Suami Pilihan Oma

Suami Pilihan Oma
SEMBILAN PULUH SATU


__ADS_3

"Kelompok Monyet, silahkan waktu kalian untuk masuk ke hutan ini. Ingat pesan saya untuk selalu lihat temannya yang lain, jangan sampai salah satu di antara kalian tertinggal. Mengerti?"


Ucapan yang bernada penuh penekanan dari Polisi yang sedang berdiri di depan mereka, Polisi itu sifatnya ceria sekali kepada para peserta sehingga yang lain tidak pernah takut melain kan malah sering bercanda ria bersama.


Kelompok Monyet yang terdiri dari sembilan peserta dan dua Polisi yang berada di depan dan di belakang untuk menjaga para peserta.


"Baiklah, karena ini adalah kelompok pertama maka dengan spesial dua Polisi yang akan menjaga ialah sang Kapten dan Polisi termuda."


Ucapannya membuat semua peserta bersorak heboh saat kelompok Monyet mendapat kan Polisi tampan buat penjagaan, teriakan heboh lebih dominasi para peserta perempuan.


Setelah bocah Polisi itu maju ke kelompok Monyet dan dia memilih yang berada di depan membuat Kenzo mau tidak mau dirinya harus berada di barisan paling belakang. Tanpa sepengetahuan yang lain kalau Kenzo sudah mengepal kan kedua tangannya di dalam saku celana, karena melihat Almira yang ternyata berada di belakang laki laki yang memberi kan minuman dingin saat itu.


Almira sejak tadi menatap ke arah Kenzo saat pria itu berjalan mendekat ke kelompoknya yang di belakang barisan. Almira tau kalau sangat suami sedang sangat kesal menatap ke arahnya, tetapi Almira tidak bisa berbuat apa apa. Dirinya di kelompok Monyet memang menjadi ketua yang kedua dan pria yang memberi kan minuman itu yang menjadi ketua pertama.


"Bantuan pencahayaan sudah kalian pegang masing masing. Waktunya di mulai dari sekarang, silahkan untuk memasuki hutan."


Setelah intruksi dari MC, kelompok Monyet dan dua Polisi melangkah masuk ke dalam hutan yang sangat gelap gulita sehingga mereka harus mensenter untuk bisa lihat jalanan.


Sejak perjalanan Kenzo hanya menatap ke arah Almira tanpa mau mengalih kan, toh tidak ada yang bisa mengetahui atau menyadari kalau dirinya sedang menatap wanita itu karena gelap.


Tiba tiba saja Almira terpeleset sehingga pinggangnya di pegang oleh pria yang berada di depannya yang memberi kan minuman dingin, mereka saling menatap dan di ketahui oleh anggota Kelompok Monyet karena senter mereka mengarah ke dua manusia itu.


Wajah Kenzo memerah karena dirinya sedang sangat emosi dan marah bercampur menjadi satu, dia sudah tidak tahan melihatnya karena pegangan pria itu tidak mau melepas kan dan juga Almira yang diam saja menatap ke arah pria tersebut.


"Ekhem. Sekarang waktunya bukan buat mesra mesraan."


Deheman dan ucapan bernada datar sambil mengeluar kan aura mencengkam membuat mereka tersadar lalu menatap ke arah Kenzo yang menatap tajam.


Pria tadi tersenyum dan menunduk meminta maaf kepada Kenzo, berbeda lagi dengan Almira yang menjadi kikuk menatap ke arah suamimya yang masih memandang tajam dan datar.


"Mel, ganti posisi." ujar Almira yang tiba tiba membuat mereka menatap ke arah wanita itu secara bersamaan dengan bingung karena wanita itu berganti di barisan belakang yang di depannya Kenzo.


"Loh-"


Belum sempat melanjut kan ucapan gadis yang di barisan belakang itu selesai, Almira lebih dulu sudah berada di barisan tersebut dan mendorong tubuh teman se kamarnya yang pendiam itu agar maju ke depan.


Kenzo hanya diam saja sambil menatap seperti sebelumnya dengan memutar bola matanya malas, dirinya sudah kepalang kesal dan emosi jadi dirinya tidak mempeduli kan.


"Lanjut kan perjalanan."


Perintah Kenzo kepada Polisi termuda yang berada di barisan depan dengan nada tegas dan tatapan datar yang langsung di anggukki dan mengarah kan kelompok Monyet lagi seperti sedia kala.


Almira berjalan sambil melirik ke arah belakang yang terdapat Kenzo menatap lurus ke depan bukan ke arahnya membuat wanita itu ketar ketir sendiri dan bingung, tanpa aba aba Almira langsung menggenggam tangan kanan Kenzo dari arah belakang sehingga tidak ada yang tau.


Kenzo menatap ke genggaman erat itu dan merasa kan usapan lembut dari ibu jari yang mungil Almira ke punggung tangannya, lalu pandangan Kenzo beralih ke punggung Almira dengan pandangan lekat dan dalam. Dan genggaman itu langsung tambah erat saat Kenzo membalasnya membuat Almira menoleh ke arah belakang yang hanya di balas dengan tatapan datar saja dari suaminya.


"Maaf." ucap Almira dengan suara sangat kecil sehingga hanya bisa di dengar oleh Kenzo lalu pandangannya membalik ke arah depan lagi.


Grep.


Kenzo menarik pinggang ramping Almira dari belakang membuat wanita itu membelalak terkejut dan menunduk kan kepalanya menatap ke arah perutnya yang sudah ada tangan kekar milik suaminya.

__ADS_1


"Begini kan dia sayang? Akan ku hapus sisa pelukannya dengan punya ku." bisik Kenzo tepat di telinga Almira sangat pelan dan bernada berat membuat sang istri merinding seketika.


Cup.


"Itu hukuman buat kamu, karena kamu malah menerima pelukan itu dan membalas tatapannya. Lalu kamu akan mendapat kan kabar yang sangat mengejut kan untuk pria yang berani menyentuh kamu, sayang. Siap kan diri kamu dan mental kamu, aku sudah tidak bisa menahannya lagi karena dia berani sekali dekat dengan kamu." lanjut Kenzo membisik kan kata kata yang sangat menyeram kan bagi Almira.


Almira tidak faham sekarang ini karena dirinya sedang berada di kegelapan, jadi Almira tidak bisa berfikir dengan benar.


Cup.


Ciuman di pipi lagi di dapat kan oleh Almira dengan si pelaku yang sama yaitu Kenzo sang suami.


Almira sejak kecil lemah dalam berfikir kalau sedang berada di kegelapan dan Kenzo mengetahui, makanya Kenzo memilih memberi kan tau rencananya saat Almira berada di situasi seperti ini sehingga sang istri tidak bisa mencegah dan cepat cepat melupa kan rencananya.


Kenzo menyeringai menatap ke arah pria yang berada di barisan depan belakangnya anggota Polisi yang paling muda tersebut, Kenzo tidak sabar untuk menanti kan rencana yang akan dia laksana kan.


"Rencana ini pasti sangat menyenang kan dan menghibur, harusnya aku mengajak Edo untuk ini. Tapi sayang Edo berada di Jakarta. Kau bersiap lah untuk datang ke neraka di bumi ini, bersiap lah untuk bertemu dengan malaikat pencabut nyawa mu." batin Kenzo menyeringai sambil mengelus kepala Almira dengan lembut memakai perasaannya sehingga Almira merasa nyaman seperti biasanya.


Di lain tempat, seorang pria yang tiba tiba merasa kan gatal di lubang hidungnya membuat pria itu mengeluar kan suara decakan dan geraman karena kesal.


"Siapa sih ini yang kangen sama gue..." ucapnya dengan nada datar tapi ada selipan nada kesal di dalamnya.


***


"Iya Pak, saya sekarang sedang berada di perjalanan kesana. Sepertinya saya sampai di sana isya' deh Pak."


Ckit...


"Saya tutup dulu Pak, Assalamualaikum."


Setelah menutup sambungannya dengan bosnya langsung saja pemilik mobil itu keluar dengan raut wajah kesal.


Gadis itu sekarang sudah berada di depan pria yang menyebrang sembarangan itu dengan raut wajah kesal dan menatap ke arah pria tersebut yang memakai masker sehingga tidak bisa melihat wajahnya. Tanpa di ketahui kalau pria itu memandang lekat ke arah gadis yang sedang marah marah di depannya, tidak mempeduli kan ucapan pedas dari gadis tersebut.


"Beruntung saja di saya bisa mengerem mendadak karena an-"


"Danera." panggilan dengan nada lembut membuat ucapan gadis yang berada di depannya menghenti kan ucapannya.


Gadis itu adalah Danera sahabat dari Almira dan juga Nera menatap heran dan tiba tiba saja tubuhnya menegang karena mendengar suara yang sudah lama tidak pernah dia dengar setelah meninggal kan Jakarta.


Grep.


Pelukan yang tiba tiba di dapat kan Danera membuat gadis itu terkejut lalu segera melepas kan meskipun membutuh kan tenaga yang kuat agar bisa terlepas, saat Danera akan memarahi pria itu lagi dengan cepat pria itu melepas kan masker dan topinya membuat kedua mata Danera membulat terkejut.


"Rio."


Yah, pria yang ada di depannya adalah Rio sang mantan kekasih dari Danera membuat gadis itu seketika mundur selangkah karena tidak percaya bisa melihat pria yang dia benci dan juga dia rindu kan selama ini.


"Sangat memuak kan, kenapa gue harus ketemu lo sih." gerutu Danera dengan nada kesal sambil menunjuk ke arah Rio yang hanya diam menatap ke arahnya dengan tatapan berbinar di kedua matanya membuat Danera memutar bola matanya malas melihatnya.


"Tidak menyangka aku akan bertemu dengan kamu sayang, begitu menyenang kan untuk k-"

__ADS_1


"Diam lo, tutup mulut busuk lo." sahut Danera memotong ucapan Rio dan langsung pergi ke mobilnya untuk masuk meninggal kan mantan kekasihnya itu.


Tin... Tin... Tin...


Suara klakson mobil terdengar begitu nyaring di telinga Rio membuat pria itu menoleh ke arah Danera yang sedang berada di dalam mobilnya dengan pandangan yang sulit di arti kan. Rio mundur sambil menatap ke arah Danera tanpa mengalih kan pandangan ke arah lain, lalu melihat mobil Danera yang sudah melewatinya begitu saja.


"Kalau kita bertemu lagi, tidak akan ku biar kan kamu pergi dari ku Danera." ucap Rio dengan suara beratnya dan menyeringai menarik sudut bibirnya ke atas dengan menatap ke mobil yang mulai menjauh dari pandangannya.


***


"Selamat untuk Kelompok Monyet yang telah berhasil."


Sambutan itu mengakibat kan para peserta lainnya yang belum memulai kegiatan malam bertepuk tangan dan bersorak memberi kan selamat untuk mereka. Para anggota kelompok Monyet itu semua tersenyum bahagia kecuali Almira tentunya yang hanya memandang datar lainnya.


Mereka memang tidak mengenal Almira karena perempuan itu tidak pernah berbicara kepada semua kecuali ke empat gadis yang sekamar dengannya, makanya peserta lainnya hanya biasa saja saat tatapan datar yang terlihat dari seorang Almira.


"Baik, silahkan istirahat terlebih dulu." ucap MC tersebut.


Kelompok Monyet lalu berjalan ke arah tempat mereka dan duduk berselonjaran di rumput hijau, tapi saat ada suara yang membuat mereka keheranan, mereka langsung menatap ke arah Almira dengan kebingungan.


"Kamu, ikuti saya. Kamu mendapat kan hukuman, cepat." perintah dari Kenzo dengan nada tegas membuat mereka semua merinding seketika kecuali Almira yang di tunjuk hanya menghela nafas pelan saja sehingga tidak ada yang tau.


Kenzo berjalan lebih dulu lalu di ikuti Almira, tapi sebelum itu perempuan yang memakai topi berpamitan ke empat gadis yang satu kelompok dengannya yang satu kamar dengannya juga dan mengikuti langkah Kenzo di belakangnya.


Sejak tadi para anggota Polisi lainnya menatap ke arah keduanya dengan pandangan berbeda beda, tidak ada yang tau apa maksud dari pandangan tersebut.


"Bersih kan kamar mandi ini, saya yang akan mengawasi kamu. Malam ini kamu harus melaku kan hukuman ini." ucap Kenzo sambil menunjuk ke arah kamar mandi yang berjejer rapih sambil menatap datar ke arah Almira.


Almira sedikit terkejut dan tidak menyangka kalau hukuman yang di kasih suaminya adalah membersih kan kamar mandi yang banyak sekali ini, perempuan itu menatap raut wajah Kenzo yang hanya menampil kan datar tanpa ekspresi dan dari tatapan kedua mata pria itu sedang kesal kepadanya membuat Almira mau tidak mau mengangguk saja.


Tapi saat Almira menunduk mengambil alat pel, tanpa sengaja pandangannya menatap ke arah kepalan tangan Kenzo yang sangat erat membuat dia mendongak kan kepalanya menatap ke arah sang Kapten tersebut dengan senyuman lembut.


Almira tau kalau Kenzo sebenarnya tidak memberi kan hukuman berat seperti ini, dirinya hanya sedang kesal dan emosi saja kepadanya maka Kenzo saat berbicara tidak di pikir dulu. Tetapi Almira tidak mempersalah kan Kenzo dengan hukuman ini, karena dirinya merasa bersalah sudah berpelukan dengan pria lain tanpa sengaja, di depan sang suami juga.


Almira lalu masuk ke kamar mandi sambil membawa alat pel yang di ikuti oleh Kenzo di belakangnya sambil mengepal kan kedua tangan di bawah. Melihat sang istri yang memulai mengepel lantai kamar mandi membuat hatinya merasa kan sesak, Kenzo memilih mengalih kan pandangannya agar tidak menatap ke arah Almira.


Tetapi rasanya Kenzo tidak tahan, tanpa mengucap kan apa pun Kenzo menutup pintu kamar mandi yang berjejer itu lalu berjalan menghampiri Almira yang sedang menatap ke arahnya dan dengan cepat mengambil alat pel tersebut membersih kan kamar mandi dengan cepat. Almira yang melihat itu geleng geleng kepala tidak habis pikir dengan pikiran yang ada di kepala Kenzo, padahal dirinya yang menghukum tapi dirinya juga yang melaksana kan untuknya.


Almira merasa tidak tega lalu ikut mengambil alat pel yang satunya dan membersih kan bersama Kenzo dengan bercanda ria membuat lelucon untuk sang suami agar tertawa, meskipun Kenzo hanya tertawa kecil tetapi itu membuat dampak yang baik untuk seorang Almira.


"Romantis ya kita Mas, kita apa apa selalu bareng dan bersama, mengepel di kamar mandi saja berdua." ujar Almira dengan nada rayuan membuat Kenzo tersenyum lembut karena senang dengan ucapan dari sang istri.


"Berdua... Bersama mu... Mengajar kan ku, apa artinya kenyamanan... Kesempurnaan... Cinta..." senandung Almira sambil mengepel ke sana ke mari membuat Kenzo tertawa lebar untung saja ruangan tersebut kedap suara sehingga tidak ada yang mendengar.


Setelah bernyanyi Almira memeluk pinggang Kenzo dengan sebelah tangannya yang tidak memegang alat pel membuat pria tersebut menghenti kan tawanya dan menatap ke arah sang istri dengan senyuman yang manis.


"Aku sangat senang Mas bisa bersama kamu, terima kasih sudah mencintai ku yang dalam seperti ini, rasanya tidak percaya ada yang mencintai ku sedalam kamu Mas. Tetapi saat aku melihat kamu mencintai ku sangat dalam, buat aku egois untuk selalu berada di samping kamu dan tidak mau berpisah jauh sama kamu Mas. Aku boleh kan egois tentang kamu?" ujar Almira dengan pertanyaan di akhir katanya dengan menatap lembut ke arah Kenzo yang sudah mengelus puncak kepala Almira dengan lembut.


"Boleh, kamu boleh egois untuk aku. Aku punya kamu sayang, begitu pun sebaliknya kamu punya aku. Rasanya aku senang banget saat kamu seperti ini ke aku dan ingat ini! Aku tidak akan pernah kamu meninggal kan aku pergi jauh, tidak akan pernah." balas Kenzo membuat Almira langsung memeluk tubuh kekar tersebut dengan erat sambil menggoyang kan ke kanan dan ke kiri karena merasa senang.


"Terima kasih Ya Allah, engkau memberi kan pasangan hidup seperti Kenzo. Terima kasih, aku sangat beruntung memilikinya." ucapan Almira dengan nada bisikan yang masih bisa di dengar oleh Kenzo membuat pria itu tersenyum lebar karena mendengar ucapan itu.

__ADS_1


Hatinya sekarang sangat senang dan berbunga bunga seperti sedang mabuk kasmaran.


__ADS_2