Suami Pilihan Oma

Suami Pilihan Oma
LIMA PULUH EMPAT


__ADS_3

"Hari ini adalah hari terakhir kita di sekolah, tapi tidak ada Almira disini."


Ucapan dari mulut Danera sedikit kencang membuat mereka semua yang ada di lingkungan sekitar menatap heran dan bingung penasaran.


Salah satu dari mereka yang sedang memakai baju olahraga menghampiri Danera dan Nera dengan kesua sahabatnya.


Acara perpisahan sekolah di adakan malam hari, lalu paginya mereka harus mendekor semuanya bersama para guru dan siswa siswi Osis di sekolah tersebut.


"Almira kemana? Dia gak ikut acara perpisahan kita?" tanya dari mulut gadis tatapan tidak percaya menatap Danera dan Nera secara bergantian.


Kedua gadis tersebut saling tatap, Nera menatap tajam kearah Danera yang meringis karena kesalahan dirinya yang berbicara keras sehingga mereka semua mendengar ucapan dirinya.


Menatap gadis yang ada di depannya, Danera menyengir tidak jelas sambil mencoba menenangkan emosi kekesalan gadis tersebut.


"Beneran Al tidak ikut? Kita kan mau liburan sehabis acara ini, Dan." ujarnya dengan wajah kesal.


"Iya, sorry. Almira sedang berada di Surabaya sejak dua minggu yang lalu dan sekarang dia gak bisa datang ke acara sekolah ini karena Oma Diana sudah meninggal." jelas Danera dengan sangat pelan pelan agar mereka semua memahami situasi Almira tersebut.


"APA?"


Teriakan demi teriakan sangat kencang dan mereka semua langsung menghampiri kedua gadis tersebut dengan pandangan terkejut dan penasaran.


Berbeda lagi dengan gadis yang tadi berbicara dengan Danera menjadi terdiam, ini sangat tiba tiba Oma Diana meninggal.


Mengingat Oma Diana yang selalu membantu dirinya sampai membiayai sekolah ini tanpa ada yang tau kecuali Almira tentunya, maka dari itu gadis tersebut membalas kebaikkan keluarga Alindra dengan hidupnya.


Tapi sekarang mendengar berita Oma Diana meninggal membuat dia terpukul, gadis itu memikirkan bagaimana kesedihan yang di rasakan oleh Almira.


Gadis itu sangat ke pikiran Almira.


"Sekarang Al-"


"Ada apa ini? Kenapa malah mengumpul bukannya bantuin yang lain."


Tiba tiba suara berat membuat mereka semua yang sedang menggerubungi Danera dan Nera segera menyingkir lalu menatap pria paruh baya sang kepala sekolah sedang menatap datar kearah mereka.


Semuanya takut, hanya satu orang yang tidak takut dengan kepala sekolah itu dan selalu membantah pendapat pria paruh baya itu.


Dialah, Almira Sayyida Alindra.


Kepala sekilah itu menatap Danera dan Nera yang menunduk membuat kernyitan di kening terlihat karena bingung tidak ada gadis yang selalu membuat dirinya darah tinggi.


"Dimana gadis pembangkang itu? Apa dia alasan agar tidak mau capek?" tanya kepala sekolah dengan nada sinis tapi lebih mengandung mengejek membuat Nera mengepalkan kedua tangan di samping badan sambil menunduk.


"Maaf, Pak. Almira tidak bisa datang ke acara perpisahan, karena Oma Diana baru saja meninggal. Al sekarang ada di Surabaya sejak dua minggu yang lalu, mohon izinnya, Pak." jelas Nera termasuk panjang karena sudah kelewat kesal kepada pria paruh baya itu.


Kepala sekolah itu langsung terdiam, tidak ada yang tau apa yang sedang pria paruh baya itu pikirkan.


Hanya menampilkan seperti raut wajah biasa, yaitu datar tanpa ekspresi meskipun pria itu sudah berumur dan berumah tangga serta juga sudah mempunyai anak.


Pak kepala sekolah langaung pergi meninggalkan mereka yang terdiam hanya menatap punggung pria paruh baya tersebut, Danera menghela nafas panjang karena sedari tadi dirinya menahan nafas.


Pak kepala sekolah sangat lah menyeramkan memang, membuat semua takut dengannya.

__ADS_1


"Lihat Pak Moy kaya lihat hantu gue, Ner." ucapan Danera membuat Nera memutar bola matanya malas lalu menjitak kening gadis tersebut sehingga menimbulkan suara yang cukup keras dan memerah membuat gadis tersebut meringis kesakitan sambil menatap sedih kearah Nera.


Nera menghela nafas saat melihat tatapan berkaca kaca dari kedua mata Danera, biasanya yang membujuk Danera adalah Almira. Tapi sekarang gadis itu tidak berada di sini yang membuat Nera hany menggabtikan peran Almira kepada Danera untuk membujuknya.


"Ayo ke kantin, gue traktir kuaci kesukaan lo." ujar Nera membuat senyum lebar dari mulut Danera keluar di wajahnya.


"Beneran?" tanya sedikit heboh.


Nera hanya berdehem saja lalu tiba tiba Danera menarik pergelangan tangan gadis itu dengan cepat yang menimbulkan hembusan nafas kesal keluar dari Nera tentunya.


"Al, semoga lo baik baik saja dengan musibah ini. Gue selalu berdoa yang terbaik buat lo, Almira." lirih seseorang dengan menunduk.


***


"Dek, sudah siap?"


Pertanyaan dari mulut seorang pria dewasa mengetuk pintu kamar dengan sedikit keras yang membuat seorang gadis yang sedang menatap pantulan kaca di depan menoleh kearah pintu, gadis itu menggeleng geleng kan kepala melihat sang Abangnya yang sedang terburu buru padahal acara mengaji belum di mulai.


Sebelum keluar, Almira menatap foto yang ada di teleponnya yang menampilkan wajah dirinya dan sang Oma Diana yang sedang tersenyum kearah kamera.


Mengingat masa itu, Almira meneteskan air mata tanpa sadar. Dengan cepat, gadis itu mengusap kasar di area pipi cubbynya untuk menghilang bekas bekas dirinya yang habis menangis.


Ceklek!


"Ternyata tidak kamu kunci, padahal Abang sudah gedor gedor pintu kamu sampai sampai teriak juga." sungut kesal dari mulut Eza pria dewasa itu masuk ke kamar Almira melangkah menghampiri gadis itu yang tidak menoleh sama sekali.


Eza yang tidak biasanya melihat Almira yang hanya diam saja memandang lurus ke depan membuat dia langsung menepuk bahu gadis tersebut sehingga membuat Almira terlonjak terkejut membuat Eza juga terkejut menatap Almira yang bingung.


Eza sangat tidak suka saat melihat Almira rapuh atau pun sedih, tapi sekarang ini kesedihan Almira bukan karena dirinya. Tapi orang yang dia sayangi dan berharga membuat Eza tidak bisa marah kepada gadis tersebut.


Grep!


Eza memeluk sangat kencang badan Almira yang tidak mengakibatkan gadis tersebut tidak merasa kesakitan atau pun sesak.


Almira merasakan nyaman seperti biasa saat Eza atau pun Alex memeluk dirinya, seperti pelukan Kenzo.


Geleng geleng kepala mencoba mengusir pemikiran yang ada di kepala tiba tiba terlintas nama Kenzo Sagara Samudra.


"Maaf, Bang. Al sudah melanggar janji ke Abang, Al menangis." lirih Almira memeluk erat Eza.


Eza geleng geleng kepala sambil mengelus puncak kepala Almira dengan lembut dan sayang.


"Tidak apa apa, Adek boleh menangis kok hari ini. Tapi besok tidak boleh lagi, hanya hari ini saja. Mengerti?" ucap Eza sambil melepaskan pelukan mereka menatap Almira dengan mengusap air mata yang masih turun dari kedua mata Almira ke pipi cubbynya, jangan lupa kan dengan hidung memerah yang membuat Almira makin imut dan sangat menggemaskan.


Almira menganggukkan kepala sambil tersenyum meskipun itu terpaksa, tapi dia tidak mau membuat Eza merasakan rasa bersalah karena dirinya tidak pernah ada untuknya.


"Ayo, berangkat." ajak Eza menggenggam pergelangan tangan Almira.


Bukannya bergerak mengikuti Eza, Almira malah menahan pria dewasa itu membuat si empu menatap menaikkan satu alisnya bertanya.


"Kenzo mana? Dari tadi, aku tidak melihatnya, Bang." tanya Almira membuat pegangan tangan itu terlepas membuat gadis tersebut menatap heran kepada Eza yang hanya menatap dirinya dengan diam.


"Kenzo harus ke Jakarta, ada tugas yang sangat penting dari atasannya. Tadi sudah menyampaikan kata maaf untuk kamu, Dek."

__ADS_1


Ucapan Eza membuat Almira terdiam menatap lurus ke depan seperti kosong.


"Kenapa hati ku tiba tiba seperti tidak terima?" batin Almira.


***


"Danera, Nera. Saya mau tanya, apa nanti malam tidak ada yang mewakilkan Almira?"


Pertanyaan dengan nada serius dan berat membuat kedua gadis yang sedang menarik meja bangku bewarna coklat menoleh ke sumber suara mendapati seorang pria paruh baya yang masih kekar dan tegap menatap mereka dengan pandangan datar.


Danera maupun Nera langsung menundukkan wajahnya tidak berani menatap wajah dari kepala sekolah yang sekarang sudah berada di depannya.


Danera menyingkut perut Nera untuk menjawab pertanyaan dari mulut kepala sekolah tersebut membuat gadis tersebut menghela nafas pelan dan di balas Danera tersenyum kecil kearah sahabatnya itu.


"Ada kok, Pak. Tapi sedikit terlambat sepertinya yang mewakilkan Almira." jawab Nera dengan nada datar mencoba untuk bersikap biasa saja meskipun ada nada terpaksa terselip di setiap kata katanya.


Danera maupun Nera hanya mendengar dehemen saja dari mulut pria paruh baya itu, setelah itu langkah kaki menjauh terdengar membuat kedua gadis tersebut mengangkat wajahnya untuk menatap punggung badan kepala sekolah dengan pandangan berbeda beda.


"Ner, emang siapa yang mewakilkan Al?" tanya Danera karena penasaran tidak tau.


"Kenzo." jawab Nera membuat mulut Danera terbuka karena melongo tidak percaya.


"Apa? Memang dia gak bersama Al?" tanya lagi Danera dengan beruntun sambil menarik pergelangan tangan Nera untuk menuju tempat yang tidak ramai, takut bila ada yang mendengar pembicaraan mereka.


"Ada urusan penting, katanya." balas Nera mencoba sabar dengan pertanyaan pertanyaan dari mulut Danera.


Karena setiap Danera bertanya pasti yang menjawab bukan Nera, melainkan Almira. Tapi sekarang Nera harus yang menjawab pertanyaan dari Danera, Nera merasa tertekan dan tidak suka yang pertanyaan tidak penting bagi hidupnya.


"Terus, memang Al mau disana hanya bersama dengan Bang Alex dan Bang Eza? Di sana pasti Almira merasa kesepian dan sendiri, lo tidak lupa kan kalau mereka itu sangat gila kerja di mana pun berada, Ner. Kenapa malah Om Kenzo ke Jakarta juga sih?" ujar Danera dengan nada kesal mengusap wajahnya dengan telapak tangan sambil kasar.


Nera melototkan kedua mata mendengar ucapan Danera, kenapa dia baru memikirkannya sekarang.


"Sialan, bener banget lo." balas Nera dengan tatapan tajam lurus ke depan.


"Maka dari itu, Ner. Akhhh... Pasti Almira sekarang nangis, gue pasti kan itu." ucap Danera frustasi dengan menepuk nepuk keningnya.


"Telepon sekarang, Dan. Sepertinya mereka sudah selesai kegiatannya. Sekarang, Danera."


Ucapan Nera dengan penuh penekanan kepada Danera membuat gadis tersebut dengan cepat mengeluarkan ponselnya dari saku celana olahraga lalu menelpon nama Almira.


Tut... Tut... Tut...


"Bagaimana?" tanya Nera dengan nada khawatir.


Danera lemas lalu menjawab kearah Nera dengan gelengan kepala sambil menundukkan pandangannya.


"Sialan, gue pergi. Lo mau ikut atau tidak?" ujar Nera dengan nada dingin sangat menyeramkan.


"Lo mau kemana?" tanya Danera dengan suara lirih.


Tanpa basa basi, Nera menarik pergelangan tangan Danera membuat gadis itu hanya menurut saja dengan pasrah karena mereka sudah sangat khawatir kepada Almira.


"Gue akan buat perhitungan, Om gue." ucap Nera yang tidak di balas oleh Danera yang hanya diam saja.

__ADS_1


__ADS_2