Suami Pilihan Oma

Suami Pilihan Oma
EMPAT PULUH TIGA


__ADS_3

"Kamu kenapa? Ada apa? Ada masalah? Cerita dan kenapa keluar gak izin dulu ke aku?"


Pertanyaan dari mulut Kenzo kepada Almira yang sedang membalikkan buku menu tanpa melihat lawan bicara. Almira hanya diam tidak menjawab, mengalihkan pandangan dengan kesibukkannya sendiri dan mengacuhkan Kenzo.


Kenzo berdiri dari duduknya langsung duduk di sebelah Almira, sangat dekat sekali sampai mereka saling bersentuhan.


Grep!


Kenzo memeluk Almira dari arah samping membuat gadis itu menegang di tempat, tidak tau harus ngapain saat Kenzo tiba-tiba melakukan hal aneh bagi Almira.


Almira menoleh menatap kearah Kenzo yang sudah menampilkan senyuman manis tapi kecil yang membuat Almira ikut tersenyum kaku.


Almira tidak tau harus membalas apa kepada Kenzo.


"Suapin." pinta Kenzo membuat Almira menatap terkejut kepada pria yang sedang memeluknya.


Almira diam tidak mengeluarkan suara apapun kepada Kenzo, dirinya masih terkejut dengan apa yang Kenzo ucapkan dengan nada seperti anak kecil, sangat pelan.


"Suapin, sayang." ucap Kenzo sedikit penekanan membuat Almira tersadar dari keterkejutan.


Almira mengambil nasi goreng yang ada di depannya dengan sendok, jangan lupakan senyuman terpaksa dari bibir Almira saat mereka berdua sedang saling tatap. Saat suapan pertama masuk ke mulut Kenzo, pria itu tersenyum lebar yang di balas Almira dengan senyum sedikit lebar tapi masih terpaksa.


Tawa mereka keluar dari bibir Almira dan Kenzo tidak tau menertawakan apa, bagi mereka itu lucu.


Kenzo mendekatkan wajahnya ke wajah Almira, sehingga kening Kenzo menempel di kening Almira sambil di gosok-gosokkan dengan tawa mereka yang masih menguar. Mereka tidak mempedulikan orang-orang sekitar yang sedang menatap.


Saat Almira akan berdiri tiba-tiba Kenzo menariknya ke dalam pelukan sehingga mereka tertawa dengan dunianya, tidak mempedulikan orang yang sekitar sedang menatap iri di keduanya.


Sekarang Almira berada di pelukan Kenzo dari belakang, pria itu saat mendapatkan Almira dia memeluk sangat erat tanpa membiarkan Almira berdiri ataupun melepaskan pelukan mereka.


Mereka seperti sedang berada di dunianya sendiri, bagi mereka yang lain hanya ngontrak.


"Udah deh, capek tau." ucap Almira menepuk-nepuk lengan Kenzo.


Kenzo makin erat memeluk Almira tidak mempedulikan gadis itu yang ingin lepas, Kenzo sangat senang hari ini.


"Makan sendiri sana, aku mau ke toilet benerin hijab ku. Karena kamu hijab ku jadi lusuh seperti ini." ucap Almira dengan nada kasar lalu pergi meninggalkan Kenzo tanpa menunggu balasan dari cowok itu.


Melihat Almira yang mulai menjauh dan sedikit demi sedikit menghilang, Kenzo merubah raut wajahnya menjadi datar sehingga para pengunjung yang sedari tadi melihat romantisnya mereka menjadi takut dengan aura yang mendingin dan tatapan yang tajam.


"Kamu hanya milik ku, Almira. Tidak akan ku biarkan kamu pergi meninggalkan ku, aku tidak peduli hanya aku yang boleh memiliki kamu, sayang." gumam Kenzo menatap kearah Almira yang sudah hilang.


Kenzo langsung memakan nasi goreng tersebut dengan santai. Berbeda lagi dengan Almira yang berada di kamar mandi sendirian menatap kearah cermin besar dan bulat.

__ADS_1


Raut wajahnya menjadi datar dan menatap tajam kearah bayangan dirinya sendiri yang ada di cermin.


"Tenang, Al. Ini hanya drama dan rencana balas dendam mu. Jangan pernah sampai terbawa perasaan kalau dengannya, pintu hatiku sudah terkunci dari dulu saat kamu membuat aku kecewa dan benci seperti saat ini. Aku tidak peduli dengan kamu, Kenzo Sagara Samudra."


***


"Lo darimana saja sih, Al? Kita semua cari-cari lo, tapi gak ketemu."


Pertanyaan dari suara sedikit melengking dari mulut Danera di luar ruang rawat Oma Diana sedang duduk langsung berdiri saat melihat Almira dan Kenzo berjalan menghampiri mereka. Tanpa sepengetahuan Danera, Nera lebih dulu membungkam mulutnya dengan telapak tangan kanan agar diam.


"Maaf." ucap Almira dengan tulus sambil menundukkan kepalanya di depan Danera dan Nera.


Melihat Danera yang seperti kesusahan bernafas membuat Nera melepaskan telapak tangannya lalu memandang Almira tanpa melihat Danera yang berada di sampingnya sedang memandang kesal. Nera menoleh kearah Danera dengan menaikkan satu alisnya tidak ada raut wajah merasa bersalah sama sekali.


Danera cemberut lalu beralih menatap Almira yang sedang menatap mereka bergantian.


"Al... Gue dari tadi di bully sama Nera. Gak ada yang tolongin gue sama sekali, mereka malah tertawa." rengek Danera mendekati Almira dengan cemberut membuat Nera yang sedang menatapnya memutar bola matanya malas.


"Ner." tegur Almira kepada Nera yang membuat Danera tersenyum kemenangan kepada Nera yang sedang menatap tajam kearahnya.


"Sorry." ucap Nera sangat tidak ikhlas dan masih menatap Danera tajam dan menusuk.


"Lihat, Al. Nera gak tulus banget, ih." ucap Danera kepada Almira yang sudah cemberut sambil menggoyangkan lengan gadis itu.


"Ner, yang tulus lah." ucap Almira tegur yang membuat Nera kesal kepada Danera.


"Dan, gue minta maaf." ucap Nera dengan senyuman kecil yang hanya kedua sahabatnya yang tau.


Danera tersenyum kemenangan menatap Nera membuat gadis itu mengepalkan kedua tangan di samping tubuhnya. Saat Danera akan menjawab dengan ucapannya, tiba-tiba.


"PUAS LO, HAH?" teriak Nera dengan wajah memerah.


"HAHAHAHAHA." tawa Danera seketika pecah melihat Nera yang sedang marah dan kesal bercampur menjadi satu itu.


Almira hanya tersenyum lebar menanggapi, berbeda lagi dengan ketiga cowok yang sedang terkejut. Tawa Danera makin kencang membuat Nera sangat kesal kepadanya, tanpa aba-aba Nera membawa kepala Danera ke sela-sela tangannya membuat gadis itu memberhentikan tawanya dan langsung memukul lengan Nera pelan.


"Ampun deh, Ner. Ampun." racau Danera di pedulikan oleh Nera sama sekali.


Almira hanya menatap mereka dengan senyum lebar, dia sangat senang bersahabat dengan Nera ataupun Danera. Bagi Almira, kedua gadis itu sangat berarti dalam hidupnya setelah Oma Diana.


Grep!


Almira memeluk kedua gadis itu yang sedang bersetru langsung berhenti karena terkejut dengan tindakan Almira, tapi mereka langsung membalas pelukan itu tak kalah erat dari Almira.

__ADS_1


"Gue sangat beruntung mendapatkan sahabat seperti kalian berdua, Nera ataupun Danera kalian adalah orang berarti di dalam hidup gue. Jangan pernah tinggalin gue sendiri, gue sekarang sangat bergantung ke kalian berdua setelah ke Oma Diana. Gue sayang kalian berdua sebagai saudara dan sahabat." ucap Almira pelan yang hanya mereka mendengarnya membuat kedua gadis itu tersenyum dan memeluk sangat erat tapi tidak menyakiti satu sama lain.


"Gue malah yang lebih beruntung mendapatkan sahabat yang seperti kalian berdua." batin Nera dengan senang.


***


"Almira, apa kamu sudah mencintai Kenzo lagi?"


Pertanyaan dari suara wanita paruh baya sedang duduk di samping tempat tidur Oma Diana sambil menatap Almira dan Kenzo secara bergantian yang ada di sofa empuk itu. Senyuman lembut dari Mama Kenzo membuat Oma Diana tersenyum juga kearah Almira.


Kedua orang tua Kenzo sejak tadi sudah sampai di rumah sakit untuk menjenguk Oma Diana setelah sekian lama mereka bertugas di luar negri. Almira sudah mencoba untuk bersikap seperti biasa kepada mereka dengan baik.


Itu yang membuat kedua orang tua Kenzo sangat senang dengan perlakuan Almira kepadanya. Mereka sangat merindukan sifat gadis kecil dulu tersebut yang sangat lucu dan dekat kepada mereka.


Almira yang mendengar ucapan dari Mama mertuanya seketika terdiam setelah berbicara kepada Nera dan Danera, mereka pun sama terdiam tidak berani bersuara.


Penasaran dengan jawaban Almira, suasana menjadi hening.


Tanpa ada yang tau kalau Almira sedang mengepalkan keduq tangan yang bersembunyi di jaket hoodie di pakainya. Mencoba menahan emosi dan kesal dari dalam tubuhnya.


"Bagaimana Al-"


"MAKANAN ENAK DATANG DARI KAKANDA."


Teriakan sangat kencang sehingga memenuhi ruangan tersebut dan memotong ucapan Mama Kenzo yang langsung menatap kearah pintu menampilkan Rio dan Nigel sedang membawa beberapa bungkusan. Tidak hanya makanan berat, mereka juga membelikan makanan ringan untuk buat nyemil.


Tanpa beban, Rio ataupun Nigel memberikan satu porsi kepada mereka satu persatu. Tidak tau suasana yang sudah berbeda, mencoba mengacuhkan aura yang ada di sekitar.


"Selamat makan." ucap Rio yang langsung memakan makanan tadi dengan lahap.


Tidak jauh beda dengan Nigel yang langsung melahap makanan tersebut, mencoba tenang walau tenggorokannya mencekat tapi Nigel berusaha bersikap biasa saja.


Mereka satu persatu membuka bungkusan tersebut lalu memakan dengan tenang tanpa ada yang berbicara apapun. Saat Nigel menoleh kearah Nera, betapa terkejutnya saat dirinya dapat tatapan sangat tajam seperti ingin memakan dirinya hidup-hidup. Nigel merasa merinding lalu memberikan cengiran sehingga terlihat deretan gigi putih.


Berbeda lagi dengan Rio yang sedang menatap kearah Danera dengan wajah memelas karena gadis itu memberikan pergerakan mencekik di lehernya sambil menatap dengan wajah datar. Rio memelas kepada Danera tapi pria itu sama hanya mendapatkan itu dari sang kekasih.


Nigek dan Rio secara bersamaan menoleh kearah Kenzo dan Almira, yang lebih tepatnya kearah Almira dengan mengandalkan wajah memelas kearahnya.


"Bantuin." ucap Nigel dan Rio tanpa suara hanya menggerakkan mulut yang bisa di mengerti oleh Almira.


Almira menaikkan satu alisnya dengan tatapan senyum mengejek kearah dua pria tersebut yang langsung cemberut.


"Aku sangat mencintai mu, tidak apa-apa tidak mendapatkan balasan cinta dari kamu, Al. Tapi kamu selalu ingat kalau aku sangat mencintai mu lebih dari apapun dan aku tidak akan pernah melepaskan kamu meskipun itu keinginan kamu." bisik Kenzo tepat di telinga Almira yang membuat gadis itu terkejut dengan kata-katanya.

__ADS_1


Tatapan Almira langsung saja kearah Kenzo yang tersenyum seringai tanpa ada yang sadar kecuali Almira saja. Wajah mereka sangat dekat sehingga hidung mancung mereka kalau bergerak sedikit saja pasti akan saling menyentuh, kedua mata melototkan karena terkejut menatap kedua mata indah.


"My wife."


__ADS_2