
"Al, nanti jam sebelas siang, Nera akan berangkat ke luar negeri. Apa lo tidak akan datang, Al. Ini adalah hari terakhir kita bersama dan dua hari lagi gue berangkat ke luar kota. Kita tidak akan bertemu selama empat tahun yang akan datang. Gue minta tolong ke lo, sekali ini saja penuhi keinginan Nera sama gue, Al."
Pesan panjang terpampang jelas di ponsel Almira dan sudah di baca membuat gadis itu meluruh ke bawah dengan pandangan tidak percaya menatap ponsel tersebut.
Kepala Almira bersembunyi di lututnya, tiba tiba saja terdengar suara tangis pelan yang terendam.
Di dalam kamar apartemen tidak ada siapa siapa, karena Kenzo dan Edo sedang pergi ada urusan yang tidak di ketahui sama Almira. Tangis Almira makin kencang karena tidak percaya dirinya akan pisah dengan kedua sahabatnya yang sedari kecil tidak pernah berpisah.
Saat salah satu dari mereka jauh saja pasti akan berkumpul lagi, karena mereka tidak betah kalau jauh satu sama lain.
Memang, masa depan tidak ada yang tau bagaimana. Waktu masa kecil, mereka sudah mempunyai janji akan selalu bersama sama tanpa berpisah, tapi sekarang ternyata mereka akan pisah jauh satu sama lain.
Empat tahun bagi Almira itu sangat lama, Almira tidak tau harus bagaimana tanpa mereka meskipun dirinya sudah bersama Kenzo tentunya. Tapi rasanya sangat beda.
Almira mendongak kan kepalanya lalu berlalu ke arah lemari dan mengambil semua pakaian menaruh ke koper besar bewarna merah terang.
Tidak mempeduli kan tatanan rapi dari baju baju tersebut, air mata terus saja menetes sehingga membekas di kedua pipi cubbynya.
Ceklek.
Pintu terbuka menampil kan badan tegap laki laki membuat Almira terhenti dari memasuk kan bajunya, Almira menatap ke arah Kenzo yang memandang bingung dan heran.
"Kamu mau pergi kemana?" tanya Kenzo dengan pandangan sinis dan datar.
Melihat Almira yang memasuk kan baju bajunya dengan kasar tanpa beraturan membuat pikiran negatif muncul, Kenzo sangat takut bila Almira akan pergi darinya dan meningal kan dirinya.
Kenzo tidak tau kalau Almira sedang menangis, kedua mata Kenzo sudah terpenuhi kabut amarah membuat dia tidak mengetahui ada air mata di kedua mata Almira.
Almira melihat kedua mata Kenzo membuat dia mengerti kalau suaminya sedang marah karena takut kehilangannya, tanpa sadar isakkan tangis Almira terdengar membuat tatapan Kenzo terkejut menatap air mata yang keluar tiba. Dengan cepat, Kenzo menghampiri Almira dan menghapus air mata tersebut.
"Mas, Nera akan berangkat ke luar negeri. Aku mau ke Jakarta Mas, aku... aku mau antar sahabat ku. Tenang saja Mas, aku tidak pergi sendiri. Aku sudah memberes kan baju kamu juga di koper ini dan bilangin ke bang Edo buat handle perusahaan selama tiga hari ini mas, karena Danera juga akan pergi ke luar kota dua hari setelah Nera, Mas." jelas Almira membuat Kenzo tertegun tidak percaya menatap Almira kalau gadis itu mengingat dirinya membuat jantung Kenzo berdetak sangat kencang karena sedang bahagia.
Grep.
Kenzo menarik tubuh Almira ke dalam pelukan hangatnya membuat tangis Almira yang tadi dia tahan tiba tiba keluar begitu saja sehingga kaos polos bewarna hitam yang di pakai Kenzo sedikit basah karena air mata.
"Sudah ya sayang, jangan sedih. Akan aku pesan kan tiket pesawat untuk sekarang." ujar Kenzo sambil mengelus bahu Almira yang masih bergetar karena tangisannya.
__ADS_1
Almira hanya menjawab dengan angguk kan kepala saja, dengan cepat Kenzo membuka ponsel dan masuk ke aplikasi untuk memesan tiket pesawat untuk hari ini.
"Kalian sedang apa?"
Suara bertanya dari arah pintu membuat Almira maupun Kenzo melepas kan pelukannya menatap Edo yang berada di ambang pintu, saat melihat air mata Almira Edo menampil kan raut wajah terkejut dan langsung saja pria itu berjalan cepat menghampiri sepupu perempuannya.
"Kamu kenapa? Hapus air mata kamu sekarang, Almira. Jangan membuat abang marah hanya karena melihar air mata kamu itu." tegur Edo dengan nada penuh penekanan dan intimidasi menatap Almira sepenuhnya.
"Maaf bang." ucap Almira dengan nada penuh rasa bersalah menunduk kan wajahnya karena gadis itu sudah melanggar perjanjian mereka yang sudah sepakat beberapa tahun yang lalu.
Almira dan Edo saling janji, Almira tidak boleh menangis atau mengeluar kan air mata di depan Edo, lalu Edo tidak boleh terluka di depan Almira.
Itu lah perjanjian antara Almira dan Edo.
"Saya titip apartemen dan perusahaan, tolong urus perusahaan dengan benar Edo. Kami akan pergi ke Jakarta sekarang ini, karena Nera akan pergi ke luar negeri nanti siang. Mengerti kan?" ujar Kenzo dengan nada serius pandangan datar tanpa ekspresi membuat Edo menoleh ke arah pria tersebut.
"Berapa hari di Jakarta?" balik tanya Edo masih menatap ke arah Kenzo.
"Tiga hari, bang." jawab Almira dengan suara kecil tapi masih di dengar oleh kedua pria tersebut.
"Kenapa Al?" tanya Edo lagi saat melihat pancaran sedih di kedua mata Almira.
"Bang, aku sendiri lagi bang. Nera akan pergi ke luar negeri dan Danera akan pergi ke luar kota. Aku sendiri bang, aku sendiri..." lirih Almira membuat Edo maupun Kenzo terdiam saja.
***
"Dan, lo sudah menghubungi Al kalau gue nanti siang akan berangkat?"
Pertanyaan dari mulut Nera membuat Danera yang semulanya sedang memain kan ponsel beralih menatap Nera dengan pandangan tidak bisa di jelas kan, Nera tidak tau kalau Danera menatap dirinya dengan sendu karena gadis itu sedang mengetik sesuatu di laptop yang berada di depannya.
Danera tidak menjawab membuat Nera menoleh ke arah gadis itu dengan tatapan santainya, Danera yang di tatap langsung saja merubah raut wajahnya yang sendu tadi menjadi biasa saja dan di balas dengan Nera menaik turun kan kedua alisnya.
"Dan, bagaimana? Kenapa diam saja lo, hah?" ujar Nera lagi dengan nada sedikit keras penuh penekanan membuat Danera berjengit terkejut.
"Gue sudah bilang kok Ner." balas Danera dengan nada sesantai mungkin agar Nera tidak curiga apa pun kepadanya.
"Terus, Al jawab apa Dan?" balik tanya Nera berdiri lalu berjalan duduk di sebelah Danera membuat gadis itu melotot kan karena terkejut.
__ADS_1
Tatapan tajam dan raut wajah datar tanpa ekspresi membuat Danera seperti akan di makan hidup hidup sama Nera, kalau Nera berubah seperti itu maka yang hanya bisa membuat gadis itu kembali seperti semula hanya Almira saja. Kalau Danera malah akan memperburuk suasana hati Nera tentunya.
Nera menatap gerak gerik gelisah dari badan Danera membuat gadis itu menatap selidik dan penuh intens.
"Apa Al tidak akan antar gue ke bandara? Lo tau kan Dan, gue di sana itu selama empat tahun." ujar Nera yang berubah menjada nada lirih kecil hanya bisa di dengar oleh Danera saja.
Danera memeluk tubuh Nera untuk menyembunyi kan raut wajah sedih dari sahabatnya yang datar tanpa ekspresi itu, melihat raut wajah yang tidak pernah di tunjuk kan oleh Nera membuat Danera tidak suka melihatnya.
Bila Danera di suruh memilih bagaimana raut wajah Nera yang dia suka? Pasti Danera akan menjawab dengan lantang kalau dirinya lebih suka raut wajah datar dan tatapan tajam dari Nera.
"Berpikir positif saja Ner, sepertinya Al ada kerjaan yang sangat penting sampai sampai Al tidak bisa pulang ke Jakarta Ner. Lebih baik kita beres beres barang barang lo yuk, apa saja yang lo bawa kesana, oke?" ujar Danera memberi saran dan juga mengalih kan pembicaraan yang langsung di balas dengan angguk kan pelan saja dari Nera.
Bersyukur saja, Nera bisa di alih kan pembicaraan dari pada mereka sedih sedih seperti ini.
Sebenarnya Danera sangat kesal dengan Almira, tapi gadis itu mencoba mengerti bagaimana sibuknya seorang Almira saat setelah kehilang Oma Diana. Karena Almira lah yang mengurus bisnis Oma Diana semuanya, Danera maupun Nera tau bagaimana gadis itu mengeluh capek sambil menangis ke pelukan mereka.
Itu sangat menyakit kan saat melihat Almira sedang rapuh dan lelah, pikir Danera dan Nera.
"Lo pasti datang, Al. Gue tau itu, lo pasti datang." batin Nera dan Danera secara bersamaan tanpa sadar.
Tempat berbeda seorang gadis turun dari pesawat sambil memakai kacamata hitam dan di sebelah ada seorang pria tampan tegap membuat semua pengunjung menatap mereka karena terpesona dengan yang mereka pakai dan wajah yang cantik dan tampan.
Tangan pria itu sudah memeluk pinggang ramping gadis yang berada di sampingnya saat melihat banyak sekali para laki laki menatap ke arah istrinya dengan pandangan terpesona, gadis yang di peluk hanya bisa menerima saja apa yang di lakukan sama suaminya.
"Langsung pulang ke rumah, tidak boleh mampir mampir kemana pun, mengerti sayang?" ujar pria dengan menekan kata sayang dan sedikit keras sehingga membuat para laki laki yang sedari tadi menatap istrinya langsung melengos karena kecewa gadis itu sudah memiliki seorang pawang.
"Mengerti." jawab gadis itu dengan angguk kan kepala sambil menatap ke arah pria yang berada di sampingnya.
Pria itu mencondong kan wajahnya ke depan sehingga mulutnya sudah berada di samping telinga gadis itu, berbisik dengan jelas membuat gadis di sebelah merinding seketika.
"Jangan pernah melirik pria lain sayang, bukan kamu yang aku hukum. Tapi mereka lah yang akan mendapat kan hukuman sangat menyeram kan dan keji. Lalu kamu akan mendapat kan kenikmatan saja dari ku." bisik pria tersebut dengan nada rendah.
***
"Al beneran tidak akan datang, Dan?"
Pertanyaan dari mulut Nera menatap ke arah Danera yang sedang menoleh ke kanan kiri seperti sedang mencari seseorang membuat Nera yang melihat juga sedang menunggu sahabatnya. Tapi sudah tiga puluh menit berlalu, seseorang yang mereka tunggu tunggu tidak muncul batang hidungnya sama sekali membuat kedua gadis itu menghela nafas panjang sambil menunduk, perasaan kecewa dan tidak percaya tiba tiba menyeruak di dalam hatinya.
__ADS_1
"Kalau begitu, ayo berangkat ke bandara sekarang juga Ner. Yang kita lakukan sia sia saja, ayo beberapa jam lagi waktu penerbangan lo akan berangkat." ajak Danera menarik koper bewarna merah cerry membuat Nera menatap ke arah sahabatnya yang sedang memasuk kan barang tersebut ke mobilnya.
"Al, apa lo tidak akan datang untuk terakhir kalinya kita bertemu? Se sibuk itu pekerjaan lo, Al?" batin Nera masuk ke dalam mobil yang sudah ada Danera sejak tadi menunggu dirinya.