
"Apa yang gue sampaikan ke Almira kalau Oma seperti ini?"
Suara dari seorang cowok yang sedang berjalan bolak-balik dengan wajah kusut karena frustasi. Pakaian yang sudah lusuh tanpa dia pedulikan dan jangan lupakan dengan rambutnya yang seperti biasa rapi tapi sekarang tidak beraturan.
Hanya karena memikirkan Almira, takut menyakiti hati gadis cantik itu.
"AKKHH... FRUSTASI GUE. Sepertinya gue akan gila sebentar lagi." ucapnya dengan teriak lalu berganti nada lirih lalu meluruh ke bawah tiba-tiba merasakan kedua kakinya lemas saat melihat nama Almira di ponselnya.
Pria itu membiarkan panggilan dari Almira, tidak berani harus berbicara kepada gadis itu. Dia tidak kuat.
Membenamkan wajah di kedua lutut yang sedang berjongkok sambil menyenderkan punggungnya di dinding. Pikirannya gusar tidak tau harus melakukan apa saat Almira datang ke rumah sakit ini.
"Bagaimana ini, bagaimana..." lirih pria itu dengan wajah gusar.
Waktu terus berjalan, tapi pria itu masih saja mempertahankan tanpa ingin berpindah.
"Justin?"
Suara itu membuat pria yang sedang jongkok membenamkan wajahnya langsung mendongak, saat melihat siapa yang memanggil di depannya sedikit jauh membuat kedua mata melotot karena terkejut.
"Almira." ujar Justin dengan nada pelan sehingga tidak ada yang mendengar kecuali dirinya dan Allah.
Raut wajah menjadi pucat pasi saat Almira dan teman-temannya menghampiri dengan pandangan yang berbeda-beda kepada dirinya. Justin sedari tadi hanya menatap Almira yang raut wajahnya menjadi bingung saat menatap Justin.
Meremas jaket yang di pakai Justin bewarna hitam di sisi badannya sambil menatap Almira dengan pikiran kacau dan hati menjadi gelisah.
"Justin, kenapa duduk disini?" tanya Almira ikut berjongkok agar menyamakan tinggi badannya menatap Justin.
Tidak ada jawaban dari mulut Justin membuat Almira makin bingung melihatnya, tidak seperti biasanya Almira melihat sisi rapuh Justin.
Seperti bukan sepupunya.
__ADS_1
Sangat aneh bagi Almira.
Tangan Almira terulur di kepala Justin untuk merapihkan tatanan rambut Justin yang sangat berantakan dari sela-sela jarinya, tidak ada yang tau kalau pria dari salah satu dari mereka menatap datar tanpa ekspresi sambil mengepalkan kedua tangan di dalam saku celana.
Dia sangat cemburu dengan kedekatan Almira dan Justin, padahal mereka hanya sepupu.
"Ada apa? Ada masalah, kok kamu seperti ini?" tanya Almira dengan nada lembut agar membuat Justin nyaman.
Grep!
Pelukan yang tiba-tiba dari Justin ke Almira, sangat erat. Elusan lembut dari tangan kekar Justin ke punggung Almira membuat cewek itu makin bingung, dengan pelan Almira membalas pelukan itu membuat hati Justin makin gelisah.
"Penyakit Oma makin parah dan sekarang Oma lagi dalam keadaan kritis. Maaf, maaf, dan maafin aku Al." bisik Justin tepat di telinga Almira.
Tubuh Almira menegang, lidahnya terasa kelu tanpa sadar. Kedua kaki seperti menjadi jelly, sangat lemas untung saja Justin membantu Almira agar tetap bisa berdiri.
Pandangan Almira kosong ke depan tidak menghiraukan bisikan kata maaf dari Justin berulang kali.
"Al, kenapa?" tanya Danera kepada Almira yang tidak dapat jawaban. "Justin, ada apa?" tanya Danera menoleh kearah Justin dengan pandangan tanya agar di jawab.
Sebelum menjawab, Justin menundukkan wajahnya. "Oma sekarang kritis, penyakitnya makin parah." jawabnya.
Wajah terkejut sangat kentara sekali dari muka mereka semua. Kenzo menoleh kearah Almira yang masih memandang lurus ke depan kearah cermin lingkarang yang menampilkan Oma Diana sedang berbaring memejamkan kedua mata dengan pandangan kosong.
Danera dan Nera langsung saja memeluk tubuh Almira dengan erat sambil mengucapkan kata-kata menenangkan, tapi tidak di dengar oleh Almira sama sekali ucapan mereka.
Dalam pelukan ketiga gadis itu, Danera menumpahkan air mata tanpa bisa di cegah sekalipun. Menatap sahabatnya yang seperti mayat hidup membuat dia sangat sedih melihatnya. Nera pun sama, meskipun diam tapi dia pengamat terbaik saat melihat Almira yang sedang sedih, meskipun kata-katanya sedikit.
Kenzo hanya menatap dengan diam kearah Almira yang masih di peluk oleh Danera dan Nera. Kenzo tidak tau harus bagaimana menenangkan orang yang sedang sedih.
"Gue sendiri?"
__ADS_1
***
"Oma gak akan tinggalkan Al sendiri kan? Oma, cepat bangun. Kalau Oma bangun, kita akan pergi ke tempat fovorit kita. Maafkan Al, Oma."
Ucapan dari mulut Almira membuat semua yang berada di ruangan Oma Diana tersebut hanya diam, tidak jauh beda dengan Justin yang sedari tadi diam menunduk tidak kuat menatap raut wajah Almira yang rapuh.
Justin mempunyai janji kepada keluarga Alindra untuk selalu melindungi Almira, meskipun harus nyawa yang dia pertaruhkan ataupun impian yang selalu dia inginkan. Justin siap berkorban hanya untuk sang sepupu perempuan satu-satunya di keluarga Alindra.
Kenzo hanya mengelus lembut kepala Almira yang tertutupi hijab instan bewarna hitam, melihat sang istri tercinta yang sedabg kacau menbuat hatinya terasa di tusuk-tusuk oleh belati berkali kali.
Almira terus saja menggenggam tangan Oma Diana yang tidak di infus sangat erat tapi tidak menimbulkan rasa sakit. Almira sedari tadi menatap wajah pucat Oma Diana yang sangat damai dalam tidurnya.
"Oma sedang ngapain disana? Disana indah ya Oma? Al mohon, cepatlah sadar Oma." lirih Almira tanpa mempedulikan sekitar yang sekarang sudah mengeluarkan air mata.
Padahal tadi dia sudah menahan air mata yang akan turun, tapi tidak tau kenapa saat mengatakan kata-kata itu Almira serasa hatinya makin remuk dan pecah.
Almira menoleh kearah Kenzo yang masih setia dengan aktivitasnya yaitu mengelus kepala Almira dengan lembut dan hati-hati.
Saat tatapan mereka bertemu, Kenzo menampilkan senyuman kecil yang hanya di mengerti oleh Almira. Tapi Almira tidak membalas apapun, hanya diam tanpa ekspresi.
"Kalian semua makan sana, tadi kan belum sempat sarapan. Biar gue disini jaga Oma." ujar Almira dengan nada biasa saja menatap mereka bergantian.
Saat Danera akan protes, Almira lebih fulu menatap memperingatkan membuat gadis itu langsung terdiam sambil mengangguk berkali kali.
Setelah mereka pergi meninggalkan ruangan tersebut, Almira beralih manatap Oma Diana yang masih seperri semua. Almira sekarang terkenal karena dia tadi sedang berteriak sangat kencang saat tadi dirinya di kasih tau oleh Justin tentang keadaan Oma Diana.
Almira sangat terkejut saat menatap Oma Diana sedang tertidur dengan nyaman, bewajah pucat.
"Oma maafkan Al, Al janji akan melakukan apa saja yang Oma mau. Mafkan Almira telah marah ke Oma hanya sebab kematian Kakek Zidan dan Kakek Dirga. Kalau Oma sudah bangun dari tidur, kita berdua akan sangat senang-senang." gumam Almira sambil menempelkan keningnya di punggung tangan Kenzo.
"Dan, aku akan balas dendam ke siapapun yang sudah menyakiti orang-orang tersayangnya pegi dalam hidupnya. Selamat datang dengan permainan, Almira Sayyida Alindra." lanjutnya dengan wajah mengerikan menunjukkan seringai.
__ADS_1