
“Almira tidak mau putus dengan pacarnya.”
Brug!
Kenzo dan Rio langsung saja menoleh ke belakang setelah mendengar suara jatuh yang sangat kencang.
Raut wajah terkejut yang terlihat dari kedua pria itu saat melihat sang Oma sudah terbaring di lantai. Tanpa basa-basi, Kenzo menggendong Oma menuju ke kamarnya dan Rio menelpon Dokter pribadi untuk ke rumah keluarga Alindra.
“Gue telfon Danera juga.” ucap Rio.
Setelah mengucapkan kata itu langsung saja mengotak-atik benda pipih yang ada di genggaman.
“Assalamualaikum, Dan.”
“Waalaikum salam, APE…”
Saat Danera berteriak sangat kencang, ponsel yang menempel di telinga Rio seketika dia jauhkan.
“APE OM?”
“Ekhem, lo sama Almira sekarang?”
“He’em.”
“Omanya Almira pingsan.”
“Apa-apa, tunggu.”
“OMANYA ALMIRA PINGSAN.”
Teriakan dengan hembusan panjang membuat Rio menarik nafasnya cepat.
Berbeda dengan Rio, ketiga cewek yang sedang bersantai di Caffe sambaing sekolah terkejut dengan ucapan Rio yang ada di benda pipih yang tergeletak di meja bundar.
Almira sangat takut mendengar itu, dengan cepat dia pergi tanpa pamitan yang langsung di kejar oleh Danera dan Nera mengikuti.
“Almira.”
“Roy.”
“Bolos, hem.”
Bukan pertanyaan melainkan pernyataan dengan tatapan tajam menghunus kearah Almira yang memutar bola matanya malas.
Almira tidak mengeluarkan suara dari mulutnya saat kedua temannya sudah ada di belakang.
“Banyak omong. Ayok, Al.” ujar Danera yang sudah malas menanggapi Roy di depan mereka.
Ketiga cewek pergi meninggalkan Roy yang masih mempertahankan raut wajahnya. Roy membalikkan badan menatap punggung ketiga cewek yang terkesan sangat tergesa-gesa.
__ADS_1
“Berhenti Almira. Kalau kamu masih melangkah lagi, kita putus.”
Ucapan Roy membuat ketiga cewek berhenti tanpa membalikkan badan, mereka sangat terkejut dan juga beberapa murid-murid yang ada langsung berhenti, mereka sangat tertarik dengan pembicaraan itu.
Seorang cowok yang berada di dalam mobil hanya menatap wajah Almira yang sedang menampilkan raut terkejut. Niatnya menjemput Almira, tapi dia mendapatkan pernontonan itu.
Dia menunggu jawaban Almira dan merasakan rasa takut di dalam hatinya.
“Kalau kamu memilih dia, aku mundur, Say.” ucap seseorang itu yang masih menatap Almira yang sudah membalikkan badan menghadap cowok berpakaian rapi menyandang ketua Osis.
Nera dan Danera hanya menatap Almira, mereka tidak berhak ikut campur.
Raut wajah Almira biasa saja, tidak ada yang tahu apa isi pikiran cewek berhijab itu. Semua menantikan jawaban Almira, sangat menantikan.
“Ka—“
“KITA PUTUS.”
Ucapan Almira yang sangat lantang membuat mereka semua yang melihat melototkan kedua mata tidak percaya, tidak jauh beda dengan Roy.
Danera dan Nera memandang sinis kearah Roy yang masih dilanda keterkejutan yang di sebabkan Almira.
Seseorang yang masih duduk di dalam mobil itu langsung melebarkan senyuman manis tanpa ada yang melihatnya. Dia sangat senang.
“Sudah kan? Gue tekan kan lagi, kita putus. Jangan pernah berurusan dengan gue lagi, Roy. Kita sangat berbeda dan juga kita tidak akan pernah bisa bersatu.” jelas Almira dengan nada santai tanpa beban.
“Ayo.” ajak Almira menggandeng pergelangan tangan kedua sahabatnya yang hanya mengangguk dan tersenyum.
“Sialan.”
***
“OMA…”
Teriakan sangat kencang dari mulut Almira langsung berlari ke pelukan sang Oma yang sedang terbaring di kasur menatapnya sangat datar tanpa ekspresi. Sebenarnya Almira bingung dengan wajah tidak suka dari sang Oma.
Tatapan itu yang sangat di benci oleh Almira saat sang Oma memandangnya. Almira mencoba mengingat apa dia mempunyai salah kepada sang Oma, tapi Almira tidak menemukan sama sekali, satu pun tidak.
“Oma kenapa bisa pingsan? Capek ya mengurus semuanya. Kan Al sudah bilang, biar suami Al aja yang mengurusnya.”
Ucapan Almira membuat semua membola kaget kecuali sang Oma hanya memandang datar.
Nera, Danera dan Rio menoleh kearah Kenzo masih mempertahankan raut wajah terkejut. Berbeda lagi dengan Kenzo yang memandang kearah Almira dengan tatapan yang sulit diartikan.
“Oma kenapa? Kok tatap, Al seperti ini?” tanya Almira dengan wajah tidak suka dan berkerut keningnya.
Tidak ada jawaban dari Oma yang membuat Almira menoleh kearah Kenzo untuk meminta jawaban. Tapi sebelum itu, mereka terkejut dengan ucapan Oma.
“Cucu durhaka.”
__ADS_1
Almira langsung saja menoleh kearah Oma yang sedang menatap tidak bersahabat. Tidak terasa, Almira meneteskan air mata. Kenzo yang ingin menghampirinya untuk menjelaskan di tatap tajam oleh sang Oma membuat dia berhenti tidak melanjutkan langkahnya.
“Saya kira, sudah mendidik cucu satu-satunya dengan baik. Ternyata saya salah.”
Suasana menjadi hening dan sangat mencengkam membuat mereka tidak berani mengeluarkan suara sekata saja.
“Pergilah, jangan pernah menemui saya. Ken, usir cewek ini. Oma sangat kecewa sama dia.” perintah Oma dengan nada tegas, tidak ada raut wajah pura-pura ataupun ragu-ragu.
“Om—“
“PERGILAH.”
Bentakan sangat kencang memenuhi ruangan tersebut membuat mereka terlonjak terkejut. Tidak jauh beda dengan Almira yang sangat-sangat terkejut mendengar bentakkan Oma untuk dirinya.
Almira langsung saja keluar dari kamar Oma dengan lari dan meneteskan air mata dari kedua matanya, ini sangat sakit di dalam hatinya.
Saat Danera dan Nera akan mengikuti Almira langsung saja di cegah kenzo, agar dia saja yang mengikuti sang istri. Saat mendapatkan persetujuan dari sang Oma yang menghela nafas panjang.
Kenzo langsung pergi ke Almira yang sudah duduk di depan taman bunga, masih menangis dengan menunduk.
“Al.” panggil Kenzo membuat Almira mendongakkan kepala dan menatap.
Kenzo duduk di samping Almira tanpa di suruh, menoleh kearah Almira yang sudah menatap lurus ke depan menghilangkan bekas air mata.
“Maaf. Ini semua salah ku.” ucap Kenzo membuat Almira menoleh kearahnya.
“Maksudnya?” tanya Almira dengan nada bingung dan penasaran tentunya.
“Oma tidak sengaja mendengarkan pembicaraan aku dengan Rio.” jawab Kenzo sedikit rasa keraguan.
“Tentang apa memang?” tanya Almira tidak sabar.
“Tentang kamu yang masih pacaran, padahal kita sudah menikah.”
Ucapan Kenzo membuat kedua tangan Almira mengepal sangat erat dan menatap Kenzo datar tanpa ekspresi. Padahal Almira sudah berbohong kepada Oma kalau dia waktu itu belum putus dengan Roy. Lalu sekarang karena Kenzo, Oma mengetahuinya.
“Lo—“
“Maaf.” ucapan tulus dari mulut Kenzo sambil menundukkan kepala tidak kuat menatap Almira yang sedang bergetar seluruh badannya.
“Tanpa di sengaja, lo buka kebohangan gue ke Oma. Gue memang ada rencana untuk putus sama Rio saat bohong sama Oma. Lau sekarang, gue sudah putus sama Rio dan sudah di cap cucu durhaka oleh Oma.” ujar Almira memandang Kenzo penuh amarah.
“Ma—“
“SEMUA INI KARENA LO.” bentak Almira dengan lantang membuat seluruh orang yang ada di rumah langsung keluar.
“GUE GAK BERMAKSUD BOHONGIN OMA GUE. TAPI LO DENGAN MUDAHNYA… GUE MAKIN MEMBENCI LO, GARA. GUE BENCI LO.”
“PUAS LO HAH? GUE KALAH, GUE KALAH. LO MENANG. GUE UDAH PUTUS SAMA RIO DAN JUGA UDAH BIKIN OMA KECEWA. PUAS LO SEKARANG GARA?”
__ADS_1
Setelah berteriak, Almira menghampiri Kenzo lalu membisikkan kata-kata di telingga yang membuat Kenzo termenung diam, bisikkan yang membuat Kenzo merasakan sakit di dalam hatinya. Hanya mereka yang mendengar.
“Gue pastikan lo akan menderita di pernikahan ini, sampai lo ingin menyerah. Gue bukan Almira dulu yang lo kenal, Almira dulu sudah hilang. Selamat datang di penyiksaan suami istri ini, Kenzo Sagara Samudra.”