Suami Pilihan Oma

Suami Pilihan Oma
DELAPAN PULUH TIGA


__ADS_3

"Hello, saya Almira istrinya Kenzo yang cantik, imut, dan satu satunya. Salam kenal semua..."


Sapaan itu membuat para anggota Polisi yang sedang bersantai menatap gemas ke arah Almira yang bersama Kenzo dan Edo yang berada di tengah tengah di antara kedua laki laki itu.


Saat Almira menoleh ke arah satu persatu, tatapannya terhenti ke seseorang yang memandangnya sinis membuat Almira memicing kan apa maksud dari tatapan itu.


Pria itu hanya diam menatap sinis ke arah Almira yang di balas dengan raut wajah kebingungan dari Almira, Kenzo yang sedari tadi menatap Almira membuatnya mengikuti tatapan kemana arahnya.


Ternyata tatapan itu mengarah ke arah Nigel yang masih memandang sinis dan tidak suka, bagi Kenzo sangat aneh kalau sahabatnya itu menatap ke arah sang istri dengan tatapan tidak suka.


"Sayang..." panggil Kenzo lumayan keras membuat Almira yang masih bingung langsung menoleh ke arah Kenzo dari samping, berbeda lagi dengan Nigel yang langsung mengalih kan pandangannya membuat Rio yang di sebelahnya hanya bisa menghela nafas pasrah.


Rio tau kenapa Nigel menatap tidak suka ke arah Almira, sebenarnya itu bukan salah Almira tapi Nigelnya saja yang langsung mengarti kan kalau semua ini salah Almira. Rio tidak tau lagi harus bilang apa kalau di tanya oleh sang sahabat yang sekarang berstatus sebagai suami dari Almira.


"Kenapa sayang?" tanya Kenzo yang di balas dengan gelengan kepala oleh Almira sambil tersenyum ke arahnya.


Almira mengalih kan pandangannya ke arah depan lagi membuat Kenzo menatap ke arah Rio seperti meminta penjelasan membuat pria itu menghela nafas pelan dan di balas dengan Kenzo menaik kan satu alisnya.


"Hello kakak ipar..." suara sapaan sangat kencang dari anggota kepolisian lainnya kecuali Nigel dan Rio tentunya.


Almira melebar kan senyumannya melihat kehebohan mereka, Almira sangat senang kalau teman teman dari Kenzo menerimanya.


"Aku kesana ya Mas?" tanya Almira sambil menunjuk ke arah para laki laki yang melambai kan ke arahnya.


Kenzo mengangguk sambil membenar kan tatanan hijab Almira dengan rapi agar rambut gadis itu tidak keluar atau pun tidak terlihat, Almira yang di perlaku kan seperti tersenyum manis ke arah sang suami yang malah membuat Kenzo makin gemas kepada istrinya.


"Tidak boleh melaku kan hal hal aneh ya sayang..." bisik Kenzo yang hanya bisa di dengar oleh dirinya dan Almira yang langsung mendengus kesal malah di balas oleh Kenzo senyuman kecil.


Almira sebelum pergi dari Kenzo, dia tidak lupa untuk mencium sebelah pipi proa itu di depan mereka semua yang sedari tadi menatap ke arah pasangan suami istri itu.

__ADS_1


Sorak kan heboh di tunjuk kan untuk mereka yang di balas oleh Almira tawa lebar lalu pergi menghampiri teman teman Kenzo, berbeda lagi dengan Kenzo yang terdiam kalau saja dirinya tidak di sadar kam oleh Edo yang berada di sampingnya sejak tadi menatap pasangan pasutri itu.


"Selamat bro, perjuangan lo tidak sia sia selama ini." ucapan selamat dari mulut Edo dengan nada pelan membuat Kenzo langsung tersadar dari lamunannya dan menoleh ke arah pria itu.


Meskipun raut wajah dari Edo datar tanpa ekspresi tapi dari kedua mata yang memancar kan senang dan sendu yang bisa di mengerti oleh Kenzo, Kenzo dan Edo sudah berteman lama sehingga mereka tau rahasia masing masing.


Kenzo menepuk bahu belakang Edo dengan pelan, "Thanks, selama ini lo sudah baik sama gue Do. Thanks, tanpa lo gue sepertinya gagal." ucap Kenzo dengan nada pelan juga karena takut kalau mereka saling berbicara tentang masalah Almira dan dirinya.


"Lo pasti ingat ucapan gue waktu lo ada masalah itu? Gue tidak akan membiar kan lo merasa kan sakit apa pun itu dan akan menyatu kan lo sama cinta lo. Gue senang kalau lo bisa bahagia sama perempuan yang sangat lo cintai ini Ken, gue sebagai sahabat selalu dukung lo apa pun keputusan lo." balas Edo dengan melirik ke arah Kenzo yang menatapnya dengan pandangan yang sulit di artikan.


"Sekarang adalah waktunya lo bahagia Ken, paham kan ucapan gue?" lanjut Edo dengan menoleh ke arah Kenzo yang membalas dengan angguk kan kepala mantap.


***


"Sayang, ayo pulang."


Panggilan itu membuat mereka semua menoleh ke arah Kenzo yang di sebelahnya ada Edo yang hanya diam memandang datar tanpa ekspresi saja. Sudah sangat malam sekali dan sekarang sudah pukul 21.12 WIB.


Saat akan sampai di depan kedua pria berwajah datar itu tiba tiba saja ada seorang pria yang memakai kaos putih mencegah Almira dari depan, saat tatapan mereka bertemu Almira memutar bola matanya malas saat tau siapa pria itu ternyata adalah Nigel sahabat dari Kenzo yang sedari Almira datang sampai sekarang hanya memandang sinis ke arahnya.


"Kenapa? Minggir deh lo." ujar Almira dengan nada malas membuat Nigel memandangnya makin sinis ke arahanya yang tidak di peduli kan oleh gadis itu.


"Lo memang sampah Almira, gue kira saat kita bertemu gue kira lo baik. Tapi nyatanya lo sampah." ucapan dari Nigel membuat mereka semua menatap ke arahnya dengan bingung berbeda lagi dengan Edo yang mengepal kan kedua tangannya di dalam saku celananya.


Tidak jauh beda dengan Edo, Kenzo pun sama tapi dia lebih telihat tenang kalau Edo sudah memerah di wajahnya seperti siap untuk menerkam musuhnya.


"Maksud lo apaan hah? Gue gak pernah bikin masalah ke lo dan lo tiba tiba bilang gue sampah. Cowok gak jelas." ujar Almira dengan nada tegas dan menunjuk ke arah wajah Nigel dengan jari tengahnya yang membuat mereka semua melongo tidak percaya.


"Lo salah, lo salah Almira. Karena lo Nera harus pergi ke luar negeri, ini semua kesalahan lo. Lo memang sam-"

__ADS_1


Bugh.


Pukulan sangat keras sehingga menimbul kan suara di antara mereka, Almira hanya diam memandang apa yang di lakukan oleh Edo kepada Nigel. Tapi sebenarnya ada perasaan kasihan untuk Nigel, Almira mencoba untuk tidak peduli dengan pria itu. Gadis itu menyerah kan Nigel ke Edo, karena ada sesuatu yang menyangkut Abang sepupunya.


"Gue gak peduli kalau lo seorang Polisi, gue pun gak peduli kalau lo sahabatnya Kenzo. Saat lo menghina Adek sepupu gue dengan mulut busuk lo itu, itu sudah kesalahan besar apalagi lo menyalah kan Adek gue karena Nera pergi ke luar negeri." ucap Edo yang berada di atas tubuh Nigel untuk mengunci pergerakan pria itu.


"Gue tanya ke lo, apa Nera kasih lo harapan palsu? Apa Nera terima semua perlakuan lo ke dia? Apa Nera menganggap lo ada di samping dia? Enggak kan, Nera saja tidak menganggap lo Nigel. Gue kasih tau rahasia terbesar Nera, sebenarnya Nera sudah memiliki tunangan sebelum lo sama dia bertemu. Lo mau tau kan siapa tunangannya, yaitu GUE. GUE TUNANGANNYA NERA, LO MAU TAU KENAPA NERA PERGI KELUAR NEGERI? ITU KARENA DIA MAU DATANG KE GUE, DIA ADA DI RUMAH GUE SEKARANG. JADI, KENAPA NERA MEMPUNYAI SIFAT DINGIN ITU? ITU KARENA GUE YANG MENGAJARINYA, LO SAJA TIDAK TAU SIFAT NERA YANG SEBENARNYA. DIA ITU SAMA DENGAN ALMIRA MAUPUN DANERA, CUMAN KARENA DIA INGIN MENJAGA PERASAAN GUE YANG ADA DI LUAR NEGERI DAN SEKARANG GUE DISINI KARENA PERINTAH NERA BUAT JAGA ALMIRA DAN JUGA DANERA." bentak Edo dengan suara tinggi dan wajah yang sudah memerah karena makin marah dan emosi campur menjadi satu.


Nigel yang berada di bawah Edo tentu saja sangat terkejut dengan ucapan tiba tiba dari pria bertubuh tegap itu.


"Selama ini Almira maupun Danera sudah muak sama kedekatan lo dan Nera, tapi mereka memilih diam saja. Lalu sekarang lo menyalah kan Almira atas perginya Nera hah? Lo salah bro. Karena Nera sendiri yang ingin pergi ke rumah gue dan gue akan menikah dua bulan lagi disana, bersama Nera. Lo mau tau tisak bagaimana kami komunikasi, yaitu dengan cara ini. Bilang say hi ke depan jam ini, gue pasti kan Nera mendengar semuanya dari awal disana. Lo mengerti kan apa yang selanjutnya lo lakuin, menjauh dari TUNANGAN GUE." sambung Edo langsung memberi kan sebuah bogeman mentah sehingga membuat ujung bibir Nigel berdarah lalu pergi dari tempat itu.


Almira hanya menatap Nigel yang sama menatap ke arahnya seperti ingin jawaban kalau ucapan Edo tadi adalah salah.


"Itu semua benar, mereka akan menikah dua bulan lagi. Lo jangan lupa datang bersama anggota Polisi yang lain, mereka juga di undang karena Nera adalah sepupunya Kenzo. Gue pamit pergi, semoga lo dapat pengganti yang lebih baik dari Nera." jawab Almira sambil menepuk nepuk ke bahu Nigel yang sudah duduk di bantu Kenzo tadi.


Setelah Almira dan Kenzo pergi dari tempat mereka, para anggota polisi yang lain hanya bisa diam saja tanpa ada yang mengeluar kan suara satu pun.


Mereka memandang Nigel yang masih menunduk kan wajahnya yang babak belur merasa kasihan karena pasti di dalam hatinya sekarang sangat sakit, Nigel sekarang sudah mereka kasih prediket dengan nama Nigel sang sadboy.


"Kalian kembali lah ke tempat peristirahatan sekarang juga, karena besok masih ada pelatihan selanjutnya." ucap Rio yang di anggukki oleh mereka semua dan berlalu pergi dari tempat Nigel duduk.


Sekarang hanya ada Rio dan Nigel saja di tempat itu, Rio duduk di samping Nigel untuk mensejajar kan mereka lalu menepuk nepuk bahu sahabatnya seperti apa yang di lakukan oleh Almira tadi.


"Sekarang lo sudah dapat jawabannya." ujar Rio tiba tiba memecah kan keheningan melanda mereka.


"Iya, gue sudah dapat jawabannya yang tidak terduga duga. Sekarang waktunya gue move on dari Nera, gue tidak apa apa kok." balas Nigel yang menatap ke arah Rio dengan wajah seperti biasanya meskipun di dalam hati rasanya sesak sekali.


"Lo pasti kuat Nigel, jangan terlalu lama galaunya. Lo harus minta maaf ke Almira atas ucapan lo tadi, lo ingat kan ucapannya Almira kalau lo pasti dapat yang lebih baik lagi dari Nera. Lo harus minta maaf ke istrinya Kenzo." ujar Rio memberi pengertian ke Nigel karena bagi Rio sahabatnya ini salah kepada Almira.

__ADS_1


"Iya, itu pasti." jawaban Nigel dengan nada mantap karena dirinya juga merasa salah atas perlakuan ke Almira membuat Rio tersenyum lega sambil merangkul bahu Nigel untuk menguat kan.


__ADS_2