pelukan Kenzo membuat si empu tersenyum tipis tanpa di ketahui Almira.
Rasa senang menyeruak di dalam hatinya.
Kecupan lembut dan lama di dapatkan oleh Almira membuat dia terdiam kaku. Setelah Kenzo melepaskan kecupan itu, Almira menatap wajah Kenzo sedikit mendongakkan. Kedua mata mereka bersitatap dengan pandangan yang berbeda-beda.
“Sana mandi, terus sholat berjamaah sama aku disini ya.” ujar Kenzo dengan melepaskan pelukan mereka sambil menatap Almira.
“Iya.” jawab Almira di sertai senyuman lebar sehingga memperlihatkan deretan gigi putih.
Setelah Almira pergi ke kamar mandi, Kenzo memegang jantungnya berdetak tidak normal membuat dia melamun.
“Jantung ku sangat lemah.”
***
Bruk!
Suara jatuh sangat nyaring di caffe tersebut membuat pengunjung menoleh ke sumber suara dengan tatapan penasaran.
Berbeda dengan seseorang yang sedang mengusap keningnya yang sudah memerah yang masih duduk di lantai. Saat tiba-tiba ada sebuah tangan di depan matanya membuat dia mendongakkan wajahnya.
Betapa terkejutnya, ternyata yang membuat di terjatuh di tempat umum adalah Rio—Polisi dari Kenzo—suaminya sahabatnya.
“Lo—“
Dengan cepat Danera berdiri tanpa bantuan Rio yang sudah mengulurkan tangan untuk menolongnya.
Rio menatap gamblang telapak tangan yang tidak di terima oleh Danera. Merasa kosong menatap Danera yang memandang sinis kearahnya.
Danera memalingkan pandangan untuk melihat sekelilingnya yang masih menatapnya membuat dia mengepalkan kedua tangan, dia sangat tidak suka saat dirinya menjadi pusat perhatian semua orang.
Bagi Danera itu sangat mengganggu ketenangannya.
Tanpa mengucapkan kata-kata apapun kepada Rio yang menatapnya, Danera langsung saja keluar dari caffe tersebut padahal dia belum memesan makanan ataupun minuman.
“Danera.” panggil Rio membuat langkah danera berhenti dan membalikkan badan menatap Rio yang sedang mengejarnya.
Setelah Rio berada di depannya sedang mengatur nafas yang sedang terburu-buru membuat Danera hanya melihat.
Tanpa permisi, Rio menarik pergelangan tangan kanan Danera membuat si empu menatap kaget dan bingung secara bersamaan.
Rio membawa Danera ke dalam mobil cowok tersebut lalu menjalankan kendaraan itu dengan sangat kencang membuat Danera heran dan terkejut.
__ADS_1
Saat sampai tujuan yaitu hutan yang sepi dan sunyi membuat Danera tiba-tiba merinding ketakutan. Rio yang melihat itu tersenyum tipis tanpa di ketahui Danera.
“Gue cinta lo, Danera.” ucap Rio dengan nada berat membuat Danera langsung saja menoleh kearah.
Raut wajah Rio sangat datar tanpa ekspresi membuat Danera makin terkejut, Rio tidak seperti biasanya yang terlihat, sekarang dia sangat berbeda. Itu yang ada di pikiran Danera.
“Lo—“
Sebelum Danera mengucapkan kata-kata, lebih dulu Rio memeluk sangat erat Danera seperti bila dia lepaskan maka Danera akan pergi dalam hidupnya. Itu bisa membuat Rio menjadi gila saat Danera pergi meninggalkannya.
Raut wajah terkejut dari Danera saat berada di pelukan Rio yang sangat nyaman dan hangat itu.
Selama ini yang di tunjukkan Rio hanya topeng saja, tapi itu di ketahui Kenzo. Kenzo adalah sahabatnya saat mereka masih kecil, semua rahasia Rio di ketahui oleh Kenzo.
Kenzo hanya bisa mendukungnya apapun yang dilakukan Rio, kecuali kalau sahabatnya itu sudah kelewat batas. Maka Kenzo akan turun tangan langsung.
“Lo milik gue, Danera. Danera hanya milik Rio.”
***
“Al, bangun…”
Ucapan Kenzo yang membangunkan Almira hanya sia-sia saja, sebab yang di bangunkan makin menutup seluruh badannya dengan selimut tebal.
“Al, bangun. Shalat tahajud dulu.” ujar Kenzo mampu membuat Almira membuka kedua mata dengan pelan.
“Jam berapa?” tanya Almira pelan sambil mengucek-ucek kedua mata.
Kenzo yang melihat itu langsung saja melepaskan tangan Almira yang masih berada di kelopak mata. Dengan cepat Kenzo membuat Almira menghadapnya dan langsung meniup satu persatu mata Almira membuat si empu menahan nafas saat mereka sangat dekat.
Kenzo yang melihat itu hanya tersenyum di sela-sela kegiatannya.
“Nafas, Al.”
Setelah mengucapkan kata-kata itu Almira menyikut perut Kenzo dengan lengan sikutnya membuat Kenzo mengaduh kesakitan.
Almira yang mendengar ringisan dari mulut Kenzo, dia langsung meringis dan mengelus perut Kenzo yang sangat terasa sekali ada beberapa kotak-kotak membuat Almira melototkan kedua mata.
“Kenapa hem?” tanya Kenzo sengaja menaik turunkan alisnya menatap Almira mencoba menggoda.
Dengan gugup Almira melepaskan tangannya dari perut Kenzo yang membuat si empu terkekeh melihat raut wajah Almira yang sudah memerah.
“Pegang aja, tidak apa-apa kok.” ujar Kenzo dengan senyum jahil.
__ADS_1
“DASAR, PAK POLISI MESUM.”