
Diana Margetha Alindra
Binti
Suniogo Ajitto Alindra
Begitulah tulisan di batu nisan yang banyak sekali macam macam bunga yang masih segar dan cantik.
Tiga manusia yang berpakaian serba warna hitam dan kacamata hitam yang sudah bertenger di kedua mata, menjongkok badan untuk semakin mendekat ke makan Oma Diana.
Tanpa di ketahui oleh kedua pria kalau Almira sudah meneteskan air mata yang langsung di hapus oleh gadis tersebut dengan sembunyi-sembunyi. Mengingat Oma Diana yang memaksa dieinya menikahi Kenzo, hanya atas pilihan Oma Diana saja.
Hati Almira tiba-tiba terasa sangat sesak saat dirinya mengingat kalau pernah menjauhi dan membenci Oma Diana hanya karena meninggalnya Kakek Zidan dan Kakek Dirga. Tapi saat sekarang setelah kepergian Oma Diana, Almira seperti merasa sendiri di dunia ini dan menyesal belum bisa membahagiakan Oma Diana.
Saat di rumah sakit saja, Almira masih berdebat dengan Oma Diana hanya karena menyuruh gadis itu untuk melanjutkan perusahaan dan butiknya membuat Almira menunduk menahan suara tangis agar tidak mengganggu kedua pria itu yang sedang berdoa.
"Oma, maafkan Al. Al janji akan menuruti perintah Oma saat maaih hidup, aku akan mengurus perusahaan dan butik agar sukses. Lalu aku akan menerima Kenzo sebagai Suami Pilihan Oma." batin Almira menempelkan telapak tangan ke tanah makam Oma Diana.
Saat Eza mengusap batu nisan yang bertuliskan sang Oma, tanpa sadar kedua mata yang tertutupi kaca mata hitam meneteskan air mata memandang makam Oma Diana.
"Maaf kan, Eza." lirih Eza sangat pelan yang tidak bisa di dengar oleh siapapun termasuk Alex tebtunya yang berada di sampingnya tidak jauh.
Eza berlalu pergi meninggalkan Alex yang hanya menatap dan Almira tentu saja merasa heran denga sang Abang yang mempunyai humor tinggi.
"Ikuti Eza, Dek." pinta Alex dengan nada lembut.
"Iya Bang, Al mengerti." pamit Almira meninggalkan Alex sendiri di samping makam Oma Diana.
Setelah Almira pergi meninggalkan Alex, pria dewasa itu duduk dekat dengan batu nisan sambil mengusap lembut. Melepaskan kaca mata hitam lalu menyimpan ke jas hitamnya.
"Oma, maaf kan Alex. Alex tidak pernah menjenguk Oma saat sudah dewasa, Alex tau bagaimana Oma dan Almira menderita sejak kematian Opa dan Paman. Oma, Alex janji. Alex akan selalu melindungi dan menjaga Almira sepenuhnya, meskipun Almira sudah punya suami." ucap Alex.
__ADS_1
Alex menaburkan bunga yang dia bawa dan Eza tadi, tapi Eza sudah berlalu begitu saja sebelum menaburkan bunganya.
"Alex akan membuat Almira bahagia selalu, tanpa terkecuali pun. Alex pamit dulu Oma, kapan-kapan lagi Alex akan kesini. Assalamualaikum, Oma." pamit Alex lalu berdiri sambil memakai kaca mata dan berlalu pergi meninggalkan makam Oma Diana dengan langkah pelan.
Sebenarnya sedari tadi, Alex sudah menahan air mata tidak menyangka kalau sang Oma akan pergi meninggalkan mereka untuk selamanya. Alex sangat kesal kepada kedua putra Oma Diana yang sekarang berada di Belanda, mereka tidak pulang hanya karena bisnis mereka sedang sibuk sibuknya.
Saat mengingat itu, Alex mengepalkan kedua tangan di dalam saku celana saat tau apa alasan mereka tidak pulang ke Indonesia.
Alex juga menyalahkan dirinya sendiri karena akan seperti mereka yang mementingkan pekerjaan dari pada keluarga Alindra.
Mengingat kedua sepupu yang sedang berada di negara Perancis membuat Alex kembali kesal dengan mereka yang tidak bisa datang ke Indonesia karena sedang kuliah sibuk sibuknya.
Saat berjalan menatap Almira sedang memeluk erat Eza dan bahu pria dewasa itu bergetar membuat dia hanya bisa geleng-geleng kepala saja melihatnya, Alex tau kalau Eza sedang menangis dan bersembunyi di pelukan Almira.
"Oma tidak akan marah sama Bang Eza hanya karena Abang tidak pernah ke Indonesia, Oma Diana sangat menyayangi para cucunya meskipun mereka sangat nakal." ucap Almira menghibur Eza sambil menepuk nepuk bahu pria dewasa tersebut dengan pelan.
Alex yang mendengar ucapan Almira tersenyum kecil. Memang benar kalau para cucu Oma Diana itu sangat nakal dan susah sekali di atur. Itu kenyataannya.
"Al sangat paham. Al sayang Bang Eza dan Bang Alex."
***
"Kita harus bicara untuk meluruskan permasalahan kita, Danera."
Ucapan dari Rio membuat langkah Danera yang akan keluar dari dapur karena melihat Rio sedang meminum kopi, malam gelap sudah datang.
Sebenarnya Danera saat masuk ke dapur cukup terkejut melihat Rio yang belum tertidur, tapi Danera mencoba menghilang pemikiran yang penasaran kenapa dengan cowok itu. Padahal Danera sudah jatuh cinta kepada Rio, tapi pria itu sudah selingkuh yang membuat hatinya terasa sangat sakit pertama kali.
"Tidak ada yang harus kita bicarakan." balas Danera tanpa membalikkan badan diam dengan nada sinis kearah Rio.
"Ada, kita harus bicara. Duduk, Dan." perintah Rio yang membuat kepalan kedua tangan dari gadis tersebut terlihat oleh kedua mata pria tersebut dengan pandangan sendu.
__ADS_1
"Gue gak mau." tolak Danera yang berjalan pergi.
"Danera Kuiland." panggil Rio dengan nada datar dan penuh penekanan membuat Danera berhenti secara mendadak membeku di tempat.
"Duduk." perintah Rio yang langsung di turuti oleh Danera saat melihat kedua mata pria itu yang sudah tajam membuat nyali gadis tersebut ciut.
Rio tersenyum tipis saat Danera menuruti ucapannya, Danera yang berada duduk di depannya yang hanya terhalang meja saja Rio sudah sangat senang di dalam hatinya karena bisa melihat gadis itu dengan dekat dan lekat.
Suasana yang seperti ini sangat di rindukan oleh Rio selama ini.
"Maaf, maaf sudah membuat kamu sakit hati dengan ku. Aku memang selingkuh di belakang kamu sudah dua minggu ini, karena kamu sedang sibuknya semester membuat aku kesepian dan butuh hiburan saat pulang dari kerja. Dan saat aku sedang bertugas operasi tilang di pertigaan jalan raya lalu lintas, aku lihat ada cewek yang bisa buat aku tertarik sama dia. Lalu coba ku dekati dan dapat, dia pun mau. Singkat cerita, aku sama dia sudah pacaran dua minggu ini, tapi waktu kamu putus sama aku, aku sudah putusin cewek itu, Dan. Maaf, seharusnya aku tidak mencari cewek lain saat rumah ku itu adalah kamu, Dan." jelas Rio dengan wajah sendu menatap raut wajah datar dari Danera membuat hati Rio berdebar karena takut dan gelisah.
"Maaf, maafin aku, Dan." ucap Rio dengan nada tulus.
"Sudah?" tanya Danera yang di balas anggukkan kepala dari Rio.
Setelah itu, Danera bangkit dari duduknya membuat Rio ikut bangkit juga. Melihat Danera yang berlalu begitu saja tanpa berbicara kan yang dia jelaskan membuat hati Rio seperti di tusuk tusuk seperti banyak belati saja.
Brak!
Cangkir kaca yang berisikan kopi minuman Rio pecah ke lantai dingin karena Rio sangat marah dan kesal menatap ke pergian Danera.
"Akhhh... Lo bodoh, Rio. Lo bodoh." umpat Rio yang terus menyalahkan dirinya sendiri dengan menarik rambut hitam legamnya dengan kasar.
Danera yang sedang bersembunyi di belakang dinding mendengar semuanya saat dia pergi, sebenarnya. Tapi Danera tidak kuat melihat wajah mengenaskan dari Rio, tapi di dalam pikirannya tidak sejalan dengan hatinya.
Hiks... Hiks... Hiks...
Danera membungkam mulutnya sendiri dengan kedua telapak tangan agar Rio tidak mendengar suara tangisnya yang tertahan. Danera tidak mau itu terjadi.
"Maaf, Rio. Aku sudah tidak bisa percaya sama kamu atau pun memaafkan kamu, pria yang sudah senang sekali selingkuh, maka seterusnya akan selingkuh. Jadi percuma saja, Rio. Hiks..." ucap Danera berlalu pergi.
__ADS_1