
"BERHENTI, PAKAI KAN WANITA ITU BAJU, KARENA SAYA AKAN MASUK KE DALAM." teriak Edo bernada bentak kan membuat orang yang ada di dalam langsung melaksana kan perintah dari Edo dengan cepat, takut kalau pria berwajah tanpa ekspresi itu marah.
Selang beberapa menit kemudian, pintu terbuka dengan lebar menampil kan ke enam pria yang berbaris rapih dan di belakangnya ada dua manusia yang masih tersenggal senggal dengan terlentang.
Edo masuk ke dalam ruangan tersebut di ikuti dua bawahannya yang tadi berada di belakangnya, Edo berjalan menghampiri dua manusia yang menatap tajam ke arahnya, kilatan marah dan dendam dari pandangan itu membuat Edo tersenyum seringai karena senang mendapat kan sambutan dari mereka.
Edo mengambil kursi hitam yang ada rodanya sedikit dekat dengan dua manusia itu yang sudah di ikat oleh para pria pertubuh besar agar tidak menyerang Edo meskipun Tuannya itu bisa menghadapi mereka. Tapi mereka tidak mau membuat kesalahan yang mengakibat kan keselamatan Tuannya.
Edo menatap Ella dan Roy secara bergantian dengan pandangan datar tanpa ekspresi seperti biasanya, tapi yang berbeda adalah aura mencengkam dan dingin yang di keluar kan oleh pria itu, sehingga membuat semua orang yang berada di ruangan tersebut merinding ketakutan.
"Ini lah hukumannya untuk orang yang ingin menjahati keluarga Alindra, dan kalian malah akan menjahati cucu perempuan satu satunya di keluarga Alindra, itu adalah kesalahan yang sangat fatal. Sebenarnya hukuman ini terlalu ringan untuk kalian, tapi melihat kalian yang sudah lelah maka saya tunda lebih dulu hukuman selanjutnya. Jadi, tunggu saja hukuman selanjutnya dari Mister Alindra ini." ucap Edo penuh penekanan di setiap ucapannya meskipun dia harus mengeluar kan semua tenaganya untuk berbicara panjang.
Bugh.
Pukulan yang sangat tiba tiba dan kencang mengenai rahang Roy sehingga pria itu tersungkur ke bawah dan mulutnya mengeluar kan darah terbatuk batuk hanya karena pukulan dari Edo tersebut membuat para pria bertubuh besar itu meringis seketika hanya melihat saja.
"Anda jangan macam macam dengan keluarga Alindra, manusia hina." umpat Edo lalu meninggal kan tempat penyiksaan itu.
Tapi saat akan benar benar keluar dan akan melewati pintu, Edo berhenti menoleh ke belakang ke arah mereka semua yang menatap dirinya.
"Siksa mereka berdua, lebih keji lagi." setelah mengucap kan kata kata itu, Edo hilang dari tatapan mereka semua.
Tanpa lama lama, ke enam pria langsung melaksana kan perintah dari Edo dengan semangat dan dua bawahan Edo tadi langsung saja menghindar dari mereka dan membalik kan badan tidak mau melihat.
......***......
"Dimana nama Almira Sayyida Samudra disini?"
Pertanyaan dari pria sambil membuka pintu kamar yang bertulis kan Rose tertempel di pintu depan, mereka semua yang berada di dalam kamar tersebut langsung menoleh ke arah pintu terbuka padahal sebelumnya mereka sedang berkerumunan karena lagi bergosip.
"Saya, Pak."
Jawaban itu dari salah satu yang sedang bergosip angkat tangan di depan pria yang memakai baju Polisi di ambang pintu kamar mereka dengan melotot kan kedua mata karena terkejut lalu merubahnya menjadi santai seperti biasa.
"Nona Almira, mari ikut saya karena ada sesuatu penting." ujar bapak Polisi itu yang membuat semua orang yang berada di kamar Rose itu menatap heran dan bingung, tak terkecuali dengan Almira yang malah merasa takut dan ragu ragu kalau dirinya bikin masalah.
"Baiaklah Pak." ujar Almira dengan nada tegas lalu di anggukki oleh Pak Polisi itu dan keluar dari kamar.
Almira menarik nafasnya pelan membuat mereka yang ada di dalam kamar itu menoleh ke arahnya dengan tatapan iba dan khawatir, salah satu dari mereka menepuk nepuk punggung Almira untuk menenang kan wanita itu.
"Berdoa saja, semoga saja anda tidak ada masalah apa pun." ucapnya yang langsung di sambut oleh yang lain senyuman menenang kan juga yang membuat Almira mengangguk semangat lalu keluar dari kamar tersebut dengan perasaan berat.
Di depannya ada pak Polisi tadi yang memanggil, saat Almira sudah berada di depannya langsung saja pria itu melangkah kan kakinya dan Almira yang mengerti langsung juga mengikuti pria itu do belakangnya dengan langkah pelan pelan karena takut kalau dirinya salah.
Padahal baru saja mereka di latih, lalu sekarang adalah waktunya istirahat tapi saat di panggil Almira tiba tiba merasa takut kalau dirinya membuat masalah, karena Almira tidak mau sampai keluar dari pelatihan ini meskipun hanya satu bulan saja.
Tapi sebenarnya meskipun Almira terlihat di luar baik baik saja, di dalam hatinya resah karena memikir kan sang suami sejak kemarin yang tidak bisa di hubungi sama sekali. Tetapi Almira mencoba untuk bersikap biasa saja agar terlihat profesional.
"Silah kan masuk, di dalam ada Kapten kami." ujar Polisi yang sudah membuka kan pintu bewarna putih seperti memerintah kan Almira agar cepat cepat masuk.
__ADS_1
"Ba- Baik." jawab Almira dengan nada terbata bata karena terkejut kalau dirinya malah akan berhadapan dengan ketua dari mereka membuatnya makin takut dan gemetar kalau dirinya akan di keluar kan.
Almira masuk ke dalam lalu dengan sekejap pintu yang semula terbuka menjadi tertutup rapat dan terkunci dari luar, yang membuat Almira membelalak terkejut itu karena Polisi tadi malah meninggal kan tempat dirinya.
Otomatis dirinya terkunci dan tidak bisa keluar kalau tidak pria tadi.
Sebelum melangkah lagi, Almira menghembus kan nafasnya pelan menatap lurus ke depan yang menampil kan pria memakai baju dinas Polisi membelakanginya.
"Permisi Pak, saya Almira Sayyida Samudra disini. Sebelumnya saya ada apa, saya kok di suruh kemari?" tanya Almira dengan menatap ke ke punggung Kapten itu meskipun tatapannya sebenarnya ada rasa takut.
"Duduk lah."
Perintah dengan nada dingin dan datar membuat Almira merinding sektika dan langsung mengikuti apa yang di ucap kan oleh Kapten tersebut meskipun pria itu tidak membalik kan badannya.
Almira meremas kedua tangannya di bawah sambil menatap ke sembarang arah karena dirinya tiba tiba merasa kan tercekam karena aura dari pria yang ada di depannya.
"Sayang..."
Suara itu membuat Almira menegang seketika, Almira langsung menoleh ke sumber suara dengan cepat betapa terkejutnya dirinya sehingga melotot kan kedua mata sambil berkaca kaca.
"Kok malah nangis hem? Sini peluk Mas."
Setelah mendapat kan kata kata itu, langsung saja Almira menubruk kan badannya dan memeluk dia sangat erat seperti tidak mau melepas kan dan di balas oleh dia mengelus puncak kepala dengan gerak kan lembut.
"Mas, kamu disini juga? Kenapa tidak bilang, hiks. A- Aku kepikiran kamu terus." tangis Almira di pelukannya membuat dia melepas kan pelukan itu dan menangkup kedua pipi Almira dengan tangan kekarnya.
"Maaf ya sayang, sudah membuat kamu kepikiran dan nangis seperti ini. Saat kamu sudah pergi, aku di hubungi sama pusat kalau di suruh menjadi Kapten di pelatihan ini." jawab pria itu dengan nada lembut dan menghapus bekas air mata yang ada di pipi Almira dengan ibu jarinya.
"Berarti kita tidak akan terpisah lagi Mas?" tanya Almira yang masih berada di pangkuan Kenzo tidak di perboleh kan untuk turun dari pangkuannya.
"Tidak akan pernah sayang, takdir kamu itu ada di pada ku." balas Kenzo tersenyum seringai tanpa di ketahui oleh Almira yang hanya menganggul angguk saja.
Karena bagi Almira, ucapan Kenzo itu hanya penenang saja baginya. Jadi Almira tidak pernah di buat serius dengan ucapan aneh dari Kenzo yang seperti gila itu.
Almira mengerti kalau Kenzo itu mencintai dirinya sampai tahap obsesi, tapi wanita itu hanya menanggapi santai saja. Dia merasa senang dengan perasaan dari kenzo untuk dirinya, dia tidak pernah takut kalau sang suami dekat dengan perempuan lain.
Almira sangat percaya kepada Kenzo sepenuhnya.
"Tapi, kamu kapan datangnya Mas? Kok tadi waktu berbaris pembukaan, kamu tidak ada." tanya Almira sambil memain kan kedua pipi Kenzo dengan mengunyel.
"Ada di ruangan ini." jawab Kenzo sambil menarik pinggang ramping Almira agar makin dekat dengan tubuhnya.
"Kenapa tidak ikut sih Mas? Kalau kamu ikut jadinya aku tau kalau kamu ada disini." ucap Almira dengan nada protes karena kesal kepada Kenzo karena dirinya tadi sudah deg deg an saat di panggil oleh anggota Polisi, takut kalau dirinya membuat masalah.
"Biar kejutan buat kamu sayang, kamu tadi sangat lucu." balas Kenzo dengan nada menggoda yang makin membuat wanita di pangkuannya kesal.
Almira melampias kan kekesalannya dengan mencubit kedua pipi Kenzo berkali kali yang membuat pria itu meringis yang malah di balas oleh Almira dengan tawa kecil, Kenzo yang melihat itu langsung saja menjawil puncuk hidung Almira.
"Oh iya! Mas kamu harus sportif ya sama aku, kalau aku melaku kan kesalahan maka kamu harus menghukum aku seperti di aturan. Dan juga, kamu jangan kasih tau kalau kamu itu suami ku di peserta lainnya atau pun ke anggota Polisi lainnya yang menjadi panittia. Oke?" ucap Almira dengan senyuman lembut yang hanya di tatap saja oleh Kenzo dengan diam.
__ADS_1
Melihat suaminya diam, Almira mengetahui kalau Kenzo tidak mau melaku kan apa yang dia ucap kan.
"Mas, awas saja kalau kamu tidak sportif dan kasih tau kalau kita suami istri, aku tidak pernah kasih jatah ke kamu. Katanya kamu ingin mempunyai bocil." lanjut Almira dengan nada di buat buatnya.
"Sayang..." geram Kenzo mendekat kan wajahnya ke wajah Almira yang malah membuat wanita itu terkekeh dan memgacak acak rambut rapih pria itu.
"Sudah deh Mas, lepasin nih. Aku mau balik ke kamar." ujar Almira yang di balas dengan gelengan kepala oleh Kenzo sambil menampil kan raut wajah memelasnya.
Almira berusaha untuk terlepas dari pelukan Kenzo, tapi sangat susah sekali. Suaminya malah mengerat kan pelukannya yang ada di pinggang yang membuat Almira tidak bisa terlepas.
Almira menghembus kan nafasnya lelah karena Kenzo tidak membiar kan dirinya untuk pergi, Almira sudah menyerah maka dia sekarang pasrah apa yang akan di lakukan kepadanya.
Senyuman seringai terbit di bibir Kenzo sangat kecil sehingga sang istri tidak bisa melihatnya meskipun dari dekat, di hatinya sekarang sangat senang sekali dan lagi berbunga bunga.
"Sayang, nanti malam ada uji nyali. Kamu tidak perlu ikut." ucap Kenzo membuat Almira menatapnya terkejut lalu tersenyum ke arahnya.
"Mas, aku disini adalah peserta. Maka aku harus ikut semua kegiatan, Mas jangan melarang ya. Ini demi kebaikan ku Mas, aku butuh sertifikat dalam pelatihan ini." ujar Almira memberi pengertian kepada Kenzo.
"Kamu hanya membutuh kan sertifikat itu kan? Sekarang juga aku kasih kamu, lalu kita pulang." ujar Kenzo melepas kan pegangan di pinggang Almira lalu berdiri ke arah loker berkaca itu membuat Almira terkejut jarena ucapan dari suaminya benar benar di lakukan.
Almira menepuk keningnya karena lupa kalau Kenzo adalah Kapten di pelatihan ini, makanya suaminya itu mempunyai sertifikat untuk peserta dalam pelatihannya. Almira menghampiri Kenzo yang sedang mencari nama dirinya dan saat ketemu pria itu dengan cepat akan tanda tangan yang langsung Almira cegah.
Kenzo menoleh ke arah Almira yang geleng geleng kepala yang di balas dengan pria itu menaik kan sebelah alisnya.
"Mas jangan seperti ini deh, taruh sekarang juga di tempat semula. Atau kamu mau aku menjauh dari kamu dan mengacuh kan kamu? Kalau kamu mau ma-"
"Tidak mau, baiklah aku taruh lagi." sahut Kenzo dengan cepat dan menaruh lagi sertifikat itu ke tempat semula takut kalau Almira akan melaku kan apa yang dia ucap kan.
Kenzo tidak mau kalau itu benar terjadi, Kenzo tidak akan kuat kalau di perlaku kan sang istri tercinta seperti itu.
"Nah kalau gini kan aku makin cinta sama kamu, Mas." ucap Almira sambil memeluk tubuh depan Kenzo dengan nada riang.
Kenzo langsung saja membalas pelukan itu erat, dirinya tersenyum senang atas ucapan Almira kepadanya.
"Kamu tidak boleh dekat dekat dengan cowok disini, kalau kamu dekat dengan pria lain maka aku akan bertindak. Kamu mengerti kan sayang?" bisik Kenzo sambil menggigit telinga Almira meskipun pelan.
"Iya, aku mengerti." jawab Almira dengan nada pasrah dan mengelus bahu Kenzo dengan lembut.
"Kamu hanya milik ku Almira, hanya milik ku saja. Aku tidak peduli dengan yang lain, tapi kalau tentang kamu, maka aku sangat siap buat membasmi siapa pun itu. Meskipun kamu suruh aku untuk agar tidak kasih tau ke peserta lain atau pun ke anggota Polisi yang lain, tapi aku akan memperlaku kan kamu di depan mereka seperti sebelumnya sayang. Aku sangat mencintai kamu, sangat cinta sampai sampai membuat ku gila seperti ini sayang. Aku tidak peduli kalau cinta ku ini sudah obsesi, aku tidak peduli itu, yang terpenting adalah kamu hanya milik ku." batin Kenzo sambil menampil kan seringai lebar karena tidak bisa di lihat oleh Almira.
***
"Tenang saja, dua manusia itu sudah mendapat kan hukuman yang sangat cocok untuk mereka, lo tenang saja ini adalah bagian ku."
Ucapan dari sambungan telepon itu dengan nada datar tapi membuat pria yang sedang duduk di kursi besarnya dengan membalik balik kan kertas yang ada di meja kacanya tersenyum bangga atas ucapan sahabatnya itu.
"Bagus, Edo Alindra memang bisa di andal kan. Sangat memuas kan bro, gue serah kan dua manusia itu ke lo. Jangan sampai istri gue tau, ingat itu."
Hanya ada deheman saja lalu sambungan itu di mati kan membuat pria yang berada di ruangannya memutar bola matanya malas karena perilaku sahabatnya itu yang sayangnya menjadi kakak sepupu dari sang istri.
__ADS_1
"Sayang, antagonis kamu sudah hilang meskipun masih berada di tempat itu, tapi kamu tidak akan ada yang mengganggu. Oh betapa senangnya aku sayang." ucapnya dengan seringai kecil dan senyuman menatap wallpaper berfoto sang istri sedang tersenyum dan menampil kan dua jarinya yang menempel di salah satu pipinya membuat wanita itu terlihat sangat imut di mata Kenzo sekarang ini.