Suami Pilihan Oma

Suami Pilihan Oma
DUA PULUH


__ADS_3

“JUSTIN… KEMBALIKAN HANDPHONE KU.”


Teriakan sangat kencang memenuhi rumah mewah itu tanpa memikirkan semua orang yang berada di rumah itu membuat mereka menatap Almira sedang mengejar Justin yang mengejek.


Tawa Danera dan Rio saling bersahutan saat melihat kedua remaja itu yang masih melakukan kegiatannya. Berbeda dengan Kenzo yang mengeram kesal melihat itu.


“Almira.”


Panggilan suara dengan nada penuh penekanan membuat mereka semua menatap ke sumber suara yang sedang menatap datar kearah Almira.


Almira yang di panggil hanya menaikkan satu alisnya sambil berjalan menghampiri Kenzo si pelaku memanggilnya.


“Ayo.” ajak Kenzo langsung menarik pergelangan tangan Almira dengan lembut.


“Kemana?” tanya Almira sangat kentara sekali raut wajah yang terkejut dan bingung.


Kenzo tidak menjawab melainkan menarik pergelangan tangan Almira hanya di turuti dengan pasrah mengikuti dari belakang. Saat Almira menoleh ke belakang menatap Danera dan Nera yang hanya memandang dengan tatapan yang hanya ketiga gadis itu pahami.


Almira mengangguk kecil tanpa di ketahui, yang mengetahui hanya Danera dan Nera yang sudah tersenyum kecil.


Saat pintu kamar tertutup membuat Almira tersadar lalu menatap Kenzo dengan tatapan santai. Berbeda dengan Kenzo yang memandang kesal cemberut.


Tanpa mengucapkan apapun, Kenzo membaringkan kepala ke paha Almira membuat gadis itu langsung mengelus rambut hitam legam itu dengan lembut. Rasa nyaman menyelimuti Kenzo membuat dia memejamkan kedua mata.


Almira merubah raut wajahnya menjadi datar saat mengetahui kedua mata Kenzo terpejam.


“Gue benci lo, Gara.” batin Almira memandang wajah tampan Kenzo.


***


“ALMIRA, DANERA, NERA… BERHENTI KALIAN.”


Teriakan dengan suara melengking nyaring membuat semua murid menutup kedua telinga.


Ketiga gadis itu masih berlari menghindari Guru BK yang sedang mengejarnya yang bahkan teriak sangat kencang. Kedua gadis itu tertawa sangat lepas melihat Guru yang sudah tua tapi memakai make-up tebal. Nera hanya menatap kearah kedua sahabatnya dan mendengus membuat kedua gadis itu meringis sambil menunjukkan cengiran tidak jelasnya.


Dengan kencang, Almira membuka gudang itu agar mereka masuki dan mengunci pintu itu saat tidak melihat Guru BK di belakangnya.


Ketiga gadis itu menghembuskan nafas lelah sambil berjalan ke tempat duduk yang sudah banyak debu.


“Semua ini gara-gara lo, Al. kenapa kita tadi lewat jalan raya yang sangat jauh, padahal kana da jalan pintas, Almira.” gerutu Danera dengan raut wajah cemberut kesal menatap Almira yang memandang sinis kearahnya.


“Emangnya lo mau ketemu sama—“


“Sudah, diam.” ucap Nera yang membuat kedua gadis itu terdiam tidak melanjutkan perdebatannya.

__ADS_1


Almira ataupun Danera diam sambil saling menatap sinis dengan raut wajah cemberut. Nera menghembuskan nafas lelah menatap kedua sahabatnya yang masih saling tatap sinis.


"Kalian berdua kalau masih seperti itu, gue keluar gak mau ikut-ikut. Lalu bilang ke Guru BK itu agar tangkap kalian." ucap Nera menatap Almira dan Danera bergantian.


"Lo pasti kena juga." jawab kedua gadis bersamaan membuat Nera tersenyum kecil yang malah di balas oleh keduanya tawa lepas.


Persahabatan mereka sudah terjalin sejak mereka masih kecil, sering bertengkar tapi itu hanya sebentar saja. Contohnya seperti sekarang ini.


"Gue jadi ingat waktu kita kecil."


Ucapan Almira yang tiba-tiba membuat tawa mereka berhenti memandang Almira yang sudah terpancar di kedua mata sedih.


Nera yang melihat itu langsung saja memalingkan pandangan ke sembarang arah, berbeda dengan Danera yang sudah mengeluarkan air mata di kedua matanya.


"Gue kangen Kakek Zidan."


"Gue kangen Kakek Dirga."


Ucapan kedua sahabatnya secara bersamaan mmembuat Almira langsung menghampiri dan memeluk sangat erat sahabat-sahabatnya itu. Almira juga merasakan sangat rindu dengan kedua Kakeknya yang selalu bersama mereka.


Mengingat itu, Almira mengepalkan kedua tangan menahan rasa kecewa. Akibat Omanya, mereka harus pergi meninggalkan kedua cucunya ini.


Almira sangat kecewa saat mendengar siapa yang mendonorkan mata dan ginjal untuk sang Oma.


"Kakek Zidan sama Kakek Dirga pasti sudah tenang di samping Allah."


***


Ucapan seseorang dengan nada tegas membuat mereka menoleh secara bersamaan menatap raut wajah dari dari Oma Diana yang sudah rapi dengan setelan warna hitam.


Tanpa sadar, ketiga gadis itu mengepalkan kedua tangan di bawah sehingga Oma Diana tidak mengetahui. Tatapan raut yang tidak bisa diartikan membuat Oma Diana bingung apa yang dimaksud ketiga gadis itu.


"Ayo cepat siap-siap, kita kesana bersama-sama." ujar Oma menatap mereka bergantian.


"Anda duluan saja, kami menyusul." ucap Nera dengan nada dingin yang menusuk membuat aura di sekitar sangat menyesakkan.


Sebelum pergi, Oma Diana menatap Almira yang sudah memalingkan pandangan tidak mau menatap sang Oma.


Oma Diana menghela nafas lelah dengan kasar.


"Maafkan Oma." ucap lirih dari Oma Diana sambil pergi meninggalkan mereka.


Setelah mengucapkan kata-kata itu, ketiga gadis menundukkan kepala sambil mengepalkan kedua tangan.


Tanpa sadar, isakkan kecil keluar dari mulut ketiga gadis yang sedang menunduk menyembunyikan wajah sedih dan rapuh mereka.

__ADS_1


Sedari tadi, ketiga pria mendengarkan dan melihat dari awal sehingga sampai sekarang ini. Di belakang dinding mereka saling tatap dengan raut wajah serius.


"Kita kecewa, Oma Diana."


Ucapan dari ketiga gadis itu membuat tiga pria menoleh kearah mereka drngan serempak. Setelah itu, Almira dan kedua sahabatnya pergi meninggalkan tempat itu dengan suasana hening dan sepi.


"Apa kalian memikirkan apa yang gue pikirkan?" tanya Nigel yang langsung di balas dengan anggukkan kepala dengan wajah mantap.


"Oke. Kita akan membuat tiga cewek itu berbaikkan dengan Oma Diana, meskipun kita tidak tau apa permasalahan mereka." ucap Rio menatap Kenzo dan Nigel secara bergantian.


Kenzo hanya diam, sebenarnya dia tau apa yang membuat mereka kecewa kepada Oma Diana. Sebenarnya dia juga kecewa dengan Oma, tapi dia mencoba ikhlas dan berpikiran positif bahwa kejadian itu sudah takdir.


"Aku janji, akan buat Oma sama mereka berbaikkan." batin Kenzo mengangguk kecil.


***


"Assalamualaikum, Kakek Zidan, Kakek Dirga."


Salam secara bersamaan dari tiga gadis berhijab, cantik dan jangan lupakan dengan kacamata hitam yang melekat. Memakai pakaian serba hitam membuat mereka terlihat sangat anggun dan aura yang sangat mencengkam.


Mereka menjadi pusat perhatian saat berada di pemakaman yang sudah ramai dengan keluarga Zidan dan Dirga berada di dekat makam mereka.


Ketiga gadis itu hanya acuh tak acuh, tidak mempedulikan perasaan risih akibat tatapan mereka. Menatap ke gundukan tanah yang sudah banyak sekali bertaburan bunga bewarna-warni.


Secara bergantian ketiga gadis itu mengusap batu nisan atas nama Dirga ataupun Zidan.


Mereka memanjatkan do'a tanpa menunggu mereka semua yang menatap dengan intens. Setelah selesai, ketiga gadis itu berdiri lalu mencium batu nisan secara bergantian lalu pergi meninggalkan mereka yang memandang cengo.


Kenzo yang melihat itu langsung saja pergi, sebelum itu dia sudah berpamitan dari keluarga besarnya.


"Almira. Ikut aku sekarang." ucap Kenzo menggenggam pergelangan tangan kanan Almira yang membuat dia menoleh.


Almira hanya mengangguk sambil menoleh kearah kedua sahabatnya yang langsung mengerti, pergi begitu saja.


"Ayo." ajak Almira kepada Kenzo.


Kenzo hanya mengangguk lalu membawa Almira ke dalam mobil dan menyalakan tanpa berkata apapun kepada Almira yang memandangnya dari samping.


"Kenapa di hutan?" tanya Almira saat melihat-lihat di sekelilingnya yang sudah gelap gulita.


Usapan lembut di kedua pipi Almira membuat si empu menegang, terasa membeku saat mendapatkan perlakuan dari Kenzo.


Senyum sangat manis dari Kenzo membuat Almira meneguk salivanya susah payah, karena Kenzo sekarang bertambah kali lipat sangat tampan.


Saat Kenzo mendekati Almira, dia mundur tapi tidak bisa. Karena Almira sudah sangat menempel dengan kursi penumpang. Kenzo makin mendekatkan wajahnya sehingga hidung mereka bersentuhan.

__ADS_1


"Jangan telalu larut dalam ke-kecewaan, sayang..."


__ADS_2