
"Kalian sedang apa?"
Pertanyaan dari mulut Nera menatap heran ke arah Almira dan Danera yang sedang sibuk memain kan ponsel masing masing tanpa saling berbicara.
Saat Almira dan Danera menoleh menatap Nera yang sudah menghampiri sambil membawa makanan kentang goreng bersama saos sambalnya menaruh ke depan mereka.
Tangan Danera sudah mengambil kentang goreng tersebut lalu memakan dengan nikmat sambil memain kan ponsel lagi membuat Nera geleng geleng kepala melihatnya.
"Ini Ner, ada pesta di caffe tempat kita nongkrong dan kita bertiga ternyata di undang untuk datang." ujar Almira dengan menunjuk kan layar di ponsel kalau nama mereka ada di undangan.
"Betul, undangan lo sudah kita kirim ke WhatsApp. Dengan kostum bewarna hitam dan memakai topeng mata, katanya wajib sih gue juga tidak tau kenapa masih ada saja ide konyol seperti itu." sahut Danera dengan wajah santainya sambil memakan kentang goreng tersebut.
Nera yang sudah kesal kepada Danera kalau makan tidak di lihat lihat dan juga tidak bagi bagi ke yang lain, langsung saja Nera memukul lengan Danera sedikit keras membuat gadis itu meringis dan melepas kan kentang goreng yang ada di tangannya tadi jatuh di piring yang berisi kan banyaknya kentang goreng buatan Nera.
Makanan apa pun yang di masak Nera, rasanya selalu enak dan menagih kan untuk terus di makan. Almira maupun Danera kalau makan pasti menunggu masakan dari Nera.
"Lo datang kan, Ner?" tanya Almira menatap penuh harap ke arah Nera membuat gadis itu mau tidak mau mengangguk kan kepala bertanda mengiyakan.
Danera yang melihat angguk kan kepala dari Nera berteriak heboh, karena biasanya gadis tomboy dan tatapan datar itu selalu susah kalau di ajak pergi ke pesta karena bagi Nera itu sangat membuang waktu berharganya.
"Ayo kita beli gaun bewarna hitam ke mall sekarang juga, sekarang kan waktu free ya?" tanya Danera yang membuat Almira dan Nera mengangguk.
Danera yang mendapat kan jawaban yang dia ingin kan, langsung saja gadis itu menarik pergelangan tangan kedua sahabatnya dengan sedikit kencang tapi tidak membuat mereka merasa kan sakit.
Tiga gadis itu berjalan berdampingan dengan iringan lagu kecuali Nera tentunya yang hanya bergumam kecil mengikuti lagu dari Almira dan Danera tentunya. Para manusia yang berlalu lalang melihat tiga gadis cantik itu dengan pandangan berbeda beda, tapi mereka tidak memperduli kan dan hanya acuh saja terserah mereka yang menatap.
Bruk!
Suara jatuh lumayan keras membuat semua orang menatap ke arah sumber suara tersebut, begitu pula ketiga gadis yang menoleh ke arah tersebut.
Almira terkejut melihat pria yang dia kenal dengan menabrak seorang perempuan sehingga tersungkur ke tanah. Berbeda lagi dengan Danera dan Nera yang malah menatap ke arah Almira dengan pandangan tidak tau harus apa.
Almira berjalan maju untuk mendekat ke mereka yang perempuan sedang marah marah dan menunjuk nunjuk ke arah pria yang hanya diam memandang tajam saja.
Danera dan Nera mengikuti Almira dari belakang dengan pandangan yang sulit di artikan menatap ke arah dua manusia yang ada di depannya.
"Almira?" panggil pria dengan nada pelan dan wajah terkejut tapi dalam sekejap langsung terganti kan dengan wajah datar andalannya.
"Kamu sedang apa di sini, Kenzo?" tanya Almira dengan nada tidak percaya dan raut wajah menatap bingung kearah Kenzo yang sedang menatap ke arahnya tanpa beralih ke mana pun.
"Aku-"
"Heh, lo siapanya si cowok ini memang? Lo pasti adiknya kan, bilang ke abang lo untuk tanggung jawab sama baju mahal gue karena kotor." sahut perempuan yang memakai make up tebal dan baju ketat menatap sinis kearah Almira.
"Memangnya tanggung jawab apa?" balik tanya Almira dengan dagu terangkat menatap kesal ke arah perempuan itu.
"Gue gak butuh uang, karena gue sudah memiliki banyak uang. Mudah kok tanggung jawabnya, cukup jadi kan gue pacarnya karena abang lo sangat tampan. Hanya pacar saja, setelah itu kesalahan abang lo lunas." ucap perempuan itu dengan mengibas kan rambut panjangnya ke belakang.
Almira sudah mengepal kan kedua tangan di samping badannya karena kesal dan emosi terhadap perempuan jadi jadian baginya, tidak jauh beda dengan kedua sahabatnya yang sudah mengetat kan rahangnya mengeras saat perempuan itu berbicara dengan lancang dan seenaknya ke Almira.
Kenzo sudah menatap tajam ke arah perempuan yang sedang ada di depannya dan mengeluar kan aura dingin membuat mereka semua yang ada di lingkungan sekitar merasa kan kedinginan dan ketakutan secara bersamaan.
Wajah pucat dan pias sangat terlihat sekali dari raut wajah perempuan memakai make up tebal dan baju ketat saat merasakan aura tidak enak dan tatapan sangat tajam menusuk dari Kenzo.
"Lo sudah telat kalau mau jadi pacar cowok ini, karena apa?" ujar Almira bertanya menggantung kan ucapannya dengan menunjukkan kelima jari di depan wajah perempuan itu dan menunjuk ke arah jari manis yang terpasang cincin pernikahan dirinya dan Kenzo bewarna ke emasan, sangat mengkilau.
"Gue sama cowok tampan ini, sudah MENIKAH." sambung Almira dengan nada penuh penekanan di akhir kalimatnya.
"HAHAHA, MALU GAK? MALU GAK? MALU LAH MASA ENGGA." teriak Danera heboh membuat semua orang yang ada di sekitar mereka yang sedari tadi menonton langsung tertawa mengejek untuk perempuan yang sudah memerah karena malu.
"Belum perang, sudah kalah." celetuk Nera dengan nada pedasnya dan tatapan datar membuat perempuan itu makin malu karena sudah banyak yang menertawa kan dirinya di depan umum seperti ini.
Dengan wajah kesal, perempuan itu pergi meninggal kan kehebohan tersebut dengan wajah memerah malu dan kesal tentunya kepada gadis yang memakai hijab pasmina bewarna biru laut itu.
Almira yang di tatap kesal oleh perempuan itu langsung saja menarik sudut bibirnya menyeringai yang membuat perempuan yang sedang menatapnya terkejut dan merinding seketika hanya karena seringai kecil dari Almira Sayyida Alindra.
"HUUU... PELAKOR JADI JADIAN... DASAR NENEK LAMPIR..." teriakan heboh dari semua orang dengan sang ketua Danera lalu Nera hanya menatap sengit ke arah perempuan tersebut.
"Sskarang dia cemburu? Sangat lucu, gemes." batin Kenzo menatap raut wajah Almira yang menatap dirinya dengan cemberut kesal dan di balas oleh Kenzo senyuman kecil sambil tepuk kan lembut di puncak kepala Almira.
***
"Duduk saja di sini, jangan sekali kali kamu mau keluar dari apartemen ku, Nera."
Ucapan dari mulut seorang pria dengan nada mengancam membuat Nera menghela nafas dan mengangguk saja membuat pria itu tersenyum senang menatap ke arah gadis itu yang sudah duduk di meja makan.
__ADS_1
Di meja makan tersebut sudah banyak sekali berisikan macam macam makanan buatan rumah membuat Nera menatap semua satu persatu. Melihat pria yang baru saja datang sambil membawa minuman dingin dan dua gelas kaca di taruh di meja makan tersebut lalu pria itu duduk di depan tempat duduk Nera.
Mereka hanya terhalang meja makan saja, tapi kedua mata mereka saling tatap.
Salah satu alis Nera terangkat bermaksud bertanya ke pria tersebut yang sedang menampil kan senyuman andalannya.
"Aku dengar dari Kenzo kalau kamu akan pergi keluar negeri, itu benar Nera? Kenapa harus ke luar negeri untuk melanjut kan pendidikan? Di Indonesia ini ada banyak universitas terbaik." tanya pria itu yang sudah meluntur kan senyumnya membuat Nera menegang tidak tau harus menjawab apa.
"Benar." hanya itu jawaban Nera yang keluar dari mulutnya.
Nera menatap pria yang di depannya sedang menunduk tidak tau sedang apa, lalu saat mendongak pria itu malah menampil kan senyum manis yang membuat pria itu terlihat tampan dan imut sekaligus. Selama ini, Nera tidak pernah melihat senyum menawan dari siapa pun. Tapi kenapa saat dengan pria ini, Nera melihatnya.
"Nigel, lo..."
"Tidak apa apa, gue baik baik saja kok. Kita nikmati makan malam yang indah ini, Nera. Itu saja permintaan ku, tolong kabul kan ya Ner. Kan sebentar lagi lo akan pergi ke negara orang." sahut Nigel yang masih mempertahan kan senyum menawan memotong ucapan Nera.
Yaps, pria yang ada di depan Nera adalah Nigel sang Polisi yang sangat menyukai gadis bernama Syainera Dwi Dullond.
"Maaf..." ucap Nera dengan nada pelan menatap lekat wajah Nigel yang menegang tidak tau kenapa.
"Sudah, sudah. Ayo kita makan saja dan menikmati suasana malam yang indah ini." ujar Nigel sambil mengambil kan piring dan sumpit menaruh di depan Nera dan dirinya sendiri.
"Ini semua adalah masakan ku, meskipun ini aku masak pertama. Ayo di cicipi dulu, oke?" tanya Nigel dengan memperlihat kan banyak masakan yang ada di meja makan tersebut.
Nera berdehem sambil tersenyum kecil tanpa di ketahui oleh pria yang ada di depannya.
"Nah, coba dulu makanan yang ini." ujar Nigel dengan mengambil makanan tersebut yang bewarna merah karena bumbu ke atas piring Nera.
Nera mengambil makanan itu dengan sumpitnya dan memasuk kan ke dalam mulutnya lalu mengunyah pelan merasakan rasa dari makanan tersebut.
"Bagaimana?" tanya Nigel menatap lekat wajah Nera dengan perasaan gelisah takut rasanya tidak enak.
"Lumayan." jawab Nera dengan memandang ke arah Nigel.
"Lumayan? Oke coba yang ini." ujar Nigel mengambil makanan yang bewarna hijau ke atas piring Nera.
Nera melahap makanan yang di kasih oleh Nigel dan mengunyah dengan pelan sambil menatap Nigel yang sudah menatap intens.
"Biasa saja." jawab Nera membuat Nigel merengut kesal yang diam diam Nera tersenyum kecil melihat raut wajah Nigel yang terkesan lucu.
Nera memakan itu dengan lahap membuat Nigel menatap terus tanpa mengalih kan pandangan ke arah lain.
"Enak, sangat enak." ujar Nera tanpa sadar dengan nada semangat membuat Nigel ikut tersenyum juga.
"Memangnya ini lauk apa? Kok rasanya enak." tanya Nera kepada Nigel.
"Udang merah, lauk ini memang enak." jawab Nigel membuat kedua mata Nera melotot kaget.
"Udang?"
"Iya."
"Udah merah?"
"Betul... Betul... Betul..."
Setelah Nigel menjawab dengan nada semangat seperti kartun yang ada di televisi, Nera dengan cepat membuka ponsel dan menghubungi seseorang dengan nada tergesa gesa.
"Dokter Una, cepat datang di apartemen Sudigono nomor 37, sekarang juga."
Usai mematikan sambungan tersebut, Nera menatap ke arah Nigel yang sedang menatapnya bingung dan khawatir membuat Nera tidak tega kalau memarahi pria tersebut.
"Gue alergi makanan sefood." ujar Nera dengan nafas tersengal sengal membuat Nigel makin khawatir dan cemas.
"Apa?"
Dengan perasaan cemas dan takut Nigel langsung menghampiri Nera dan membawa gadis itu ke sofa empuk yang panjang ada di ruang tamu membuat Nera terkejut tapi setelah itu dia menetral kan raut wajah menjadi seperti biasa, yaitu datar tanpa ekspresi.
Saat dalam perjalanan, Nera terus saja menatap raut wajah cemas dari Nigel yang membuat gadis itu tersenyum tipis tidak terlihat. Nigel langsung saja membaring kan badan Nera tapi gadis itu malah duduk dan bersandar di punggung sofa empuk bewarna gold tersebut.
Nafas Nera sudah tidak beraturan membuat dia susah untuk berbicara sehingga gadia itu menunjuk nunjuk ke bibirnya membuat Nigel bingung apa maksud dari Nera.
Nera terus saja menunjuk ke arah bibir dan ke arah Nigel, langsung saja Nigel membungkam bibir Nera dengan bibirnya sendiri sehingga membuat gadis itu sangat terkejut.
Itu adalah ciuman pertama mereka.
__ADS_1
Nigel bukannya ******* bibir Nera, tapi pria itu memberi kan nafasnya ke mulut Nera tapi mereka masih menempel kan bibir mereka satu sama lain tanpa melepas kan.
"Aku sangat mencintai mu, Nera. Kamu membuat aku gila hanya karena kamu selalu melintas di dalam pikiran ku." ujar Nigel di sela sela ciuman mereka.
Saat Nigel merasa kan manis di bibir Nera, tanpa sadar pria itu ******* bibir manis Nera dengan lembut membuat mereka terbuai.
"Saya datang, Nera."
Setelah suara itu, ciuman mereka terpaksa terlepas dan Nigel menatap ke arah Dokter perempuan yang sudah paruh baya menatap mereka cengo.
"Tadi saya memberi kan nafas buatan untuk pertolongan pertama." ujar Nigel tiba tiba mempersilah kan Dokter wanita paruh baya itu mendekat ke arah Nera.
Dokter perempuan itu memeriksa kalau pernapasan Nera mulai membaik dan teratur.
"Beruntung saja anda memberi kan nafas buatan ke Nera, kalau tidak, saya tidak tau harus bagaimana." ujar Dokter perempuan paruh baya itu sambil memeriksa lagi badan Nera.
Nigel tidak mempeduli kan ucapan dari Dokter tersebut, pria itu terus saja menatap Nera dengan pandangan rumit.
"Apa Nera baik baik saja?" tanya Nigel yang tidak di jawab oleh Dokter wanita paruh baya itu.
***
"Apa apaan ini? Data pemasuk kan dan pengeluaran sangat lah tidak seimbang, wah ada yang tidak beres."
Gumam seorang gadis berhijab bewarna putih dengan jas formal memutar mutar kursi kebesarannya sambil menatap komputer yang ada di depannya dengan raut wajah datar berpikir serius. Menaruh jari telunjuk di dagunya sambil menatap lurus ke depan lalu tersenyum seringai tiba tiba karena mendapat kan ide cantik di dalam otaknya.
Mengambil ponsel yang tergeletak dan memnyambung kan ke nomor seseorang.
"Siap kan tempat rapat sekarang juga, para pekerja dari jabatan bawah sampai jabatan tinggi wajib datang ke rapat tersebut. Saya tunggu lima belas menit lagi."
Usai berbicara seperti itu, gadis itu menutup sambungan telepon dengan senyum menyeram kan membuat suasana di dalam ruangan tersebut menjadi mencengkam, beruntung saja tidak ada orang lain hanya gadis tersebut yang ada di ruangan tersebut.
"Tidak tau saja orang yang dia lawan adalah Almira Sayyida Alindra, cucu kesayangan Oma Diana." senyum seringai saat Almira mengucap kan kata tersebut.
Berbeda tempat seseorang yang baru saja di hubungi oleh Almira tergesa gesa melaksana kan tugas dari atasannya dengan wajah lelah. Almira saat di kantor sangat kejam dan menakut kan, maka dari itu semua para pekerja langsung melaksana kan tugas apa pun dari Almira.
Justin baru saja masuk ke dalam perusahaan Almira yang menampil kan semua orang berlalu lalang dengan cepat dan wajah takut membuat Justin bingung. Dengan penasaran, Justin memberhenti kan salah satu pekerja perempuan yang menatap lega wajah Justin, dia kira yang memberhenti kan dirinya adalah Almira.
"Ada apa? Kenapa semua orang seperti sangat sibuk." tanya Justin dengan nada bingung.
"Bu CEO menyuruh semua pekerja dari jabatan rendah sampai jabatan tinggi untuk rapat dan kita hanya di kasih waktu untuk menyiap kan ruang rapat lima belas menit, Pak Justin." jawab perempuan itu.
"Gila." gumam Justin tidak percaya dengan perintah sepupu perempuan satu satunya itu.
"Kalau gitu, saya permisi dulu, Pak Justin." pamit pegawai perempuan dengan menunduk kan kepala.
"Silahkan."
Setelah Justin berucap seperti itu, pegawai wanita itu langsung berlari ke tentu arah membuat Justin geleng geleng kepala lalu berlari pergi ke ruangan Almira dengan cepat.
Ceklek!
"Al, apa maksud kamu semua ini?"
Pertanyaan dengan nada bingung dan nafas yang tidak beraturan karena berlari menuju ke ruangan lantai atas dengan naik tangga bukannya lift.
Almira membalik kan kursi yang di duduki menatap ke arah Justin yang langsung menghampiri dirinya saat nafasnya sudah teratur, duduk di meja kaca Almira dengan menatap gadis itu lumayan dekat meneliti raut wajah biasa saja dari Almira yang membuat Justin tidak bisa mengetahui apa yang di pikir kan sang sepupu.
"Akan ada pertunjuk kan yang sangat menarik di ruang rapat, Justin. Kamu harus melihatnya apa yang akan aku sulap." ujar Almira dengan senyum bodohnya membuat Justin menyentil kening gadis itu yang tidak merasa kesakitan sama sekali.
"Kamu jangan aneh aneh, Al. Kamu baru saja memegang perusahaan Oma Diana." tegur Justin dengan nada lembut sambil mengelus kening Almira yang memerah karena sentilannya.
"Seseorang sudah korupsi uang perusahaan Oma Diana, maka aku tidak akan tinggal diam. Kamu tau kan Justin, kalau aku tidak sebodoh itu tentang bisnis? Dan aku lihat uang pemasuk kan dan pengeluaran sangat lah tidak seimbang. Mak aku akan membuat hukuman kecil untuk si pelaku, lalu peran kamu hanya menonton dan menikmati pertunjuk kan menarik itu. Bagaimana, bagus kan pemikiran ku?" ucap Almira panjang membuat Justin menatap lekat sang sepupu dengan sendu.
Elusan lembut dari Justin ke puncak kepala Almira membuat gadis itu menatap heran sang sepupu yang tersenyum sendu.
"Sepupu tersayang, sudah besar ternyata." lirih Justin dengan senyuman sendu membuat Almira ikut tersenyum senang.
Justin merentang kan kedua tangan sambil menatap tersenyum ke arah Almira dengan wajah bahagia campur sedih, Justin dan Almira sedari kecil sudah selalu bersama lalu mereka juga selalu sekolah yang sama dan sebangku dari taman kanak kanak.
Almira masuk ke pelukan Justin dan tiba tiba air mata menetes di pipi cubby gadis itu tanpa sadar, Justin yang tau kalau Almira sedang menangis langsung saja memeluk sang sepupu dengan erat menyalur kan kekuatan di hati Almira.
"Ingat ini, Al! Aku selalu mendukung apa pun keputusan yang kamu buat, sepupu perempuan ku." bisik Justin tepat di samping telinga kanan Almira.
Almira mengangguk semangat dan tersenyum senang, Almira bersemangat karena Justin selalu mendukung dirinya.
__ADS_1
"Aku janji, tidak akan membuat kamu kecewa, Justin Alindra." batin Almira.