Suami Pilihan Oma

Suami Pilihan Oma
LIMA PULUH TIGA


__ADS_3

"Kita kapan ke Jakarta? Perpisahan sekolah akan di adakan, apa kita tidak ikut?"


Pertanyaan dari mulut Danera menatap kedua sahabatnya yang berada di lantai dingin dan dia sendiri berada tiduran di kasur empuk punya kamar Nera tentunya.


Almira maupun Nera langsung saling pandang lalu menatap Danera secara bersamaan yang sedang memakan kuaci kesayangannya, tanpa terganggu dengan pandangan mereka yang berbeda.


Nera memandang tajam dan Almira memandang sendu.


"Apa?" tanya Danera kepada Nera dengan raut wajah tidak bersalah membuat Nera ingin sekali menonjok muka sok polos dari sahabat satunya itu.


"Kalian berdua ikut lah acara perpisahan, sepertinya aku tidak akan ikut. Tepat tanggal itu, kematian Oma Diana sudah menginjak tujuh hari. Akan sangat sibuk pastinya waktu tujuh harinya Oma Diana." ucap Almira menatap Danera dan Nera secara bergantian sambil tersenyum menenangkan mereka yang tiba tiba suasana berubah sendu dan sedih.


Danera langsung duduk dan turun dari kasur empuk ke lantai dingin di tengah tengah Almira dan Nera. Danera memegang tangan Almira sebelah dan juga memegang tangan Nera sebelah membuat kedua gadis itu heran menatap Danera dengan raut bingung.


"Kalau di antara kita tidak bisa ikut, maka yang lainnya juga tidak ikut. Kita sahabat, sahabat selamanya." ucap Danera dengan nada serius begitu bijak.


Almira yang mendengar ucapan bijak dari mulut Danera langsung memeluk gadis itu dan Nera secara bersamaan, Almira sangat bahagia bisa mendapatkan seperti mereka.


Mereka berdua juga sangat berharga bagi hidup Almira juga.


Mereka yang selalu ada saat Almira sedang sedih atau pun senang, waktu dulu sampai sekarang ini Nera dan Danera itu berarti bagi Almira Sayyida Alindra.


Lalu sekarang Almira sudah kehilangan Oma Diana, maka sekarang dia tidak mau merasakan kehilangan lagi, siapapun itu.


"Kita kan sahabat sejati dan setia, sangat solidaritas sampai ma-"


"Tidak, kalian berdua sudah saya pesan kan tiket ke Jakarta, besok kalian berdua harus pergi dan biarkan Almira disini."


Sahutan dari suara seseorang membuat ketiga gadis menoleh mendapati Alex dan Eza yang berdiri di ambang pintu kamar yang sudah terbuka.


Si pelaku bersuara tadi hanya memandang ketiga gadis itu yang terkejut akan ucapannya.


"BANG ALEX." teriakan sangat kencang dari mulut Danera dan Nera tidak terima dengan ucapan pria dewasa itu sambil menatap tajam.


Almira hanya diam menatap saja, tapi sebenarnya di dalam lubuk hatinya gadis itu sangat sedih dengan keputusan Alex.

__ADS_1


Dia juga menginginkan acara perpisahan sekolah yang terakhir kali bersama teman teman sekolah lain dan para guru.


Tapi Almira bisa apa, dia hanya diam menuruti perintah dari Alex maupun Eza tentunya tanpa membantah.


"Kami tidak akan pergi." ucap Nera dengan pandangan tajam dan datar mengarah ke dua pria dewasa itu yang sudah berjalan menghampiri mereka dengan tubuh tegap.


"Iya, kami tidak akan pergi kalau Almira tidak bersama kami mengunjungi acara perpisahan sekolah ini." lanjut Danera dengan menatap garang kearah Alex.


Eza sudah mencoba untuk menenangkan emosi dari Nera, melihat gadis datar tanpa ekspresi itu menatap dirinya tajam membuat nyalinya tiba tiba menciut. Bukan takut, hanya saja Eza menatap tatapan tajam dari Nera sangat mengerikan.


"Saya tidak peduli, ingat ini, kalian berdua akan berangkat bersama kedua pria Polisi itu besok pagi." ucap Alex sambil mengusap puncak kepala Almira dengan lembut membuat gadis itu ingin sekali protes.


Saat akan membuka mulutnya ingin protes, Alex menekan kepala Almira agar menunduk.


"Tidak ada bantahan, paham? Ayo, Eza." ucap Alex dengan nada penuh penekanan menatap Almira yang menunduk sambil mengajak sang Adik untuk pergi dari kamar Nera.


Eza mengangguk membalas ucapan Alex lalu beralih menatap Almira yang masih menunduk. Tanpa aba aba, Eza memeluk tubuh Almira yang kaku dan mengusap lembut lengan sang Adik tercintanya.


Eza sebenarnya mengerti apa rencana ketiga gadis itu yang dulu mereka sudah mempersiapkan saat acara perpisahan sekolah datang, tapi sekarang sudah berbeda pasti membuat para gadis sedih begitupun dengan Almira yang tidak bisa datang ke acara tersebut.


"Iya." jawab Almira dengan suara pelan tapi masih bisa di dengan oleh mereka.


Nera dan Danera hanya menatap saja Almira dan Eza, saat Eza sudah keluar dari kamar Nera dan menutupnya, dengan cepat kedua gadis tersebut memeluk tubuh Almira yang merosot tiba tiba dengan erat.


Sebenarnya Danera ataupun Nera sejak tadi sudah melihat air mata yang menetes tanpa suara sesenggukkan dari mulut gadis tersebut, itu sangat menyesakkan makanya mereka hanya diam mendengar saja.


Hiks... Hiks... Hiks...


Suara tangis terus saja dari mulut Almira dan Danera yang ikut mengeluarkan air mata karena sedih mendengar tangisan dari sang sahabat.


"Aku tidak apa apa, tidak mengikuti acara perpisahan sekolah kok. Aku hanya sedih saat kalian pergi tanpa aku dan aku sendiri disini tanpa kalian. Nera, Danera, kalian berdua itu sangat berarti dalam hidup ku. Maka jangan sampai pergi meninggalkan ku. Tapi apa boleh buat, ini sudah keputusan dari Bang Alex. Hati hati di jalan ya, besok." ucap Almira dengan nada mencoba kuat membuat pelukan mereka makin mengerat.


***


"Mereka sudah pergi, Ken?"

__ADS_1


Pertanyaan dari Almira yang sedang menatap jendela di kamar apartemen lurus ke depan tanpa menoleh kearah seseorang yang masuk ke kamar tersebut.


Dari aroma parfum sama Almira mengenali kalau itu adalah Kenzo, sang Suami Pilihan Oma yang selama ini di dekat dirinya.


Kenzo tidak menjawab melainkan menghampiri tubuh Almira lalu memeluknya dari belakang membuat badan gadis itu membeku di tempat karena terkejut dengan tindakan pria tersebut.


"Kenapa tidak mengantar mereka kamu? Mereka dari tadi menyakan keberadaan kamu, sayang." bisik Kenzo tepat di samping telinga Almira yang sedang dagunya menaruh di bahu gadis tersebut.


Kedua tangan Kenzo sudah berada di pinggang ramping Almira dengan erat tapi tidak sampai menyakiti gadis tersebut, melainkan membuat gadis itu merasa aman dan nyaman tidak tau kenapa.


"Kenapa, hem?" tanya Kenzo yang tidak dapat balas ucapan dari Almira.


"Tidak apa apa. Sudah makan tadi?" ucap Almira mengalihkan pembicaraan membuat pelukan di pinggang Almira terlepas membuat gadis tersebut menoleh menatap Kenzo dengan tatapan heran dan penasaran.


"Besok adalah acara perpisahan sekolah terakhir kali kamu, apa kamu tidak mau datang sayang? Aku bisa meminta bantuan ke Bang Alex untuk mengizinkan mu, meskipun harus memohon kepada pria tersebut." ucap Kenzo dengan raut wajah serius membuat Almira cengo menatap pria tersebut.


Tidak tau kenapa perasaan Almira langsung sesak dan tidak terima dengan ucapan Kenzo yang akan memohon kepada Alex hanya untuk dirinya, Almira sangat tidak terima.


Tapi berbeda lagi dengan pikirannya yang menyetujui ucapan Kenzo untuk memohon kepada pria dewasa tersebut hanya untuk dirinya, tidak memikirkan Kenzo sama sekali.


Almira sangat bingung sekali sekarang, dia tidak tau harus mengikuti pikirannya atau pun hatinya?


"Gimana?" tanya Kenzo sekali lagi karena tidak mendapatkan jawaban dari gadis yang ada di depannya dengan senyuman yang terukir di bibirnya menatap kearah Almira.


Almira masih tidak menjawab lalu pergi ke kamar mandi begitu saja meninggalkan Kenzo yang diam menatap punggung gadis itu debgan pandangan yang sulit di artikan. Berlalu pergi keluar dari kamar mereka dengan pandangan datar seperti biasa.


Beralih ke Almira yang berada di depan kaca berbentuk lingkaran di kamar mandi, menatap pantulan wajahnya yang masih menggunakan hijab instan kesukaannya.


"Kenapa pikiran dan hati tidak sama? Kenapa harus bingung dengan dia? Kenapa kalau dekat dia hati ku berdebar dan merasa nyaman?" lirih Almira dengan nada lirih sambil mengusap wajahnya dengan telapak tangan kanan dan memandang kearah depan menampilkan cermin yang memantulkan dirinya.


"Perasaan hati ini seperti perasaan saat aku masih kecil, apa aku akan, TIDAK MUNGKIN!" jerit Almira sambil menutup wajahnya dengan kedua tangan.


Hiks... Hiks... Hiks...


"Aku kenapa? Oma, kenapa Oma harus meninggalkan aku saat Al sedang seperti ini? Oma, biasanya Oma selalu bisa memecahkan masalah apapun yang Al alami. Tapi sekarang siapa yang membantu Al untuk menyelesaikan masalah ini?" tangis Almira dengan suara lirih.

__ADS_1


__ADS_2