Suami Pilihan Oma

Suami Pilihan Oma
DUA PULUH SEMBILAN


__ADS_3

"Lo ngapain ikut gue mulu, gue risih Nigel."


Ucapan Nera dengan nada muak saat Nigel berada di sampingnya tidak mau berjauhan ataupun meninggalkan dirinya sedikit pun, itu yang membuat Nera risih dan muak menatap wajah tidak berdosa Nigel yang sedang tersenyum kearahnya.


Nigel tidak memperdulikan ucapan pedas dari mulut gadis cantik itu, dia hanya menatap Nera dengan intens. Nigel sangat suka dengan ekspresi kesal dari Nera.


Bagi Nigel, itu sangat menggemaskan.


Tidak tau kenapa Nigek sudah sangat suka kepada Nera, padahal sebelumnya mereka tidak mengenal dan kalau bertemu selalu saja bertengkar sambil memandang tajam dan sinis juga.


Tapi selama ini, Nigel kalau berada di dekat Nera jantungnya akan berdebar sanga kencang dan di dalam perut seperti banyak sekali kupu-kupu yang berterbangan.


"Jauh, jauh lo." ucap Nera dengan nada sinis kepada Nigel yang masih menampilkan cengiran tidak jelas.


Bagi Nera, itu sangat menjengkelkan baginya.


"Nera, kenapa kamu cantik banget sih? Jadi makin terpesona aku." ucap Nigel dengan senyuman manis kepada Nera yang menatap ingin muntah.


Nera memutar bola matanya malas meladeni Nigel yang sangat gila bagi dirinya. Hari-harinya selalu seperti ini, dengan dia yang menghindar dan Nigel yang selalu mendekati tidak mau jauh-jauh darinya.


"Manis banget sih. Coba deh kamu senyum, Nera. Pasti lebih manis dan cantik banget." ucap Nigel yang masih mengikuti Nera di sampingnya.


Mereka sedang di jalan pulang sehabis dari Supermarket untuk membelikan cemilan untuk mereka semua yang sedang menunggu Oma Diana di Rumah Sakit.


Sebenarnya Nera akan berangkat bersama Danera, tapi Rio tidak mengizinkan dan setelah itu Nera akan berangkat bersama Almira tapi di cegah oleh Oma Diana. Sehingga Nera harus berangkat bersama Nigel yang mengajukan diri terlebih dulu dan dia tidak ada kerjaan disana.


Mau tidak mau, Nera bersama Nigel pergi ke Supermarket.


"Nera cantik, manis juga." celoteh Nigel sejak tadi hanya ucapan seperti itu tanpa yang lain membuat Nera makin muak mendengar.


"Assalamualaikum." salam Nera dan Nigel secara bersamaan membuat mereka saling tatap.


"Waalaikum salam." jawab mereka yang ada di dalam ruangan.


Saat Nera memegang knop pintu, Nigel pun sama memegang knop pintu sehingga tangan keduanya berpegangan tangan tanpa di sengaja. Nigek ataupun Nera saling menatap hingga tanpa sadar pintu ruang rawat kamar Oma Diana sudah terbuka menampilkan wajah cengo dari sahabat-sahabatnya.


"CIEEE... NERA SAMA OM NIGEL..."


"CIEEE... NERA SUDAH BESAR NIH, CIEEE..."


Sorakan dari Danera dan Almira yang sangat kencang memenuhi ruangan tetsebut sehingga membuat Nera melepaskan genggaman tangan dengan kasar.


Nera menghampiri kedua sahabatnya langsung berada duduk di tengah-tengah mereka dan membungkam mulut keduanya agar tidak makin menggoda.


Tidak tau kenapa, Nera sangat malu.


"HAHAHA..." tawa dari Almira dan Danera membuat Nera menggelamkan kepala ke pelukannya tiba-tiba.


Nera makin sangat malu karena mereka tidak memberhentikan godaan kepadanya.


Karena sejak dulu, Nera tidak pernah mau berdekatan dengan cowok. Sehingga bagi Almira dan Danera mereka sangat senang dan bahagia melihat sahabatnya yang sekarang sedang di dekati oleh seorang cowok.


Lalu Almira dan Danera pun tau bagaimana cowok itu. Bagi mereka, Nigel sangat baik dan cocok untuk Nera.


"Diem." ujar Nera menegur kedua sahabatnya sambil menatap tajam yang sering mereka takuti.


"Oke, oke. Ampun..."


***


Sejak kejadian itu, Almira dan Danera sangat menempel kepada Nera yang sedang memandang tajam dan hanya di balas dengan menyengir menampilkan deretan gigi putih mereka.


Nera hanya mendengus melihat itu. Nera memang tidak bisa marah ataupun mendiami Almira dan Danera lama-lama.


Senyum kecil terlihat dari wajah Nera membuat kedua sahabatnya ikut tersenyum langsung memeluk gadis itu dengan senang.


"Sesak gue." ujar Nera kesal karena kedua sahabatnya memeluknya sangat erat.


"Mau ikut gue gak?" tanya Almira menampilkan senyuman senang.


"Kemana memang?" balik tanya Danera dengan mengerutkan kening bingung.


Nera hanya menyimak saja dengan diam dan menatap mereka secara bergantian.

__ADS_1


"Rahasia. Yok." ajak Almira langsung menggandeng sebelah tangan Danera dan Nera menarik pergi tanpa sepengatahuan ke empat cowok yang masih ada di dalam ruang rawat Oma Diana.


Dilain tempat, ke empat cowok sedang bermain kartu kecuali Kenzo hanya melihat permainan mereka. Sudah di paksa pun masih tidak mau.


Siapa yang kalah akan di coret dengan bedak warna kuning punya Oma, Justin lah yang mengambil di lemari Oma Diana tanpa izin.


Tawa mereka menggelegar saat Nigel kalah lagi sehingga di seluruh wajahnya sudah banyak sekali ciretan bedak di mana-mana.


"Gel, lo kaya waria yang ada di lampu merah." ejek Rio sambil tertawa bersama Justin yang membuat Nigel mendengus kesal.


"Sialan lo." umpat Nigel karena sudah sangat kesal karena terus saja kalah.


Dari ketiga cowok itu yang paling banyak coretan adalah Nigel, lalu yang tidak ada coretan sama sekali adalah Rio. Tidak tau kenapa, Rio selalu menang sedari tadi.


"Om Ken, kenapa?" tanya Justin saat melihat Kenzo yang sepertinya sedang melamun memikirkan yang membuatnya seperti frustasi.


Rio menggelengkan kepala tanda tidak tau. Rio, Nigel dan Justin langsung menghampiri Kenzo lalu menepuk bahu kekar itu dengan pelan membuat si empu menatap datar tanpa ekspresi.


"Lo kenapa?" tanya Rio dengan nada sedikit serius kepada Kenzo yang dianggukki oleh Nigel dan Jistin menunggu jawaban dari Kenzo.


"Gak tau kenapa, gue gelisah sama hubungan gue sama istri gue." jawab Kenzo tanpa melihat mereka yang hanya memandang lurus ke depan menatap kosong.


"Gue gak tau, gue bisa menjalani ini apa tidak? Dulu gue memang bodoh sudah menyakiti hati Almira. Tapi semua gue lakuin, itu ada alasannya." sambung Kenzo.


Justin yang mendengar ucapan itu tiba-tiba merasakan rasa bersalah dan bingung. Tapi dirinya sudah berjanji kepada sang sepupu untuk hanya diam saja tanpa ikut campur.


Tapi, melihat Kenzo yang seperti putus asa seperti ini membuat dia menjadi gelisah. Justin sangat bingung untuk melakukan apa?


"Sialan, ketiga gadis itu pergi ke tempat sesuatu dan keluar dari area Rumah Sakit." ucapan Rio tiba-tiba membuat mereka menatap kearahnya dengan penasaran.


"Kenapa, Om?" tanya Justin bingung.


"Danera, Almira dan Nera pergi ke luar melewati area Rumah Sakit tanpa izin." jawab Rio sambil melihat ponselnya menunjukkan kearah ketiga laki-laki itu.


"Langsung kesana, Justin jaga Oma."


***


Teriak bahagia dari mulut Danera yang sangat nyaring membuat Almira dan Nera tertawa ringan melihat raut wajah senang dari sahabatnya itu.


Mereka sedang berada di taman bermain yang membuat mereka menjadi pusat perhatian tapi mereka tidak peduli. Rasa senang dan bahagia sangat mendominasi dari ketiga gadis cantik itu.


"Senang gak?" tanya Almira menatap kedua sahabatnya yang ada di depannya setelah mereka turun dari salah satu wahana bermain.


"SENANG BANGET." jawab Danera dengan nada semangat.


Nera mengangguk sambil tersenyum lebar. Almira yang melihat itu ikut senang dan tersenyum lebar melihatnya.


"Ternyata kalian disini."


Suara cowok membuat ketiga gadis itu membalikkan badan menjadi menoleh ke belakang, kedua mata melototkan terkejut saat melihat Kenzo, Nigel dan Rio sedang memandang datar.


Ketiga gadis itu mendengus kesal melihat para cowok itu, rasa senang dan bahagia tadi tiba-tiba berubah menjadi perasaan kesal.


"Mood gue tiba-tiba buruk." ujar Danera dengan nada kesal.


"Gue juga." sahut Almira dan Nera secara bersamaan dengan nada datar.


Tiba-tiba Nera menarik pergelangan tangan Almira dan Danera tanpa mempedulikan ketiga cowok yang mengikuti mereka. Para gadis merasa sangat risih selama ada ketiga cowok yang berprofesi sebagai Polisi.


"Hei, kalian mau kemana lagi, para gadis?" tanya Rio sambil mengikuti mereka.


Almira dan kedua sahabatnya sedang menaikki wahana berputar, tawa dan senyum sangat terpancar di wajah ketiga gadis itu membuat ketiga cowok yang melihat tersenyum senang.


"Kita menunggu saja disitu, jangan buat kebahagiaan mereka terengut." ujar Kenzo yang langsung di setujui oleh kedua sahabatnya yang sedang memandang mereka.


Kenzo melihat raut wajah Almira yang sedang tertawa lepas seperti tidak ada beban membuat hatinya merasa hangat.


Tiba-tiba, pandangan mereka saling menatap satu sama lain. Almira menampilkan senyuman manis dan mengangkat jempol kepada Kenzo yang langsung di balas senyuman dan anggukkan kepala.


Almira menoleh kearah Danera dan Nera melemparkan senyuman lebar kearah mereka yang langsung di balas sama seperti yang di lakukan Almira.


Almira ada yang menatap intens kearahnya membuat dia menoleh kearah Kenzo yang menaikkan satu alisnya bertanya. Kenzo hanya menjawab dengan senyum dan gelengan kepala.

__ADS_1


Mereka masih memandang satu sama lain sambil melemparkan senyuman lembut.


"Semoga ini adalah kebahagiaan yang terlama di hidup istri ku. Aku sangat mencintai mu, Almira Sayyida Alindra. Aku tidak akan pernah bosan mengucapkan seperti itu ke kamu, sayang."


***


"Almira, cepat belajar kita besok semester."


Ucapan Nera dengan nada tegas di sebelah Danera yang sedang fokus ke buku pelajarannya.


Mereka sedang berada di ruang rawat Oma Diana dengan sedang belajar buku pelajaran untuk hari besok karena semester.


Nera melihat Almira yang masih bersandar di dada bidang Kenzo dengan nyaman tanpa mempedulikan mereka semua yang melihat cengo, tidak jauh beda dengan Oma Diana dan Justin menatap aneh kearah Almira.


"Al, lo gak belajar hah?" tanya Danera sudah kesal melihat raut wajah Almira yang sangat santai.


"Gue tanpa belajar pun pasti bisa." jawaban Almira membuat mereka langsung menatap heran kearahnya.


Berbeda lagi dengan Kenzo yang tidak peduli kepada mereka yang sedang menatap, hati Kenzo menghangat dan sangat senang saat Almira dalam mode manja on kepadanya.


Kenzo sangat suka saat Almira bermanja kepadanya.


"Emang bisa gitu?" tanya Justin yang tidak tahan dengan keanehan yang sedang di lakukan sepupunya.


"Bisa. Gue kasih tau kalian semua." Almira sengaja menggantungkan ucapannya untuk melihat raut wajah penasaran dari mereka semua.


Almira menahan tawa yang akan keluar dari mulutnya, saat melihat raut wajah mereka.


"Gue itu sudah punya suami, tinggal minta doanya dan ridhanya pasti langsung di bantu sama Allah buat kerjain soal-soal semester besok."


Ucapan Almira membuat mereka cengo menatapnya, setelah itu Almira terkekeh kecil tak kuat menahan tawanya. Jentikkan di hidung mungil Almira dari tangan Kenzo membuat dia tersenyum kearahnya sambil menggoda menaikkan satu alisnya.


Oma Diana yang mendengar dan melihat apa yang di lakukan Almira kepada Kenzo membuat dia tersenyum senang dan hatinya lega.


"Sudah pintar sekarang ya." celetuk Oma Diana membuat Almira menatapnya.


"Iya dong, Oma." jawab Almira dengan nada semangat.


Justin hanya menatap kearah Almira meneliti setiap pergerakan dan tatapannya, tapi Justin todak melihat apapun yang aneh dan ke pura-puraan.


"Apa Almira sidah menerima? Atau hanya sebatas rencananya?" batin Justin masih memandang intens kearah sang sepupu.


Justin beralih menatap kearah Nera dan Danera yang masih cengo menatap kearah Almira atas jawaban tersebut. Apa mereka juga sedang bingung dengan perilaku Almira kepada Kenzo.


"Ner, Almira kenapa seperti itu? Memang tadi ada kejadian yang tidak gue ketahui." bisik Justin kepada Nera yang berada di sampingnya, hanya mereka berdua yang bisa mendengar bisikan itu.


Nera hanya menghendikan bahunya acuh membuat Justin cemberut kesal, tanpa di sadari kedua dari mereka ada seseorang yang menatap mereka dengan mengepalkan kedua tangan di bawah menyembunyikan. Raut wajah seorang itu sudah mengetat rahangnya.


Justin langsung duduk berada di samping Danera membuat cewek itu menaikkan satu alisnya bertanya kepada cowok itu.


"Kenapa Almira bisa bersikap seperti itu? Apa gue tinggalan kejadian yang terjadi antara mereka?" bisik Justin bertanya ke Danera membuat cewek itu langsung menoleh.


"Tadi di taman bermain, Almira sudah tersenyum kearah Kenzo dan merasakan bahagia kalau menatap Kenzo. Gak tau kenapa, gue aja heran sama Almira." jawab Danera dengan nada bisik hingga yang mendengar hanya mereka berdua.


Rio yang ada di samping Danera langsung saja dia sedikit mendekatkan badannya ke Danera tapi tidak sampai menyentuh. Rio juga tau batasan, dia mencintai Danera dan akan menjaga bukan merusak.


Wajah Justin sangat terkejut mendengar jawaban dari Danera, sedikit tidak percaya tapi itu nyata.


"Sebenarnya apa yang lo rencanakan Almira, lo gak akan tau bagaimana perjuangan Kenzo buat lo. Bila lo tau, lo pasti akan sangat menyesal sudah menyakiti Kenzo. Gue gak tau cara lo akan yang seperti apa, tapi gue berharap semoga lo tidak terlalu menyakiti hati suami lo, Almira." gumam Justin dengan nada sangat pelan agar tidak di dengar oleh mereka.


Tanpa sengaja, Almira saling menatap kearah Justin yang hanya diam memandang intens dan datar membuat Almira menyinggungkan senyum ke sepupunya.


Mencoba meyakinkan kalau dirinya sedang tidak berpura-pura kepada Kenzo, dia hanya sangat ingin manja kepada Kenzo tidak lebih ataupun ingin melaksanakan rencana balas dendamnya. Justin yang melihatbitu hanya mengangguk sambil diam mencoba percaya.


Almira sangat tau bagaimana Justin kalau sudah marah, bagi Almira itu sangat menyeramkan sehingga dia tidak berani mencoba membuat Justin marah.


Almira tau kalau Justin sangat menyayangi seperti adik kandung, mereka tumbuh bersama tanpa mau di pisahkan.


"Justin. Gue sayang lo, sayang banget."


Tiba-tiba Almira berlari memeluk lelaki itu dengan erat sambil menggelamkan wajahnya di dada bidang Justin. Justin hanya terkekeh melihat Almira yang dalam mode on manja. Justin sangat percaya kalau tadi yang di lakukan Almira tidak pura-pura.


"Mulai deh manjanya."

__ADS_1


__ADS_2