
"Gue kenapa... Bisa gila gue."
Ucapan Almira dengan nada kesal menatap dirinya yang memantulkan wajahnya memerah di cermin berbentuk lingkarang.
Selesai dari main turt or dare dengan Kenzo mencium bibirnya, langsung saja Almira berlari ke dalam kamarnya dan menuju ke kamar mandi.
Jantungnya sedari tadi masih berdetak sangat kencang tanpa henti membuat Almira makin kesal merutuki kebodohannya sendiri.
Almira terus saja mendumel karena kesal kepada Kenzo. Karena itu adalah first kissnya yang selalu dia jaga dan sekarang yang mendapat ciuman pertamanya adalah suami yang tidak dia sukai.
Kenzo Sagara Samudra.
"Sadar, Almira. Semua yang lo lakuin hanya permainan, jangan sampai terbawa perasaan kepada cowok brengsek itu." ujar Almira mencoba meyakinkan dirinya sendiri sambil menghembuskan nafas secara pelan-pelan.
Saat selesai menormalkan degup jantungnya, Almira merapihkan tatanan baju dan hijab kesukaannya yang instan. Membuka knop pintu secara pelan lalu keluar dengan langkah pelan juga.
"Almira, kenapa?"
Suara seseorang yang membuat Almira sangat terkejut, langsung saja Almira menolehkan pandangannya menadapati Kenzo yang menatap khawatir kepadanya.
Almira mencoba santai menatap Kenzo, bersikap seperti biasa.
Almira menghampiri Kenzo sambil menggelengkan kepalanya dan jangan lupakan dengan senyuman manis kearah cowok itu yang ikut tersenyum kecil menatap Almira.
"Om Kenzo, tau Justin kemana gak? Kok dari tadi gak kelihatan sama Oma juga." pertanyaan Almira mencoba mengalihkan pembicaraan kepada Kenzo.
Bukannya menjawab, Kenzo malah membawa badan Almira ke pelukannya dengan eratmembuat Almira memandang aneh.
Elusan lembut dari Kenzo ke punggung Almira membuat si empu bertanya-tanya dan merasa heran. Perasaanya tiba-tiba menjadi tidak enak dengan perlakuan Kenzo.
"Justin antar Oma periksa ke Surabaya." ujar Kenzo membuat pelukan mereka dengan kasar terlepas karena Almira.
"HAH?"
***
"Angkat, Justin. Angkat."
Tut... Tut... Tut...
Saat Almira mendengarkan suara operator yang dari benda pipihnya membuat dia sangat kesal.
Bugh!
Pukulan ke dinding kamar sehingga mengakibatkan retakkan kecil dan punggung tangan Almira berdarah. Tapi tidak di hiraukan Almira sama sekali, dia masih mencoba menghubungi sepupunya tanpa henti.
Panggilan tidak terjawab sama sekali membuat Almira lemas langsung terduduk di lantai dingin sambil berdarah menetes.
"Oma, maafin Al. Ini yang lo maksud, Justin? Gue bodoh banget gak mengikuti ucapan lo, gue malah ikuti ego gue." lirih Almira sambil menyumbunyikan wajahnya di tumpukkan kedua tangan yang terlipat.
Dari arah luar kamar Kenzo sedari tadi sudah mengetuknya berkali-kali, saat mendengar ada suara pukulan membuat Kenzo makin khawatir dengan Almira.
__ADS_1
Saat dia akan mendobraknya, tiba-tiba terlintas ucaoan Almira saat dirinya tidak suka kamarnya ada yang rusak membuat Kenzo tidak jadi melakukan perdobrakkan.
"Almira, buka pintunya. Almira, buka sekarang juga." ujar Kenzo dengan nada berat di depan pintu kamar mereka.
Tidak ada sahutan dari Almira membuat Kenzo makin sangat khawatir dengan istrinya. Kenzo tau, Almira kalau sudah putus asa pasti akan menyakiti dirinya sendiri.
"Kalau kamu gak mau buka, aku dobrak nih pintu."
Tidak ada jawaban saat Kenzo mengucapkan kata-kata itu.
Kenzo memulai mundur untuk agar bisa mendobrak sekali dan langsung terbuka. Tapi saat maju ke pintu, pintu itu terbuka menampilkan wajah Almira yang lemas dan lelah.
Grep!
Pelukan sangat erat dan hangat dari Kenzo membuat Almira membeku beberapa saat lalu membalas pelukannya karena saat ini Almira sedang menyerah dan menyesal. Almira menyembunyikan wajahnya saat dia mendapatkan elusan lembut dari Kenzo di punggungnya.
Hati Almira makin sakit seperti tersayat mengingat dirinya sudah jahat kepada Oma Diana.
Betul yang di katakan Kenzo tempo lalu, bahwa ini adalah takdir dan bukan salah Oma Diana.
"Sudah hem? Aku obati dulu tangan kamu." ujar Kenzo melepaskan pelukan mereka dan menatap ke mata Almira yang memandang sendu.
Almira hanya mengangguk saja dan pasrah mengikuti Kenzo dari belakang. Melihat Kenzo sudah duduk di kasur empuk, dengan cepat Almira menghampiri dan duduk di depannya.
Sejak Kenzo mengobati, dari tadi yang di lakukan Almira hanya menatapnya tidak kearah lain.
"Tampan." celetuk Almira tanpa sadar.
Saat sudah selesai aktivitas Kenzo yang sedang mengobati dirinya, elusan lembut di kepala Almira yang tertutupi hijab. Elusan lembut itu terasa sangat nyaman.
"Jangan seperti ini lagi, aku sangat khawatir sama kamu. Besok kita pergi ke Oma, ke Surabaya."
***
"Bangun Danera, ayo ke rumahnya Al. Perasaan gue gak enak."
Ucapan Nera dengan menggoyangkan badan Danera yang masih tiduran di atas kasur empuk dengan berselimut tebal. Nera terus saja menggoyangkan badan Danera dengan sangat kencang sehingga membuat si empu terpaksa membuka kedua mata menatap Nera.
"Gue masih ngantuk, Ner." balas Danera sambil memejamkan kedua nata lagi dan menyelimutkan seluruh badan membuat Nera makin kesal
"Bangun gak lo, perasaan gue gak enak, bocah." ujar Nera yang langsung membuat kedua mata Danera terbuka saat panggilan yang di lontarkan membuat dia kesal.
"Jangan panggil gue bocah." ujar Danera bernada kesal sambil berdiri berjalan kearah kamar mandi.
"Cepat, gak pakai lama. Gue tungguin di bawah." ucap Nera yang langsung keluar dari kamar bernuansa warna merah muda bergambar kartun di setiap dinding.
"IYAAA..." teriak Danera kesal membuat sudut bibir Danera terangkat, lalu dalam sekejap senyum itu terganti dengan raut wajah datar karena perasaannya yang tidak enak kepada Almira.
Di lain tempat, seorang gadis berpakaian gamis dan hijab sedang berjalan bolak-balik di dalam kamar. Almira memegang benda pipih sambil memutar terus di genggamannya.
Sedang gelisah dan bingung secara bersamaan.
__ADS_1
"Gue kabarin mereka atau gak ya?" tanya Almira kepada dirinya sendiri dengan wajah gusar.
"Kalau mereka gak gue kasih tau, pasti marah. Tapi kalau mereka gue kasih tau, apa mereka bakal nerima keputusan gue." lanjutnya masih melakukan kegiatan yang sama.
"Almira, kenapa hem?" tanya Kenzo yang tiba-tiba datang di dalam kamar Almira dan langsung berada di depan istrinya dengan pandangan khawatir.
Almira hanya geleng-geleng kepala menjawab pertanyaan dari Kenzo. Dia tidak tau harus menjawab apa.
"Ayo." ajak Kenzo yang langsung di anggukki oleh Almira.
Almira membawa tas yang sudah dia sampirkan, berbeda lagi dengan Kenzo yang menyeret satu koper besar keluar dari kamar dengan menggenggam sebelah tangan Almira.
Tatapan Almira hanya lurus ke depan membuat Kenzo mengelus tangan yang dia pegang dengan lembut. Almira yang mendapatkan elusan kecil menoleh kearah Kenzo sambil tersenyum.
Saat berada di pintu rumahnya, Almira melihat Danera dan Nera yang sedang terburu-buru membuat dia hanya diam dan Kenzo mengikuti berhenti.
"Lo... Mau kemana?" tanya Danera sedikit tercekat melihat koper besar yang ada di genggaman Kenzo.
Nera hanya melihat saja, dia juga cukup terkejut melihat Almira yang seperti ini.
"Gue... Gue... Itu." ujar Almira terbata-bata tidak bisa menjawab membuat kedua sahabatnya menatap sambil menaikkan satu alisnya.
"Lo mau kemana, Almira Sayyida Alindra. Jawab." desak Nera dengan nada penuh penekanan membuat Almira makin gelisah.
Tidak ada jawaban, Almira hanya menunduk tidak berani menatap wajah kedua sahabatnya. Kenzo yang melihat itu langsung menatap Nera dan Danera bergantian.
"Kita akan ke Surabaya, Oma di rawat disana." ucap Kenzo tiba-tiba membuat ketiga gadis itu menatapnya dengan wajah kaget.
Almira hanya kaget dengan Kenzo yang berani berbicara dengan nada santai kepada mereka. Berbeda lagi dengan keterkejutan dari Danera dan Nera yang atas ucapan Kenzo tentang Oma Diana.
"Gue akan minta maaf sama Oma, Oma gak salah atas masa lalu itu. Itu semua takdir dari Allah." sambung Almira menatap mereka.
"Karena Oma Diana itu Oma lo. Emang Oma Diana bisa kembalikan Kakek Zidan, hah? Gak bisa kan." ujar Danera dengan nada tinggi kepada Almira sambil bergetar.
"Maaf karena Oma gue, Kakek Zidan sama Kakek Dirga gak ad-"
"EMANG SEMUANYA SALAH OMA LO." teriak Danera yang sudah menangis membuat Almira langsung memeluknya.
Almira memeluk sangat kencang saat Danera memberontak. Elusan lembut agar membuat Danera tenang.
"Gue mohon sama lo, Dan. Jangan benci Oma. Oma sekarang lagi kritis, lo mau kan maafin Oma dan ikut sama gue kesana." bisik Almira yang membuat tangisan Danera terhenti dan melepaskan pelukan mereka lalu menatap raut wajah sedih Almira.
"Gue mohon..." lirih Almira menatap sendu kearah Danera.
Danera langsung memeluk Almira erat, dia tidak tahan melihat raut wajah Almira yang sangat lelah dan menyerah. Danera mengangguk berkali-kali di pelukan mereka membuat Almira memeluk erat.
Kenzo memberi kode kearah Nera yang hanya diam menatap mereka yang sedang berpelukan. Nera mengangguk dan ikut masih ke dalam pelukan mereka membuat Almira memeluk kedua sahabatnya dengan erat.
"Gue juga akan ikut dan minta maaf ke Oma Diana." ujar Nera membuat Almira mengangguk senang.
Kegelisahan Almira sejak tadi sudah hilang saat mendapatkan ucapan kedua sahabatnya dan pelukan hangat mereka.
__ADS_1
"Oma, kami akan minta maaf ke Oma. Cepat sembuh, Oma. Almira sangat sayang sama Oma." batin Almira.