Suami Pilihan Oma

Suami Pilihan Oma
ENAM PULUH EMPAT


__ADS_3

"Loh, Al. Nanti itu ada acara pesta topeng di caffe langganan kita, kenapa malah lo harus pergi ke luar kota sih? Kesal gue sama lo, Al."


Ucapan dengan nada ketus dan kesal dari mulut Danera yang sudah melipat kan kedua tangan di depan dada menatap Almira yang sedang memberes kan pakaian demi pakaian di masukkan ke koper yang lumayan besar. Di dalam kamar hanya berisi kan Almira, Danera dan juga Nera tentunya.


Mereka melihat gerak gerik Almira yang lumayang terburu buru membuat Danera pastinya sangat kesal hari ini.


"Sorry, gue tidak bisa ikut. Tadi kata Paman kalau di butik kota Semarang ada masalah, jadi gue harus yang mengendali kan butik tersebut. Kalau gue di cari sama pemilik caffe langganan kita, ucapin maaf gue ke beliau ya kalau tidak bisa datang ke acara spesial tersebut." ujar Almira yang sudah selesai memasuk kan banyak pakaian di dalam kamarnya.


"Tapi kenapa harus pergi sih, Al. Kan bisa mengerja kan lewat online." debat Danera yang masih kesal dan tidak mau menerima ucapan Almira kepadanya.


Almira tersenyum lembut lalu menghampiri Danera dan Nera yang sudah duduk berada tengah tengah mereka.


"Gak bisa, ini masalah serius. Gue perginya bukan sama Kenzo, tapi sendiri." ucap Almira dengan menolah menghadap kedu sahabatnya.


"APA?"


Tanpa sadar, Danera dan Nera berteriak sangat kencang karena terkejut dengan ucapan Almira. Tiba tiba pintu kamar terbuka menampil kan wajah cemas dan khawatir dari Justin dan Kenzo yang mencoba mengatur nafasnya yang masih ngos ngosan.


"Ada apa?" tanya Justin sudah menatap ketiga gadis yang duduk di kasur empuk dengan nafas yang masih terbata bata tidak seperti Kenzo yang sudah menatap mereka seperti biasa saja.


"Almira mau pergi ke luar kota." ujar Danera pelan menggantung kan kalimatnya.


"Kalau itu gue udah tau." ujar Justin bernada kesal lalu merangkul pundak Kenzo berjalan keluar.


"Al pergi sendiri, tidak bersama Kenzo."


Ucapan Nera membuat kedua pria berhenti dari langkahnya dan langsung menoleh menatap kearah Almira yang sudah menunduk.


Kenzo menatap kearah Almira dengan pandangan yang sulit di artikan dan langsung berjalan menghampiri gadis itu, kedua tangan Kenzo sudah bertumpu di kedua bahu Almira menekan pelan membuat gadis itu terpaksa mendongak kan wajahnya dan langsung kedua matanya bertubruk kan dengan kedua mata yang memandang tajam membuat pikirannya tidak bisa berpikir jernih.


"Tinggal kan kami berdua, ada hal penting yang harus kami bahas." ucap Kenzo yang tidak mengalih kan pandangan yang terus menatap manik kedua mata Almira dan berbicara kepada Nera, Danera maupun Justin.


Justin yang mengetahui situasi langsung saja menarik lengan kedua gadis tersebut yang memandang Almira dan Kenzo dengan penasaran dan juga khawatir.


Ceklek!


Setelah suara pintu tertutup, Kenzo memaju kan wajahnya agar mendekat ke Almira membuat gadis itu tanpa sadar membeku di tempat menatap Kenzo dengan pandangan menciut takut. Tidak tau kenapa, Almira sekarang seperti mangsa bagi Kenzo yang seperti binatang buas.


"Kamu akan pergi ke luar kota sendiri? Kenapa tidak bersama ku?" tanya Kenzo yang langsung menubrukan badannya ke badan Almira, sehingga mereka jatuh ke kasur empuk.


Almira membola terkejut saat menyadari situasi saat ini, Almira sekarang sudah berada di bawah kungkungan Kenzo.


"Ken, ini terlalu intim. Aku harus bersiap siap untuk perjalanan dan juga aku harus menjaga semangat ku biar tidak capek. Jadi, jangan seperti ini." ujar Almira bergerak gelisah yang sudah tertanda di kedua mata yang menatap arah sembarang tidak mau menatap manik mata Kenzo sama sekali.


"Sayang..." panggil Kenzo sambil memegang sebelah pipi dengan tangan kekarnya sehingga tatapan mereka bertemu.


Almira menatap raut wajah yang berubah serius dari Kenzo membuat gadis itu terdiam tidak tau harus ngapain sekarang ini. Kenzo sekarang terlihat pemimpin yang tegas dan berwibawa membuat Almira tidak berani kepadanya.


"Kamu pilih mana hem, pergi bersama ku atau tidak pergi kemana pun?"


Pilihan Kenzo membuat kedua mata Almira melotot terkejut atas ucapan pria yang ada di atasnya.


"Ken, aku tidak bisa membawa kamu juga. Ingat, kamu juga punya tugas di kepolisian dan perusahaan." elak Almira dengan nada lembut agar Kenzo bisa mengerti dengannya.


"Saat Paman bilang kalau ada masalah butik di luar kota, aku sudah menyuruh seseorang untuk menjaga perusahaan maupun kepolisian. Jadi aku sudah siap pergi sama kamu, hanya membawa baju baju saja dan keperluar lainnya." perjelas Kenzo membuat Almira makin terkejut.


"Tidak bisa seperti itu, ken. Di butik hanya ada perempuan disana, kamu tidak bisa masuk sebagai apapun saat ini. Butik di semarang sedang di tutup buat operasi ku." ujar Almira dengan mengelus rambut hitam legam dari Kenzo yang membuat pria itu makin menatap dengan pandangan intens.


"Aku bukan menemani kamu bekerja, tapi aku menemati kamu sebagai suami. Aku tidak mau kamu ada sesuatu terjadi ke kamu dan aku juga tidak mau kalau kamu bertemu dengan laki laki di luar sana hanya untuk meminta tolong saja, meskipun itu para pekerja lainnya." ujar Kenzo membuat Almira menghela nafas panjang sehingga mengenai wajah Kenzo merasakan hangat.


"Tenang saja, aku di sana bekerja bukan untuk yang lain." ujar Almira yang masih dengan nada lembut sambil tangannya tadi yang mengelus rambut Kenzo beralih mengusap sebelah pipi lelaki tersebut.


"Tetap aku tidak mau, aku harus ikut, sayang..." suara rengekan dari mulut Kenzo membuat Almira tersenyum menatapnya.


Ctak!


"Seperti anak kecil saja." ucap Almira setelah menyentil kening Kenzo sedikit keras sehingga berbunyi membuat pria itu cemberut memajuk kan mulutnya yang makin membuat Almira gemas dengannya.


Tidak tau saja, sebenarnya Kenzo hanya berpura pura saja cemberut dan seperti anak kecil di hadapan Almira sekarang ini agar dia bisa ikut dengan istrinya.


Saat pertemuan Almira dan mantan pacarnya yang sewaktu SMA dulu, Kenzo sudah gelisah sendiri. Takut kalau istrinya masih suka dengan pria tersebut dan meninggal kan dirinya.

__ADS_1


Pokoknya Kenzo harus berada di samping Almira, harus.


"Ken, aku tidak akan melirik si-"


"Tidak mau, aku harus itu sama kamu, aku harus berada di samping ka-"


"Pokoknya kamu tidak boleh iku, titik. Kalau kamu ikut, aku akan marah sama kamu dan tidak akan berbicara lagi sama kamu. Mengerti Kenzo Sagaa Samudra, suami ku." ucap Almura penuh penekanan tidak mau di bantah.


***


Di lain tempat, Danera dan Justin sudah berjalan mondar mandir di ruang tamu rumah Almira yang di waris kan dari Oma Diana kepada cucu perempuannya.


Eza, Alex dan Nera hanya memandang mereka dengan diam tanpa mengeluar kan suara sekata pun. Eza maupun Alex sering sekali bertemu bersitatap dengan Almira, tapi gadis itu langsung menghindar tanpa mengeluar kan suara apa pun kepada mereka yang membuat kedua pria dewasa itu makin menyesal, yang lebih menyesal adalah Alex tentunya yang sudah mengatai Almira dengan kata kata kasar yang tidak seharusnya dia ucap kan.


Penyesalan selalu berada di akhir, kalau di awal itu namanya pendaftaran.


Ceklek.


Pintu kamar Almira dan Kenzo terbuka menampil kan sepasang suami istri yang sudah menatap mereka dengan bergantian.


Almira masih menggenggam telapak tangan Kenzo membawa ke ruang tamu duduk di salah satu sofa.


"Bang Alex, Bang Eza, maafin Al. Al sudah sangat kurang ajar ke kalian, maaf Bang." ucap Almira tiba tiba membuat mereka menatap ke arahnya.


Tidak jauh beda dengan Alex dan Eza yang memandang sendu ke arah gadis tersebut yang sudah menunduk kan pandangan.


Grep.


Tanpa aba aba, Alex memeluk tubuh mungil sepupunya itu dengan erat sehingga membuat Almira menepuk nepuk punggung pria dewasa itu dengan lembut sambil tersenyum manis.


"Maafin Abang, maaf." bisik Alex dengan nada lirih membuat Almira makin melebar kan senyumannya.


Saat Almira akan melepas kan pelukan mereka, Alex masih menahannya yang membuat gadis itu terkekeh kecil berbeda lagi dengan Eza yang mendengus kesal.


"BANG, GANTI GUE." teriak Eza nyaring dan kencang yang membuat mereka menatap ke arah pria itu yang sudah memerah kesal tidak di peduli kan oleh Alex yang makin mengerat kan pelukannya.


"Sini juga, Bang." ajak Almira sambil membuka sebelah tangan yang langsung di sambut oleh pria dewasa itu.


"BANG EZA MEWEK, HAHAHA."


Teriakan heboh dari Justin yang membuat mereka semua menoleh ke pria dewasa itu yang sudah membenam kan wajahnya di pelukan Almira, bersembunyi karena malu ketahuan Justin dan dengan bodohnya adik sepupunya itu malah berteriak heboh.


Tidak sengaja kedua mata Almira bertubrukan dengan kedua manik indah dari Kenzo, gadis itu tersenyum dan mengangguk kecil kepada pria itu yang di balas dengan senyuman kecil.


"Lepas dulu bang, sesak nih..." rengek Almira yang malah di balas dengan gelengan kepala dari Eza maupun Alex.


Almira yang melihat itu hanya geleng geleng kepala tidak habis pikir kepada kedua pria dewasa itu yang seperti anak kecil sedang manja.


"Bang lepas dulu, aku ini mau pergi ke Semarang." ujar Almira membuat kedua pria dewasa tersebut melepas kan pelukannya dengan wajah terpaksa.


Setelah terlepas pelukan mereka, baru saja Almira menghela nafas panjang dan menghirup udara sebanyak banyaknya, lalu menatap kedua pria dewasa yang malah duduk di lantai dingin otomatis bahu mereka bersandar di kaki Almira salah satu.


"Kenapa bang Alex sama bang Eza gak bilang kalau selama ini kalian tersiksa sama perlakuan ku? Beruntung saja Kenzo bilang ke aku, Bang. Kenzo juga yang menyadar kan aku kalau disini aku yang salah, maaf yang bang." ujar Almira dengan senyuman menghias di bibirnya membuat kedua pria dewasa itu ikut tersenyum meskipun Alex senyum kecil.


Alex dan Eza beralih menatap Kenzo yang berada di samping Almira mereka menatap dengan senyum tulus sambil mengangguk mengucap kan kata terima kasih.


"Baru tau gue, sesama lelaki kalau terima kasih cuman angguk dan senyum doang loh." gerutu Danera yang tidak sengaja menatap ketiga pria yang saling melempar kan pandang membuat Almira terkekeh pelan mendengarnya.


"Oh iya, disini aku juga mau berpamitan. Aku akan pergi ke Semarang selama dua bulan." ujar Almira yang membuat semua mata mengarah ke arahnya.


"Berarti, lo gak ikut antar gue ke Bandara, Al? Gue akan pergi ke luar negeri, gak tau kapan gue pulangnya Al, masa lo gak ikut." sahut Nera dengan pandangan datar membuat Almira meringis karena lupa akan rencana mereka yang akan menghabis kan waktu bertiga karena Nera akan ke luar negeri.


"Maaf, Ner." ujar tulus Almira membuat Nera menoleh kan pandangannya ke arah ponselnya, mencoba mengalih kan tatapannya.


"Lo pergi sama Om Ken-"


"Tidak, gue pergi sendiri."


Ucapan Almira sukses membuat manik mata mereka menatap ke arah gadis tersebut, berbeda dengan Kenzo yang diam saja tidak menoleh ke arah Almira.


"Maksud lo apaan sih, Al? Kenapa harus sendiri? Lo itu sekarang sudah punya suami dan lo juga akan pergi dua bulan, Al. Dua bulan itu bukan waktu yang sebentar." ujar Danera dengan nada sedikit tinggi dan mengepal kan sebelah tangan di tumpuk kan meja.

__ADS_1


"Dan, ini masalah serius, gue gak mung-"


"Meskipun lo sibuk di sana, tapi lo masih ada suami di samping lo. Meskipun suami lo tidak berguna di sana, lo tetap di jaga sama suami lo, Al. Dari pada lo sendiri." sahut Danera memotong ucapan Almira dengan nada keras sambil menunjuk nunjuk ke wajah Almira dengan wajah yang sudah memerah karena emosi dan kesal bercampur jadi satu.


"Dan, lo gak tau apa apa. Di sana itu gue sibuk, gue pastinya gak ada waktu buat pulang ke apartemen. Gue takut kalau ada orang lain malah jadi terganggu pikiran gue karena khawatir. Gue gak mau kejadian seperti itu, gue mau fokus buat menyelesai kan masalah butik yang di sana. Kenzo juga sibuk sama urusannya di perusahaan dan kepolisian, gue gak mau ganggu pekerjaannya juga yang lagi sibuk sibuknya. Kenapa sih susah banget sama kalian." ujar Almira dengan nada tinggi juga.


"AKH... Terserah lo, Al." jerit Danera kesal lalu pergi meninggal kan ruangan tersebut lalu keluar di ikuti Nera juga.


Tapi sebelum Nera menyusul langkah Danera, gadis itu lebih dulu menatap Almira yang sedang menatap ke arahnya juga dengan pandangan sendu dan frustasi membuat Nera memberi kan senyum kecil yang terlihat membuat Almira menghela nafas lega saat melihat senyuman Nera.


Lalu setelah itu, Justin membawa kedua pria dewasa meskipun dengan terpaksa. Tapi saat Justin membisik kan sesuatu kepada kedua pria itu, langsung saja mereka pergi meninggal kan Almira dan Kenzo di ruang tamu.


"Sudah tidak apa apa, sudah jam tujuh waktunya kamu berangkat. Ayo, aku antar kamu ke Bandara." ajak Kenzo sambil menggenggam tangan Almira lalu sebelah tangannya menarik koper membuat Almira terus saja menoleh menatap ke arah pria tersebut yang tidak memandangnya sama sekali.


***


"Sayang, kamu harus setiap saat setiap detik harus kirimi aku pesan, kalau kamu telat sedetik aja aku langsung menemui kamu di sana."


Ucapan Kenzo sambil menangkup kedua pipi cubby Almira dengan kedua tangan kekarnya membuat gadis itu tersenyum melebar dan yang hanya bisa melihat, hanya Kenzo saja karena kedua tangan kekar itu sudah menutupi wajah Almira dari arah samping.


"Kamu harus kasih aku kabar setiap detik, kamu tau kan bagaimana nekatnya aku selama ini ke kamu, hem." ujar Kenzo dengan nada tegas sambil memaju kan wajahnya ke wajah Almira.


"Iya... Aku tau... Kalau aku tidak menuruti ucapan kamu, kamu akan langsung menemui ku atau menyuruh seseorang untuk memata matai aku di sana." jawab Almira dengan nada malas.


"Pintar." ucap Kenzo sambil mengelus puncak kepala Almira yang tertutupi hijab instan kesukaannya.


Hanya ada senyuman kecil saja dari bibir Kenzo, bila dari kejahuan pasti tidak mengetahui kalau pria yang ada di depannya ini sedang tersenyum.


Suara Pramugari mengingat kan para penumpang kalau pesawat akan terbang sangat nyaring di luasnya Bandara tersebut, banyak sekali orang berlarian untuk masuk ke pesawat tersebut.


Almira mengambil kopernya yang di sandar kan oleh Kenzo di dinding tersebut.


Saat Almira akan berpamitan kepada Kenzo, tiba tiba ada suara yang memanggil suaminya dengan wajah nyaring. Kenzo maupun Almira menoleh kearah sumber suara.


"Kenzo, lo..."


Suara itu yang sudah berada di depan sepasang suami istri itu dengan wajah berkerut bingung. Saat melihat Kenzo menaik kan satu alisnya bermaksud bertanya.


"Gue Yogi, Yogi Aswara Mahendi."


Setelah memperkenal kan nama laki laki yang ada di depannya, Kenzo langsung memeluk lelaki tersebut dengan menepuk nepuk kan punggung pria itu yang memakai baju Pilot, banyak sekali pin bintang di bajunya.


"Lo jadi Pilot?" tanya Kenzo yang sudah melepas kan pelukan mereka menatap kearah pria tersebut yang sedang menggaruk tengkuknya yang tidak gatal.


"Iya begini lah, kalau lo jadi Polisi?" balik tanya Yogi dengan menunjuk ke arah Kenzo.


Kenzo mengangguk kan kepala membuat pria yang ada di depannya berteriak kegirangan.


"Cewek di samping lo siapa?" tanya Yogi melirik ke arah Almira yang menatap ponselnya karena merasa di acuh kan oleh Kenzo karena lelaki yang di depannya ini.


Almira sangat kesal karena Kenzo melupakan dirinya hanya karena teman laki lakinya saja.


"Oh iya gue lupa, perkenal kan ini Almira Sayyida Samudra, istri gue."


Raut wajah syok sangat kentara sekali dari wajah Yogi membuat Almira mengerut kan keningnya, berbeda lagi dengan Kenzo yang tersenyum kecil melihatnya, dia tau apa yang sedang di pikir kan oleh pria yang ada di depannya.


"Ternyata cewek ini yang selalu lo ceritain ke anak anak yang lain, gila sih memang cantik. Selamat bro, gue minta maaf dan anak anak yang lain gak tau." ujar Yogi dengan pandangan bersalah.


Kenzo membalas dengan deheman saja, Almira menarik narik ujung baju Kenzo membuat pria itu menoleh ke arah gadis tersebut dengan senyuman kecil membuat Yogi geleng geleng kepala tidak habis pikir, betapa bucinnya seorang Kenzo Sagara Samudra kepada cewek yang bernama Almira.


"Sudah waktunya berangkat, aku masuk dulu ya. Salim dulu." ujar Almira mengadah kan telapak tangan kanan di depan badan Kenzo.


Kenzo menumpuk kan telapak tangan kanannya di atas telapak tangan Almira, lalu gadis itu mencium punggung tangan Kenzo dengan bibir pelan dan lembut menikmati. Saat sudah menegak kan kepalanya, Kenzo lebih dulu menarik wajah Almira mendarat kan kecupan di kening gadis itu sangat lama karena menikmati rasa hangat dan nyaman yang ada di hatinya.


"Jangan lupa pesan ku tadi." ujar Kenzo mengingat kan lagi ke Almira yang langsung menunjukkan jari jempolnya dengan senyum sangat manis membuat Kenzo ingin sekali mengurung istrinya itu.


"Assalamualaikum, suami ku..." salam Almira yang langsung berlari kecil karena malu hanya melihat Kenzo, karena kedua pipinya sudah memanas.


Kenzo tersenyum lebar tanpa sadar dengan telapak tangan yang memegang dadanya, seakan alay memang, tapi Kenzo beneran sangat senang dan bahagia yang tidak bisa di ungkap kan dengan kata kata.


"Waalaikum salam, sayang ku..." batin Kenzo tidak mengucap kan langsung karena di sampingnya masih ada Yogi yang memandang menggoda ke arahnya.

__ADS_1


"CIE... TEMAN GUE SUDAH BESAR..." teriak heboh dari mulut Yogi membuat semua orang yang berada di Bandara menatap aneh ke arah pria itu yang malah membuat Kenzo sangat malu, langsung saja Kenzo menarik Yogi ke suatu tempat.


__ADS_2