Suami Pilihan Oma

Suami Pilihan Oma
EMPAT PULUH ENAM


__ADS_3

"Danera, boleh bicara berdua?"


Suara pertanyaan dari mulut Rio tiba-tiba saat mereka sudah menaikki wahana yang ada di pasar malam di kota membuat kedua gadis dan Justin menoleh menatap Rio yang sedang memandang Danera lekat.


Justin menyenggol lengan Danera untuk menatap Rio tapi gadis itu memalingkan pandangan menatap sekeliling. Rio memelas kearah Justin supaya bisa merayu Danera agar mau ikut berbicara kepadanya.


Saat Almira akan protes karena Justin mengangguk mengiyakan kearah Rio, Almira lebih dulu di tutup mulutnya oleh Nera atas suruhan Justin tentunya.


"Dan, coba bicara sama Om Rio berdua dulu. Kalian harus berbicara baik-baik dulu, kalian berdua coba sama-sama keluarkan unek unek selama ini yang kalian pendam. Siapa tau kan dapat jalan keluar. Kalau jalan keluarnya kalian putus, maka putus saja. Tapi jika jalan keluarnya kalian bertahan bersama, makan bertahan. Mengerti kan, Dan?" ucap Justin mencoba memberikan pengertian kepada gadis itu yang sedang memilin ujung hijab instannya.


Danera menatap kearah Justin yang mengangguk sambil tersenyum kecil, sama halnya dengan Nera. Danera beralih menatap Almira yang masih di bekap oleh telapak tangan Nera yang sudah geleng-geleng kepala menatap Danera.


Danera meminta Nera untuk melepaskan bekapannya karena melihat Almira yang sudah memerah semua wajahnya.


"Gue gak akan biarin lo sama Rio lagi, paham lo Dan? Awas saja kalau lo ikut sama dia untuk berbicara berdua." ucap Almira dengan nada sinis dan kesal menatap Danera yang hanya diam saja.


"Al." tegur Justin sambil menarik kedua bahu sang sepupu itu sedikit mundur mencoba menghalangi pertengkaran yang akan terjadi nantinya.


"Pokoknya gue gak setuju sama cowok itu, camkan itu Danera." jerit Almira sedikit keras sehingga mereka mengucapkan kata maaf kepadanya.


Rio hanya memandang Almira yang sudah di seret oleh Justin menjauh tidak tau kemana di ikuti mereka kecuali Nera yang masih memandang Rio dengan tajam dan sinis yang siap memakan mangsanya hari ini.


"Sebenarnya gue juga gak setuju sama halnya seperti Almira, tapi gue juga mikir sama perasaan Danera. Dan, gue pergi dulu." ucap Nera yang langsung berpamitan dengan menepuk bahu Danera dengan erat.


Sekarang hanya ada Danera dan Rio saling menatap dengan pandangan berbeda. Rio menatap Danera dengan pandangan sendu dan memelas, Danera memandang Rio dengan tatapan datar tidak ada ekspresi apapun.


Bagi Rio, Danera yabg sekarang berada di depannya seperti bukan Danera yang dia kenal selama ini.


Sangat berbeda.


"Ayo, cari tempat duduk biar enak ngomongnya." ajak Rio yang hanya di angguki saja oleh gadis tersebut lalu berjalan mendahuluinya.


Rio menghembusakan nafas pelan menatap punggung Dabera yang ada di depannya. Rio sangat ingin memeluk tubuh mungil tersebut, tapi tiba-tiba ucapan Danera yang saat mereka putus melintas di pikirannya membuat Rio mengepalkan kedua tangan lalu memasukkan kedua tangannya di dalam saku celana.


Danera langsung duduk di kursi panjang bewarna coklat sambil memandang luris ke depan tanpa menimbulkan suara sehingga membuat Rio makin mengepalkan kedua tangannya. Rio bukannya sedang marah atau kesal, tapi pria itu mencoba menahan rasa perih yang ada di dalam hatinya melihat Danera yang sangat asing bagi dirinya sendiri.


"Dan..."


"Mau bicara apa? Saya tidak punya banyak waktu." belum sempat Rio meneruskan ucapannya, Danera lebih dulu memotong ucapan tersebut dengan nada dingin dan datar.


Rio menatap kedua mata yang hanya memandang kosong tidak seperti kemarin-kemarin saat mereka masih menjalin hubungan, Rio tiba-tiba merindukan pandangan penuh cinta dan berbinar dari Danera hanya untuknya.


Tapi sekarang, itu semua sudah tidak ada dan tidak berarti lagi kepada Danera.


"Aku minta maaf sama kamu, Dan. Maaf dan maaf untuk semuanya, aku... aku sudah membuat kam-"


Drt... Drt... Drt...


Saku Danera bergetar membuat ucapan Rio berhenti lalu menatap ke arah gadis tersebut yang sedang menatap nama panggilan. Tanpa mengucapkan kata apapun, Danera pergi meninggalkan Rio sendiri duduk di kursi panjang tersebut sambil mengangkat sambungan telepon itu dan menjauh.

__ADS_1


Rio hanya memandang saja tanpa mengikuti Danera pergi, dengan perlahan punggung Danera menghilang tidak tau kemana membuat Rio menghela nafas sambil mengusap wajahnya dengan gusar.


Rio sangat frustasi dengan semua ini.


"Aku terlalu bodoh menyia-nyiakan kamu, Danera. Wanita tulus dan mencintai ku tanpa adanya, malah aku membuat kamu merasakan sakit hati ini yang baru pertama kalinya kamu rasakan. Maaf, aku sangat bodoh." ucap Rio dengan nada lirih sambil menundukkan pandangannya menatap remasan kedua tangan yang ada dibawah.


***


"Almira, mau kemana pagi-pagi seperti ini?"


Pertanyaan dari sumber suara membuat Almira yang sedang mengenakan jaket hitam kulit menoleh ke belakang, betapa terkejutnya melihat Kenzo yang memandang datar yang sudah rapi sambil memasukkan kedua tangan di dalam saku ******.


***** perlihatan Almira, Kenzo sangat tampan dengan gaya seperti itu. Almira diam menatap wajah tampan Kenzo dengan pandangan terpesona membuat pria yang sedang di tatap seperti itu saling, sehingga kedua telinganya sekarang sudah memerah karena malu.


Deg!


Suara jantung Kenzo berdetak sangat kencang membuat kedua tangan Kenzo yang ada di dalam saku celana mengepalkan menahan rasa senang. Tidak tau kenapa kalau Almira yang membuat dirinya bisa sesalting ini tanpa gadis itu melakukan apapun kepadanya.


Memang aneh, tapi ini nyata.


"Almira sayang..." ucap Kenzo dengan nada rendahnya membuat lamunan Almira buyar seketika lalu menggerjap.


Suara serak dan rendah dari mulut Kenzo sangat seksi bagi Almira, tidak tau kenapa gadis tersebut berpikiran seperti itu tiba-tiba.


Sebelum berjalan kearah Kenzo, Almira lebih dulu menghela nafas kecil tapi masih di ketahui oleh pria yang ada di depannya sedang memandang intens tidak mau beralih kemanapun.


"Aku izin ya, aku akan pergi ke restoran di kota untuk bertemu dengan sekretaris Oma yang di suruh untuk membantu aku tentang bisnis perusahaan dan butik yang akan ku urus. Maaf tidak bicara dulu sama kamu, kamu tau kan akhir-akhir ini masalah datang menerpa aku dan kedua sahabatku. Aku tidak bisa meninggalkan sahabat-sahabatku saat mereka sedang ada masalah." jelas Almira dengan panjang kali lebar agar Kenzo memahami situasi diantara mereka setelah putusnya Rio dan Danera.


Kenzo menghela nafas panjang dan berdehem menjawab ucapan Almira setuju apa yang di bilang sang istri. Menatap senyum manis yang tiba-tiba muncul di bibir Almira sambil menatap kearahnya membuat Kenzo juga ikut tersenyum meskipun kecil tapi pria itu makin terlihat sangat tampan.


"Kalau kamu mau kemana?" tanya Almira dengan nada santai sambil merapihkan jaket hitamnya.


"Ke perusahaan cabang." jawab Kenzo dengan menatap gerak gerik Almira sedari tadi sibuk sendiri.


Almira mengangguk saja tidak melihat kearah Kenzo karena sedang membenarkan penampilannya yang masih belum rapi.


"Al, bantu aku mengenakan dasi ini."


Ucapan Kenzo yang tiba-tiba bagi Almira membuat gadis itu mendongakkan pandangan, mereka saling menatap satu sama lain seperti tersihir tidak mau menatap kearah lain. Itu yang di rasakan Kenzo dan Almira tanpa sadar.


Kenzo menarik meja kecil empuk dari sebelah kakinya yang sekarang sudah berada di tengah-tengah mereka. Kenzo memberikan kode kepada Almira dengan pandangan menunjuk kearah meja kecil itu agar di naikki.


Almira terkekeh kecil melihatnya, dengan pelan Almira menaikki meja kecil itu lalu sekarang berhadapan dengan Kenzo lumayan dekat sehingga hembusan nafas keduanya menerpa satu sama lain.


Hangat dan Nyaman.


Almira langsung memakaikan dasi bewarna biru gelap itu dengan telaten tanpa di ketahui Kenzo kalau jantungnya sedang berdetak sangat cepat tidak tau kenapa. Di tatap oleh Kenzo sangat intens dan dekat membuat Almira merasakan kupu-kupu sedang bertebangan di dalam perutnya terasa geli.


Almira tidak mengerti dengan tubuhnya dan pikiran tidak sejalan. Pikirannya berkata untuk segera menjauh dari Kenzo, tapi kalau tubuhnya berkeinginan selalu berada di dekat Kenzo.

__ADS_1


Almira makin pusing saja memikirkan semuanya.


"Selesai." ucap Almira sambil menepuk-nepuk jas Kenzo untuk membersihkan debu padahal tidak ada sama sekali.


Almira melakukan tersebut sebagai bentuk pengalihan perasaannya tiba-tiba membuncah seperti jatuh cinta di masa lalu kepada orang yang sama. Almira tidak mau itu terjadi kepada dirinya lagi, maka dari itu Almira mencoba mengalihkan yang menyangkut di dalam hatinya.


Saat akan turun dari meja kecil itu, tiba-tiba kedua tangan Kenzo sudah melingkar di pinggangnya membuat gadis itu melotot terkejut. Almira menatap kearah Kenzo yang juga sedang menatapnya dengan wajah tampan itu.


"Aku tidak akan ada bosannya mengucapkan perasaan ku ke kamu, Al. Karena aku memang sangat mencintai mu, sangat dalam. Sekarang ini cinta ku ke kamu makin mendalam dan tidak akan ku biarkan kamu meninggalkan diriku, tidak akan pernah sekalipun. Ingat itu?" ucap Kenzo dengan nada serius.


***


"Lo ada dimana, Al? Gue sama Nera sudah ada di tempat janjian."


"Sorry, ada masalah penting yang mendadak tiba. Gue gak bisa kesana, gue sekarang ada di perusahaan Oma Diana yang ada di Surabaya ini buat ketemu sama sekretaris Oma."


"Loh, terus gimana? Memangnya lo kapan pulang ke apartemen?"


"Sepertinya sekitar sore deh, sorry."


"Oke, santuy saja sama kita. Nanti sore langsung ke tempat janjian kita, oke?"


"Oke siap, kalau gitu gue tutup dulu teleponnya. Assalamualaikum."


"Waalaikum salam, semangat besti."


Sambungan telepon tersebut di matikan oleh Danera setelah mengucapkan kata-kata itu dengan heboh membuat Almira tersenyum kecil menatap benda pipih yang langsung dia simpan ke dalam tas. Menatap seorang lelaki yang sudah berumur membuat Almira berdiri dari duduknya mempersilahkan pria tersebut dengan sopan dan ramah, tidak melupakan senyuman dari bibirnya.


Pria paruh baya itu tersenyum senang lalu duduk di tempat yang di ikuti oleh Almira juga menatap seseorang yang ada di depannya dengan wajah serius.


"Nduk, kamu sudah besar ternyata. Dulu saja waktu saya masih menjadi supir Oma kamu, kamu masih sekolah di bangku dasar. Sekarang saja sudah besar dan akan memimpin perusahaan dan butik. Paman ikut senang kamu mau menuruti ucapan Oma kamu." ucapan pria paruh baya itu dengan senyuman senang sangat kentara sekali dari raut wajahnya kalau dia sedang bahagia menatap Almira.


"Paman selalu menjadi terbaik di keluarga Alindra, sejak dulu maupun sekarang. Terima kasih, Paman. Tolong bantuannya agar Al bisa maju atas ilmu yang akan Paman kasih ke aku dan juga mohon doanya agar Oma cepat sembuh lalu kita bisa berkumpul dengan bahagia." ucap Almira dengan mengangguk kepala sambil tersenyum.


Pria paruh baya itu menyesap kopi yang di pesankan oleh Almira sejak dia belum datang sambil mengangguk mengiyakan ucapan Almira dengan wajah senang dan bahagia. Sejak pria paruh baya itu masih muda yang di miliki cuman Oma Diana dan keluarga Alindra saja yang mau menampung dan membiayai pendidikan sampai saat ini.


Betapa beruntung dirinya bisa bertemu dengan Oma Diana saat masih muda.


"Paman sangat senang menghabiskan hidup hanya untuk keluarga Alindra, Paman sangat berhutang budi kepada Alindra. Kamu harus janji kepada Paman, di masa yang akan datang kamu harus menjadi orang sukses dan baik hati kepada semua orang. Janji?" ujar pria tersebut dengan meneteskan air mata lalu menghapus dengan kasar sambil menunjukkan jari kelingking di depan Almira dengan senyuman lembut.


Tanpa pikir panjang Almira menautkan jari kelingkingnya di jari pria paruh baya itu sambil tersenyum manis mencoba untuk menenangkan.


"Al janji, akan menjadi orang yang sukses dan baik hati kepada semua orang tanpa menilai derajat mereka. Terima kasih, Paman. Almira sangat sayang kepada Paman meskipun kita tidak ada ikatan darah sama sekali, tapi dari dulu Paman adalah Paman yang terbaik sedunia ini." ucap Almira dengan nada tulus.


Pria paruh baya tersebut tersenyum lalu melepaskan tautan kelingking mereka dengan mengangguk senang atas ucapan sang ponakkan yang sudah bertumbuh besar.


"Are you sure?" tanya pria paruh baya dengan nada menggoda yang membuat Almira tertawa senang dan di ikuti oleh pria tersebut.


"Sure."

__ADS_1


__ADS_2