Suami Pilihan Oma

Suami Pilihan Oma
DUA PULUH ENAM


__ADS_3

"BERANGKAT SEKARANG..."


Teriakan sangat kencang dengan nada bahagia dari mulut Almira dan Danera membuat kedua si pendiam tersenyum kecil melihatnya.


Bagi Kenzo, memdapatkan Almira adalah suatu keberuntungan bagi hidupnya.


Bagi Nera, mendapatkan kedua sahabat yang sangat gila baginya adalah sebuah keajaiban. Karena Nera cewek susah berekspresi sehingga membuat siapapun akan takut dan bosan kepadanya. Tapi itu tidak berlaku kepada Almira ataupun Danera.


"Kalian mau kemana? Kelihatan sedang bahagia."


Suara yang membuat semua menoleh menatap mereka, saat tau siapa yang berbicara mereka mendengus kesal kecuali Kenzo tentunya yang hanya diam melihat wajah bingung dari Rio dan Nigel yang sedang menggaruk tengkuknya.


Tatapan tidak suka dari raut wajah Danera dan Nera membuat kedua laki-laki yang baru saja tiba mengernyitkan keningnya makin bingung.


Bagi mereka, selama satu hari ini mereka tidak melakukan kesalahan apapun kepada kedua gadis itu. Tapi kenapa kedua gadis itu seperti tidak suka dengan kedatangan mereka.


"Ken, kita berdua ada salah ya sama mereka?" tanya Rio menatap Kenzo yang diam.


"Ngeri gue lihatnya, mereka kaya mau makan kita hidup-hidup Ken." sambung Nigel sambil menatap Kenzo.


Kenzo hanya menghendikan bahunya acuh atas jawaban dari pertanyaan kedua sahabatnya.


Nigel ataupun Rio mendengus kesal dengan jawaban acuh dari Kenzo. Beralih menatap Danera dan Nera yang masih menatap seperti sebelumnya, kecuali Almira yang tersenyum mengejek kepadanya.


Ingin marah, tapi takut dengan pawangnya.


"Ngapain kalian berdua kesini? Perasaan gue gak undang kalian deh." ujar Almira sambil menyengir tidak jelas bertanya kepada Rio ataupun Nigel.


Rio menggaruk rambutnya yang tidak gatal bingung ingin menjawab apa, berbeda lagi dengan Nigel yang menyengir menampilkan deretan gigi putihnya kepada Almira sambil menunjukkan tanda peace.


"Boleh ikut gak?"


"GAK!" jawab Danera sebelum Rio meneruskan ucapannya dengan nada kencang karena kesal melohat pacarnya.


Rio cemberut dengan nada penolakkan itu dari sang pacar. Berbeda lagi dengan Nugel yang menatap memelas kearah Nera yang sudah menatap tajam andalannya membuat nyali Nigel menciut.


Nigel menghampiri Nera membuat gadis itu langsung menghindar, mereka terus saja seperti itu sampai Nera sudah mempepet Almira.


"Jangan dekat-dekat." peringat Nera kepada Nigel yang langsung diam menunduk.


"HAHAHAHA." tawa Almira sangat lepas dan kencang akibat melihat kedua sahabatnya yang di goda oleh kedua sahabat suaminya.


Bagi Almira, kejadian ini sangatlah lucu.


Kenzo langsung merangkul bahu Almira membuat tawanya berhenti dan menatap menaikkan satu alisnya berniat bertanya yang hanya di balas dengan senyuman lalu elusan lembut.


"Mereka lucu." ujar Almira.


Kenzo mengangguk mengiyakan sambil tersenyum lembuat kearah Almira, lalu jangan lupakan dengan elusan lembut yang masih terpatri di kepala Almira yang tertutupi hijab instan kesukaan gadis itu.


"Sudahlah, sudah. Kalian kalau kaya gini kapan sampainya?" ujar Almira dengan nada lelah menatap mereka yang langsung berhenti.


"Oke. Kalian berdua ikut juga, tidak apa-apa." ujar Almira yang membuat Danera dan Nera akan protes langsung dia potong dengan ancungan telapak tangan kanannya mengkode untuk diam.


"Biar Kenzo ada temannya."


***


"Gue mau Almira menderita."

__ADS_1


"Gak bisa gitu, gue cinta banget sama Almira."


Ucapan dari kedua cewek dan cowok dengan nada penuh penekanan satu sama lain, tidak mau kalah sambil menatap sinis kearah masing-masing.


Perdebatan mereka masih lanjut sejak tadi tanpa henti.


"Lo hanya diam saja dan lihat semuanya. Jangan pernah lo ikut campur atas pembalasan gue." ujar sang cewek menatap kearah cowok yang akan protes.


Cewek itu pergi meninggalkan tempat mereka dengan keadaan hening membuat cowok yang ada di sana mengepalkan kedua tangan menahan emosi yang akan meledak.


"Kalau lo bukan sepupu gue, gue bunuh lo." ucapan cowok itu dengan memandang punggung si cewek yang mulai menghilang dari pandangannya.


Bugh!


Bugh!


Bugh!


Pukulan demi pukulan terus saja di layangkan oleh cowok itu di tinjuan samsaknya dengan sangat keras sampai seluruh badan berkeringat.


Tiba-tiba wajah senyum Almira muncul di pikirannya yang sedang menatapnya saat mereka masih menjalin hubungan. Sudut bibir cowok itu terangkat menandakan senyuman di wajahnya, betapa bahagianya dirinya pacaran dengan Almira Sayyida Alindra.


"Aku cinta kamu, Almira." ucap cowok itu dengan nada lirih dan pelan sambil menundukkan wajahnya.


Bugh!


Bugh!


Bugh!


"Aku cinta kamu, aku akan membuat kamu bersama ku lagi. Tidak akan ku biarkan dia menyakiti kamu, Almira. Karena aku pasti menjadi pelindung kamu, meskipun aku harus pergi dari dunia. Aku sangat cinta kamu, Almira Sayyida Alindra."


***


"HAH?"


Raut wajah terkejut sangat terlihat sekali di wajah Justin dan jangan lupakan dengan mulut yang masih terbuka menatap Almira, Danera, Nera, Nigel, Rio dan juga Kenzo yang membawa koper menatapnya.


"Almira, lo-"


"Jawab pertanyaan gue, Justin." potong Almira kepada ucapan sepupu yang masih menatap terkejut.


Justin menundukkan pandangan membuat mereka semua menatap dengan diam. Remasan sangat erat dari kedua tangan jari-jari Almira saling bertautan di bawah, Almira sangat gelisah dan takut secara bersamaan.


Tiba-tiba Justin memeluk Almira dengan sangat erat yang makin membuat si empu membeku karena takut akan terjadi buruk kepada sang Oma.


"Oma menyidap penyakit kanker otak stadium 3."


Bisikan Justin tepat di telinga Almira membuat seluruh tubuhnya lemas dan kedua mata memanas siap menumpahkan air mata.


Justin tau Almira pasti akan tumbang, dengan cepat dia memeluk makin erat sang sepupu yang sedang rapuh itu.


"Bagaimana gue... Gue sendiri lagi..." lirih Almira yang langsung dapat gelengan kepala dari Justin.


"GUE SENDIRI LAGI. AKHHH..." teriak Almira sambil melepaskan pelukan mereka dengan kasar.


Kenzo dan semuanya menatap bingung dan khawatir kepada Almira, apa maksud dari sendiri lagi itu?


Justin terus saja geleng-geleng kepala sambil mencoba menggapai bahu Almira, tapi itu sia-sia belaka karena Almira menghindar.

__ADS_1


"Justin, lihat gue. Gue akan sendiri lagi, gue sendiri Justin." racau Almira yang langsung di balas gelengan kepala oleh si punya nama yang ada di depannya.


Kenzo yang tidak kuat melihat sang istri terpuruk langsung saja menghampiri dan langsung memeluk menenangkan meskipun Almira masih memberontak dan meracau dengan kata-kata yang sama.


"Ada apa, Justin? Bilang ke kita. Apa maksud dari Almira?" tanya Nera sambil memeluk Danera yang sudah menangis takut melihat Almira yang sangat buruk.


"Oma, Oma menyidap penyakit kanker otak stadium 3." jawab Justin sambil menundukkan pandangan.


Semua syok mendengar ucapan Justin. Tangis Danera makin kencang di pelukan Nera, Nera hanya diam memandang lurus dengan tatapan kosong.


Kenzo mendengar itu makin menggelamkan kepala Almira di pelukannya sambil mengecup puncak kepala yang tertutupi hijab dengan lembut berkali-kali untuk menenangkan.


Mereka semua tidak menyangka kalau Oma Diana yang sangat tegas mempunyai penyakit yang sangat mematikan.


"Al." panggil Nera dan Danera secara bersamaan sambil menghampiri sang sahabat yang masih berada di pelukan suaminya tersebut.


Almira mendongakkan pandangan menatap kedua sahabatnya dengan tatapan kosong dan kedua mata sudah membengkak. Danera yang melihat itu makin mengeluarkan air mata yang tidak bisa berhenti.


Kenzo memberi ruang kepada mereka, dia pergi menghampiri kedua sahabatnya yang diam dan Justin yang menunduk.


Almira langsung menghamburkan ke pelukan mereka sambil sesenggukan membuat kedua sahabatnya makin sedih dan memeluk sangat erat.


Yang Almira punya hanya sang Oma dan mereka, lalu sekarang Almira sudah punya Kenzo. Apa itu yang membuat Oma Diana legah buat Almira?


"Al, mau jenguk Oma? Tadi kata Dokter sudah sadar."


***


"Eh, cucu Oma yang cantik. Kenapa bisa kesini, hem?"


Suara itu membuat Almira berlari menghampiri Oma Diana yang sedang tersenyum dan masih terbaring. Raut wajah pucat putih makin membuat Almira tidak bisa menahan air mata yang akan turun.


Tanpa banyak bicara, Almira memeluk Oma Diana dengan erat meskipun Oma Diana hanya bisa mengelur memakai satu tangan yang tidak di infus tanpa bisa membalas pelukan hangat Almira.


"Maafin Al, maafin Almira. Almira janji, Al bakal nurut apapun perkataan Oma atau keinginan Oma." lirih Almira dengan nada pelan dan masih sesenggukan membuat sang Oma tersenyum lembut meskipun Almira tidak mengetahui.


Tangisan Almira keluar begitu keras tanpa bisa dia cegah membuatnya membenamkan wajahnya di badan Oma yang tersenyum lembut. Masih sama seperti Almira masih kecil saat sedang nangis.


"Oma kenapa gak bilang ke Al, kalau Oma sedang sakit? Kenapa malah Justin yang tau. Oma, Al kha-"


"Makanya Oma gak bilang ke kamu, takut nanti kamu khawatir. Oma gak suka." ucap Oma Diana yang masih lemas.


Almira memeluk lagi sang Oma tanpa mau melepaskan membuat Kenzo dan Justin hanya geleng-geleng kepala melihatnya.


"Al, lepas gak? Oma nanti susah nafas, Almira." ucap Justin setelah mencoba melepaskan pelukan Almira dan Oma dengan kesal.


Almira yang melihat Justin tersenyum saat pelukan itu terlepas dan raut wajah Almira yang cemberut.


"Ken, Justin tuh ngeselin." adu Almira kepada Kenzo yang sekarang sudah berada di sampingnya.


Kenzo langsung menatap tajam Justin yang membuat dia merasa takut lalu pergi meninggalkan mereka. Almira yang melihat itu tertawa senang atas penderitaan Justin.


Oma Diana melihat itu melebarkan senyumnya saat Almira sudah terbiasa dengan adanya Kenzo, dia sangat bersyukur.


"Almira Sayyida Alindra." panggil Oma membuat Almira dan Kenzo menatap kearahnya.


"Iya Oma, ke-kenapa?" jawab Almira tiba-tiba merasakan gugup saat sang Oma memanggil dengan mana lengkapnya.


"Oma mohon, kamu sama Kenzo selalu bersama. Jangan pernah berpisah atau saling meninggalkan. Oma, Zidan, dan Dirga pasti senang saat kalian selalu bersama sampai maut memisahkan kalian. Ingat ya pesan Oma." ujar Oma Diana sambil senyum hangat kepada mereka yang langsung dianggukki sambil sedikit melirik kearah mereka.

__ADS_1


"Apa aku bisa?" batin Almira.


__ADS_2