
"Kenapa rasa sakit ini datang lagi... Jangan sampai Almira tau. Harus kuat, harus kuat tidak boleh lemah hanya karena penyakit ini..."
Suara lirih dari dalam kamar mandi tengah malam jam dua dini hari dengan tarikan di rambut hitam legamnya yang mulai acak acak sambil memejam kan kedua matanya, tubuh tegap itu meluruh ke bawah ke lantai dingin dengan senderan di dinding sambil menunduk kan wajahnya.
Rasa sakit terus saja dia rasa kan tanpa bisa mereda membuat dirinya mengeluar kan geraman tapi mencoba untuk menahan dengan menutup mulutnya agar tidak keluar geramannya. Rasa sakit yang seperti dulu, sekarang dia rasa kan kembali.
"Aku harus sehat, aku pasti bisa sehat, pasti bisa." gumamnya lagi dengan mengusap wajahnya dengan kasar yang sudah banyak sekali keringat berkucuran tiada hentinya.
Tarikan yang seperti jambakan sangat kencang terus saja dia lakukan tanpa henti, tetapi rasa sakit tidak mereda sedikit pun membuat dirinya frustrasi merasa kan rasa sakit yang ada di kepalanya. Menyender kan kepalanya ke dinding dengan pelan lalu menatap ke atas mencoba untuk menikmati rasa sakit yang ada di kepalanya sambil menutup matanya saat merasa kan rasa sakit yang luar biasa baginya, menatap atas dengan membayang kan wajah cantik Almira sang istri sedang tersenyum ke arahnya membuat dia tiba tiba berkaca kaca dengan sendu, tanpa di sengaja.
Kenzo merasa putus asa karena penyakit yang dia alami selama ini, padahal penyakit ini sudah dia sembuh kan saat masa kecil. Tetapi Kenzo tidak menyangka kalau penyakit ini akan datang lagi.
Rasanya sangat sakit, sangat lah sakit.
Kenzo mengingat saat dirinya bersama Almira saat waktu kecil, betapa indahnya mereka bersama saat sebelum ada kejadian yang di mana dirinya harus membuat Almira membenci agar tidak mencari dirinya saat Kenzo mulai pergi meninggal kan gadis imut tersebut. Tetapi ternyata perkiraan Kenzo salah, karena Almira masih sangat mengingat dirinya dan kesalahannya sehingga Almira sangat membenci sampai masa remaja.
Kenzo terkekeh kecil sambil menunduk kan wajahnya bersembunyi di area kakinya dan tangannya yang bersekedap, Kenzo merasa dirinya sangat bodoh sudah mengecewa kan perempuan yang sangat dia cintai saat pertama kali bertemu di masa kecil.
Tiba tiba bayang bayang pernikahan mereka saat Almira sedang membencinya membuat Kenzo mengusap wajahnya dengan kasar sambil merasa kan rasa sakit di kepalanya yang makin menjadi jadi rasa sakit tersebut, tetapi Kenzo mencoba untuk menahannya.
"Aku sangat mencintai kamu sayang, aku berdoa semoga kamu tidak pernah mengetahui penyakit yang aku rasa kan sekarang ini. Aku tidak mau membuat kamu sedih dengan hal ini, aku akan selalu buat kamu bahagia selama kita bersama sampai sampai kamu tidak bisa melupa kan kenangan tersebut." gumam Kenzo dengan suara lirih dan pelan lalu memejam kan kedua matanya sambil mengepal kan kedua tangan di atas kepalanya.
***
Beberapa minggu kemudian...
__ADS_1
"Huek... Huek... Huek..."
Suara mual sedari tadi terdengar makin jelas membuat Kenzo yang sedang tidur langsung membuka kedua matanya untuk melihat siapa yang mual, raut wajah khawatir langsung tercetak jelas saat melihat Almira yang sedang mual di kamar mandi tanpa menutup pintunya.
Kenzo langsung berjalan menghampiri tidak mempeduli kan dirinya yang masih nyawanya belum terkumpul karena bangun tidur, mereka baru saja sampai di Jakarta semalam yang sudah berada di kamar rumah mereka sendiri. Kenzo mengurut leher belakang Almira dengan jari jarinya dan sebelah tangannya memegang rambut panjang sang istri yang belum memakai hijabnya.
"Kamu tidak apa apa kan sayang? Kamu sih kemarin saat mau pulang makan seblak, padahal sudah malam. Kan, jadi gini." omel Kenzo sambil mengurut dengan beruntun di Almira yang menghela nafas panjang setelah tidak mual lagi.
"Kamu selalu gitu Mas, padahal kan aku cu- Huek." belum sempat Almira menyelesai kan ucapannya, Almira lebih dulu mual lagi langsung saja mengarah kan wajahnya ke walk in closet yang ada di kamar mandinya.
"Kita ke rumah sakit ya, sayang." ucap Kenzo dengan nada khawatir membuat Almira menoleh ke arah suaminya yang sedang memandang sendu dan takut tercetak jelas di raut wajahnya.
"Tidak perlu Mas, sepertinya aku masuk angin karena semalam kita kan berhenti dulu tidak langsung pulang. Jangan khawatir Mas, tenang saja aku kuat kok." ujar Almira dengan jawaban lembutnya sambil mengusap lembut rambut yang tidak rapi itu.
Kenzo memilih diam tidak menjawab dan menatap Almira dengan sendu karena istrinya itu mual lagi tidak habis habisnya membuat dirinya sangat takut.
Melihat Almira tidak protes membuat Kenzo lega, langsung saja dia membawa sang istri ke mobil dan langsung mengendarai ke rumah sakit yang seperti biasa langgangannya.
Setelah sampai di rumah sakit begitu cepat karena Kenzo mengendarai mobilnya sangat lah cepat, kedua mata Almira dia tutup dengan sebelah tangannya agar sang istri tidak melihat bagaimana ugal ugallannya. Kenzo langsung saja menggendong ala koala dan membawa ke Dokter keluarganya yang membuat para pasien dan para dokter atau suster pun menatap mereka dengan pandangan berbeda beda, Kenzo tidak mempeduli kan yang penting Almira sudah di periksa lebih dulu.
Brak.
Pintu ruangan serba putih di dobrak oleh Kenzo membuat Almira yang berada di gendongannya langsung saja mencubit dada bidang Kenzo membuatnya meringis dan menatap ke arah sang istri yang sedang menatap tajam, Kenzo membalas tatapan dengan senyuman manisnya membuat Almira mendengus kesal saat mendapat balasan dari suaminya.
"Kenzo, kamu tuh ya. Tidak bisa apa, pelan pelan, selalu saja seperti ini kamu." ucap sang Dokter sambil menghela nafas menatap ke arah Kenzo yang sedang menduduk kan Almira di depannya hanya terhalang meja kaca bewarna hitam lalu pria itu juga duduk di samping istrinya.
__ADS_1
"Sudah lah Paman, sekarang cepat periksa istri aku." jawab Kenzo membuat Almira menepuk lengan suaminya karena ucapan dari pria di sampingnya itu terdengar tidak sopan.
Berbeda lagi dengan sang Dokter yang di panggil Paman oleh Kenzo hanya bisa menghela nafas saja karena anak dari kakaknya itu selalu seperti ini kalau dirinya sedang bekerja, seenaknya saja.
Kenzo melihat kalau istrinya berbaring di brankar lalu di periksa oleh Pamannya dengan pengawasan yang ketat dari Kenzo, lalu selesai dari pemeriksaan Almira di tanyai berbagai pertanyaan yang membuat dirinya menegang di tempat. Kenzo dan Almira sudah kembali di duduk sebelumnya dengan di depannya Pamannya.
"Selamat! Almira hamil dan kandungannya sudah berumur dua minggu, kamu akan menjadi seorang Ayah, Kenzo. Jaga kandungan Almira karena masih lemah dan jangan makan yang aneh aneh ya Nduk. Periksa ke Paman saja kalau kesini, nanti Paman kasih jadwal buat pemeriksaan buat kandungan kamu."
Ucapan dari Dokter yang berstatus Paman dari Kenzo membuat pasangan suami istri itu membeku di tempat, perasaan hangat menjalar di tubuh mereka, mereka sangat senang dan tidak percaya kalau mereka akan menjadi orang tua.
Sebelah tangan Kenzo menjulur ke perut Almira yang masih rata dan mengelusnya pelan pelan karena masih belum percaya kalau dirinya akan menjadi seorang Ayah, Almira menatap dengan diam ke arah Kenzo yang juga menatap dirinya dan senyuman manis nan lembut di tunjuk kan oleh pria tersebut ke arah Almira membuat Almira ikut tersenyum manis.
Sejak tadi Paman dari Kenzo menatap ke arah pasangan suami istri itu, dirinya juga senang saat mengetahui kalau menantu sedang hamil. Dirinya melihat betapa cintanya seorang Kenzo kepada Almira dan betapa perjuangan panjang dari ponak kan tersebut. Langsung saja Dokter tersebut menghubungi nomor kakak laki lakinya yang berstatus orang tua dari Kenzo sehingga menyadar kan dari keterdiaman Kenzo dan Almira, langsung saja menatap pria yang ada di depannya dengan senyuman lembut.
Cup.
Kenzo mencium sebelah pipi Almira dengan pelan saat mereka menatap ke arah Dokter yang ada di depannya sudah membelalak terkejut tidak habis pikir dengan ponak kannya tersebut, berbeda lagi dengan Almira yang tersenyum malu ke arah Dokter tersebut.
"Paman, kalau gitu kami permisi dulu." pamit Kenzo dengan sopan membuat Dokter tersebut mengangguk dan terkekeh mendengarnya, bagi Dokter tersebut Kenzo seperti itu sangat lucu dan konyol.
Kenzo dan Almira langsung keluar dari ruangan tersebut dengan saling menaut kan tangannya dan Kenzo berjalan pelan pelan takut kalau Almira tersandung atau apa itu, Kenzo sangat menjaga Almira seperti gelas yang akan pecah.
Almira hanya pasrah dan merasa senang dengan perlakuan Kenzo kepadanya, dia sangat senang sekali dengan cara menjaga dirinya. Kenzo memang sangat tau apa pun tentang dirinya, sehingga sang suami melakukan yang terbaik untuk dirinya.
"Kita akan menjadi orang tua sayang, aku sangat bahagia. Terima kasih, terima kasih banyak." bisik Kenzo tepat di samping telinga Almira membuat perempuan itu menoleh dengan senyuman manisnya.
__ADS_1
Almira melihat raut wajah bahagia dan pancaran kedua mata yang berbinar membuat Almira senang, Almira merasa dirinya nyaman di dekat Kenzo dan senang sudah membuat pria itu merasa bahagia. Mengingat dirimya dulu yang selalu membuat Kenzo kecewa membuat Almira menyesal dan dirinya akan membuat Kenzo bahagia bersama.
"Aku akan menjadi seorang Ayah, maka akau harus berjuang untuk sembuh dari penyakit ini." batin Kenzo menguat kan dirinya sendiri sambil menatap sendu ke arah Almira yang sudah menatap lurus ke depan.