
"Siapa selama ini yang memegang uang perusahaan? Saya akan memberi kan hadiah karena orang tersebut telah membuat perusahaan ini damai dan tentram, tidak ada masalah apa pun."
Ucapan Almira setelah duduk di kursi rapat sambil berdiri mengait kan kancing jas hitamnya dengan rapi.
Pandangan santai di tunjuk kan oleh Almira membuat suasana rapat tidak mencengkam atau pun menyeram kan seperti pertama kali Almira masuk ke ruangan rapat.
Justin hanya melihat saja tanpa ikut campur urusan sang sepupu, deretan duduk kursi Justin lumayan jauh dari tempat Almira karena dirinya ingin melihat dari jauh agar terlihat semuanya dengan jelas.
Saat seseorang pria paruh baya yang sedikit buncit perutnya tapi tinggi dan sedikit brewok berdiri dengan tatapan angkuh dan dagu naik tinggi tinggi membuat semua para pekerja lainnya ada yang mendumel sangat pelan melihat pria paruh baya itu, ada yang senang dengan pencapaian pria itu dan ada juga yang kesal kepada pria itu.
"Bintang kita ternyata Pak Ganang." celetuk Almira dengan wajah tersenyum senang menatap pria yang berjalan mendekat ke arahnya dengan pandangan tegap.
Pria yang bernama Ganang tersebut sudah berada di samping Almira dengan wajah angkuh dan berseri seri membuat Justin geleng geleng kepala tidak habis pikir dengan pemikiran pria paruh baya yang sedang tersenyum senang dan lebar, bila ada lalat pasti akan langsung bisa masuk.
Almira duduk menyandar kan punggungnya ke kursi tersebut dengan menatap pak Ganang yang masih tersenyum lebar tanpa meluntur kan sekali pun membuat Almira menampil kan senyum seringai kecil tanpa di ketahui kecuali Justin yang sejak tadi menatap intens ke arahnya.
Saat kedua mata mereka bertemu, Almira langsung mengedip kan salah satu matanya kepada Justin yang langsung di anggukki paham.
Tap!
Ruangan rapat menjadi gelap membuat para pekerja perempuan terkejut dengan teriak kan saling bersahutan.
Tiba tiba layar besar yang berada di samping tubuh Pak Ganang nyala membuat mereka semua langsung menoleh ke arah tersebut.
Di dalam layar...
Seorang wanita yang sedang duduk di pangkuan seorang pria paruh baya dengan mengalung kan kedua tangan di leher pria tersebut yang sedang menatap penuh nafsu dan senyum mengembang.
"Sayang, tadi teman ku ada yang beli tas dari brand yang terkenal sekarang ini. Aku malu, hanya aku saja yang tidak punya tas itu." ujar wanita dengan nada merengek sambil menggoyang kan badannya membuat pria yang ada di bawah mendesah.
__ADS_1
"Kamu mau sayang?" tanya pria paruh baya yang sedang mencengkram pinggang si wanita menahan gejolak sesuatu.
Wanita itu mengangguk sambil tersenyum ke arah si pria dengan tangannya yang sudah mengelus rahang si pria dengan gaya seksual. Wanita itu saat melihat si pria yang seperti sedang nafsu dan bergairah membuat tersenyum melebar dengan merubah wajahnya menjadi imut agar si pria di depannya makin gemas padanya.
Benar saja, pria paruh baya itu sudah tidak tahan dengan wajah sok imut dari wanita di pangkuannya. Tanpa berkata kata apa pun, pria itu langsung mencium bibir wanita itu dengan ******* kasar dan memasuk kan lidahnya ke dalam mulut wanita yang sudah meremas rambut hitam legamnya menjadi berantak kan.
Pria itu menekan tengkuk wanita agar ciuman mereka makin dalam, kedua manusia itu makin menikmati dengan ******* demi ******* keluar dari mulut mereka yang makin membuat keduanya bergairah besar.
Pria paruh baya itu menggendong tubuh si wanita dengan mudah lalu membaring kan badan ramping itu ke sofa empuk di ruangan kerjanya, lalu pria itu menindih kan badannya ke badan wanita lalu mencium bibir itu dengan kasar dan tangan kekar itu meremas sebelah gunung yang di dada wanita itu, sangat pas sekali dengan jemari jemarinya yang membuat dirinya menampil kan senyuman melebar karena makin nikmat yang dia dapat.
Saat melepas ciuman mereka, wanita yang ada di kungkungan pria paruh baya itu melempar kan senyuman manisnya dengan mengelus kedua pipi pria itu dengan jemarinya.
"Kamu mau tas itu kan, sayang?" tanya pria paruh baya dengan nada serak.
"Mau... Mau... Mau..." ujar wanita dengan nada semangat dan dengan nada kecil agar makin imut membuat pria yang ada di atasnya tersenyum senang.
"Puas kan aku lebih dulu, sayang. Baru kita pergi ke mall untuk beli tas itu." ujar pria paruh baya dengan mendekat kan wajahnya ke wajah wanita yang tersenyum.
"Istri ku tidak akan tau, sayang. Mari kita menikmati panas ini dengan nikmat, aku suka dengan tubuh cantik mu ini, sayang."
Setelah pria itu selesai mengucap kan kata kata tersebut, wanita yang ada di dalam kungkungannya sudah lebih dulu menarik tengkuk pria mengarah kan bibirnya ke bibir pria tersebut.
Tap!
Layar itu mati karena tindakan dari Justin yang sudah mengepal kan kedua tangan di samping badannya karena sepupu perempuannya melihat hal kotor yang tidak cocok untuk umurnya.
Bugh!
Tanpa aba aba Justin memukul rahang Pak Ganang yang membeku sehingga membuat pria paruh baya itu tersungkur ke bawah dengan nada darah yang sudah keluar dari pelipis bibirnya.
__ADS_1
"Sialan lo, zina di perusahaan sepupu perempuan gue. Badebah." umpat Justin yang sudah sangat emosi membuat Almira menghampiri laki laki itu dan mengelus lengan kekar tersebut dengan lembut agar emosi Justin terkendali dengan baik.
Justin yang mendapat kan elusan dari Almira langsung menghembus kan nafasnya berkali kali untuk menghilang kan emosi dan marahnya.
Almira menatap ke arah pak Ganang yang menatap ke arahnya dengan pandangan pucat.
"Tidak hanya perbuatan kotor mu itu di perusahaan saya. Kau juga sudah korupsi uang perusahaan untuk senang senang dirimu dan wanita ****** itu." ujar Almira menghina pak Ganang sambil menatap dingin dan datar membuat aura yang ada di ruang rapat tersebut menjadi menyeram kan dan mencengkam hanya karena aura yang di keluar kan oleh Almira.
Saat pak Ganang akan protes, Almira lebih dulu membuka suara yang membuat pria itu menegang.
"Silahkan menghadap ke belakang, istri sah mu dan keluarga besar mu sudah mengetahui semua perlakuan buruk mu, pak Ganang." ujar Almira dengan melipat kan kedua tangan di depan dadanya.
Pak Ganang langsung membalik kan badan saat ada seseorang yang menepuk bahunya sedikit keras sehingga membuat pria paruh baya itu meringis karena sakit.
Bugh!
Bugh!
Bugh!
Pukulan demi pukulan terus saja melayang di wajah pria paruh baya yang bernama Ganang tersebut dari seorang pria yang masih kelihatan muda, mungkin anak pertamanya. Pak Ganang juga mendengar suara tangisan pilu dari arah keluarganya, saat mencoba menoleh ternyata suara itu dari sang istri sahnya yang sedang membungkam mulutnya meskipun suara tangis masih terdengar.
Pak Ganang menatap sang istri yang sudah ada di dekapan ibunya yang juga menangis tapi tidak ada suara tersebut.
"Dasar pria berengsek tidak tau diri, anda sudah gagal menjadi seorang Ayah dan lebih parahnya anda sudah gagal menjadi seorang suami kepala keluarga." hardik laki laki yang tadi memukuli pak Ganang dengan berkali kali sambil menunjuk sinis kearah pria yang sedang tatapan bersalah dan memelas.
"Maaf sebelumnya saya sudah mengundang kalian semua ke perusahaan saya dengan mendadak seperti ini, tapi disini saya yang di rugi kan oleh pak Ganang. Karena pak Ganang sudah korupsi di perusahaan saya hanya ingin bersenang senang dengan wanita tersebut dan mereka ternyata sering sekali melakukan perbuatan zina di kantor saya. Jadi, saya akan melapor kan pak Ganang ke Polisi dan di hukum dengan berat beratnya. Saya disini tidak terima dengan apa yang di lakukan pak Ganang kepada saya, karena saya juga perempuan dan menjadi istri, maka saya bisa merasa kan betapa sakitnya di hati ini kalau melihat sang suami melakukan perbuatan yang sangat menjijikan itu." jelas Almira dengan pandangan datar tanpa ekspresi kepada mereka semua yang ada di ruangan rapat.
Mengambil ponsel yang ada di saku jas formalnya lalu menghubungi seseorang yang membuat mereka terkejut dan cengo.
__ADS_1
"Suami, cepat tangkap pak Ganang sekarang atas laporan korupsi di perusahaan Alindra dan pencemaran nama baik perusahaan Alindra, sekarang juga. Aku tunggu lima belas menit kamu tidak menangkap pria ini, aku akan mendiami kamu dua puluh empat jam." ujar Almira lalu menutup panggilan itu dan berjalan melewati mereka tanpa menoleh sedikit pun.
Sebenarnya, Almira sekarang sedang sangat malu.