
"Bagaimana? Sudah selesai, Al?"
Pertanyaan dari Justin saat Almira memberikan ponselnya dengan kasar membuat dia kebingungan tidak tau kenapa sang sepupu perempuan seperti ini. Melihat raut wajah tidak enak di pandang dari Almira, Danera berdehem sedikit keras sehingga semua mata yang berada di ruang tamu menatap kearah gadis itu yang sedang menyengir menampilkan deretan gigi putihnya sambil mengangkat dua jari pertanda peace.
Nera yang sedari tadi sudah mengkode kearah Danera untuk diam, dengan cepat gadis itu langsung diam menundukkan pandangan yang seperti akan di mangsa hidup-hidup oleh Nera dan juga Almira tentunya.
Almira duduk di sebelah Danera membuat gadis itu meringsut menghindar takut nanti akan di makan lahap oleh gadis tersebut yang sedang tidak mood. Almira menarik tangan Danera untuk mendekat kearahnya membuat gadis tersebut menatap memelas kearah Nera yang hanya diam memandang saja tanpa bergerak sedikit pun.
Grep!
Pelukan dari samping sangat erat dari Almira sehingga membuat Danera yang di peluk meringis ngilu, inilah sebabnya kenapa dirinya tidak mau berdekatan dengan Almira saat sedang tidak mood dalam apapun.
Almira akan membuat salah satu diantara mereka kesal, itu sudah kebiasaan seorang Almira Sayyida Alindra kepada Nera atau pun Danera.
Ke empat pria hanya menatap heran tidak tau kenapa kepada ketiga gadis itu yang sedang sibuk sendiri.
Nera hanya tersenyum kecil sehingga tidak terlihat di raut wajahnya.
"Su - sudah, Al. Sesek gue." lirih Danera dengan nada terputus putus membuat Amira melepaskan pelukan itu dengan kencang sehingga membuat Danera akan tersungkur tapi tidak jadi karena Rio sudah menahannya.
Danera maupun Rio saling menatap terkejut, tidak menyangka. Saat mendengar suara deheman kencang dari mulut Nera. Danera dengan cepat melepaskan dari pelukan tidak sengaja itu dan berdiri menuju duduk di samping Justin membuat Rio tanpa sadar mengeratkan rahangnya.
Wajah kesal dan emosi memenuhi seluruh wajah Rio saat menatap Danera yang memalingkan pandangan, seperti kalau melihat Rio dia akan terinfeksi.
Sangat memuakkan.
"Nera cantik."
Panggilan dari suara Nigel yang berdiri berjalan mengarah ke tempat duduk samping Nera dengan wajah imutnya yang membuat semua orang meringis ingin muntah.
Justin melihat itu tiba-tiba dia merasakan perasaan kesal di dalam hatinya saat Nigel menatap lekat kearah Nera meskipun gadis itu tidak beralih menatap Nigel, tetap saja hati Justin panas dan kesal seketika.
"Om Nigel sama Nera ada hubungan apa?" tanya Justin tidak betah melihat Nigel yang terus saja mencoba menggoda Nera.
"Calon pacar. Iya kan, sayang?" jawab Nigel dengan senyum mengejek kearah Justinyang membuat pria itu makin kesal dan berlalu pergi begitu saja.
Mereka hanya diam saat Justin sudah menghilang masuk ke kamarnya sendiri. Almira beralih menatap Nera yang hanya diam saja seperti biasa dan tampilan wajahnya santai tidak terpengaruh apapun dengan kejadian tadi.
"Kasihan deh jadi Justin, padahal Nera juga gak mau sama Om Nigel, pake ngaku-ngaku segala." ujar Danera tiba-tiba membuat wajah Nigel langsung berubah karena kesal.
"Iya benar, gue sih ngeship Nera sama Justin. Mereka sangat cocok sebenarnya, tapi Nera saja yang gak mau dulu pacaran karena masih sekolah. Gue yakin sih, kalau kita sudah kuliah pasti Nera mau pacaran sama Justin. Iya gak, Dan?" sahut Almira dengan nada mengejek sambil tersenyum sinis keara Nigel yang sudah diam tidak berkutik hanya menatap mereka.
__ADS_1
"Betul banget." jawab Danera dengan antusias tanpa mempedulikan aura yang di sekitar sudah berbeda menjadi mencengkam.
"Cabut." suruh Nera yang langsung di anggukki sama Danera dan Almira pergi meninggalkan ketiga pria diam mematung.
"SEMUA INI GARA-GARA LO, RIO. SIALAN LO, RIO." bentak Nigel menunjuk kearah Rio yang hanya diam lalu berlalu pergi begitu saja.
Rio pun ikut pergi ke kamarnya sendiri dengan raut wajah bersalah. Kenzo yang melihat kedua sahabatnya memulai perang seperti kemarin, dia hanya menghembuskan nafas lelah menatap pertengkaran mereka lalu berlalu keluar dari apartemen.
Tanpa sepengetahuan mereka, sedari tadi ketiga gadis sedang bersembunyi di belakang dinding sehingga masih mendengar ucapan mereka.
Tersenyum puas dan menyeringai lalu bertos ala ria.
"Nikmati penderitaan lo seiring berjalan waktu, gue pastikan lo akan sangat menderita dengan pelan."
***
"Assalamualaikum, Dek."
Ucapan salam dari ambang pintu membuat mereka yang sedang menonton televisi menoleh kearah pintu tersebut. Saat Almira menoleh, betapa terkejutnya melihat dua pria dewasa memakai jas formal dan menarik koper yang mereka pegang sendiri.
Salah satu dari mereka tersenyum kearah Almira yang masih terkejut, berbeda lagi dengan satunya yang memandang datar tanpa ekspresi membuat Justin, Nera dan Danera meringis saat menatap pria dewasa tersebut.
Berbeda dengan Nigel dan Rio yang memandang heran kearah dua pria dewasa tersebut, Kenzo hanya menatap biasa saja tapi saat kedua matanya tidak sengaja saling tatap dengan wajah datar itu tersenyum kecil dan mengangguk kecil dan di balas anggukkan pelan saja tanpa ada yang mengetahui.
"Jawab salam dulu." sahut pria dewasa berwajah datar menegur Almira sehingga tidak melanjutkan ucapannya.
"Waalaikum salam." jawab mereka dengan nada bersamaan.
Setelah itu kedua pria dewasa menghampiri mereka yang hanya berdiri dengan wajah terkejut yang sangat kentara sekali dari raut wajahnya.
"Dek, gak mau peluk sama kita nih?"
Grep!
Tanpa membalas ucapan dari salah satu mereka yang bertanya, Almira lebih dulu memeluk erat dua pria dewasa yang sangat tinggi bagi gadis itu. Tapi meskipun begitu, Almira tidak perlu agar tinggi dan mencapai mereka. Karena mereka sudah menunduk agar sejajar dengan tinggi Almira.
"Bang Eza, Bang Alex. Terima kasih sudah datang ke Indonesia. Al, sangat senang." ucap Almira yang sudah melepaskan pelukan erat mereka yang langsung kedua pria dewasa itu mengambil nafas banyak-banyak.
Saat tatapan mereka berubah tajam kearah Almira, dengan cepat gadis itu menampilkan cengiran tidak jelas sampai deretan gigi putih terlihat yang hanya di balas dengan dengusan kesal.
"Justin." panggil Alex.
__ADS_1
Justin yang merasa terpanggil langsung saja memeluk tubuh Alex dan Eza. Mereka tau kalau pria itu sudah berusaha yang terbaik bagi Oma Diana dan Almira selama ini.
"Pikiran mu sudah dewasa sekarang, tidak seperti dulu yang masih kekanakan. Bang Eza sama Bang Alex bangga sama kamu, Justin." bisik Eza dengan nada bangga.
Pelukan mereka terlepas dan Justin menatap keduanya dengan senyuman lebar, pria itu senang atas ucapan sang Abang sepupu.
Eza beralih menatap Kenzo yang hanya memandang dengan diam saja, lalu Eza menghampiri pria itu dan langsung memeluknya dan di balas juga dengan Kenzo. Pelukan pun terlepas lalu saling tersenyum mengangguk diantara mereka.
"Mereka sahabat ku, Nigel dan Rio, Bang."
Ucapan Kenzo membuat kedua pria yang ada di sebelahnya langsung menatap kearah Eza dan Alex yang sudah berada di depan mereka. Nigel ataupun Rio tersenyum dan di balas dengan anggukkan kepala saja lalu menghampiri Almira yang sedang berbicara dengan kedua sahabatnya tidak tau membicarakan apa.
"Danera, Nera, kalian sudah besar." ucap Eza yang langsung ketiga gadis itu menoleh kearahnya yabg sedang berjalan kearah mereka bersama Alex.
"Masa kita kecil terus sih, Bang." balas Danera dengan menyalimi kedua pria dewasa itu dengan Nera juga.
Tiba-tiba saag Danera salim kearah Alex, pria itu mencubit pipi cubby gadis itu sehingga Danera cemberut kesal kearahnya. Rio yang melihat itu melototkan kedua mata ingin maju tapi di tahan oleh Nigel yang memandang tajam untuk tidak mengganggu mereka.
Rio mendengus kesal sambil memalingkan pandangan tidak menatap Danera lagi.
"Dek, besok pagi antar kami ke makan Oma Diana. Kita berangkat bertiga saja, mengerti Dek?" ucap Alex sambil mengusap puncak kepala Almira dengan lembut sehingga membuat gadis itu merapatkan tubuhnya ke tubuh Alex karena nyaman.
"Iya, mengerti..." ucap Almira dengan nada di sengaja memperpanjang sambil memejamkan kedua mata karena tiba-tiba rasa kantuk menyerang karena usapan lembut dari telapak tangan Alex.
Alex hanya geleng-geleng kepala melihat perlakuan Almira yang bagi dirinya masih kekanakan itu.
"Gara, Almira memang seperti ini kalau dengan mu juga?" tanya Eza kepada Kenzo sambil menatap Almira dan Alex.
"Iya, Bang. Malah lebih." jawab Kenzo dengan wajah santainya membuat semua mata langsung mengarah kearah Almira.
"HEH.... APAAN SIH." teriak Almira tidak terima dengan ucapan Kenzo.
Dengan langkah cepat, Almira menghampiri Kenzo yang hanya memandang kearahnya dengan raut wajah menjengkelkan bagi Almira. Saat sudah berada di depan tubuh Kenzo, Almira langsung memeluk dan menggelitiki membuat pria tersebut terasa geli.
"Oke, oke, ampun sayang."
Ucapan Kenzo membuat mereka semua membola mata terkejut dengan panggilan sayang itu kepada Almira, membuat gadis itu langsung berhenti memeluk menyembunyikan rasa malu kepada mereka.
"CIE... CIE... ALMIRA. WOAH, DAEBAK." teriak Danera sangat kencang yang makin membuat Almira mengeratkan pelukannya ke Kenzo menyembunyikan wajahnya.
Lalu yang lainnya hanya tersenyum menanggapi, kecuali Alex yang hanya memandang intens kearah Almira yang masih memeluk tubuh Kenzo.
__ADS_1
"Semoga kamu tidak merencanakan sesuatu yang membuat kamu menderita, Dek." batin Alex.