
"Jangan pulang dulu ya, ayo kita makan dulu. Sekarang sudah selesai semesternya."
Ucapan Danera kepada Nera dan Almira yang sudah duduki kendaraan mereka masing-masing membuat mereka menoleh menatap kearah Danera yang sedang menampilkan raut wajah memelas.
Almira menatap kearah Nera yang mengangguk kecil membuat Almira juga ikut mengangguk membuat Danera bersorak senang.
"Di tempat biasa ya." ucap Almira yang langsung di anggukki oleh kedua sahabatnya dan akan melajukan kendaraannya.
Tapi sebelum itu, ada seorang cowok tiba-tiba menghentikan pergerakan mereka dan menatap kearah Almira dengan lekat.
Almira yang di tatap seperti itu mencoba bersikap biasa saja meskipun itu rasanya susah menatap mantan kekasih yang sangat dia suka sejak lama.
Roy lah cowok itu dan langsung menghampiri Almira dengan jalan sedikit lambat. Danera yang melihat itu langsung saja turun dari kendaraan dan beralih menuju ke depan Almira berniat menutupi dari Roy.
"Jauh-jauh lo dari Almira." ujar Danera sedikit meninggikan suaranya karena sudah sangat kesal dengan ketua Osis itu.
Nera turun dari kendaraan bermotor lalu mendekat ke samping Danera berniat untuk menutupi badan Almira dari pandangan Roy. Menatap tajam kearah cowok itu membuat Roy tiba-tiba merinding.
"Pergi sendiri atau gue paksa lo pergi?" ucap Nera dengan nada datar dan dingin membuat siapapun pasti sangat takut dan gemetar merinding.
Almira yang berada di belakang mereka menatap Nera dengan lekat, tidak jauh beda dengan Danera yang juga menatap Nera sangat lekat karena terharu.
Padahal ucapan Nera biasa saja bagi si empu, tapi bagi kedua sahabatnya itu sama saja Nera melindungi mereka.
Membasmi musuh.
"Fine. Gue pergi sendiri."
Setelah Roy mengucapkan kata-kata itu dirinya langsung pergi meninggalkan ketiga gadis dengan pandangan berbeda, sebelum Roy berbalik dia sedikit menatap Almira dengan tatapan yang sulit diartikan tidak ada yang tau pandangan apa itu.
"Nera..." teriak Almira dan Danera secara bersamaan dengan nada kencang membuat si punya nama terkejut.
Lebih terkejut lagi, saat Almira maupun Danera mereka memeluknya sangat erat seperti tidak mau kehilangan dirinya. Nera tersenyum tanpa ada yang tau, dia sangat bahagia.
"Kalian berdua sangat berarti buat gue, jangan pernah meninggalkan gue sendiri. Janji?" lirih Nera berbisik di telinga mereka, karena mereka masih memeluk sangat erat.
"JANJI."
***
"Kamu kenapa, Kenzo?"
__ADS_1
Pertanyaan dari suara seseorang membuat Kenzo membalikkan badan menatap Almira yang sedang memandang khawatir membuat hatinya berbunga-bunga hanya mendapatkan itu.
Wajah lebam, pelipis mata berdarah, dan juga pelipis bibir berdarah. Meskipun seperti itu, Kenzo tetap tampan apalagi dengan lukanya makin membuat dia sangat tampan. Terkesan Badboy di mata Almira.
Almira berjalan menghampiri Kenzo dengan cepat, setelah di depannya Almira meringis melihat luka Kenzo yang pasti rasanya sakit dan perih.
Kenzo melihat Almira pergi begitu saja tanpa mengucapkan kata apapun membuat dia menghembuskan nafas kecewa. Kenzo kira Almira akan khawatir, tapi dia pergi begitu saja.
Saat Kenzo akan melangkah untuk pergi, sebelah tangan Kenzo di pegang oleh seseorang yang membuat si empu langsung menoleh menatap.
Raut wajah terkejut dan kening berkerut, sangat kentara sekali dari Kenzo saat melihat Almira membawa kotak obat di sebelah tangan yang tidak menggenggam tangannya.
"Duduk sini, Ken." pinta Almira sambil menggiring Kenzo untuk duduk di sofa ruang tamu.
Kenzo menatap semua gerak-gerik dari Almira, rasa bersalah menyarang di hatinya karena sudah berburuk sangka kepada istrinya.
"Shh..." ringisan kecil keluar dari mulut Kenzo saar Almira menempelkan obat merah di luka Kenzo.
"Maaf. Aku akan pelan-pelan." ujar Almira sedikit menyerngit.
Sebenarnya luka itu bagi Kenzo tidaklah sakit, dirinya hanya kaget saat obat merah itu kena lukanya. Kenzo sedari tadi hanya memandang Almira dengan wajah serius.
Melihat Almira yang sangat serius membuat dia sangat menggemaskan, bagi Kenzo.
Ucapan Almira membuat Kenzo tersadar sambil melihat gerak-gerik Almira yang membersihkan peralatan obat tadi ke tempatnya.
"Habis ini mandi, sudah aku siapkan air hangat kok." ucap Almira sambil menampilkan senyuman manis.
Kenzo merasakan rasa bahagia saat Almira sangat perhatian kepadanya. Kenzo hanya mengangguk saja sambil tersenyum lembut sehingga ketampanan Kenzo menguar.
Kenzo pergi meninggalkan Almira, tapi sebelum itu Kenzo mendaratkan kecupan lama di kening Almira yang membuat cewek itu mematung membeku di tempat.
"Terima kasih." ucap Kenzo sambil berlalu pergi meninggalkan tempat mereka yang menjadi saksi bisu.
Almira langsung memegang keningnya yang tadi di cium oleh Kenzo dengan wajah linglung. Setelah sadar, Almira memandang telapak tangan lalu tiba-tiba mencengkram erat menjadi kepalan tangan.
Raut wajah linglung tadi seketika hilang menjadi datar tanpa ekspresi.
"Sebentar lagi kehancuran mu yang pasti sangat berkesan dan menyakitkan untuk mengingat saja. Tunggu saja waktunya, Kenzo Sagara Samudra."
***
__ADS_1
"Bagaimana keadaan Oma saya, Dok?"
Suara laki-laki yang sedari tadi diam langsung membuka suara saat sudah berada di dalam ruangan Dokter bersama.
Sedari tadi saat mereka masih berada di jalan koridor rumah sakit, Justin sudah gelisah takut dengan keadaan sang Oma.
Justin takut kalau Oma makin parah dan dia takut kalau membuat Almira sang sepupu kecewa dan merasa sendiri di dunia ini.
"Duduk dulu, Tuan Justin." pinta sang Dokter laki-laki mempersilahkan Justin duduk di depannya.
Saat Justin sudah duduk dan menatap sang Dokter, Dokter itu langsung menghela nafas lelah membuat ketakutan dan gelisah di dalam diri Justin makin membesar.
"Kanker yang ada di kepala Nyonya Diana makin parah, lalu sudah terlambat untuk menyembuhkan Nyonya Dania dari kanker tersebut. Karena kanker itu sudah menyebar di organ tubuh yang lain." ucap Dokter dengan cemas menatap Justin yang sepertinya syok.
Justin hanya diam menatap Dokter itu dengan pandangan yang sulit diartikan.
"Baik, kalau gitu saya permisi, Dokter." pamit Justin kepada Dokter dengan nada biasa saja seperti datar.
"Silahkan, Tuan Justin." ucap Dokter laki-laki itu dengan nada baik dan berusaha sesantai mungkin.
Justin keluar menutup pintu ruang Dokter itu, menatap lurus ke depan dengan pandangan lunglai lalu menunduk menyembunyikan raut wajah lelahnya.
Justin berlari ke ruangan Oma Diana dengan kencang lalu membuka pintu itu dengan pelan, saat sudah terbuka ternyata Oma Diana masih sedang tidur.
Dengan langkah pelan, Justin menghampiri Oma Diana lalu mengelus kepala dengan lembut.
Cup!
Justin mengecup pelan kening Oma Diana sambil meneteskan air mata tanpa sadar. Justin sangat menyayangi Oma Diana lebih dari kasih sayang Justin ke kedua orang tuanya.
Justin langsung berlalu pergi menutup pintu ruang rawat Oma Diana dengan pelan agar tidak menimbulkan bunyi. Justin duduk di kursi sebelah ruang kamar Oma Diana.
Justin mengacak-acak rambut hitam legamnya dengan wajah frustasi. Dia pusing, lelah, gelisah, dan takut bila yang di dalam pikirannya terjadi kepadanya.
Dret... Dret... Dret...
Bunyi dari handphone Justin membuyarkan pikiran kacaunya membuat Justin menatap siapa nama panggilan itu.
Bertuliskan Almira Sepupu Cantek membuat Justin meneteskan air mata tidak kuat. Pikiran buruk makin tersarang di dalam pikirannya.
Memandang nama panggilan itu membuat hati Justin makin gelisah dan takut. Justin sangat sayang kepada Almira lebih dari apapun. Bagi Justin, kebahagiaan Almira yang sangat penting dari pada kebahagiaan dirinya sendiri.
__ADS_1
"Maaf, Al. Maaf."