Suami Pilihan Oma

Suami Pilihan Oma
EMPAT PULUH SEMBILAN


__ADS_3

"ALMIRA, LO DIMANA? TIBA-TIBA OMA DIANA KRITIS, KE RUMAH SAKIT SEKARANG JUGA."


Bentakan dari mulut Nera di sambungan telefon lalu mematikan membuat Almira menatap kosong dan diam, Kenzo terkejut dengan teriakan dari Nera yang sangat kencang.


Dengan cepat, Kenzo menarik pergelangan Almira membawa ke mobil dengan suasana hening tidak ada yang berbicara. Kenzo melihat raut wajah kosong dan linglung dari Almira membuat pria itu menghela nafas tidak tau harus bagaimana kepada sang istri.


"Oma pasti baik-baik saja, berdoa ke Allah agar Oma baik-baik saja, sayang."


Ucapan Kenzo dengan nada menenangkan lembut membuat Almira menoleh menatap pria itu, tanpa mengucapkan suara apapun, Almira menggenggam sebelah tangan Kenzo yang tidak ngapa-ngapain membuat si empu terlonjak terkejut sedikit melirik ke Almira.


Almira masih saja diam dan menggenggam erat telapak tangan Kenzo yang hangat membuat dia terasa nyaman. Tidak tau kenapa, Almira sangat candu dengan tangan Kenzo yang hangat itu.


Mobil sudah berada di parkir rumah sakit membuat Almira langsung keluar tanpa menoleh kearah Kenzo sama sekali, dia berlari sangat kencang membuat Kenzo mengikuti dengan langkah panjang tidak mempedulikan para manusia yang sedang berlalu lalang menatap heran kearah mereka.


"Oma baik-baik saja kan?" tanya Almira berada di depan sahabat-sahabatnya dan Paman Indra lalu kedua sahabat Kenzo dan Justin tentunya.


Semua mata menoleh menatap Almira yang sudah menangis meneteskan air mata tanpa henti dengan wajah lelah, dengan cepat Danera dan Nera memeluk Almira dengan erat mencoba menguatkan sahabatnya.


"Oma baik-baik saja kan? Jawab gue, Ner, Dan." ujar Almira dengan nada sedikit keras dan kencang membuat pelukan itu makin erat.


Tidak memdapatkan jawaban dari kedua sahabatnya, Almira melepaskan pelukan mereka dengan paksaan karena kedua sahabatnya tidak mau melepaskan. Almira menoleh kearah Paman Indra dan Justin yang sedang menunduk.


Dengan cepat, Almira menghampiri Justin lalu menarik kerah bajunya dengan kasar membuat mereka melototkan kedua mata melihatnya.


"Justin, Oma baik-baik saja kan? Oma lagi dinperiksa kan sama tim medis? Pasti Oma sembuh ya, Justin." ucap Almira yang masih mencengkram kerah baju Justin tanpa mau lepas.


Justin hanya diam menatap Almira dengan pandangan lekat dan dalam yang membuat gadis itu terusik dan gelisah, ada rasa ketakutan di dalam hatinya tidak tau kenapa.


"Justin jawab, gue tanya Oma tidak apa-apa kan, lo jangan di-"


"OMA SUDAH PERGI, OMA SUDAH DI PANGGIL SAMA ALLAH, ALMIRA. GUE, GUE GAK TAU HARUS BAGAIMANA." bentak Justin memotong ucapan Almira.


Almira melepaskan cengkraman itu pelan-pelan yang membuat mereka semua menatap sendu kearahnya, menatap Justin dengan pandangan kosong tidak tau arah.


"Oma sudah pergi, Al. Oma sudah pergi..." lirih Justin yang menyadarkan Almira ke dunia sambil menatap Justin yang sedang mencengkram kedua lengannya.


"Oma sudah pergi? Secepat ini? Oma pergi tinggalin gue sendiri? Jahat banget." racau Almira yang masih menatap kosong ke depan.


"Tidak mungkin, Oma Diana tidak suka kalau aku sendirian. Oma Diana sudah berjanji kalau dia selalu berada di samping aku. Gak mungkin, kalian pasti sedang bercanda. Hahaha, tidak lucu. Gak mungkin." lanjut Almira meracau dengan nada lirih membuat mereka meneteskan air mata seperti merasakan perasaan sedih dari Almira.


Almira mengusap wajahnya dengan kasar lalu menarik kerah baju Justin membuat pria itu langsung berdiri dengan pandangan sayu kepada sepupu perempuan satu-satu dan sangat dia sayangi lebih dari apapun itu.


"Kamu jangan bicara yang aneh-aneh, Justin. Kalau kamu bicara seperti itu lagi, akan ku buat kamu masuk ke rumah sakit ini sampai babak belur tanpa sisa. Camkan itu?" setelah mengucapkan kata-kata dengan nada dingin Almira melepaskan cengkraman membuat Justin tersungkur ke bawah.


"Oma Diana masih hidup, jadi jangan ada yang berbicara seperti itu. OMA DIANA MASIH HIDUP, OMA SUDAH JANJI TIDAK AKAN MENINGGALKAN AL SENDIRI. KALIAN SEMUA, DENGAR INI. OMA DIANA MASIH HIDUP DAN DIA MASIH DI PERIKSA SAMA PARA DOKTER DAN SUSTER. CAMKAM ITU." teriak Almira sambil menunjuk kearah mereka semua satu persatu.


Justin dan Paman Indra yang melihat itu makin sangat sedih. Kenzo berinsiatif menghampiri Almira yang sedang teriak Oma Diana masih hidup berkali-kali sambil menangis, dengan cepat Kenzo memeluk badan rapuh Almira agar bisa tenang.


Almira bukannya tenang, dia malah makin menangis sangat kencang sehingga semua orang yang berada di rumah sakit menatap iba dan kasihan kearahnya.


Mereka mengenal baik Almira dan yang lainnya.


Kenzo mengelus punggung Almira dengan lembut membuat pelukan Almira makin kencang ke pria tersebut, membenamkan wajahnya di dada bidang yang sangat keras tapi merasa nyaman.


"Oma sudah tenang di sisi Allah, Oma juga sudah bertemu dengan Opa, Kakek Dirga, Kakek Zidan, dan orang tua kamu, Al. Kamu harus ikhlas ya dengan kepergian Oma Diana, kamu tidak sendirian di dunia ini. Ada aku, kedua sahabat kamu, sahabat ku juga, Paman Indra, Justin bersama keluarga Alindra lainnya, sayang." bisik Kenzo tepat di telinga kanan Almira membuat gadis tersebut makin membenamkan wajahnya.


"Ini seperti mimpi buruk, sangat susah di percaya dan sangat sakit di dalam hati ini." batin Almira dengan nada sedih menatap dada bidang Kenzo yang tertutupi.


***


"Al, ayo makan dulu rame-rame sama mereka. Lo tadi belum makan sampai sekarang, buka pintunya, Al."


Tok... Tok... Tok...

__ADS_1


Gedoran pintu sambil suara membujuk dari mulut Danera memenuhi apartemen besar membuat mereka langsung menghampiri gadis itu yang seperti sudah putus asa membujuk Almira sedari tadi. Nera yang di sebelah Danera menghembuskan nafas pelan saat tidak ada jawaban atau pun pergerakan dari Almira yang berada di dalam kamar.


Saat selesai pemakaman Oma Diana yang berada di TPU Surabaya bersejajar dengan sang Opa membuat Almira mengurung diri sejak pulang dari pemakaman sampai sekarang yang sudah malam. Mereka semua berusaha untuk membujuk, kecuali Justin dan Indra yang pergi tidak tau kemana.


Paman Indra saat pergi dengan wajah datar seperti biasa sehingga membuat mereka tidak berani bertanya satu kata pun kepada pria dewasa itu, meninggalkan mereka di dalam apartemen mewah dengan hati sedih.


Berbeda lagi dengan Justin yang pergi dengan terburu-buru tidak ada yang tau kemana laki-laki itu pergi, mereka merasa kehilangan saat Oma pergi meninggalkan mereka. Nera sudah mencoba untuk bertanya dan menurunkan sifat egonya kepada Justin, tapi yang dia dapat hanya keterdiaman saja dari bibir laki-laki tersebut.


"Al, buka pintunya. Almira..." suara dari Danera membuat mereka menoleh menatap dengan diam.


Gedoran terus saja Danera lakukan di pintu kamar bewarna abu-abu. Kenzo hanya menatap lekat di pintu itu, mencoba mencari tau ide di otak cerdasnya untuk bisa berada di samping sang istri.


Kenzo tiba-tiba mengingat ucapan Oma Diana yang menyuruh dirinya untuk selalu berada di samping gadis itu, sedih maupun senang. Kenzo pun sudah berjanji kepada wanita paruh baya untuk selalu membahagiakan Almira tanpa ada air mata, meskipun itu air mata terharu pun tidak di biarkan Kenzo untuk membasahi kedua pipi cubby Almira.


Tanpa sepengetahuan mereka yang sedang menatap pintu kamar Almira, Kenzo berjalan cepat menuju ke belakang yang menampilkan jendela sedikit tinggi dari pada tubuh tingginya itu.


Kenzo menoleh ke kanan ke kiri mencari benda berat untuk bisa dia naikki dan masuk ke jendela tersebut. Saat kedua mata Kenzo melihat ada meja kecil panjang yang sedikit tinggi, langsung saja Kenzo menarik lalu menaruh benda itu di dekat tinggi jendela.


Dengan mudahnya, Kenzo bisa masuk ke dalam kamar melalui jendela dengan langkah pelan agar tidak di sadari oleh pemilik kamar.


Kenzo melihat seorang gadis tidak memakai hijab seperti biasa sehingga rambut panjang indah menutupi kepalanya yang wajah cantik itu sudah terbenam di sela-sela kedua lututnya dengan bahu bergetar menandakan sedang menangis tanpa suara, itu sangat menyakitkan rasanya.


Grep!


"Jangan sedih lagi, sayang. Hati ku ikut sedih jadinya." bisik Kenzo tepat di samping telinga cewek itu dengan nada berat dan serak, sangat seksi sekali pikir gadis tersebut.


"Aku sendiri sekarang, aku sendiri." lirih dari mulut Almira membuat Kenzo makin mengeratkan pelukan mereka meskipun tidak merasa tersakiti.


Suara tangis Almira tiba-tiba muncul dari bibirnya membuat Kenzo mengelus rambut panjang Almira dengan lembut mencoba membuat sang istri tenang akan kesedihannya. Kenzo tidak pernah membujuk atau menenangkan orang yang sedang sedih, maka dari itu dirinya bingung.


Tapi saat melihat Almira, rasa takut dan gelisah muncul dan mencoba membujuk gadis tersebut dengan lembut.


Kenzo sangat mencintai Almira terlalu dalam, Kenzo mencintai Almira dengan tulus dan juga mencintai Allah sangat lebih dalam dari apapun.


Almira berada di pelukan hangat Kenzo membuat dia nyaman dan tenang dalam seketika, tanpa sadar kedua mata Almira terpejam bersandar di dada bidang Kenzo dengan memeluk pinggang cowok tersebut.


Sedih datang bersama kebahagiaan.


"Aku berjanji, tidak akan membuat kamu sedih, aku akan membuat kamu senang dan bahagia terus bersama ku. Yang lebih pentingnya lagi adalah membuat kamu jatuh cinta kepada ku lagi, Nyonya Samudra." ucap Kenzo dengan wajah serius dan memandang lekat Almira yang berada di pelukannya menempel sangat dekat sehingga memunculkan senyuman lebar dan manis membuat Kenzo makin terlihat sangat tampan dan cool berkharismatik.


Cup!


***


"Assalamualaikum Bang, maaf aku sudah gagal menjaga Oma."


"Waalaikum salam, kenapa?"


"Oma Diana tidak bisa tertolong, Oma sudah pergi meninggalkan kita semua, selamanya."


"APA APAAN KAMU, JANGAN BICARA ANEH ANEH, JUSTIN." bentaknya.


"Aku tidak bercanda, Bang. Oma Diana sudah di kuburkan sama para medis karena penyakit Oma sudah sangat parah."


"Sialan kamu, Justin. Dimana, Almira? Bagaimana keadaannya sekarang? Kasih ke Almira, Justin."


"Baik, Bang. Aku sedang berada di luar rumah sakit, nanti aku kasih ke Al kalau Abang mau bica-"


"SEKARANG JUSTIN."


Bentakan itu membuat Justin langsung berlari ke apartemen mewah mereka dengan tergesa-gesa sambil membawa ponsel di sebelah tangan, sambungan telepon masih menyala.


Saat Justin masuk ke dalam apartemen, Justin melihat kedua gadis dan kedua laki-laki sedang berada di depan pintu Almira dengan wajah sendu dan lelah membuat keningnya berkerut bingung.

__ADS_1


Saat Danera akan mengeluarkan suara, dengan cepat Justin memberi kode kepada gadis itu untuk diam dengan menaruh jari telunjuk di mulutnya yang langsung di anggukki oleh gadis itu saat melihat lirikkan mata Justin kearah ponsel yang menampilkan nama seseorang yang sangat galak dan tegas itu.


"Almira, buka pintunya sekarang. Al, ini aku Justin. Ada telepon dari Bang Eza buat kamu, Al. Almi-"


Ceklek.


Belum sempat Justin menyelesaikan pintu kamar bewarna abu-abu itu terbuka menampilkan wajah Almira dan Kenzo yang pria itu sedang memeluk bahu gadis tersebut membuat Nera, Danera, Rio, dan Nigel terkejut dan bingung. Ingin bertanya tapi takut saat suara mereka tertangkap di ponsel Justin yang sedang menyambungkan panggilan tersebut.


Almira mengadahkan sebelah tangan kepada Justin yang langsung mengerti dan memberikan ponsel tersebut lalu menggiring mereka agar Almira bisa berbicara leluasa dengan si panggilan tersebut.


Kenzo tersenyum saat Almira menoleh menatapnya saat pria itu memberikan usapan lembut di kepala yang sudah tertutupi dengan hijab instan. Almira mencoba senyum kecil kearah Kenzo yang langsung ikut tersenyum kecil juga lalu pergi, sebelum pergi Kenzo menutup pintu kamar Almira dengan pelan sambil menatap gadis itu yang sama-sama sedang menatapnya.


Setelah pintu itu tertutup, Almira berjalan kearah kasur empuk lalu duduk dengan pelan dan menempelkan ponsel Justin ke sebelah telinganya.


"Assalamualaikum, Bang."


"Waalaikum salam, kenapa lama sekali bicaranya, Dek."


"Tidak apa-apa, Bang."


"Maafin Abang Eza dan Abang Alex tidak ada saat pemakaman Oma Diana dan tidak ada saat kamu lagi sedih. Disini Abang Eza sama Abang Alex masih banyak sekali pekerjaan, jadinya tidak membuka ponsel. Ini saja pakai ponsel kantor, Dek. Maafin Abang, Dek."


"Tidak apa-apa kok, Bang. Al mengerti bagaimana sibuknya kalian berdua disana. Tapi apa boleh Al egois sekarang kepada kalian berdua? Al butuh Bang Eza dan Bang Alex, hiks..." lirih Almira tiba-tiba mengeluarkan air mata dan langsung membungkam mulutnya agar di seberang sana tidak mendengar suara tangisnya.


"Dek, jangan menangis. Abang disini gelisah mikir kamu, Dek."


"Keluarga Alindra yang Al punya hanya kalian, Justin dan Paman Indra. Apa kalian juga tidak bisa ke Indonesia seperti Paman dan Bibi? Apa Al gak boleh egois sekarang, Bang? Al dari dulu hanya tinggal dengan Oma Diana saja, sekarang Oma tidak ada. Apa Al akan sendiri terus? Bang, Al butuh kalian ju-"


"Almira Sayyida Alindra, kamu tidak sendirian. Kamu sekarang sudah punya suami, jadi jangan kekanakan seperti ini." ucap seseorang yang berada di samping Eza.


"Bang Alex bicara seperti itu karena tidak pernah merasakan apa jadi Al. Bang alex bilang Al kekanakan? Bang Eza atau pun Bang Alex sama saja."


"Bukan seperti itu m, Dek. Jangan masukkan ke hari ucapan Bang Alex ya..."


"Kalau begitu kalian pulang lah ke Indonesia seka-"


"Almira, kita disini masih banyak sekali pekerjaan. Kamu sudah dewasa sekarang dan sudah menjadi seorang istri, jangan seperti anak kecil saja kamu. Kita tidak bisa pulang ke Indo-"


"Bangsat." umpat Almira yang langsung mematikan sambungan telepon secara sepihak.


Almira tidak peduli kalau Alex ataupun Eza mendengar umpatan darinya, dia sudah sangat kesal dan emosi sehingga umpatan itu keluar secara mendadak.


Almira melempar ponsel Justin ke sebelahnya lalu badan mungil Almira berbaring menatap atap kamarnya dengan wajah sendu yang sudah meneteskan air mata sampai deras tapi tidak ada suara sesenggukkan apapun.


"Meskipun Oma sudah pergi meninggalkan kami selamanya, mereka tetap tidak mau pulang. Mereka jahat Oma, Al tidak suka." lirih Almira lalu memejamkan kedua mata karena lelah dengan hari ini yang sudah terjadi.


Di negara Perancis kedua pria yang sudah dewasa menatap nanar ke ponsel kantor dengan perasaan bersalah karena membuat Almira bersedih sekarang ini dan sampai-sampai mereka di umpati karena kesal.


Eza ataupun Alex tidak marah dengan Almira saat mereka di umpati, mereka mengerti suasana hati sepupu perempuan satu-satunya itu sedang sedih dan kesal.


Eza melempar kertas yang sudah dia remas kearah Alex dengan wajah kesal dan datar membuat pria yang sedang melamun menoleh menatap sang Adik prianya dengan tatapan datar saja.


"Gara-gara lo semua, Bang. Sudah tau Almira sedang sedih dan juga di-"


"Biar Almira menjadi dewasa danbtidak manja ataupun kekanakan seperti dulu, Almira sudah menjadi seorang istri, dia harus mengerti." sahut Alex memotong ucapan Eza yang belum menyelesaikan ucapannya.


"Bicara baik-baik kan bisa, Bang? Tidak perlu seperti tadi juga. Lo gak lupa kan bagaimana menderitanya Almira dari kecil sampai sekarang, hah? Akhhh.... Almira sampai mengumpati kita." jerit Eza mengacak-acak rambut bewarna merah terang itu karena kesal dan frustasi menghadapi sang Abang kulkas itu, yang sayangnya pria dewasa itu adalah Kakak kandungnya.


Alex mencerna ucapan Eza dengan berpikir keras. Tiba-tiba pria dewasa itu mengangguk anggukkan kepala berkali-kali dan pelan membuat Eza yang menatap kearahnya mengerutkan kening heran.


Ucapan Eza merasa benar membuat Alex mengambil ponsel pribadinya dengan cepat yang membuat Eza langsung mendekat karena penasaran apa yang akan di lakukan oleh Alex, Abangnya.


"Pesankan tiket dua menuju ke Indonesia sekarang juga dan harus sekarang berangkatnya, tidak besok harus sekarang. Paham?" setelah Alex mengucapkan kata-kata itu dia dengan cepat mematikan sambung panggilan.

__ADS_1


Eza mencoba memahami ucapan Alex yang tiba-tiba, belum selesai mengerti dengan ucapan sang Abang. Alex lebih dulu menepuk bahu Eza untuk menyadarkan dari lamunannya.


"Cepat siap-siap, kita berangkat ke Indonesia sekarang juga."


__ADS_2