Suami Pilihan Oma

Suami Pilihan Oma
SERATUS SATU


__ADS_3

"Hello mantan, tidak menyangka bisa ketemu juga."


Suara seorang pria yang ada di sampingnya membuat Almira yang sedang menuntun sepeda motornya langsung saja menoleh karena mendengar suara yang cukup familiar baginya, Almira saat menoleh betapa kagetnya melihat Roy yang wajahnya cukup mengeri kan karena banyak sekali bekas bogeman dan juga ada jahitan di pipi kirinya. Seperti bukan Roy yang rapi menyandang seorang ketua Osis di SMA-nya dulu.


Almira di perjalanan dirinya merasa kelaparan sehingga Almira mampir terlebih dahulu di warung pinggiran jalan sebelum ke lampu merah yang ada operasi tilang. Tidak menyangka kalau di warung dirinya bertemu dengan sang mantan yang sekarang berada di sampingnya sedang menatap menyeringai ke arahnya, Almira bingung dengan tatapan aneh yang di tunjuk kan oleh Roy.


Sangat aneh dan menyeram kan, pikir Almira. Tetapi dia mencoba untuk mengabai kan perasaan aneh saat berada di sekitaran Roy, tidak seperti dulu.


"Bagaimana kabar mu?" tanya Roy menatap lekat ke arah Almira yang sedang memundur kan sepeda motornya yang akan siap pergi.


"Baik! Kalau lo bagaimana kabar?" jawab Almira dengan membalik kan pertanyaan yang sama, tetapi sebenarnya Almira hanya basa basi saja.


Sebelum menjawab, Roy menyeringai terhadap ke Almira membuat perempuan itu merasa makin aneh dengan Roy. Dengan cepat Almira menaikki kendaraannya lalu pamit ke Roy dengan memencet bel dan pergi meninggal kan pria itu di tempat dengan tatapan yang sama.


"Permainan di mulai dari sekarang." gumam Roy dengan nada pelan tetapi tatapannya makin menajam ke arah Almira yang mulai menjauh dari tempatnya.


Selama di perjalanan, Almira memikir kan kenapa dengan wajah Roy dan ada apa dengan pria itu. Meskipun dirinya dan Roy sudah mantan, tetapi Almira ingat saat dulu dialah yang selalu ada di sampingnya dan dulu juga Roy berperan penting.


Mau Almira tidak peduli, tetapi ada sesuatu yang mengganjal tidak tau kenapa.


Tuk... Tuk... Tuk...


"Mohon menepi di sebelah pos."


Ucapan itu sambil mengetuk kendaraannya yang di depan membuat Almira mendongak kan kepalanya menatap Polisi yang sudah berumur mengarah kan ke area luar jalan raya, sebelum itu Almira menepuk keningnya lupa karena sedang memikir kan Roy membuat Almira lupa kalau dirinya melewati lampu lalu lintas yang ada operasi tilangan para Polisi.


Rasa keinginan untuk di tilang seketika menurun saat dirinya bertemu dengan Roy dan memikir kan pria itu.


Almira menghela nafas pelan lalu mengikuti arahan dari pak Polisi yang sudah berumur tersebut.


"Kenapa anda tidak memakai helm?" tanya Polisi tersebut yang ada di depan Almira.


"Sengaja Pak, tetapi sekarang saya sudah tidak mood lagi di tilang."

__ADS_1


Suara yang sedikit keras sehingga membuat para anggota Polisi lainnya yang sedang mentilang pengendara lainnya langsung menoleh, salah satu dari mereka langsung berjalan ke arah Almira dan Polisi yang sudah berumur tersebut dengan perasaan khawatir bukannya kesal.


Puk...


Tepukan lembut di lengan Almira yang sedang memegangi stir kendaraannya langsung saja menoleh mendapati Kenzo yang memandang khawatir tetapi raut wajahnya datar seperti biasanya.


Almira menyengir menampil kan deretan gigi putihnya lalu melepas kan kacamata hitam yang bertengger di matanya, saat Kenzo mengetahui kalau perempuan yang sedang di tilang adalah Almira sang istri membuat Kenzo menghela nafas pelan sambil geleng geleng kepala tidak habis pikir.


"Maaf Pak, biar saya saja yang menanganinya. Karena ini adalah istri saya." ucapan Kenzo membuat semua orang kecuali Almira yang masih menyengir menampil kan raut wajah terkejut menatap ke arah Almira dan Kenzo berkali kali.


"Oh! Baiklah." jawab pak Polisi yang tadi mencegat Almira dengan wajah tidak percaya.


"Ayo sayang." ucap Kenzo sambil menggandeng tangan Almira membawa ke pos Polisi mereka membuat semua orang makin cengo saat mendengar suara lembut dan romantis dari ketua Polisi mereka yang sangat kejam dan datar itu.


Anggota Polisi dan para pengendara yang sedang di tilang masih menatap ke arah Kenzo dan Almira dengan tatapan tidak percaya, punggung sepasang suami istri itu mulai menghilang karena sudah masuk ke ruangan pos membuat mereka mulai melanjut kan kegiatan sebelumnya dan mencoba untuk acuh kepada sepasang suami istri itu.


Kenzo menduduk kan Almira di depannya dengan hati hati lalu menatap bertanya ke arah Almira yang membuat perempuan itu menghembus kan nafasnya untuk mulai menjawab.


"Tadi aku bosan banget di rumah, tiba tiba saja aku sangat mengingin kan di tilang. Sepertinya aku nyidam deh, karena kata Abang Edo aku nyidam di tilang, Mas." ucap Almira dengan senyum lebarnya yang malah membuat Kenzo menatap tidak percaya karena ucapan dari istrinya itu.


"Keinginan kamu sangat aneh aneh, sampai sampai Ayah tidak tau dan menyerah sama kamu." ucap Kenzo dengan nada pelan yang masih mengusap lembut perut Almira.


Puk...


Almira menepuk bahu Kenzo dengan refleks dan menatap kesal ke arah suaminya yang meringis pura pura membuat Almira langsung saja mengusap usap bahu yang setelah di tepuk cukup keras itu sambil meniup niup kan yang membuat Kenzo tersenyum kecil tanpa di ketahui istrinya tentunya.


"Kamu sih Mas, jangan aneh aneh deh. Yaudah sana, aku mau lanjutin acara nyidam di tilang dengan beradu debat sama Polisi lainnya." ujar Almira sambil mendorong badan Kenzo yang dari tadi sangat dekat dengannya.


"Sayang..." tegur Kenzo sambil menaut kan kedua tangannya ke tangan Almira agar tidak pergi keluar.


"Aku mau di tilang Mas, sana ih." rengek Almira yang di jawab dengan gelengan kepala dari Kenzo.


Almira mencoba untuk melepas kan tautan genggaman mereka, tetapi nihil. Kenzo tidak sama sekali membiar kan Almira untuk melepas kan. Padahal Almira baru saja di tinggal hanya beberapa jam belum setengah hari sudah berulah aneh aneh, pikir Kenzo.

__ADS_1


"Ngeselin kamu, Mas." ucap Almira dengan nada kesal membiar kan Kenzo dan duduk pasrah di samping suaminya yang tersenyum penuh kemenangan yang di lihat dari pandangan Almira membuat ibu hamil itu makin kesal dengan suaminya.


Cup.


Kenzo mengecup sebelah pipi Almira dengan tiba tiba membuat dua anggota Polisi yang berada di ambang pintu menatap cengo dan terkejut dengan apa yang di lakukan ketua mereka.


"MATA GUE SUDAH TIDAK SUCI LAGI..." teriakan heboh dari kedua Polisi itu membuat Almira sangat malu, langsung saja dirinya bersembunyi di pelukan Kenzo.


***


"Tuan, perempuan itu bunuh diri."


Raut wajah terkejut hanya sebentar saja yang langsung terganti kan raut wajah datar dengan tatapan tajam seperti biasa yang sekarang hanya terlihat, berdiri lalu mengikuti anak buahnya yang tadi melapor kan dengan tegap tanpa mengeluar kan suara apa pun.


Tanpa di ketahui kalau pria yang memakai jas formal itu sedang tersenyum tipis sehingga tidak terlihat, memasuk kan kedua tangannya di dalam saku celana.


"Tidak pernah meleset dugaan ku. Sekarang tinggal pria bodoh itu." gumam pria itu dengan nada pelan sehingga yang mendengar hanya dirinya saja.


Ceklek.


Pintu ruangan yang gelap terbuka dengan cepat pria itu masuk terlebih dahulu dari pada anak buahnya, lalu menutup pintu ruangan itu dengan mengunci.


Pria itu menatap seringai saat perempuan yang sudah tergeletak tidak berdaya di lantai dingin dengan tubuhnya di tutupi oleh selimut dan ada beberapa pria yang berada di sampingnya yang sedikit jauh, perempuan meninggal tetapi masih di pakai oleh pria pria tersebut yang telah Edo sewa.


Yups, pria itu adalah Edo Alindra dan perempuan yang bunuh diri itu adalah Ella.


"Buat perempuan itu seolah olah bunuh diri di suatu tempat, jangan ada yang sampai tau kalau perempuan itu meninggal disini. Faham?" ujar Edo dengan nada perintah yang penuh penegasan kepada para anak buahnya dan para laki laki yang telah menikmati tubuh Ella.


Mereka semua mengangguk paham atas perintah Edo, pria itu langsung pergi dari ruangan gelap itu tanpa mengucap kan apa pun lagi.


Edo berlalu pergi lalu mengambil ponsel yang ada di dalam saku jasnya dan menekan nomor seseorang yang langsung di jawab panggilan tersebut.


"Perempuan itu sudah meninggal, sekarang hanya laki laki bodoh itu yang bagian lo. Pekerjaan gue selesai, bro." ucap Edo langsung memati kan sambungan teleponnya tanpa menunggu jawaban dari seberang telpon.

__ADS_1


Edo menyeringai dengan wajah bangga sudah menghabisi musuh dari Adek sepupu perempuan satu satunya yang dia sayangi dari kecil sampai sekarang ini.


"Permainan dari Master Alindra tidak pernah gagal." ucap Edo dengan senyum seringai.


__ADS_2