Suami Pilihan Oma

Suami Pilihan Oma
EMPAT PULUH


__ADS_3

"Semua yang ku punya di ambil sama dia, dasar."


Ucapan gadis berhijab instan bewarna merah muda sedang duduk di taman rumah sakit dengan menatap lurus ke depan, duduk sendirian tanpa ada teman satu pun.


Gadis itu menghela nafas saat tidak sengaja bertatapan dengan Kenzo yang sedang berdiri menatapnya lega. Tapi bagi Almira, dia sangat kesal dan lelah dengan pria yang ada di depannya beberapa langkah yang masih jauh.


Tanpa sadar Almira mengepalkan kedua tangan di dalam saku tidak ada yang tau.


Dengan cepat Kenzo berjalan menghampiri Almira yang sedang duduk di kursi panjang bewarna putih di antara dua kursi yang berada di sampingnya. Kenzo langsung menempati di sebelah Almira sambil menatap gadis itu sangat lekat membuat gadis itu risih karena di tatap terus tanpa beralih atau pun berkedip.


"Kamu kenapa, hem? Oma Diana cari kamu." ucap Kenzo yang langsung membuat Almira menatapnya dengan pandangan datar.


Almira hanya menatap Kenzo saja tidak mengeluarkan ucapan apapun, tanpa di ketahui Almira, Kenzo menghela nafas pelan.


Pergelangan tangan Almira tiba-tiba di tarik paksa oleh Kenzo dengan raut wajah dingin dan datar membuat gadis itu hanya diam. Selama perjalanan, Almira masih tidak mengeluarkan suara apapun kepada Kenzo.


"Aku sangat khawatir ke kamu, kenapa kamu seperti ini, Almira Sayyida Alindra?" ucap Kenzo dengan nada frustasi.


Kenzo melihat ke belakang kearah Almira yang hanya menatap dengan diam. Tanpa sadar genggaman tangan Kenzo yang ada di pergelangan tangan menjadi cengkraman.


"Akh..." ringis Almira merasakan sangat sakit di pergelangan tangan.


Mendengar ringisan itu dari Almira membuat hati Kenzo makin takut. Saat melihat ke belakang, Almira menampilkan raut wajah kesakitan sambil memegang pergelangannya yang masih dia cengkram.


Setelah sadar, Kenzo melepaskan cengkraman di pergelangan tangan Almira.


Saat lepas, Almira langsung melihat ternyata ada lingkaran merah yang sangat terlihat. Meniup pelan tanpa menatap Kenzo yang menatapnya khawatir dan sendu kepadanya.


Grep!


Pelukan hangat yang tiba-tiba di terima oleh Almira dari Kenzo membuat seluruh tubuhnya menjadi membeku di tempat.


Almira mendengarkan kata maaf terus di telinganya dengan nada berat membuat gadis itu membalas pelukan hangat itu sambil mengelus bahu Kenzo dengan lembut.


"Aku benci sama kamu, tapi kenapa aku merasakan rasa nyaman makin besar di hati ku lagi, Kenzo. Semoga saja aku tidak merasakan jatuh cinta lagi ke kamu yang seperti dulu. Tidak akan pernah." batin Almira menatap lurus ke depan.


***


"Almira, cucu Oma yang tersayang."


Sapaan dari mulut Oma Diana membuat gadis yang sedang di genggam tangan oleh Kenzo mengangkat wajahnya menatap Oma Diana yang sedang tersenyum manis kearah.


Almira meremas genggaman tangan membuat Kenzo menoleh kearahnya dengan pandangan lekat, di balik wajah yang santai sebenarnya Kenzo sudah merasakan rasa gelisah dan khawatir kepada Almira.


Melihat Oma Diana yang masih menampilkan senyuman manis, Almira menatap banyak sekali alat yang terpasang di tubuh Oma Diana membuat gadis itu ingin sekali menangis dan memeluk Oma Diana sangat erat.


Tapi, itu semua tidak terjadi karena ego di dalam diri Almira sangatlah tinggi. Almira berjalan mendahului Kenzo yang berada di belakangnya. Oma Diana melebarkan kedua tangan untuk bermaksud agar Almira masuk ke dalam pelukannya.


Almira yang melihat itu tiba-tiba hatinya menjadi sesak, tanpa sadar dengan egonya Almira masuk ke dalam pelukan hangat dari Oma Diana. Setelah itu, Almira memeluk Oma Diana erat tapi tidak membuat wanita tua itu menjadi sesak dan tiba-tiba Almira menangis sangat kencang karena hatinya makin sesak mendapatkan pelukan dari Oma Diana.

__ADS_1


"Al sayang banget ke Oma, sayang banget." bisik Almira yang di balas senyuman tanpa di lihat oleh sang cucu.


"Oma tau, Oma juga sangat sayang ke Al. Sangat besar rasa sayang Oma ke kamu, Almira cucu Oma yang cantik." balas Oma Diana yang mendapatkan anggukkan kepala.


Kenzo hanya melihat dengan diam mereka berdua yang masih tidak mempedulikan dirinya. Tidak suka dengan Almira yang mengacuhkan dirinya, Kenzo berjalan di samping Almira lalu mengelus puncak kepala gadis itu membuat Almira terlonjak karena terkejut.


Oma Diana maupun Almira menoleh menatap Kenzo yang masih mengelus lembut sambil menatap kearahnya tanpa beralih sedikitpun. Fokus Kenzo hanya mengarah ke Almira, tidak menoleh kearah Oma Diana sama sekali membuat wanita tua itu tersenyum geli melihat mereka.


"Kenapa?" tanya Almira menaikkan sebelah alisnya kepada Kenzo yang hanya di balas dengan deheman saja.


Almira menghendikkan bahu acuh membuat Kenzo menatap kesal kearah gadis itu yang langsung di pahami oleh Oma Diana.


"Haduh... Oma sangat ngantuk, Oma tidur dulu ya." ucap Oma Diana sambil menguap dan membereskan tempat tidurnya untuk menyiapkan.


Oma Diana berbaring lalu menampilkan senyuman manis kepada Almira ataupun Kenzo, bergantian. Setelah kedua mata Oma Diana terpejam dan suara dengkuran halus keluar dari mulut wanita tua itu.


Almira menoleh kearah Kenzo dan menatapnya kesal, sebab Kenzo hanya diam saja saat dia ajak bicara. Itu yang membuat Almira sangat kesal dengan sifat pendiam Kenzo.


"Kenapa sih?" tanya Almira sekali lagi dengan pertanyaan yang sama.


Kenzo menarik kedua tangan Almira untuk ia genggam lalu membawa Almira ke sofa sedikit jauh dari tempat tidur Oma Diana. Mereka duduk berdampingan dengan saling tatap, Almira menatap penasaran dan bingung, berbeda lagi dengan Kenzo yang menatap lekat dan dalam untuk menyelami kedua mata indah dari Almira.


"Kenapa, hem?" tanya Almira dengan nada lembut dengan pertanyaan yang sama sambil mengusap sebelah pipi Kenzo.


Hati Kenzo menghangat merasakan elusan lembut dari tangan mungil Almira, dia sangat senang dengan perlakuan manis dari sang istri kecilnya.


Kenzo menghela nafas saat melihat raut wajah santai dan biasa saja dari Almira, lalu melanjutkan ucapannya.


"Maaf untuk masalah masa lalu kitayang sangat menyakitkan, aku tidak bermaksud membuat kamu sedih dan kecewa sama aku. Tapi waktu itu memang harus yang ku lakukan buat kamu, maaf sekarang belum waktunya tepat untuk aku membicarakan masalah ini. Aku janji, aku akan mengatakan semuanya saat waktunya tiba dan kamu mulai mencintai ku lagi." lanjut Kenzo dengan memegang kedua tangan Almira erat.


"Hah?" ucap Almira yang tidak kuasa mengatakan apapun kepada Kenzo.


Tiba-tiba lidahnya kelu tidak bisa di gerakkan mendengar ucapan Kenzo yang sangat panjang dan membuat gadis itu terkejut.


Apa maksudnya ini?


"Tidak apa-apa kamu masih belum menerima ku atau mencintai ku lagi, tapi disini aku yang akan berjuang untuk mendapatkan cinta mu lagi, Almira Sayyida Alindra. Tunggu saja waktunya tiba, waktu yang akan menjawab dan Allah yang akan membuat hati kamu untukku, sayang."


***


"Kamu gak ingin beli makanan ringan, tenang saja aku kok yang bayarin."


Ucapan bernada sombong membuat Nera yang berada di sampingnya yang sedang menoleh ke kanan ke kiri langsung menoleh kearah pria yang sednag tersenyum lebar. Nera memutar bola matanya malas menghadapi Nigel yang sangat gila, bagi dirinya.


Selalu saja kalau berbelanja pasti dirinya dan cowok gila ini, kenapa harus dengan Nigel? Nera terima saja kalau dirinya di suruh berbelanja, tapi tidak juga dengan Nigel.


Nera sangat frustasi sejak tadi akibat ucapan aneh dari mulut Nigel sedari tadi tanpa henti.


"Oh, kamu mau yang ini?" ucap tanya Nigel saat melihat Nera memegang makanan ringan yang berukuran besar bewarna merah bergambar singkong.

__ADS_1


Nera yang mendapatkan pertanyaan itu langsung saja menaruh makanan ringan itu lagi di tempat raknya membuat Nigel mengerutkan kening bingung.


Nera beralih memegang makanan ringan yang di dalamnya isi coklat. "Kamu mau yang ini?" tanya Nigel lagi membuat Nera menaruh kembali makanan ringan itu di tempatnya.


Sedari tadi Nigel bertanya dengan ucapan yang sama saat Nera memegang makanan ringan membuat gadis berhijab putih itu kesal, menatap Nigel tajam seperti ingin memangsa pria itu hidup-hidup membuat pria yang berada di sampingnya sambil mendorong keranjang menyengir menampilkan deretan gigi putihnya kepada Nera.


Saat Nera memegang makanan ringan lagi yang berisi kacang di dalamnya, Nigel bersuara kepada Nera. "Kamu mau ya-"


"Mau gue bunuh lo?" sahut Nera memotong ucapan Nigel dengan menatap tajam dan mengeluarkan aura menyeramkan membuat sekelilingnya tiba-tiba merinding takut dan merasakan sangat dingin.


Nigel menggaruk tengkuknya yang tidak gatal sambil menatap kearah lain tidak berani menatap kedua mata yang tajam itu, padahal niat Nigel sebenarnya baik untuk membelikan makanan ringan untuk Nera tapi malah mendapatkan perkataan dan perlakuan yang sangat menyakitkan bagi hatinya.


Nigel tidak tau saja, Nera sangat risih di tatap oleh semua orang karena Nigel.


Nigel tampan, seksi, berkharisma dengan baju bewarna putih yang bermerek. Itu yang membuat mereka semua menatap Nigel dan Nera secara berganti lalu berbisik-bisik kalau Nera tidak cocok berjalan bersama Nigel.


Nera sangat kesal dan marah kepada mereka. Lalu Nigel tidak mengerti dan malah menjadi-jadi. Nera tidak suka menjadi pusat perhatian apapun, sama seperti Almira dan Danera.


"Cepat pilih belanjaan, lalu setelah itu ke rumah sakit." ucap Nera dengan wajah datar yang langsung di anggukki oleh Nigel.


Nera berjalan keluar lalu masuk ke mobil bewarna silver yang mereka pinjam ke Justin. Nigel sedari tadi menatap Nera dari mulai keluar supermarket sampai duduk nyaman di dalam mobil.


Saat berada di kasir, ada seorang ibu-ibu datang kepadanya dan tersenyum membuat Nigel ikut tersenyum meskipun kaku.


"Sini sayang." panggil seorang ibu itu kepada seorang perempuan yang tidak memakai hijab dan rambut panjang yang sudah di kasih warna merah.


Nigel hanya diam menatap ibu dan anak sedang berbisik tidak tau membicarakan apa, saat belanjaan Nigel sudah selesai dan akanpergi dari sana. Wanita tua itu mencegah dengan memegang tangannya, tanpa sadar Nigel menghempaskan tangan itu membuat wanita tua tersenyum canggung.


"Ada apa ya, Bu?" tanya Nigel mencoba sopan.


"Saya mau memperkenalkan anak saya, Nak. Siapa tau cocok dan menjadi jo-"


"Maaf, saya sudah punya tunangan. Mari." sahut Nigel dengan wajah datar lalu berlalu begitu saja meninggalkan kedua wanita yang sedang menatap terkejut.


"Cowok itu sudah punya tunangan..." gumam cewek yang berada di samping wanita tua tadi dengan wajah lesu dan sedih menatap Nigel yang memasuki mobil bewarna silver.


Di lain tempat, Nera sedari tadi hanya menatap gerak-gerik dari Nigel tanpa sepengetahuan cowok tersebut. Tidak tau kenapa saat mendengar Nigel sudah mempunyai tunangan, hati Nera tiba-tiba sakit dan nyeri dengan ucapan cowok yang selama ini selalu berada di dekatnya.


Saat perasaan Nera kepada Roy sekarang sudah hilang, tidak tau kenapa dirinya saat bersama dengan Nigel selalu jantungnya berdetak sangat cepat dan hatinya merasa senang.


Nera sangat bingung dengan hati dan pikirannya yang sama-sama tidak sejalan, sehingga membuat dirinya menjadi pusing kepala.


Saat mendengar pintu terbuka, Nera pura-pura memejamkan kedua mata karena tidak kuat menatap Nigel yang bisa membuat dirinya senang dan berdetak tidak karuan.


Elusan lembut dari Nigel di puncak kepala Nera membuat gadis itu menegang di tempat. "Selamat istirahat, calon tunangan ku." ucapnya.


Nera yang mendengar itu merasa sangat terkejut, perasaan Nera sangat senang sekarang ternyata dirinya lah yang di maksud Nigel tadi.


"Apa gue sedang jatuh cinta?" batin Nera melanjutkan tidurnya ke alam mimpi.

__ADS_1


__ADS_2