Suami Pilihan Oma

Suami Pilihan Oma
EMPAT PULUH DUA


__ADS_3

"Mau membicarakan apa sih, Justin. Gue sudah sangat penasaran."


UcapanAlmira yang baru saja duduk di kursi restoran membuat Justin yang baru saja akan duduk terhenti lalu menghembuskan nafas lelah dengan pertanyaan itu terus dari mulut sang sepupu perempuannya. Saat di jalan juga yang di tanyakan oleh Almira hanya kata-kata itu saja dari mulutnya membuat Justin kesal mendengarnya, tapi Justin tidak bisa protes dia hanya diam saja membiarkan Almira terus saja bertanya dengan kata yang sama.


Justin mengerti dengan sifat Almira yang sangat ingin tau hal baru, bila tidak mendapatkan jawaban apapun maka Almira akan bertanya terus sama mendapatkan jawaban yang tepat bagi dirinya.


"Pesan makanan sama minuman dulu, Al. Gue capek jalan dari rumah sakit ke restoran ini, makanya gue laper sekarang." ujar Justin membuat Almira mendesah kecewa dengan jawaban sang sepupu.


Tidak membantah, Almira juga merasakan capek dan lapar jadinya dia mengiyakan ucapan Justin. Tanpa di ketahui Almira, Justin diam-diam menghembuskan nafas lega saat bisa mengalihkan pemikiran Almira.


Justin sebenarnya masih ragu dengan pembicaraan serius mereka nanti, tapi bila kelamaan maka nanti Oma Diana pasti mengomelinya dengan panjang kali lebar sehingga telinga Justin capek mendengarnya.


Justin memanggil pelayan di restoran tersebut lalu di tunjukkan pesanan tanpa bertanya kepada Almira, karena Almira pasti menerima makanan apapun dari pilihan Justin. Almira tidak pilih-pilih dalam hal makanan, makanya dia santai saat di pilih oleh Justin.


Almira suka semua makanan yang membuat dia kenyang dan murah tentunya. Almira lebih suka gratis lebih tepatnya.


Selang beberapa menit, pelayan tadi datang sambil membawa makanan mereka lalu menaruh di meja bundar bewarna coklat dengan hati-hati.


"Terima kasih." ucap Almira sambil menampilkan senyum andalannya.


Berbeda lagi dengan Justin yang hanya menatap datar tanpa ekspresi, sangat berbeda saat berbicara kepadaAlmira yang seperti biasanya.


Almira menatap Justin dengan pandangan kesal saat melihat pelayan itu seperti takut hanya menatap wajah tampan Justin, tanpa aba-aba Almira menjentikkan di kening Justin agar cepat merubah raut wajah datar seperti biasa.


Anggukkan kecil dari kepala Justin dan tersenyum kearah Almira membuat gadis itu menghela nafas berat menatap Justin yang seperti biasa seperti tidak punya kesalahan apapun. Sungguh, Almira sangat kesal.


"Selamat makan." ucap Justin yang di anggukki sambil tersenyum dari bibir Almira.


Mereka berdua memakan makanan yang ada di depan matanya dengan lahap sambil di selingi canda tawa kecil.

__ADS_1


Tanpa sepengetahuan mereka berdua, ada seorang pria yang sedang memandang dari kursi belakang dengan tatapan datar tidak ada ekspresi apapun.


Memakai jaket hitam, celana hitam, sepatu hitam, dan juga topi yang menutup wajahnya bewarna hitam juga. Menatap kearah Almira dengan perasaan yang menahan emosi dan marah.


"Almira Sayyida Alindra, tunggu saja waktu saat lo hancur sehingga membuat lo putus asa dan ingin bunuh diri lalu menghilang dari bumi ini. Hari itu akan pasti sangat menyenangkan dan bersejarah bagi diriku." ucapnya dengan nada sangat pelan sehingga tidak ada yang bisa mendengar lalu pergi meninggalkan restoran tersebut.


Beralih ke tempat Almira dan Justin yang sudah selesai memakan yang ada di depan mereka dengan cepat. Almira meletakkan segelas air yang berisi air jeruk itu lalu menatap kearah Justin dengan wajah serius sambil menaikkan satu alisnya bertanya.


"Dengarkan baik-baik, jangan memotong ucapan ku." peringat Justin dengan wajah serius.


Almira mengangguk berkali-kali sambil menunjukkan jari kelingking ke depan Justin dengan senyuman manis. Almira melihat kalau Justin sedang menghela nafas panjang membuat dia merasa heran dengan perilaku sang sepupu.


Bagi Almira, Justin hari ini sangat aneh dan susah di tebak seperti Kenzo.


"Oma menyuruh ku untuk memberitahu kamu, Al. Setelah lulus kamu harus mengurus perusahaan Oma dan butiknya, semua aset sudah di serahkan atas nama kamu, Almira. Maka kamu jangan mengambil kuliah Kedokteran di masa depan nanti, aku tau kalau kamu sangat menginginkan menjadi Dokter. Tapi-"


"Apa maksud kamu, jelas-jelas kamu tau kalau aku sangat menginginkan menjadi Dokter. Kenapa tidak kamu saja yang mengambil? Kamu kan bisa masalah tentang bisnis, aku malah tidak tau apa-apa Justin." belum sempat Justin meneruskan ucapannya Almira langsung memotong dengan ucapan panjang dengan nada sinis dan serius.


"Tolak saja keinginan Oma." ucap Almira dengan nada singkat lalu memalingkan pandangannya kearah jendela yang menampilkan jalan raya yangbanyak sekali kendaraan ataupun orang berjalan berlalu lalang.


"Aku sudah menolaknya, Almira. Tapi ini perintah dan kamu harus menurutinya, suka ataupun tidak suka. Aku tidak mau tau, kamu harus meneruskan perusahaan Oma dan butik Oma Diana yangtelah di bangun sejak lama. Mengerti Almira Sayyida Alindra?"


Setelah Justin mengatakan panjang sekali kata-katanya, dengan cepat pria itu pergi meninggalkan Almira sendiri. Sebelum itu Justin sudah membayar pesanan mereka di kasir.


Saat melihat Justin sudah benar-benar hilang, kepala Almira menelungkupkan di meja bundar itu dengan memejamkan kedua mata memikirkan apa yang di katakan Justin.


Dia bingung dan frustasi.


Almira sejak kecil sudah bercita-cita menjadi seorang Dokter terbaik, tapi kenapa saat sudah besar malah dirinya tidak bisa menjadi seorang Dokter. Almira sangat pusing sekarang ini, tidak tau harus bagaimana.

__ADS_1


"Sayang, kamu kenapa?"


Suara itu membuat kepala Almira menjadi mendongak menatap seorang pria yang sedang menatap khawatir kepadanya membuat dia langsung berdiri menatap.


"Kenzo?" panggil Almira dengan wajah terkejut.


***


"Apa anak itu menerimanya atau tidak?"


Pertanyaan keluar dari mulut wanita tua menatap seorang pria yang baru saja membuka pintu ruang rawatnya, mengetahui seorang itu adalah Justin makanya wanita tua itu langsung memberikan pertanyaan sedari tadi dia tahan hanya menunggu Justin datang membawa kabar bahagia.


Sebelum menghampiri Oma Diana dan duduk, Justin lebih dulu menghela nafas makin pusing di buatnya. Tidak tau harus bagaimana dengan kedua perempuan yang sama-sama mempunyai sifat keras kepala dan tidak mau kalah satu sama lain.


Beruntung saja Justin sabar menghadapi mereka berdua.


Justin terlebih dulu duduk di samping brankar Oma Diana, Oma yang melihat itu langsung duduk menatap Justin sepenuhnya membuat pria itu mengepalkan kedua tangan.


"Justin, bagaimana?" tanya Oma Diana tidak sabar dengan kabar dari Justin.


"Awalnya Almira tidak mau, tapi aku bilang kalau dia harus melaksanakan perintah ini, suka maupun tidak suka. Lebih tepatnya dengan ancaman tidak mau ada penolakkan." jawab Justin yang langsung membuat kedua mata Oma Diana berbinar sinar merasakan senang.


Melihat raut wajah senang dan berseriseri dari raut wajah Oma Diana membuat Justin ikut tersenyum kecil meskipun di dalam hatinya sedang resah dan gelisah meninggalkan Almira sendiri.


"Kamu memang bisa di andalkan, Justin. Oma sangat berterima kasih kepada kamu, Nak. Sebentar lagi akan hari kelulusan Almira, saat itu juga saya akan berhenti dari perusahaan dan butik agar langsung di ganti sama Almira." ucap Oma Diana dengan nada semangat berkobar penuh di dalam tubuhnya.


"Tapi ingat pesan saya, Oma. Bila Almira sudah lelah, maka detik itu juga Almira tidak boleh mengurus perusahaan ataupun butik. Bagaimana Oma ku?" tanya Justin dengan nada serius di setiap perkataannya satu persatu.


Oma Diana menoleh kearah Justin dengan wajah datar tidak ada ekspresi, Oma Diana tau kalau Justin sangat menyayangi Almira seperti adek kandungnya sendiri.

__ADS_1


"Deal. Oma akan selalu mengingat ucapan kamu Justin."


__ADS_2