
"Oma, apa maksud Oma memberikan semua aset kepada ku? Aku tidak mau Oma, aku sudah mempunyai impian ku sendiri mau jadi apa."
Ucapan dari mulut Almira dengan nada datar dan tidak ada ekspresi di raut wajah yang membuat sang Oma menghela nafas sedang menatap lurus ke depan. Mereka sekarang berada di taman rumah sakit, hanya berdua.
Sedari tadi saat perjalanan menuju taman rumah sakit, tidak ada pembicaraan dari mulut keduanya.
Almira berada di belakang tubuh Oma Diana yang sedang duduk di kursi roda di samping infus berada di sampingnya.
Bukan keinginan Almira untuk membawa Oma Diana keluar dari ruang rawat, tapi ini semua desakkan dari Oma Diana. Alasannya bosan dan capek hanya berbaring saja.
"Itu sudah keputusan Oma, jadi kamu tidak bisa membantah ataupun protes." sahut Oma Diana dengan nada tegas tanpa menatap sang cucu.
"Aku mau jadi Dokter, Oma. Perusahaan sama butik lebih baik kasih ke Justin saja." ucap Almira dengan cepat bernada protes.
"Justin sudah memegang perusahaan dan caffe keluarga kita, lalu sepupu mu yang lain juga sudah mengambil bagiannya. Hanya tinggal kamu Almira." ujar Oma Diana sambil menoleh kearah Almira yang sedang mengepalkan kedua tangan di samping tubuhnya yang di ketahui oleh Oma Diana.
"Aku yang tidak mau Oma. Oh iya, berikan saja kepada Kenzo, pasti dia mau." ide Almira yang tiba-tiba melintas di otaknya langsung dia ucapkan.
Oma Diana menatap lekat kearah Almira yang tersenyum kesenangan kepadanya, Oma Diana menggeleng-gelengkan kepala melihatnya.
"Kenzo sudah menjadi Polisi dan dia juga sudah memegang perusahan keluarga Samudra. Tidak ada waktu kalau dia juga harus memegang perusahaan kìta dan butik kita, Almira." ucap Oma Diana dengan nada lembut agar di mengerti oleh sang cucu.
Seketika raut wajah Almira menjadi gusar dan datar, ini bukan jawaban yang dia inginkan.
"Oma, tidak apa-apa. Berikan saja kepada Kenzo semuanya, dia pasti mau kok Oma." ujar Almira.
"Tapi, Al. Kenzo sudah meme-"
"Percayalah, Kenzo tidak akan menolak dengan ucapan Oma. Kenzo kan suami ku, maka harus ku manfaatkan dengan baik. Hallah, palingan juga hanya lelah sedikit saja. Oma pasti mendapatkan keuntungan yang sangat be-"
"ALMIRA SAYYIDA ALINDRA." bentak Oma Diana sambil menatap datar kearah Almira yang sudah terdiam menegang.
"Selama ini Oma hanya diam bukan berarti kamu bebas berbuat aneh-aneh kepada Kenzo, Oma hanya ingin melihat kamu yang sudah sangat benci kepadanya. Bukan itu yang Oma mau, Al. Kenapa kamu seperti ini kepada Kenzo, dia suami kamu, Al. Kamu tau kan arti suami bagi sang istri? Oma tidak pernah mengajari kamu yang sebagai istri bersikap kepada suami kamu, Kenzo. Sekarang Oma sudah tidak tahan lagi dengan sikap kamu yang jahat kepada istri mu, Kenzo juga cucu dari Dirga kalau kamu lupa Almira." jelas Oma Diana panjang kali lebar membuat Almira hanya menunduk tidak berani menatap Oma Diana yang sudah berbalik menatapnya.
"Suatu hari kalau kamu kehilangannya, salahkan saja dirimu sendiri. Penyesalan selalu datang di akhir, kalau di awal itu namanya pendaftaran. Ingat ini, Almira Sayyida Alindra."
Ucapan sang Oma yang langsung pergi menggayuh kursi roda itu sendiri dan menarik tiang yang ada infusnya sendiri meninggalkan Almira yang masih terdiam menunduk.
Kedua tangan Almira sudah terkepal erat merasa tidak terima dengan ucapan Oma Diana, tidak tau kenapa di hati Almira merasakan takut.
"Tidak, tidak mungkin." racau Almira yang langsung duduk di rumput hijau dengan mengusap wajahnya dengan telapak tangan kanan.
Tanpa ada yang tau, sedari tadi seseorang berdiri di belakang pohon besar yang tidak terlalu jauh dari arah mereka sehingga dia mendengarkan ucapan mereka dengan baik dan jelas. Seorang pria itu hanya bisa diam di tempat dan menatap Almira dari jauh dengan pandangan sendu tanpa ada yang tau.
Menghela nafas lelah mendengarkan ucapan Almira dan Oma Diana membuat dia terasa lemas tidak berdaya.
"Aku tidak tau sekarang harus bagaimana, aku akan mengikuti arus takdir yang sudah Allah berikan." batin seorang pria itu.
Seorang pria itu langsung saja berjalan menghampiri Almira dengan pandangan seperti biasa, mencoba tidak ada kejadian apa-apa kepadanya.
Saat sudah berada di samping Almira, dengan lembut seorang pria itu mengelus puncak kepala gadis itu membuatnya terusik dan mengangkat wajahnya menatap kepadanya.
Senyuman manis dia ciptakan saat Almira menatap dirinya dengan pandangan yang sulit diartikan.
__ADS_1
"Kenzo?"
***
Setelah kejadian di taman rumah sakit tadi, Almira dan Kenzo sekarang berada di caffe dekat rumah sakit yang di rawat Oma Diana. Kenzo lebih dulu mengajak Almira untuk makan siang bersama di caffe tersebut dan Almira hanya mengiyakan saja keinginan Kenzo.
Sedari tadi hanya hening, tiba-tiba ucapan Oma Diana yang tadi melintas di pikirannya membuat Almira diam menatap lurus ke depan dengan pandangan kosong. Kenzo yang melihat itu langsung duduk di sebelah gadis itu tanpa merasa terganggu, Almira masih berada di lamunannya.
Usapan lembut di kepala Almira membuat gadis itu tersadar lalu menatap si pelaku yang melakukan, saat tau siapa pelaku itu Almira menyenderkan kepalanya di bahu Kenzo dengan memejamkan kedua mata.
Terasa nyaman bagi Almira. Tidak tau kenapa Almira sangat suka dengan badan Kenzo, wangi harum badannya, badannya yang hangat membuat dia nyaman.
"Ken, kalau boleh jujur aku sangat nyaman dekat sama kamu. Hati ku mengatakan, tapi kalau pikiran ku mengatakan tidak suka saat bersama kamu." ucap Almira sambil melirik Kenzo yang masih diam.
Elusan lembut itu terhenti karena ucapan Almira yang tiba-tiba setelah suasana hening. Kenzo tidak tau harus menjawab apa, dia saja sudah bingung dengan semua yang terjadi selama ini.
"Hanya satu kesalahan kamu, Ken. Yaitu kenapa kamu dulu seperti ini kepada ku? Itu saja yang malah membuat ku membenci kamu."
Ucapan Almira dengan memejamkan kedua mata membuat Kenzo menegang di tempat tapi berusaha memberikan kenyaman kepada Almira yang sedang bersandar.
Itu adalah kesalahan yang sangat fatal dan tidak bisa di maafkan oleh siapapun, termasuk Almira.
"Maaf, aku masih belum bisa menjelaskan kenapa aku dulu seperti itu kepada kamu, Al." batin Kenzo dengan pandangan yang tertuju kepada Almira.
Kenzo memeluk Almira erat tidak mau melepaskan membuat gadis yang sedang memejamkan kedua mata membuka menatap Kenzo yang sedang menyembunyikan wajahnya di ceruk leher Almira yang tertutup oleh hijab instan kesukaannya.
Almira bingung dengan perilaku Kenzo yang tiba-tiba ini, untung saja semua pengunjung tidak ada yang menatap meja mereka.
Almira melihat rambut Kenzo yang berantakan, dengan inisiatif Almira merapihkan rambut Kenzo dengan lembut sehingga membuat si empu nyaman dengan jari-jari kecil Almira. Saat sudah selesai Kenzo mendongakkan wajahnya tapi dagu masih berada di punggung Almira.
"Aku boleh tidak, berharap lebih kalau suatu saat nanti kamu mencintai ku lagi seperti kita masih kecil?" tanya Kenzo yang hanya di balas dengan keterdiaman Almira membuat cowok itu hanya tersenyum lembut lalu menggelamkan wajahnya di ceruk leher Almira.
Tidak ada balasan ataupun penolakkan membuat Kenzo bingung dengan Almira.
***
"Kamu dimana?"
"Aku di apartemen."
Pip...
Sambungan tiba-tiba di matikan dari Rio membuat Danera mengernyitkan keningnya bingung, tidak seperti biasanya mereka kalaua sedang menelfon. Bagi Danera ini sangat aneh.
Mereka masih berada di Surabaya sampai liburan semester selesai baru mereka akan ke Jakarta lagi.
"Gue keluar dulu ya, gaes." pamit Danera tanpa mendengarkan ucapan dari Almira ataupun Nera.
Almira hanya geleng-geleng kepala melihat Danera yang pergi begitu saja, tidak tau kenapa perasaannya tidak enak membuat dia menatap punggung Danera dengan sendu.
Tiba-tiba ada tepukan di lengan Almira membuat gadis itu menoleh menatap Nera yang sedang menaikkan satu alisnya bertanya.
"Perasaan gue cuman gak enak saja lihat Danera keluar." ucap Almira menjawab kebingungan Nera.
__ADS_1
Nera yang mendengar ucapan Almira langsung menutup buku novelnya lalu mengambil jaket dua lalu kasihkan ke Almira yang sedang bingung. Saat Nera akan mengambil kunci motor Almira lebih dulu menahan lengan Nera.
"Perasaan gue juga gak enak, kita ikuti saja kemana Danera." ucap Nera membuat Almira langsung ikut menyiapkan.
Beralih ke Danera yang sedang berada di supermarket sedang memilih makanan ringan, lalu saat keluar dari supermarket Danera merasa kalau ada yang mengikuti dari belakang.
Danera berpura-pura sedang berkaca agar bisa melihat siapa yang sedang mengikutinya, takut kalau itu orang jahat. Tapi saat melihat wajah Almira dan Nera sedang menatapnya tapi mereka tidak tau kalau Danera sedang menatap mereka lewat kaca. Danera geleng-geleng kepala karena heran dengan kedua sahabatnya, menghela nafas terserah apa yang mereka lakukan Danera tidak peduli.
Berjalan lalu saat sampai di apartemen Danera langsung menuju lift untuk tamu, saat akan tertutup pintu lift tiba-tiba ada seorang cewek rambut panjang dan baju yang agak ketat sedang berlari membuat Danera mau tidak mau mencegah pintu lift agar tidak tertutup.
Setelah cewek berambut panjang itu masuk lalu mengucapkan kata terima kasih kepada Danera sambil mengatur nafasnya. Danera membalas dengan senyuman saja tanpa mengucapkan kata-kata lain.
Selama di dalam lift, Danera ataupun cewek berambut panjang itu sama-sama diam tidak ada yang saling berbicara apapun.
Ting...
Pintu lift terbuka, Danera akan keluar tapi duluan dengan cewek berambut panjang itu dengan berlari membuat Danera hanya memandang saja.
Tapi raut wajah Danera kaget karena cewek berambut panjang itu berhenti di depan pintu kamar Rio dan Nigel membuat dia diam di tempat tidak terlalu jauh. Saat pintu itu terbuka menampilkan wajah tampan dan berpakaian rapi membuat Danera terkejut syok saat Rio memeluk senang cewek rambut panjang itu.
Tidak jauh beda dengan Almira dan Nera yang terkejut melihat Rio dan cewek asing sedang berpelukan di depan kedua mata Danera, sangat jelas membuat kedua gadis itu mengepalkan kedua tangan di samping badan.
Pintu tertutup saat itulah Danera berbalik badan menatap Almira dan Danera yang sudah berkaca-kaca, akan berlari tapi di cegah oleh Nera.
Nera menarik pergelangan tangan Danera ke depan pintu kamar Rio dan di ikuti oleh Almira dari belakang. Nera mengkode agar Almira menekan tombol di dinding kamar Rio dan langsung di pahami oleh Almira.
Saat pintu terbuka menampilkan wajah Rio yang langsung di pukul oleh Nera sangat kencang sehingga menimbulkan suara dan Rio tersungkur di bawah lantai dingin. Kenzo dan Nigel langsung masuk ke kamar tersebut dan mengangkat tubuh Rio agar berdiri, tidak jauh beda dengan cewek rambut panjang menatap mereka dengan bingung.
"Apa maksud lo berpelukan di depan kedua mata Danera, hah?" bentak Nera yang sudah sangat emosi terlihat sekali dari wajahnya memerah dan kepalan tangan.
Tidak jauh beda dengan Almira yang sudah sangat emosi ingin sekali menonjok muka sok ganteng Rio, tapi dia tidak jadi karena ada Kenzo sekarang di depannya. Danera hanya menunduk menyembunyikan air matanya yang tiba-tiba menetes tapi tidak ada suara tangisan. Itu sangat menyakitkan.
"Gue... Sorry..." ucap Rio menatap Danera yang makin menundukkan kepalanya.
Tidak di sangka, Almira menarik kerah baju Kenzo yang sudah sangat lusuh membuat kedua mata Kenzo terkejut lalu mencoba melepaskan tangan Almira, tapi itu sia-sia belaka karena cengkraman Almira sangat erat sehingga membuat Rio susah bernafas.
"Ternyata selama ini, lo cuman main-main sama sahabat gue? Woah, Daebak. Berani sekali lo." ucap Almira langsung menghempaskan Rio membuat dia tersungkur lagi.
Rio di bantu berdiri sama cewek rambut panjang yang sudah sangat takut di situasi mencengkam ini.
"Dan, putusin Rio sekarang juga." ucap Nera sangat menusuk membuat Rio yang ada di sana melototkan kedua mata terkejut.
Danera mengangkat wajahnya menatap Rio yang sedang terkejut, maju selangkah dengan air mata yang tidak bisa berhenti sama sekali.
"Selesai, Rio makasih hari-hari indah dan lucu atas kebersamaan kita. Sedikit tidak percaya kalau kita harus putus, tapi ini yang terbaik. Rio sekarang kita putus, jangan pernah datang di hadapanku, meskipun kamu harus bersama Kenzo tapi jangan pernah kita berbicara. Ternyata rasanya sangat sakit kalau hanya di jadikan mainan saja, sekarang kamu sudah bisa bersama sepenuhnya. Selamat tinggal."
Setelah Danera mengucapkan kata-kata panjang itu, dia berlari lalu di kejar oleh Almira. Nera mengamati wajah Rio yang pucat dengan tatapan sendu, Nera menyunggingkan senyum mengejek kearah Rio dengan menunjuk wajahnya.
"Gue tidak akan membiarkan Danera bertemu atau berbicara sama lo, Rio. Gue pastikan lo akan merasa kehilangan setelah putus sama sahabat gue." ucap Nera lalu pergi meninggalkan keheningan di dalam mereka.
"Sayang, aku obati ya lukanya." ucap cewek rambut panjang dengan nada di lembut-lembutkan kepada Rio yang hanya diam.
Berbeda dengan Nigel yang memutar bola matanya malas menatap cewek tersebut, tanpa aba-aba Kenzo menarik Nigel agar menjauh dari mereka. Tapi sebelum pergi Kenzo melayangkan tatapan tajam dan sinis kearah Rio yang hanya menatap saja dengan diam.
__ADS_1
"Gue bodoh, gue bodoh." rutuk Rio di dalam hati.