Suami Pilihan Oma

Suami Pilihan Oma
LIMA PULUH DELAPAN


__ADS_3

"Rio?"


Panggilan dari mulut Danera yang masih berada di pelukan seorang pria memakai seragam Polisi dengan wajah datar tanpa ekspresi membuat gadis yang ada di pelukan terdiam membeku tidak tau harus melakukan apa.


Mereka saling menatap dengan pandangam berbeda. Danera menatap sendu kearah Rio, Rio menatap seringai kepada Danera membuat gadis itu makin terpesona dengan wajah tampan pria yang ada di depannya.


Alias, mantan kekasih pertamanya.


"DANERA..." teriak dari mulut Almira sambil berlari yang sudah melepas sepatu berhak tinggi dan di ikuti Nera juga memandang tajam pria tersebut.


Danera yang merasa ada yang menteriakki namanya, langsung saja mencoba melepaskan pelukan Rio tapi tidak bisa. Sangat sia sia saja membuat Danera menatap kesal sambil menghela nafas panjang.


"Cepat lepas kan, susah nih." ucap Danera dengan nada kesal dengan cemberut di bibirnya.


Rio yang sesari tadi menatap wajah Danera tersenyum menatap raut wajah kesal dari gadis tersebut.


Betapa bahagianya Rio melihat raut wajah yang selalu terbayang bayang akhir ini di pikirannya.


Grep!


Rio memeluk tubuh Danera dengan erat sambil menyandarkan dagunya ke pundak gadis tersebut. Rio sangat merindukan gadisnya, tidak peduli dengan protes Danera atau pun tatapan semua orang yang berbeda beda memandang mereka.


Srekkk...


Tarikan sangat keras dari Nera ke tubuh Danera sehingga pelukan mereka terlepas dengan terpaksa membuat Almira berada di tengah tengah dari Rio dan Nera yang sudah menyembunyikan badan Danera di belakang tubuhnya.


Nera memandang tajam tapi tidak membuat Rio takut apalagi gentar untuk mengintip Danera yang berada di belakang tubuh Nera. Meskipun sudah mencoba menggeser tubuh Almira, Rio tetap saja tidak bisa melihat Danera karena gadis itu juga bersembunyi tidak mau mengintip atau pun mencoba agar melihatnya.


"Minggir, Al. Gue bilang minggir." ujar Rio dengan pandangan sinis kearah gadis itu.


"Tidak akan, malah lo yang harusnya minggir." balas Almira dengan pandangan tajam dan nada datar dingin membuat siapa pun pasti takut kepadanya.


Kepalan kedua tangan Rio sudah sangat mengerat, Rio sudah akan mengarah ke wajah Almira tapi terhenti karena suara teriakan dengan nada bentak membuat suasana makin mencengkam.


"RIO, KALAU LO PUKUL ISTRI GUE. GUE PASTI KAN BASMI LO DENGAN RATA, JANGAN MELEWATI BATAS LO." teriaknya sambil mencengkram pengelangan tangan kanan Rio yang sudah melayang akan ke wajah Almira.


Rio terkejut melihat Kenzo dengan pandangan yang sangat mengerikan, tiba tiba proa tersebut mengingat kejadian sewaktu dulu saat dirinya di bully oleh anak sekolah sebelah lalu di bantu oleh Kenzo.


Betapa mengerikannya seorang Kenzo Sagara Samudra, sejak dulu maupun sampai sekarang Kenzo makin sangat mengerikan di mata Rio.


"Sorry, gue ke lepasan." ujar Rio dengan nada kecil sambil menundukkan wajahnya tidak berani menatap mengerikan dari Kenzo, sang sahabat yang sangat kejam.


Kenzo tidak memandang siapa pun, pria itu akan selalu menjaga dan melindungi orang yang berada di dekatnya, meskipun nyawa tentunya.


Kenzo tidak peduli yang lainnya, Kenzo hanya peduli dengan orang orang terdekatnya.


Kenzo melepaskan cengkramannya ke pergelangan tangan Rio dengan kasar mencoba memberikan peringatan ke sikap pria tersebut.


"Ayo pergi." ajak Nera menggandeng tangan Danera membawa pergi dari pandangan Rio.


Danera hanya menurut saja sambil mengangguk menatap kearah Nera.


Danera dan Nera pergi lebih duku meninggalkan tempat tersebut tanpa menoleh kearah Rio tentunya membuat pria tersebut terus menatap kearah Danera yang tidak menoleh kepadanya, Rio menghela nafas panjang lalu beralih menatap Kenzo yang menepuk bahunya.


"Semua ini berawal dari kesalahan lo sendiri, Rio. Bukan orang lain, maka ini yang lo dapat. Gue pergi dulu." ucap Kenzo lalu menggandeng pergi meninggalkan Rio sendiri di tempat itu.


"Sorry..."


***


"Sudah waktunya tidur, sayang."


Bisikkan dari mulut Kenzo dari belakang sambil memeluk pinggang Almira yang menatap ke arah jendela.


Almira membeku di tempat atas perlakuan Kenzo yang nafasnya kena ke telinga gadis tersebut membuat dia geli dan dagu Kenzo sudah menempel di bahu Almira sambil menggesek gesekkan yang makin membuat Almira geli.


Tidak tau apa yang di lakukan Kenzo bermaksud apa, tapi jantungnya sekarang sudah berdetak tidak karuan karena takut dan cemas dengan perilaku Kenzo kepadanya malam ini.


Pikiran kotor terus masuk ke kepalanya tanpa sebab.


"Sayang, sekarang sudah malam jumat. Betapa sunnahnya malam ini, sayang."


Ucapan Kenzo membuat Almira membalikkan badan dengan terpaksa meskipun pelukan di pinggang rampingnya tidak terlepas menatap Kenzo yang tersenyum menggoda. Bagi Almira wajah Kenzo sangatlah tampan sekarang membuat Almira menelan ucapannya malah menatap setiap inci pahatan wajah tampan Kenzo.


Tangan kanan Almira sudah menyusuri setiap inci wajah Kenzo dengan jari jari kecilnya lembut membuat Kenzo memejamkan kedua mata menikmati sentuhan lembut dari jari sang istri yang sangat Kenzo cintai itu.


"Kenapa kamu sangat tampan, Ken? Aku mau mengomel saja menjadi tidak jadi." ucap Almira membuat Kenzo membuka kedua mata menatap kedua mata Almira yang sangat indah baginya.


Melihat tangan Almira masih memegang sebelah pipinya membuat Kenzo menampilkan senyuman manis karena sangat bahagia, tidak tau saja senyuman Kenzo membuat Almira makin merasakan detakkan kencang di jantungnya.


"Aku sangat mencintai mu, sayang..."


Cup!


Kedua mata Almira membelalak karena Kenzo setelah mengucapkan kata cinta langsung mengecup bibirnya, betapa terkejutnya seorang Almira Sayyida Alindra menatap kearah Kenzo yang tersenyum manis kearahnya.


Lidah Almira terasa keluh tidak bisa mengucapkan katakata apapun karena masih terkejut dan jantungnya makin berdetak sangat kencang seperti akan mau lepas dari tempatnya.


Grep!


Tiba tiba saja Almira sudah ada di gendongan Kenzo membuat kedua mata Almira terkejut menatap pria tersebut yang sudah berjalan ke arah kasur empuknya sambil menatap ke Almira dengan lekat.


Almira melihat kedua mata Kenzo yang banyak sekali cinta di tatapan tersebut membuat dirinya tidak bisa berpaling ke arah lain.


Kenzo sudah duduk di atas kasur empuk, tapi Almira duduk di pangkuan pria tersebut tanpa melepaskan membuat Almira hanya menurut saja, karena dirinya sekarang merasakan rasa nyaman di dekat tubuh Kenzo seperti ini. Tidak ada rasa canggung atau pun yang lainnya tanpa sebab dan tidak tau dengan semua ini.


Apa ini rasanya saat bersama dengan suami halal, sangat nyaman.

__ADS_1


Kedua mata mereka saling menatap, beradu pandang tanpa menatap kearah lain.


Kenzo makin mendekat wajahnya ke wajah Almira dengan pelan sambil mengeratkan pelukan di pinggang ramping gadis itu dengan mengusap bahu tersebut lembut.


Hidung keduanya sudah bersentuhan membuat hati Almira seperti tersengat petir karena itu, otak pikirannya ingin untuk menjauh tapi hatinya tidak ingin menjauh malah ingin makin mendekat ke Kenzo.


Almira merasa bingung, lebih baik dirinya memilih untuk diam saja tidak memilih salah satu tersebut.


"Sayang, sebenarnya aku dari dulu sampai sekarang sudah mencintai kamu, meskipun kita masih kecil aku sudah cinta sama kamu. Kamu selalu ingat ucapan ku ini, aku tidak akan membiarkan kamu pergi dari hidup ku maupun bersama dengan cowok lain." ucap Kenzo menarik tubuh Almira sehingga badan mereka saling menempel dan kaki Almira sudah melingkar di tubuh Kenzo.


"Kalau misalnya kamu yang pergi bagaimana?" tanya Almira mencoba mengendalikan tubuhnya agar tidak tumbang hanya karena menempel ke tubuh Kenzo.


"Itu tidak akan mungkin, aku selalu berada di samping mu dan di hidup mu apapun terjadi." jawab Kenzo dengan nada serius sambil mengangguk angguk sehingga hidung Kenzo menempel di bibir Almira, tanpa sengaja.


Kedua tangan Almira mengampit kedua pipi Kenzo membuat pria tersebut menatap Almira dengan heran karena melihat tatapan Almira yang sendu, Kenzo lebih menempelkan tubuh Almira kebtubuhnya sendiri membuat Almira terlonjak terkejut lalu tertawa kecil sambil menggelengkan kepala menatap Kenzo yang tersenyum kecil.


"Aku bingung sama kamu, Ken. Kenapa kamu bisa cinta sama aku? Padahal aku sudah sangat membenci kamu sebab kejadian di masa lalu, sebenarnya aku masih benci sama kamu, Ken. Karena kamu tidak memberitahukan aku alasan kenapa kamu seperti itu di masa lalu. Betapa menyedihkan aku dan Oma waktu itu, Ken. Kamu tidak tau kan? Aku sangat membenci mu dari dulu sampai sekarang, mungkin saja aku pun tidak tau. Padahal aku akan membalaskan dendam ke kamu, Ken. Tapi kenapa sangat su- hemmp..."


Kedua mata Almira melotot terkejut karena perlakuan Kenzo yang tiba tiba mencium bibir gadis tersebut dengan lembut tapi lama kelamaan penuh dengan pungutan. Melihat Almira seperti kehabisan nafas Kenzo memberhentikan ciuman mereka dengan terpaksa.


"Manis." ucap Kenzo setelah melepaskan pungutannya tapi tidak mau menjauh malah mendekatkan bibirnya dengan bibir Almira tapi tidak sampai menempel lagi seperti tadi.


Berbeda dengan Almira yang masih menghirup nafas yang banyak banyak karena ciuman Kenzo membuat nafasnya terhenti tiba tiba.


Ini pertama kalinya Almira mendapatkan ciuman seperti itu, dia juga tidak tau cara caranya.


"Kamu mau membunuh ku, hah?" jeritan Almira sambilmemukul dada bidang Kenzo.


Tapi tiba tiba berhenti saat telapak tangannya memegang dada bidang Kenzo yang sangat berbentuk di balik kaos polosnya, Almira menjauhkan sebelah tangannya dengan pelan sambil meringis di dalam hati. Almira terus saja merutuki kebodohannya di dalam hati dengan perilakunya kepada Kenzo.


Kenzo memegang sebelah tangan Almira yang tadi menempel ke dada bidang langsung mengarahkan ke dalam kaos membuat Almira melototkan terkejut dengan apa yang dia pegang.


Terasa kotak kotak dan keras membuat Almira sangat senang dan malu bersamaan karena kedua pipinya sudah memerah membuat Kenzo terkekeh kecil yang langsung di tatap oleh Almira dengan cemberut kesal.


"Bagaimana, hem?" tanya Kenzo tersenyum menggoda ke Almira.


"Apanya?" balik tanya Almira dengan nada kesal dan malu terbesit di nada bicaranya.


Kenzo todak membalas ucapan Almira lagi karena menahan hasrat karena Almira memegang dada bidangnya yang area sensitifnya. Saat tatapan Almira mendongak kearah Kenzo, Kenzo menampilkan senyuman manis.


"Enak gak?" tanya Kenzo.


"Enak. Eh." jawab Almira cepat setelah itu tersadar dengan ucapannya, langsung saja mengeluarkan sebelah tangan dari dalam kaos Kenzo membuat pria tersebut menghembuskan nafas pelan karena lega tanpa di ketahui Almira yang sibuk dengan kedua pipi yang masih memerah.


Almira menatap kearah Kenzo yang menidurkan badannya ke kasur empuk mereka dengan pelan membuat gadis tersebut hanya menatap saja dan tidak protes apapun.


Saat Kenzo malah mengukung badannya Almira menaikkan satu alisnya bertanya yang malah di jawab dengan senyumam menggoda dari Kenzo membuat Almira getar getir sendiri.


"Ken, aku belum siap. Aku kan baru saja lulus dan juga aku belum sepenuhnya tidak benci lagi ke kamu, Ken. Oke, mohon pengertiannya dulu." cicit Almira mencoba memberi alasan yang tepat.


Saat Kenzo akan tidur di sebelah Almira membuat gadis itu menahan Kenzo dengan cara mengalungkan kedua tangan di leher pria tersebut membuat Kenzo menatap lekat dan dalam ke arah Almira.


Cup!


Almira mencium Kenzo ke bibir tersebut membuat pria tersebut terdiam sebentar merasa permainan Almira yang seperti belum pro dalam masalah ini, tapi Kenzo sudah sangat senang dan bahagia kalau Almira menciumnya duluan.


Kenzo membalas ciuman itu paling dalam sampai sampai lidah Kenzo sudah masuk ke dalam mulut Almira, mencecap dengan lembut menikmati permainan mereka masing masing dengan pelan.


Kedua tangan Kenzo berada di atas kepala Almira yang sudah tidak memakai hijab instannya sambil mengelus rambut panjang yang lembut itu dengan jari jari besarnya.


Saat Almira sudah memukul mukul dada bidan Kenzo karena kehabisan nafas membuat Kenzo melepaskan pungutan mereka dengan terpaksa.


Mereka sama sama menatap satu sama lain dengan senyuman manis yang terpancar di wajahnya.


"Maaf belum bisa memberikan hak itu ke kamu, Ken." ucap Almira dengan nada bersalah membuat Kenzo melebarkan senyuman manisnya.


"Tidak apa apa kok sayang, yang penting setiap malam kita melakukan seperti ini."


Setelah Kenzo mengucapkan kata kata tersebut, pria itu mencium bibir Almira lagi dengan penuh bergairah tapi masih lembut masih memikirkan rasa nyaman untuk Almira saat mereka melakukan ciuaman ganas ini.


Hati Kenzo sangat senang saat Almira makin mengeratkan badannya ke badan pria tersebut, sehingga ciuman mereka makin mendalam dan Kenzo tidak memberikan waktu malam ini terbuang sia sia.


Pukul satu dini hari, mereka masih melakukan ciuman lidah tanpa bosan. Yang malah membuat Kenzo dia makin kecanduan dengan bibir manis Almira.


Ciuman mereka makin mendalam dan Kenzo melepaskan pungutan mereka lalu menggigit leher Almira membuat gadis tersebut mencengkram kaos polos Kenzo.


"Kenzo..." ucap Almira di sela sela ciuman mereka membuat Kenzo sangat senang dengan panggilan tersebut saat mereka sedang bermesraan malam ini.


"Aku sangat mencintai kamu, sayang. Tidak akan ku biarkan siapa pun memiliki mu kecuali aku, Kenzo Sagara Samudra."


***


"Apa gue harus mengungkap kan perasaan ini ke Danera? Kalau gadis itu menolak gue bagaimana? Gue bingung tidak tau harus bagaimana."


Ucapan seseorang pria sambil mondar mandir membuat pria yang duduk di sofa geleng geleng tidak percaya kalau saudaranya akan banyak bicara saat kepada adik sepupu perempuan satu satunya dan cewek yang dia sukai, bagi dirinya sangat aneh melihatnya.


Menatap pria yang sedang mondar mandir terus tanpa berhenti membuat pria yang berada di sofa menghela nafas lelah melihatnya saja dan bercampur perasaan kesal.


"Bang, sudah lah. Berhenti mondar manfir tidak jelas, lebih baik nanti kalau Adik sudah pulang kita tanya kan bagaimana Danera." ujar pria yang duduk di sofa empuk sambil memakan buah apel menatap saudara kandungnya tiba berhenti dan menatap tajam kearahnya membuat dia bingung.


Apa yang salah dengan perkataannya?


"Bodoh. Kalau adik tau, bisa habis gue. Lo lupa sama ucapan dia kalau Danera dan Nera sudah dia anggap seperti saudara sendiri begitu pun kita harus menganggap seperti itu, Bodoh." umpat pria yang langsung duduk di sebelah saudara laki lakinya dengan wajah gelisah.


"Terus bagaimana? Lo mau diam aja seperti hari hari sebelumnya, memang lo tidak mau buat mengungkapkan perasaan lo ke Danera." ucap pria memakan apel sambil menghela nafas lelah dengan pria yang ada di sebelahnya.


"Gue sangat mau mengungkap kan perasaan cinta gue ke Danera, tapi-"

__ADS_1


"Bang Alex, Bang Eza. Maksud kalian apa?"


Tiba tiba suara itu membuat pria yang duduk di sofa empuk terkejut dan langsung membalikkan badan, betapa terkejutnya saat suara tersebut dari Almira yang bersama Nera dan juga Danera.


"Kalian ti-"


"Kami mendengarnya, semuanya." sahut Nera dengan nada datar dan dingin menatap kedua pria dewasa yang langsung berdiri menghampiri mereka.


"Pembicaraan kalian maksudnya apa? Apa dugaan ku selama ini benar, kalau bang Alex menyukai Danera yang notebennya sahabat aku. Berarti selama ini bang Alex bukan murni karena persaudaraan kita, begitu?" ujar Almira maju ke depan sedikit mendekat ke badan Alex atau pun Eza yang sudah menegang kaku.


"Padahal aku sama Nera menganggap kalian seperti kakak laki laki kami, ternyata bang Alex menyukai ku. Aku tidak tau ke depannya kita akan seperti dulu atau tidak." ujar Danera menatap kecewa kearah Alex membuat pria dewasa itu membeku di tempat karena tatapan dari wajah Danera.


"Pastinya tidak." sahut Nera dengan melipatkan kedua tangan di depan dada menatap angkuh kearah Alex dan Eza tentunya.


"Bang Alex, apa karena perasaan ini Abang tidak mau di jodohkan dengan pilihan Oma dulu?" tanya Almira dengan nada sesantai mungkin.


Alex hanya diam membuat Eza mengangguk mengiyakan membuat ketiga gadis yang berada di depannya mengepalkan kedua tangan di dalam saku jaket jensnya.


"Sebaiknya, bang Alex dan bang Eza balik ke negara Belanda. Secepatnya."


Ucapan dari mulut Almira membuat mereka menatap gadis itu yang hanya memandang santai tanpa ekspresi apapun.


Eza langsung menghampiri Almira sambil menyentil kening gadis itu membuat Almira mengadu kesakitan dan menatap cemberut ke arah Eza.


"Seenaknya saja kamu bilang seperti itu?" tanya Eza dengan raut wajah kesal kepada Almira.


"Kalian berdua sudah tidak ada butuhnya, kalian malah membuat ku merasa sendiri dan sedih. Bang Eza atau pun Bang Alex sama saja, hanya memikirkan dirinya sendiri. Jadi buat apa kalian disini?" ucap Almira dengan menatap serius membuat Eza merenung diam mendengarkan ucapan dari sang adik perempuan satu satunya.


"Almira Sayyida Alindra, jaga ucapan mu." tegur Alex dengan nada tegas dan menatap tajam ke arah Almira.


"Bener kan aku, Bang? Kalian berdua dari dulu memang sama, tidak ada berubahnya sama sekali. Dari di Surabaya sampai ke Jakarta, kalian masih sibuk dengan diri sendiri. Coba renungkan, apa kalian pernah bercanda atau pun berbicara sama aku kecuali pekerjaan serius?"


Pertanyaan dari mulut Almira membuat Alex dan Eza terdiam merenung semua hal yang mereka lakukan di samping Almira.


Benar saja, mereka tidak pernah berbicara kalau tidak ada pekerjaan serius dan mereka juga tidak pernah menghibur Almira. Selama ini yang melakukan itu kepada Almira hanya Kenzo di dalam rumah besar ini.


"Ma-"


"Benar tidak ada kan? Karena itu kenyataannya, Bang. Jadi cepat cepat lah kalian memesan tiket pesawat untuk ke Belanda, kalian di Indonesia ini sama di Belanda sama saja, tidak ada bedanya kalian ada di samping ku saat Oma Diana meninggalkan ku." potong Almira kepada ucapan Alex yang akan meminta maaf.


Tatapan penuh bersalah dari wajah Eza sangat kentara sekali menatap Almira dengan sendu, rasanya sakit sekali mendengar ucapan adek perempuan satu satunya yang dia sayangi selama ini.


Tapi dirinya juga salah kepada Almira selama ini.


"Dek, jangan berbicara seperti, sangat sakit rasanya, Dek." ujar Eza dengan wajah memelas.


"Bang Eza tau tidak, betapa menyedihkan aku sama Oma Diana dulu. Bang Eza ingat tidak, saat Oma Diana meminta kalian untuk pulang ke Indonesia saat ulang tahunnya, tapi kalian tidak mau. Betapa sedihnya Oma Diana, sampai sampai beliau tidak mau makan satu hari, Bang. Waktu itu Al langsung kesal sama kalian berdua, tapi Al bisa apa? Cuman diam saja." ujar Almira dengan kedua mata sudah berkaca kaca membuat Eza langsung menggenggam kedua bahu Almira dengan pandangan sedih sambil geleng geleng kepala.


"Tidak ada sangkut pautnya dengan Oma masalah yang terjadi sekarang ini, Almira." ujar Alex dengan nada datar dan mengepalkan kedua tangan di samping badannya.


"Ada, Oma Diana sudah menganggap Nera dan juga Danera tentunya, adalah cucu sama seperti aku. Jadi, seorang sepupu tidak boleh bersama sepupu lain meskipun tidak ada hubungan darah. Mengerti, Tuan Alex Alindra?" ucap Almira dengan nada tegas membuat kepalan tangan Alex makin mengerat.


"Ternyata kamu masih ke kanakan juga. Ingat, kamu sudah menjadi istri sekarang dan menjadi pembisnis. Jangan bersifat seperti anak remaja yang masih sekolah. Mengerti Nona Almira?" ucap Alex membalikkan ucapan Almira dengan nada tegas sambil menunjuk ke wajah gadis itu yang terdiam.


Almira mencoba menghilang perasaan sakit yang tiba tiba ada di dalam hatinya karena ucapan Alex yang dia sayangi seperti menyayangi Eza dan sepupu laki laki lainnya.


Danera berbisik untuk berhenti lalu Nera menarik lengan Almira untuk pergi dari rumah mewah tersebut agar tidak berhadapan dengan Alex yang sedang marah dan emosi.


Tapi badan Almira tidak bergerak sama sekali membuat Danera dan Nera menghela nafas, mereka tau kalau keluarga Alindra itu mempunyai sifat keras kepala.


"Sudah lah, Bang Alex. Apa apaan sih seperti ini?" sahut Danera mencoba memberanikan diri meskipun dirinya masih takut.


Alex menoleh beralih menatap Danera, merubah raut wajah emosi dan marah menjadi lembut sesantai mungkin membuat Nera menatap sinis kearah pria dewasa itu. Berbeda lagi dengan Almira yang menatap datar tanpa ekspresi, tidak ada yang tau apa ada di dalam pikiran cantiknya.


"Saya mencintai kamu, Danera. Sebenarnya sudah sejak kamu masih kelas sepuluh, saya baru menyadari kalau saya jatuh cinta sama kamu. Saya-"


"Maaf, Bang. Aku tidak punya perasaan apapun, sebenarnya aku sudah mencintai pria lain dan itu juga mantan kekasih ku yang baru putus. Lebih baik bang Alex menghilangkan perasaan itu di dalam hati abang, karena aku tidak akan pernah bisa membalas perasaan, Bang Alex." jelas Danera dengan nada yang di buat agar sejelas mungkin bisa di pahami oleh Alex dan yang lainnya.


Tatapan Alex berubah menjadi datar tanpa ekspresi.


"Ini semua gara gara kamu, Almira. Gara gara kamu, sialan." umpat Alex menunjuk ke wajah Almira dengan jari telunjuknya.


"BANG." tegur Eza dengan nada tinggi sambil menggoyangkan lengan pria dewasa yang sedang menatap tajam kearah Almira.


"Sialan, gara gara lo, sialan. Semua ini gara gara lo, meninggalnya Oma juga gara gara lo, akhhh.... Lo memang sialan, bangsat, murahan lo. Kalau saja lo tidak punya pacar dan menerima Kenzo dari awal, pasti Oma tidak kena sakit seperti ini dan meninggalkan kita semua. Lo pembunuh, gara gara lo, sialan."


Ucapan Alex membuat Almira terkejut dan merasakan rasa sakit hati yang sangat dalam.


Melihat Alex yang terus saja mengumpati dirinya sambil menyalahkan atas kematian Oma Diana, Almira langsung terjatuh ke lantai dingin tidak kuat dengan ucapan Alex.


"Lo memang cewek murahan, Almira. Lo memang sialan, selama ini gue sudah memendam semua kekesalan gue ke lo, tapi lo malah seperti ini ke gue. Sialan lo, Almira. ALMIRA BANGSAT."


Bugh!


Pukulan dari Kenzo membuat Alex tersungkur karena tidak siap lalu pingsan karena merasakan betapa kerasnya pukulan Kenzo ke wajahnya. Eza yang mengetahui itu langsung saja membawa badan Alex ke kamarnya, untuk saja kamar mereka tidak di lantai atas.


Setelah kepergian Eza membawa Alex itu, Kenzo melihat Almira yang sudah di peluk oleh Danera dan Nera.


Kenzo memberikan kode kepada kedua gadis itu untuk meninggalkan mereka, sebenarnya Nera tidak mau meninggalkan Almira tapi Danera menarik Nera untuk keluar dari rumah mewah tersebut.


Sekarang di ruang tamu hanya ada Kenzo dan Almira.


Grep!


Almira merasakan pelukan hangat langsung mendongak ternyata itu adalah pelukan dari Kenzo untuknya.


"Aku pembunuh, Ken." ujar Almira kepada Kenzo.

__ADS_1


__ADS_2