Suami Pilihan Oma

Suami Pilihan Oma
ENAM PULUH TIGA


__ADS_3

"Kenapa aku bisa keceplosan memanggil dia suami, di depan umum pula. Akhhh... Menyebal kan."


Jeritan keras dari mulut Almira yang sudah mondar mandir di dalam ruangannya dengan wajah gelisah tidak tau kenapa, yang dia lakukan tadi di ruang rapat adalah dirinya refleks saja karena nama panggilan itu adalah Husband yang mengakibat kan dirinya refleks memanggil dia dengan sebutan suami.


Sedari dia keluar dari ruang rapat, para pekerja dari jabatan rendah dan tinggi menatap cengo dan terkejut yang membuat Almira sangat malu hanya menatap atau pun menoleh ke arah mereka.


Tok... Tok... Tok...


Suara pintu di ketuk dari luar ruangan Almira membuat gadis itu berhenti dari mondar manirnya dan menoleh ke arah pintu itu yang terbuka pelan.


Dengan penasaran, Almira menatap penuh ke arah pintu tersebut yang sudah terbuka menampil kan badan seorang pria dengan wajah tampan dan datar tanpa ekspresi bersama sekretarisnya di samping pria tersebut yang memandang Almira yang sudah menampil kan raut wajah terkejut.


"Ini ruangannya, Nona Almira. Kalau begitu, saya permisi dulu, Tuan." pamit sekretaris laki laki yang sudah menutup pintu ruangan dengan pelan.


Almira menatap pria itu yang juga menatap dirinya, lalu pria itu mendekati tubuh Almira langsung memeluk sangat erat dan membenam kan wajahnya di ceruk leher Almira dan juga mengendus aroma wangi badan Almira yang bagi pria itu sudah sangat candu.


"Istri ku, suami mu sudah memberes kan masalah tadi dengan cepat, sayang." bisik pria itu mengecup leher Almira membuat gadis itu mencengkram belakang baju pria tersebut dengan erat karena merasa kan geli di seluruh badannya.


"Ken, jangan gini, ih. Geli tau." lenguh Almira sudah sangat geki karena pria yang ada di pelukannya terus saja mengecup jenjang leher putihnya yang tertutupi hijab.


Yups, pria itu Kenzo Sagara Samudra, sang Polisi yang di hubungi oleh Almira tadi dan juga sang suami dari Almira Sayyida Alindra.


Kenzo menggesek kan hidung mancungnya ke leher Almira yang malah membuat gadis itu makin geli, dengan kasar Almira mendorong tubuh Kenzo membuat pria itu mundur selangkah meskipun kedua tangan Kenzo maaih berada di pinggang ramping Almira.


Almira tidak sekuat itu saat melawan Kenzo, karena Kenzo adalah Ketua Polisi yang melebihi Polisi lainnya yang sudah menguat kan badannya. Maka Kenzo adalah dua kali lipatnya dari mereka.


"Geli, Ken." rengek Almira dengan nada kesal menatap ke arah Kenzo yang sedang menatapnya juga.


"Baik lah, suami mu ini akqn menuruti ucapan sang istri tercinta. Suami, hem..." ujar Kenzo dengan nada menggoda membuat Almira makin cemberut kesal dengan pria tersebut yang sudah tersenyum senang ke arahnya.


Tapi saat Almira akan memukul dada bidang Kenzo, pria itu lebih dulu memeluk badan Almira dan membawa kepala Almira menempel ke dada bidangnya yang tertutupi dengan baju dinasnya.


Kenzo mengelus puncak kepala Almira dengan tangan kekarnya yang lembut membuat gadis itu tanpa sadar memejam kan kedua mata menikmati ke nyamanan yang datang kepadanya, hanya karena Kenzo.


"Sayang, kamu sudah bekerja keras, jangan terlalu capek ya? Istri ku memang yang terbaik, hem." ujar Kenzo dengan mengecup kening Almira dengan lembut dan sedikit lama menikmati sentuhan mereka.


Cup!


Tok... Tok... Tok...


"Al, makan siang." teriak Justin di luar ruangan sambil mengetuk pintu tersebut dengan berkali kali membuat kedua manusia yang ada di dalam ruangan langsung menatap ke arah pintu.


"Masuk saja, Justin." balas Almira berteriak membuat Kenzo geleng geleng kepala melihatnya lalu tersenyum kecil.


"Gue lagi buru buru, lo juga sama Om Kenzo kan sekarang, jadi nih ambil, cepetan Al." teriak Justin membuat Almira kesal.


Almira berjalan menghampiri pintu, tapi sebelum dua langkah sebelah lengan gadis itu di cekal oleh Kenzo membuat gadis itu menatap heran dan mengangkat sebelah alisnya bertanya, karena Almira sudah kesal dengan Justin yang mengganggu waktu dirinya dan Kenzo tentunya.


Tidak tau kenapa dengan perasaan di dalam hati Almira, tapi sekarang ini dia sangat kesal karena itu alasannya.


"Sama aku." ujar Kenzo langsung membawa tubuhnya di samping badan Almira dengan menatap lurus ke depan.


Almira bukannya menatap ke arah depan, melain kan gadis itu menatap pegangan tangan dirinya dan Kenzo yang sangat pas dengan ukuran telapak tangan mereka. Sudut bibir Almira terangkat ke atas, sangat jelas sekali kalau Almira sedang bahagia tersenyum senang.


Ceklek.


Pintu terbuka karena Kenzo, mereka menatap Justin yang sudah berjalan ke sana kemari membuat Almira mengerut kan kening heran dengan perilaku aneh dari sepupunya.


Biasanya Justin tidak pernah memperlihat kan sifat aslinya di depan umum, pria itu akan menunjuk kan sifat aslinya lepada orang terdekat Justin.


Tapi sekarang, lihatlah, Justin sudah seperti cacing yang ke panasan.


"LO NGAPAIN, JUSTIN?" teriak Almira sangat kencang sehingga membuat Justin berhenti dari jalan mondar mandir dan semua para pekerja menatap mereka dengan penasaran dan terkejut.

__ADS_1


"Gue sudah kebelet, gue gak tahan..." lirih Justin langsung memberikan bungkusan makan siang kepada Kenzo lalu berlari sangat kencang ke kanar mandi.


Almira mencoba menahan tawanya yang akan keluar dari mulutnya karena dirinya sekarang masih berada di kantor perusahaannya.


Almira langsung menarik pergelangan tangan Kenzo untuk membawa pria itu agar cepat cepat masuk ke ruangannya lalu menutup pintu tersebut dengan sedikit keras.


"HAHAHAHA... NGAKAK. HAHAHA, KASIHAN BANGET, HAHAHA...."


Tawa Almira langsung keluar dari mulutnya dengan sangat keras, untung saja ruangan Almira kedap suara jadinya tidak ada yang mendengar tawa dari Almira.


Kenzo yang melihat itu hanya tersenyum kecil dan tipis tapi menatap Almira sangat lekat dan mendalam tanpa di ketahui oleh si empu. Dengan pelan, Kenzo mengusap air mata yang menetes di kedua pipi Almira karena terus saja gadis itu tertawa dengan menyebut kan nama Justin.


"Justin, Ken..."


Cup.


Ucapan Almira langsung berhenti karena ciuman tiba tiba dari bibir Kenzo yang sudah menempel di bibir Almira membuat gadis itu terdiam masih terkejut dan bingung secara bersamaan.


Setelah beberapa menit, Kenzo melepas kan ciuman mereka dan mengusap bibir Almira dengan ibu jarinya dengan usapan lembut membuat gadis itu menatap pria yang sudah tersenyum ke arahnya yang malah terlihat sangat sangat tampan di mata Almira.


"Rasanya sangat manis sayang, bibir ini akan selalu menjadi candu bagi ku selain minuman kopi." ucap Kenzo dengan senyum merekah di depan Almira yang membuat gadis itu ikut tersenyum lembut dan merapih kan tatanan rambut Kenzo dengan jari jari tangannya dengan lembut.


Mereka saling menatap dengan pandangan senang dan bahagia, jangan lupa kan dengan senyuman yang manis dari mereka.


***


"Gue kenapa sih harus kesal seperti ini hanya karena cowok selingkuh itu sih? Sangat menyebal kan."


Tuk!


"Aduh."


Jerit seseorang membuat Danera menoleh membalik kan badan menatap belakang dengan wajah terkejut karena lemparan kaleng minuman mengenai kening seseorang yang memakai topi bewarna hitam sehingga Danera tidak bisa melihat siapa orang itu.


Betapa terkejutnya saat melihat wajah Rio dengan kening yang sudah bewarna merah ke unguan, Rio menatap Danera dengan senyuman canggung sambil mengusap usap kening yang sedikit benjol.


"Sorry." ucap Danera dengan nada tulus membuat pergerak kan tangan Rio berhenti lalu mengarah kan ke arah puncak kepala gadis itu dengan sedikit mengusap membuat Danera mendongak kan wajahnya menatap Rio yang tersenyum lembut.


Saat melihat senyuman dari Rio, mengingat kan Danera atas selingkuhan Rio dengan cewek lain saat di apartemen pria tersebut.


Dengan pelan, Danera memundur kan langkahnya sedikit menhauh dari jangkauan Rio. Sehingga tangan Rio yang tadi berada di puncak kepala Danera, seketika mengapung di udara membuat pria itu menatap sebelah tangannya dengan pandangan sedih dan sendu.


"Kalau gitu, saya permisi lebih dulu. Assalamualaikum." pamit Danera langsung berlari meninggal kan Rio yang memandang sendu.


"Waalaikum salam." jawab Rio sambil menatap terus punggung Danera yang mulai menjauh dan menghilang.


"Danera Kuiland, kamu hanya milik ku, tidak akan ku biar kan kamu bersama pria lain selain aku. Danera sayang, akan ku buat kamu menjadi kekasih ku lagi dengan cara berbeda. Aku tau, kalau kamu sudah menolak Alex tua bangka itu karena kamu sudah sangat mencintai ku, sayang. Tunggu aku, aku akan memperjuang kan kamu dengan cara lain." ujar Rio lalu pergi meninggal kan tempat itu dengan berbeda arah sama Danera tentunya.


Di lain tempat, Nera terus saja menghela nafas menghadapi Justin dan Nigel yang bertengkar hanya karena siapa yang membeli kan makanan untuk dirinya.


Sangat tidak ada gunanya, bagi Nera.


Saat Nera akan berdiri, Justin dan Nigel lebih dulu mencegah gadis itu dengan menggenggam pergelangan tangan.


Kanan di pegang oleh Justin dan kiri di pegang oleh Nigel yang membuat Nera menoleh kanan kiri menatap mereka berdua yang sudah melayang kan tatapan tidak bersahabat.


Nera menghembus kan nafas panjang membuat kedua pria yang sesang menatap tajam ke satu sama lain langsung beralih menatap Nera yang sudah menampil kan raut wajah datar tanpa ekspresi dan memerah antara menahan malu atas perilaku mereka dan kemarahan karena mereka juga.


"Lepas kan tangan gue..." ujar Nera dengan nada pelan yang membuat kedua pria itu saling tatap lalu makin mengerat kan pegangan masing masing.


"LEPAS KAN TANGAN GUE." bentak Nera sangat kencang membuat semua pengunjung yang sedang makan makanan mereka menatap mereka dan langsung saja Justin maupun Nigel melepas kan tangan mereka dari lengan Nera.


Justin dan Nigel sangat terkejut dengan bentak kan keras dari Nera.

__ADS_1


"Ada apa ini?"


Pertanyaan dari suara bingung membuat mereka menoleh menatap Almira yang bersama dengan Danera menatap mereka bingung. Lalu tatapan mereka beralih ke arah Nera yang sedang menunduk sambil mengepal kan kedua tangan di samping badannya.


"Justin, Nigel, pergi dari sini sekarang juga." usir Almira dengan nada dingin sambil menatap tajam kedua pria tersebut.


Nigel saat ingin protes, Justin lebih dulu menarik tangan pria itu agar tidak membuat Almira marah juga seperti Nera.


Kemarahan Almira lebih seram dari pada kemarahan dari Nera maupun Danera tentunya.


Setelah Justin dan Nigel pergi tidak terlihat, Danera lebih dulu merangkul pundak Nera dan mengusap bahu tersebut yang sedang naik turun karena sedang emosi.


Almira mengambil kan air putih lalu mengarah ke arah Nera yang langsung di minum oleh gadis itu yang sudah menghela nafas panjang.


"Gue kesal banget sama mereka, Al, Dan." dumel Nera yang menatap kedua sahabatnya secara bergantian langsung mengangguk mengiya kan ucapan Nera yang sepertinya masih kesal kepada kedua pria yang menyukai Nera tersebut.


"Al, kamu disini juga?"


Suara pertanyaan membuat ketiga perempuan yang baru saja duduk di tempat kursinya langsung berdiri lagi dan menatap pria yang memakai jas formal bewarna biru sedikit gelap.


Sangat tampan.


"Maaf, anda siapa ya? Kenapa memanggil nama sahabat saya?" sahut Danera dengan pertanyaan dan juga tatapan selidik penuh ke arah pria tersebut.


"Danera, gue Roy. Lebih tepatnya, Roy Saputra -- mantan kekasih tersayang Almira Sayyida Alindra."


Jawaban itu membuat ketiga gadis itu menatap ke arah pria yang tersenyum manis hanya menatap ke arah Almira tentunya. Karena bagi dirinya hanya Almira yang berharga untuknya, tidak ada yang lain yang bisa mengalah kan wajah cabtik dan imut dari Almira yang membuat hatinya selalu berdenbar hanya berada di dekat gadis itu saja.


Berbeda lagi dengan pria yang baru saja datang bersama sahabatnya yang langsung menatap pria terdiam menatap lurus ke depan menampil kan wajah Almira yang sangat terkejut.


Rio yang berada di samping tubuh Kenzo yang masih diam saja langsung saja menarik lengan tangan kanan pria itu berjalan menghampiri tempa meja duduk para gadis itu membuat Kenzo mau tidak mau harus mengikuti pasrah sahabatnya ini.


Karena sekarang adalah hari libur dan Kenzo sekarang bukan berperan menjadi ketua, tapi sahabat.


"Nigel sama Justin di mana ya?"


Pertanyaan dari mulut Rio yang ada Kenzo berada di sampingnya membuat mereka semua menoleh makin terkejut lah ketiga gadis di depannya.


Tanpa sengaja, tatapan Almira dan Kenzo bertemu membuat Kenzo mengepal kan kedua tangan karena jantungnya terlalu lemah, hanya saling tatap saja jantung dan hatinya berdebar.


Berbeda lagi dengan Almira yang menampil kan senyuman manis lalu menghampiri Kenzo tanpa memperduli kan raut wajah terkejut dari Roy yang sedari menatapnya.


"Kamu kesini juga? Kenapa gak bilang sih, kan biar aku berangkatnya sama kamu aja, Ken dari pada sama Danera tadi." gerutu Almira mendongak wajahnya menatap Kenzo yang sedikit tinggi darinya.


Rio, Nera, dan Roy sangat terkejut melihat Almira yang malah berbicara dengan pria tegap yang menampil kan raut wajah datar tanpa ekspresi.


Berbeda lagi dengan raut wajah Danera yang sudah cemberut kesal sambil memukul lengan kanan Almira sedikit keras membuat gadis itu sedikit meringis.


Saat Roy akan maju, Kenzo lebih dulu mengelus lembut tanpa mengetahui pria lain yang akan menghampiri Almira.


Almira juga ikut mengelus dengan raut wajah biasa membuat Roy mengepal kan kedua tangan mengerat, selama dirinya dan Almira berpacaran mereka tidak pernah saling bersentuhan fisik, tapi saat ini Almira malah bersentuhan dengan bebas bersama pria berwajah datar itu.


Drt... Drt... Drt...


Telepon Almira tiba tiba berbunyi membuat semua mata menatap ke arah gadis tersebut hanya menjawab dengan anggukkan kepala saja membuat mereka penasaran siapa yang menelpon gadis tersebut.


"Ken, ayo pulang. Ada masalah sama butik, paman sidah ada di rumah." ajak Almira yang membuat Kenzo langsung menarik pergelangan tangan Almira dengan lembut membawa pergi dari tempat tersebut tanpa pamitan dengan mereka.


Roy sedari tadi sudah memerah karena marah dan emosi melihat Almira yang seperti mengacuh kan dirinya.


"Almira Sayyida Alindra, tunggu saja tanggal mainnya. Akan ku pasti kan kamu hanya menjadi milik ku saja." batin Roy lalu pergi tanpa mengucap kan satu kata pun dengan tatapan yang sulit di artikan.


Sedari tadi Nera dan Danera menatap Roy tanpa di ketahui yang lain, lalu kedua gadis itu menyeringai kecil sambil menunduk kan wajah untuk menyembunyi kan wajahnya.

__ADS_1


__ADS_2