Suami Pilihan Oma

Suami Pilihan Oma
DELAPAN BELAS


__ADS_3

“ADA GAJAH DI BALIK BATU…”


Sebab teriakan dari Rio membuat semua penghuni rumah Oma Diana berhamburan kesana kemari tanpa sebab kecuali Kenzo, Rio dan Nera tentunya.


Tanpa di sengaja Kenzo melirik Danera, tidak ada tatapan seperti biasa dari wajahnya.


Almira melemparkan bantal yang dia pegang tadi mengarah ke Rio yang membuat dis cemberut itu mengakibatkan mereka semua tertawa, kecuali Danera dan dua manusia batu itu.


“Sudahlah, ngambek gue sama kalian. Ayang Danera mereka jahat.” rengek Rio berjalan menghampiri Danera dan langsung memeluknya.


Danera hanya mengelus saja tanpa mengucapkan sepatah katapun membuat Nera dan Almira menatap heran dan penuh penyidik.


“BUCIN.” teriak Nigel dengan raut wajah kesal menatap keuwuan sedari tadi.


Kenzo menatap Almira yang mengode Nera dengan raut wajah membuat Kenzo bingung apa yang di maksud dengan kedua gadis itu. Raut wajah serius membuat Kenzo tidak bisa membaca mereka.


“Dan, lo tahu mie yang baru buka itu loh. Tau gak?” ujar Almira memberikan pertanyaan kepada Danera.


Danera yang mendengar suara sahabatnya langsung menoleh melepaskan pelukan dari Rio. Danera langsung menghampiri kedua sahabatnya dengan antusias tanpa mempedulikan raut wajah tidak suka dari Rio.


“Dimana? Lo tahukan kalau gue itu suka banget sama mie.” tanya Danera yang sudah kedua mata berbinar membuat Rio tidak tega untuk melarangnya.


“Rencananya sih gue mau traktir kalian berdua.” ujar Almira dengan senyuman manis menoleh kearah Danera dan Nera bergantian.


“Wah… Gue suka nih.” ujar Danera menyengir senang.


Tanpa perasaan, Nera menyentil kening Danera sedikit keras membuat si empu meringis sambil memandang Nera cemberut.


“Dasar gratisan.” ejek Nera kepada Danera yang menyengir.


“Atas dasar apa lo traktir dua cewek itu?” tanya Rio tiba-tiba membuat mereka semua menatap Almira dengan tatapan penasaran.


“Atas dasar gue sama Kenzo sudah menikah. Waktu itu kan gak ada acara pesta di persahabatan gue.” jawab Almira dengan nada cepat sambil menoleh kearah Kenzo yang terkejut dengan ucapannya.


Begitu selesai mengucapkan kata-kata itu, semua teman-temannya menggoda Almira dengan sorakkan, Nera hanya tersenyum kecil sambil geleng-geleng kepala. Kenzo yang hanya menatap Almira dengan raut wajah berseri yang hanya dia yang tahu kalau suasana hatinya sedang berbunga-bunga.


Almira menunduk, dia sangat malu saat tatapannya bertemu dengan kedua mata Kenzo yang jernih itu.


“Sudah, diem kalian. Oh ya, jangan ada yang mengikuti kita ataupun mengganggu waktu kita. Kalau ada yang melarang ucapan gue, lo semua akan menyesal mendapatkan akibatnya. Suami gue ataupun pacarnya Danera, gak ada yang berhak.” Ucapan Almira dengan nada mengancam yang sangat menyeramkan dan jangan lupakan dengan tatapan tajam yang menghunus kearah tiga pria yang ada di seberang tempat duduk.


Rio yang mendengar itu tiba-tiba mengepalkan kedua tangan di bawah tanpa ada yang tahu kecuali Kenzo yang menatap sangat intens.


Rio yang tiba-tiba merasa merinding ada yang menatapnya langsung saja menoleh kearah Kenzo dengan cengiran tak jelas seperti biasanya. Rio mencoba merileks-kan emosinya.


“Lo kalau berbuat jahat ke istri gue, mati lo.” bisik Kenzo sangat pelan dan tepat di telinga Rio yang sudah makin merinding.


“Oke…”


***


“Sebenarnya ada masalah apa? Kenapa lo berubah? Lo bukan Danera yang kita kenal, lo kenapa? Ada beban apa yang lo tanggung sekarang? Cerita cepat.”


Pertanyaan beruntun dari mulut Nera membuat kedua gadis yang ada di depannya menatap cengo Nera yang berbicara banyak dan panjang tanpa henti.


Tiba-tiba hijab yang ada di kepala Nera, dia memeras sangat kencang sambil menunduk memalingkan wajahnya dari pandangan kedua sahabatnya.


Almira melihat Nera yang seperti kejadian saat dia kehilangan sang Kakek Dirga untuk selamanya. Dengan cepat, Almira membawa tubuh lemas Nera ke pelukannya. Berbeda dengan Danera yang menunduk menyembunyikan raut wajah sedih saat melihat nada putus asa dari mulut Nera.


Bagi Nera, Danera dan Almira adalah orang yang berharga. Dia akan sangat menjaga dan sangat peka saat ada perilaku yang berubah diantara salah satu.


“Lo kenapa Dan… Lo sama Almira sangat penting dalah hidup gue…” lirih Nera berada di pelukan Almira sambil memandang Danera yang masih menunduk.


Danera mencoba mendongakkan kepalanya melihat Nera dan Almira yang sudah menatap sendu membuat Danera tiba-tiba meneteskan air mata tanpa di sengaja.


“Oke gue cerita. Sebenarnya…”


Flashback On


“Gue cinta lo, Danera.” ucap Rio dengan nada berat membuat Danera langsung saja menoleh kearah.


Raut wajah Rio sangat datar tanpa ekspresi membuat Danera makin terkejut, Rio tidak seperti biasanya yang terlihat, sekarang dia sangat berbeda. Itu yang ada di pikiran Danera.


“Lo—“


Sebelum Danera mengucapkan kata-kata, lebih dulu Rio memeluk sangat erat Danera seperti bila dia lepaskan maka Danera akan pergi dalam hidupnya. Itu bisa membuat Rio menjadi gila saat Danera pergi meninggalkannya.

__ADS_1


Raut wajah terkejut dari Danera saat berada di pelukan Rio yang sangat nyaman dan hangat itu.


Selama ini yang di tunjukkan Rio hanya topeng saja, tapi itu di ketahui Kenzo. Kenzo adalah sahabatnya saat mereka masih kecil, semua rahasia Rio di ketahui oleh Kenzo.


Kenzo hanya bisa mendukungnya apapun yang dilakukan Rio, kecuali kalau sahabatnya itu sudah kelewat batas. Maka Kenzo akan turun tangan langsung.


“Lo milik gue, Danera. Danera hanya milik Rio.”


“LO APA-APAAN SIH, GAK JELAS.” teriak Danera menatap Rio nyalang.


Rio langsung membungkam mulut Danera dengan kain sapu tangan membuat Danera memberontak meneteskan air mata. Dia sangat takut.


“Lo milik gue, pacar gue.” ujar Rio penuh penekanan sambil mengelus hijab yang menutupi kepalanya.


Danera menggeleng membuat Rio mengepalkan kedua tangan di setiran mobil.


“Lo kalau menolak, gue akan buat kedua sahabat lo menderita. Mau lo?” pertanyaan itu membuat Danera menggeleng kepala sambil menunduk yang di balas dengan Rio tersenyum seringai.


“Tergantung lo, pacaran sama gue atau kedua sahabat lo menderita?”


Setelah bertanya seperti itu, Rio melepaskan kain sapu tangan itu agar bisa mendengar jawaban dari mulut cewek yang dicintainya.


“Pacar lo.”


Flashback Off


—Gitu ceritanya. Gue mohon, bersikap seperti biasa kita saja.” Danera menunduk tidak kuat menatap wajah memerah emodi dari kedua sahabatnya.


“Sialan, gue akan balas—“


“Jangan Nera, gue punya ide yang sangat bagus dan menarik untuk dia.”


Ucapan Almira membuat kedua cewek memandang intens dan meringis saat melihat senyuman yang tidak pernah dia perlihatkan.


Danera dan Nera saling menatap satu sama lain. Mereka seperti melihat kejadian yang sangat menyeramkan saat melihat senyuman dari Almira.


“Permainan ini akan seru, tunggulah…”


“ADA GAJAH DI BALIK BATU…”


Sebab teriakan dari Rio membuat semua penghuni rumah Oma Diana berhamburan kesana kemari tanpa sebab kecuali Kenzo, Rio dan Nera tentunya.


Tanpa di sengaja Kenzo melirik Danera, tidak ada tatapan seperti biasa dari wajahnya.


Almira melemparkan bantal yang dia pegang tadi mengarah ke Rio yang membuat dis cemberut itu mengakibatkan mereka semua tertawa, kecuali Danera dan dua manusia batu itu.


“Sudahlah, ngambek gue sama kalian. Ayang Danera mereka jahat.” rengek Rio berjalan menghampiri Danera dan langsung memeluknya.


Danera hanya mengelus saja tanpa mengucapkan sepatah katapun membuat Nera dan Almira menatap heran dan penuh penyidik.


“BUCIN.” teriak Nigel dengan raut wajah kesal menatap keuwuan sedari tadi.


Kenzo menatap Almira yang mengode Nera dengan raut wajah membuat Kenzo bingung apa yang di maksud dengan kedua gadis itu. Raut wajah serius membuat Kenzo tidak bisa membaca mereka.


“Dan, lo tahu mie yang baru buka itu loh. Tau gak?” ujar Almira memberikan pertanyaan kepada Danera.


Danera yang mendengar suara sahabatnya langsung menoleh melepaskan pelukan dari Rio. Danera langsung menghampiri kedua sahabatnya dengan antusias tanpa mempedulikan raut wajah tidak suka dari Rio.


“Dimana? Lo tahukan kalau gue itu suka banget sama mie.” tanya Danera yang sudah kedua mata berbinar membuat Rio tidak tega untuk melarangnya.


“Rencananya sih gue mau traktir kalian berdua.” ujar Almira dengan senyuman manis menoleh kearah Danera dan Nera bergantian.


“Wah… Gue suka nih.” ujar Danera menyengir senang.


Tanpa perasaan, Nera menyentil kening Danera sedikit keras membuat si empu meringis sambil memandang Nera cemberut.


“Dasar gratisan.” ejek Nera kepada Danera yang menyengir.


“Atas dasar apa lo traktir dua cewek itu?” tanya Rio tiba-tiba membuat mereka semua menatap Almira dengan tatapan penasaran.


“Atas dasar gue sama Kenzo sudah menikah. Waktu itu kan gak ada acara pesta di persahabatan gue.” jawab Almira dengan nada cepat sambil menoleh kearah Kenzo yang terkejut dengan ucapannya.


Begitu selesai mengucapkan kata-kata itu, semua teman-temannya menggoda Almira dengan sorakkan, Nera hanya tersenyum kecil sambil geleng-geleng kepala. Kenzo yang hanya menatap Almira dengan raut wajah berseri yang hanya dia yang tahu kalau suasana hatinya sedang berbunga-bunga.


Almira menunduk, dia sangat malu saat tatapannya bertemu dengan kedua mata Kenzo yang jernih itu.

__ADS_1


“Sudah, diem kalian. Oh ya, jangan ada yang mengikuti kita ataupun mengganggu waktu kita. Kalau ada yang melarang ucapan gue, lo semua akan menyesal mendapatkan akibatnya. Suami gue ataupun pacarnya Danera, gak ada yang berhak.” Ucapan Almira dengan nada mengancam yang sangat menyeramkan dan jangan lupakan dengan tatapan tajam yang menghunus kearah tiga pria yang ada di seberang tempat duduk.


Rio yang mendengar itu tiba-tiba mengepalkan kedua tangan di bawah tanpa ada yang tahu kecuali Kenzo yang menatap sangat intens.


Rio yang tiba-tiba merasa merinding ada yang menatapnya langsung saja menoleh kearah Kenzo dengan cengiran tak jelas seperti biasanya. Rio mencoba merileks-kan emosinya.


“Lo kalau berbuat jahat ke istri gue, mati lo.” bisik Kenzo sangat pelan dan tepat di telinga Rio yang sudah makin merinding.


“Oke…”


***


“Sebenarnya ada masalah apa? Kenapa lo berubah? Lo bukan Danera yang kita kenal, lo kenapa? Ada beban apa yang lo tanggung sekarang? Cerita cepat.”


Pertanyaan beruntun dari mulut Nera membuat kedua gadis yang ada di depannya menatap cengo Nera yang berbicara banyak dan panjang tanpa henti.


Tiba-tiba hijab yang ada di kepala Nera, dia memeras sangat kencang sambil menunduk memalingkan wajahnya dari pandangan kedua sahabatnya.


Almira melihat Nera yang seperti kejadian saat dia kehilangan sang Kakek Dirga untuk selamanya. Dengan cepat, Almira membawa tubuh lemas Nera ke pelukannya. Berbeda dengan Danera yang menunduk menyembunyikan raut wajah sedih saat melihat nada putus asa dari mulut Nera.


Bagi Nera, Danera dan Almira adalah orang yang berharga. Dia akan sangat menjaga dan sangat peka saat ada perilaku yang berubah diantara salah satu.


“Lo kenapa Dan… Lo sama Almira sangat penting dalah hidup gue…” lirih Nera berada di pelukan Almira sambil memandang Danera yang masih menunduk.


Danera mencoba mendongakkan kepalanya melihat Nera dan Almira yang sudah menatap sendu membuat Danera tiba-tiba meneteskan air mata tanpa di sengaja.


“Oke gue cerita. Sebenarnya…”


Flashback On


“Gue cinta lo, Danera.” ucap Rio dengan nada berat membuat Danera langsung saja menoleh kearah.


Raut wajah Rio sangat datar tanpa ekspresi membuat Danera makin terkejut, Rio tidak seperti biasanya yang terlihat, sekarang dia sangat berbeda. Itu yang ada di pikiran Danera.


“Lo—“


Sebelum Danera mengucapkan kata-kata, lebih dulu Rio memeluk sangat erat Danera seperti bila dia lepaskan maka Danera akan pergi dalam hidupnya. Itu bisa membuat Rio menjadi gila saat Danera pergi meninggalkannya.


Raut wajah terkejut dari Danera saat berada di pelukan Rio yang sangat nyaman dan hangat itu.


Selama ini yang di tunjukkan Rio hanya topeng saja, tapi itu di ketahui Kenzo. Kenzo adalah sahabatnya saat mereka masih kecil, semua rahasia Rio di ketahui oleh Kenzo.


Kenzo hanya bisa mendukungnya apapun yang dilakukan Rio, kecuali kalau sahabatnya itu sudah kelewat batas. Maka Kenzo akan turun tangan langsung.


“Lo milik gue, Danera. Danera hanya milik Rio.”


“LO APA-APAAN SIH, GAK JELAS.” teriak Danera menatap Rio nyalang.


Rio langsung membungkam mulut Danera dengan kain sapu tangan membuat Danera memberontak meneteskan air mata. Dia sangat takut.


“Lo milik gue, pacar gue.” ujar Rio penuh penekanan sambil mengelus hijab yang menutupi kepalanya.


Danera menggeleng membuat Rio mengepalkan kedua tangan di setiran mobil.


“Lo kalau menolak, gue akan buat kedua sahabat lo menderita. Mau lo?” pertanyaan itu membuat Danera menggeleng kepala sambil menunduk yang di balas dengan Rio tersenyum seringai.


“Tergantung lo, pacaran sama gue atau kedua sahabat lo menderita?”


Setelah bertanya seperti itu, Rio melepaskan kain sapu tangan itu agar bisa mendengar jawaban dari mulut cewek yang dicintainya.


“Pacar lo.”


Flashback Off


—Gitu ceritanya. Gue mohon, bersikap seperti biasa kita saja.” Danera menunduk tidak kuat menatap wajah memerah emodi dari kedua sahabatnya.


“Sialan, gue akan balas—“


“Jangan Nera, gue punya ide yang sangat bagus dan menarik untuk dia.”


Ucapan Almira membuat kedua cewek memandang intens dan meringis saat melihat senyuman yang tidak pernah dia perlihatkan.


Danera dan Nera saling menatap satu sama lain. Mereka seperti melihat kejadian yang sangat menyeramkan saat melihat senyuman dari Almira.


“Permainan ini akan seru, tunggulah…”

__ADS_1


__ADS_2