Suami Pilihan Oma

Suami Pilihan Oma
ENAM PULUH


__ADS_3

"Almira, kamu ngapain ke sini?"


Pertanyaan dari mulut Kenzo menatap bingung ke arah gadis yang sedang masuk ke kantor Polisi di dampingi oleh Rio di sampingnya, raut wajah terkejut masih terlihat dari wajah Kenzo tapi saat pria itu mendengar deheman kecil dari Rio, Kenzo langsung merubah raut wajahnya me jadi datar kembali seperti biasa.


Saat Almira sudah duduk di depan Kenzo langsung saja Rio berpamitan untuk keluar dari ruangan tersebut agar suami istri itu bisa berbicara seluasnya tanpa ada gangguan.


Rio saat keluar semua anggota Polisi langsung saja mengelilingi pria itu membuatnya menghela nafas panjang lupa karena mereka tidak mengetahui pernikahan dari ketua Polisi.


Beralih ke ruangan yang lumayan besar dan bersih itu terdapat Almira dan Kenzo yang saling tatap.


Almira yang bingung harus memulai percakapan mereka dengan apa, berbeda lagi dengan Kenzo yang masih menetral kan perasaan bahagianya karena Almira datang ke kantor Polisi ini.


Kenzo sampai berpikiran kalau Almira sudah siap kalau dirinya adalah suami dari Kenzo Sagara Samudra di depan umum, Kenzo memikir kan itu saja sudah sangat bahagia dan senang.


"Kamu..." ucap Almira dan Kenzo bebarengan membuat keduanya berhenti lalu tersenyum kecil saling tatap.


Kenzo menggaruk tengkuknya yang tidak gatal sambil menatap Almira yang menunduk kan wajah tidak tau kenapa, tapi yang pasti mereka sama sama malu.


Pertama kali ini Almira datang ke kantor Polisi dan membuat penghuni di kantor tersebut sebenarnya terkejut dan heran, karena baru pertama kalinya ada cewek yang mencari ketua mereka dengan pribadi kecuali pekerjaan.


Tapi sekarang mereka melihat gadis cantik yang sangat mudah berhijab dan imut di wajahnya membuat mereka semua kagum secara mendadak.


"Ada yang ingin kamu bicara kan? Sampai sampai kamu pergi ke kantor." tanya Kenzo membuat kepala Almira mendongak menatap wajah yang menampil kan raut wajah heran.


"Tidak ada, masa kalau ingin berdua harus ada yang kita bicara kan? Engga kan?" balik tanya Almira sambil menampil kan senyuman manis yang membuat Kenzo menegang kaku dan menatap intens ke arah Almira.


Sekarang yang Kenzo lihat di depannya adalah seperti melihat bidadari dari surga saat Almira tersenyum kepadanya membuat jantung Kenzo berdetak sangat kencang sampai sampai Kenzo harus mengepal kan kedua tangan untuk menahan.


Kenzo berdiri membuat Almira hanya menatap saja saat pria itu mendekat kan duduknya ke arah Almira yang dari samping kanan membuat gadis itu hanya geleng geleng kepala melihatnya.


Kenzo menjadi sangat ajaib.


"Membawa apa itu, sayang?" tanya Kenzo sambil melirik tas belanjaan kertas bewarna coklat membuat pandangan Almira juga melirih ke arah tersebut.


"Oh iya, aku tadi ke sini karena Justin baru pulang dari pekerjaannya dan dia membawa beberapa macam teh. Aku hanya saja tidak sabar untuk menunggu kamu pulang, makanya teh teh ini aku bawa ke sini. Tidak apa apa kan?" ujar Almira panjang membuat sudut bibir Kenzo terangkat tanpa sepengetahuan gadis itu.


"Boleh, mana?" tanya Kenzo sambil menyangga dagunya di telapak tangan sambil menatap Almira penuh cinta atas ketulusan.


Almira yang melihat tatapan tulus cinta dari kedua mata Kenzo membuat gadis itu tiba tiba merasakan senang dan hangat secara bersamaan di dalam hatinya, tidak tau kenapa saat melihat tatap tulus dari Kenzo seperti kesenangan tidak ada artinya. Bagi Almira Sayyida Alindra, Kenzo yang membuat dirinya merasa kan perasaan aneh seperti ini yang sempat terjadi di masa lalu dan masa sekarang ini.


"Ini ada teh ROOIBOS yang tidak ada kafein. Ini teh GANDUM HITAM yang baik untuk darah tinggi. Ini teh CHAMOMILE yang meredakan stress. Dan ini teh MERAH CHEONIL untuk menenang kan hati." jelas Almira panjang kali lebar membuat Kenzo makin melebarkan senyumannya sehingga menampilkan lesung pipit saat tawa dari pria tersebut.


"Menenang kan hati?" gumam Kenzo mengambil teh yang bewarna merah.


Sebenarnya Kenzo baru mengetahui kalau teh itu ada macam macam dan manfaatnya juga macam macam. Kenzo kira teh itu hanya ada warna coklat ke hitaman dan manfaatnya hanya biar badan hangat, itu saja.


Tapi sekarang yang di bawa Almira bewarna macam macam dan manfaatnya yang membuat dia ingin tertawa tapi menocoba untuk menahan, takutnya malah membuat Almira merasa di ejek olehnya.


"Bagaimana, apakah hati kamu sudah tenang?" tanya Almira membuat Kenzo menyelesai kan minumnya dan menatap Almira yang tersenyum manis ke arahnya.


Betapa cantik dan imutnya Almira saat memperlihat kan senyuman manisnya, Kenzo yang melihat saja sudah terpesona apa lagi orang lain.


Ingin sekali Kenzo mengurung Almira ke kamar saja, agar yang menikmati senyuman manis dari Almira hanya dirinya saja.


"Aku baru tau kalau kamu adalah ketua Polisi." ujar Almira yang tiba tiba membuat Kenzo menaruh cangkir teh ke atas meja tidak sengaja terlalu keras sehingga menimbul kan suara.


"Kenapa kamu membuat persyaratan kepada Nera harus izin ke Danera dan aku lalu baru mendapat kan tanda tangan kamu? Dan juga kenapa harus ada tanda tangan kamu, padahal kan dia hanya pergi ke luar negeri, memangnya kamu mempunyai kekuasaan tinggi di pemerintahan ini?" pertanyaan beruntun dari mulut Almira membuat Kenzo menatap gadis itu terus tanpa kedip.


Kenzo bingung harus menjelaskannya dari mana atas pertanyaan Almira kepadanya.


Melihat Almira menunggu jawaban seperti sudah penasaran kepada dirinya membuat Kenzo menghela nafas pelan tanpa di ketahui oleh gadis yang ada di sampingnya.


Almira yang tidak dapat jawaban membuat dia mengepalkan kedua tangan di saku jaket jens yang dia pakai tanpa di ketahui Kenzo. Tapi raut wajah Almira menampilkan biasa saja, santai seperti tidak menahan kekesalan atau pun emosi.


"Saat aku di tanya kalau kamu itu kepala kepolisian dan aku jawab tidak tau, betapa bodohnya aku tidak mengetahui apa pun tentang suami ku. Kalau gitu, aku pamit dulu, Assalamualaikum..." pamit Almira sambil mengerluar kan unek uneknya kepada Kenzo membuat pria itu menatap lekat.


"Waalaikum salam." jawab Kenzo membuat Almira berdiri dari duduknya dan membereskan barang barang yang dia bawa lalu berlalu pergi meninggal kan ruangan tersebut yang berisi kan Kenzo saja.


Almira terus berjalan tanpa menghirau kan tatapan penasaran dari para anggota Polisi lainnya yang masih berada di kantor membuat Almira makin mengepal kan kedua tangan saat Kenzo tidak mengantar dirinya keluar.


Sungguh menyebal kan, gerutu Almira di dalam hati saat melirik ke arah belakang tidak ada pria tersebut.


"Kenapa aku seperti merasa kosong saat tidak ada di sampingnya? Akh... Tidak boleh." batin Almira sambil geleng geleng kepala lalu menepuk keningnya dan memakai helm dan menaikki sepeda motor dengan laju cepat.


Tidak ada yang tau kalau sebenarnya Kenzo mengawasi Almira dari jendela sampai melaju kan sepeda motor sangat kencang membuat pria itu khawatir.


"Semoga kamu bisa sadar secepatnya atas perasaan kamu selama ini, istri ku. Akan ku buat kamu sadar kalau kamu mempunyai perasaan juga ke aku sama seperti diri ku, Almira Sayyida Alindra." ujar Kenzo masih memandang luar jendela meskipun gadis yang dia pandang sudah tidak terlihat.


***


"Lo memang playboy cap badak, Justin."


Teriakan itu membuat semua orang yang berada di caffe menoleh ke ambang pintu.

__ADS_1


Saat pria yang memakai baju casual andalannya dan sekarang duduk di depan dengan cewek berambut panjang bewarna ke hitaman ikut menoleh juga ke ambang pintu. Betapa terkejutnya Justin saat siapa yang ada di ambang pintu tersebut dan ucapannya yang membuat dirinya langsung merasa kan perasaan malu saat gadis itu menghampiri dirinya dengan tatapan marah.


"Dasar lo, Justin. Malu maluin aja lo." jerit Almira sambil menjewer sebelah telinga pria itu sampai meringis kesakitan.


"Al, gue malu..." lirih Justin pelan yang hanya mendengar dirinya dan Almira saja.


Almira tidak menjawab dan hanya mengacuhkan Justin lalu menyeret pria itu dengan menarik pergelangan tangan kanan keluar caffe dengan cepat membuat Justin menghela nafas antara lega dan lelah.


Tidak tau dirinya harus lega atau kesal kepada Almira, sang sepupu perempuan satu satunya dan yang di sayangi segenap hati jiwa.


"Cewek tadi siapa lo lagi?" tanya Almira sambil melirik perempuan yang memandang dirinya dengan raut wajah tidak suka.


"Gebetan gue, hehe." jawab Justin dengan tawa kecil membuat Almira makin kesal dengan pria tersebut.


Ctak.


"Aww... Sakit, Al." ringis Justin sambil mengadu kesakitan menatap Almira dengan wajah memelas andalannya.


"Saat lo putus sama Julia, lo makin ngelunjak, Justin. Lo tau kan bagaimana hati seorang perempuan kalau ada yang menyakiti? Rasanya beneran sa-"


"Tidak perempuan saja Al, laki laki juga sakit hati kalau perempuan itu menyakitinya. Aku kan sudah bilang sama kamu kan, jangan membahas nama itu lagi." sahut Justin dengan wajah datar tabpa ekspresi memotong ucapan Almira membuat gadis itu menghembuskan nafas.


"Oke, aku minta maaf sudah menyebut nama dia. Tapi kamu jangan sakiti perempuan lain atas sakit hati kamu, Justin. Emangnya kamu mau kalau aku di sakiti sama cowok?" ujar Almira dengan nada lembut agar pria yang ada di depannya tidak emosi atas kesalahan dirinya yang sudah menyebut nama mantan pacar.


"Tidak." jawab Justin cepat dengan satu kata saja.


"Ayo ikut aku, ada yang harus aku bicara kan sama kamu. Tempat ini tidak cocok, karena banyak sekali mata yang jelalatan dan telinga yang nakal." ajak Almira yang membuat Justin tersenyum karena ucapan konyol tersebut.


Setelah Almira mengucap kan kata kata itu, langsung saja berjalan mendahului Justin berlalu dari caffe tersebut. Justin sudah berada di sampingnya dengan merangkul bahunya dengan sebelah tangan kiri dan memandang di depan tidak memperdulikan tatapan berbeda beda dari para manusia yang berada di caffe.


Almira hanya membiar kan saja tanpa protes dan sama juga dia tidak memperdulikan para manusia yang melihat dirinya dan Justin. Saat pandangan Almira tidak sengaja bertemu dengan pandangan sinis dari perempuan berambut panjang bewarna hitam yang tadi bersama Justin saat di dalam caffe tersebut, menarik sudut bibirnya mencetak senyuman mengejek membuat raut wajah perempuan itu makin gelap.


Sekarang Justin dan Almira sudah berada di caffe yang lumayan jauh dari caffe sebelumnya, sedikit lelah karena mereka berjalan kaki tanpa memakai kendaraan masing masing.


Saat di tanya oleh seseorang, mereka akan pasti menjawab karena Gabut.


Sangat aneh, tapi nyata.


Sebelum itu mereka sudah memesan makanan dan minuman agar kalau saat berbicara tidak terpotong, itu sangat tidak mengena kan dan menyebal kan.


Mereka duduk di meja urutan nomor dua puluh tiga, di area sedikit pojok tidak terlihat dari arah luar. Itu adalah pilihan Almira, agar enak saat berbicara tanpa ada gangguan.


"Mau bicara apa aih? Kaya gini segala." tanya Justin merasa heran dengan perilaku sang sepupu perempuan satu satunya.


Sebenarnya Justin merasa heran, tapi saat melihat raut wajah serius dari Almira langsung mengaitkan jari kelingkingnya ke jari kelingking Almira tersebut.


"Janji."


"Oke, kamu sudah berjanji maka jangan mengingkarinya." tunjuk Almira yang membuat Justin langsung angguk angguk kepala mengerti dengan mantap agar Almira percaya kepadanya.


"Kemarin, aku bertemu dengan Julia. Dia akan tinggal di Indonesia, lebih tepatnya di kota ini untuk selamanya." ujar Almira membukan pembicaraan sambil menjeda menatap raut wajah terkejut dari Justin dan tidak percaya.


Almira mendekat kan kursi duduknya ke samping tempat duduk Justin mencoba untuk merangkul sepupunya itu.


"Kami bertemu tidak sengaja, saat dia memperkenal kan nama panjangnya. Aku langsung tau kalau perempuan itu adalah mantan kekasih kamu, Justin. Tapi saat aku tanyai tentang kamu, dia hanya tersenyum saja tanpa menjawab. Jadi aku tidak tau cerita di pihak Julia, yang ku tau hanya cerita di pihak kamu saja, Justin." sambung Almira dengan mengelus bahu pria itu yang sedang menunduk.


"Kalau kamu ingin bertemu, aku bisa mempertemu kan kalian. Kamu mau kan bertemu sama dia sekarang, disini. Sebelum aku datang ke caffe yang ada kamu, sebenarnya aku ada janji sama dia disini. Aku hanya tidak sengaja melihat kamu bersama perempuan lain lagi."


Ucapan Almira membuat Justin menoleh menatap gadis itu yang sedang menampil kan raut wajah melas dan berharap agar dirinya mengiyakan.


Justin bingung, selalu saja pikiran dan hati tidak sejalan.


"Tidak ada pilihan lagi kamu Justin, dia sudah datang." ujar Almira sambil menatap perempuan berambut panjang bewarna ke emasan tersenyum kepadanya.


Perempuan itu tidak tau kalau ada Justin, karena pria itu membelakangi pintu masuk.


Justin menunduk kan kepala saat ada suara derap langkah kaki menghampiri meja kami.


"Maaf mbak, aku terlambat."


Suara itu, yang selama ini Justin rindu kan dan selalu membuat dirinya tidak bisa tidur dengan tenang.


Justin mencoba memberani kan diri mendongak kepalanya sambil emnatap kearah perempuan itu yang juga beralih menatapnya. Raut wajah terkejut dan dia melangkah mundur satu langkah saat melihat Justin yang memandang datar tanpa ekspresi.


"Dia lebih cantik dan elegan." batin Justin dengan nada lirih dan menatap perempuan itu terus tanpa beralih.


"Silah kan duduk, Julia." ujar Almira mempersilah kan perempuan itu untuk duduk di tengah tengah Almira dan Justin tentunya.


Karena kursi duduk dalam satu meja hanya berisikan tiga kursi saja.


Julia duduk dengan langkah kaku sambil meremas ujung kaosnya saat tatapan Justin tidak beralih kemana pun, hanya menatap dirinya dengan intens juga.


"Justin, jangan membuat Julia tidak nyaman." tegur Almira membuat Justin langsung beralih ke arahnya.

__ADS_1


"Maaf." ujar tulus Justin yang malah menatap Almira tidak lagi menatap ke arah Julia.


"Aku harap setelah pertemuan ini, kalian berdua menjadi saling baik. Sebagai teman saja yang baik, jangan seperti diam diam seperti ini saat bertemu lagi. Justin, Julian, kalian sudah dewasa dan pasti mengerti bagaimana menghadapi situasi apa pun." ujar Almira dengan nada serius.


***


"Sayang, kamu kenapa? Aku ada buat salah ya sama kamu?"


Pertanyaan dari mulut Kenzo yang sudah memeluk pinggang Almira dengan kedua tangan dan memaju kan wajahnya di samping wajah Almira, sehingga pipi mereka bersentuhan membuat Almira membeku secara mendadak dengan perlakuan Kenzo yang baru saja mereka makan bersama dengan Alex, Eza, dan juga Justin.


Almira saat bertemu dengan Alex atau pun Eza, maka gadis itu tidak akan pernah membuka suara sedikit pun. Sebenarnya Justin bingung dengan sikap mereka, tapi saat Eza mencerita kan semuanya. Justin ikut kesal kepada Alex yang malah diam saja tidak membantah atau pun mengucapa kan satu kata pun.


Sudah beberapa hari ini mereka masih sama seperti ini. Lalu saat Eza mengajak Alex untuk kembali ke Belanda, pria itu tidak mau pergi sebelum Alex mendapat kan maaf dari Almira. Padahal pria itu tidak pernah berbicara apa pun kepada Almira.


Alex hanya diam.


Kembali lagi ke Almira dan Kenzo yang masih memeluk pinggang ramping gadis itu yang menatap luar jendela yang sudah gelap karena malam datang.


"Sayang, kamu kenapa hem?" tanya lagi dari Kenzo yang hanya di balas dengan deheman kecil saja dari mulut Almira membuat Kenzo menghela nafas kesal.


Memutar balik kan badan Almira dengan paksa tapi tidak membuat gadis itu kesakitan, Kenzo menatap wajah Almira dan menggenggam bahu kedua lengan dengan lembut tanpa tekanan.


Raut wajah santai membuat Kenzo makin bingung kenapa dengan sang istri tercintanya?


"Kalau aku ada salah, bilang. Jangan diam saja, sayang." ujar Kenzo dengan nada lembut sambil mengelus pelan bahu kedua lengan Almira dengan jari jempolnya.


"Tidak ada apa apa." jawab Almira yang membuat Kenzo tidak percaya dengan ucapan gadis tersebut.


Kenzo menghembus kan nafas panjang yang membuat Almira menatap pria itu yang sepertinya kelelahan dan khawatir akan dirinya membuat perasaan bersalah menyeruak di dalam hatinya. Tidak tega melihat raut wajah yang sangat lesu dari Kenzo, Almira memeluk tubuh Kenzo dengan erat membuat pria itu membalas pelukan mereka sambil mengelus puncak kepala Almira dengan lembut.


"Jangan membuat ku khawatir, sayang." bisik Kenzo tepat di samping telinga Almira dengan nada gelisah.


Ucapan Kenzo membuat Almira memeluk pria itu sedikit erat tidak mau melepas kan sedetik pun yang malah Kenzo tersenyum senang di balik pelukan tersebut. Betapa nyaman sekali pelukan Almira bagi Kenzo, bsgitu pun bagi Almira juga betapa nyamannya pelukan Kenzo.


Mereka diam saling menikmati pelukan nyaman dan hangat, mereka juga sama sama tidak mau melepaskan pelukan mereka satu sama lain.


Saat Almira akan melepas kan pelukan mereka, Kenzo lebih dulu menggendong tubuh Almira dari depan sehingga kedua tangan gadis itu sudah menangkring di leher Kenzo sambil mereka saling tatap dengan kedua mata yang sendu.


Kenzo membawa Almira mengarah ke kasur empuk, membaring kan badan sang istri dan Kenzo berada di atas tubuh Almira dengan menyanggah di sebelah kepala Almira tentunya.


Kenzo menatap kedua mata Almira yang juga sedang menatap kearahnya. Mengelus lembut pucak kepala yang masih tertutupi hijab instan bewarna coklat muda.


"Aku snagat mencintai kamu, sayang. Aku tidak ada bosannya mengucap kan cinta ke kamu. Karena aku memang sangat sangat mencintai kamu lebih dari hidup ku." ucap Kenzo dengan nada serius tapi lembut.


Almira hanya diam menatap Kenzo yang makin mendekat kan wajahnya ke wajah Almira. Dia tidak tau harus mengucap kan kata apa ke Kenzo, sebab dirinya tidak tau apa dia sudah merasa kan perasaan cinta ke Kenzo atau hanya perasaan biasa saja.


"Dari dulu waktu kita masih kecil, aku sudah sayang banget ke kamu. Lalu saat kamu masih sekolah, aku sudah mencintai kamu." ujar Kenzo makin dekat sehingga hidung mereka saling bersentuhan.


"Masih sekolah? Maksudnya apa?" tanya Almira mengeluarkan suara saat diam cukup lama hanya sebagai pendengar saja.


"Memangnya kamu tidak merasa kan kalau saat kelas tiga, kamu ada yang mengikuti hem?" balik tanya Kenzo dengan senyuman menggoda dan makin mendekat kan wajah mereka sehingga kening mereka menempel satu sama lain.


"A-aku, tidak tau." jawab Almira terbata bata karena nafas Kenzo menerpa wajahnya membuat dia merasa geli dan menegang di tempat tentunya.


Cup!


"Selama ini aku lah yang mengikuti kamu dan menjaga kamu, sayang."


Setelah Kenzo mengecup bibir Almira dengan cepat tapi lembut, pria itu mengucap kan kata kata yang membuat Almira terkejut.


Terkejut karena ciuman mendadak dan terkejut karena ucapan Kenzo yang selama ini mengikuti dirinya sambil menjaga.


Kening Almira mengerut membuat Kenzo mengelus lembut kening gadis itu dengan jari jari besarnya membuat kerutan itu menghilang dengan perlahan.


"Berarti kamu sudah di negara ini? Kenapa kamu tidak bilang ke aku, Gara. Dari dulu aku menunggu kamu meskipun aku sangat benci kepada mu, tapi kenapa kita bertemu saat kita akan menikah dan masih mempunyai pacar sewaktu itu." ujar Almira dengan nada lirih sambil memukul dada bidang Kenzo yang tertutupi kaos polos tidak merasa kan sakit apapun atas pukulan dari kedua tangan Almira.


"Maaf ya sayang, bagi ku itu adalah waktu yang tepat. Aku tidak peduli dengan kejadian dulu saat kita baru bertemu setelah aku pergi meninggal kan kamu, yang aku pikir kan adalah masa sekarang kamu berada di sisi ku untuk selamanya sampai maut memisah kan kita. Pikiran dan hati ku hanya ada kamu seorang, Almira Sayyida Alindra, istri dari Kenzo Sagara Samudra." ujar Kenzo dengan nada pelan dan lembut menatap Almira dengan senyuman manis dan lebar membuat pria itu terlihat lebih tampan dari kedua mata Almira.


Kenzo mencium bibir Almira dengan lembut dan pelan sambil mengelus puncak kepala Almira, kedua tangan Almira sudah nangkring di leher Kenzo.


Ciuman mereka makin mendalam membuat nafas Almira tersengal sengal, dengan terpaksa Kenzo melepas kan pungutan mereka dan menatap Almira yang menarik nafas banyak banyak.


Wajah menggemas kan Almira saat memerah membuat Kenzo ingin sekali melahap habis bibir Almira sampai bengkak, tapi mengingat Almira masih belum bisa dan terbiasa membuat Kenzo mengurung kan niatnya.


Kedua telapak tangan Almira sudah menempel di kedua pipi Kenzo membuat pria itu menatap kedua mata Almira juga.


Elusan lembut dari jari jari kecil Almira membuat Kenzo memejam kan kedua mata menikmati usapan demi usapan dari gadis yang sangat dia cintai selama ini.


"Aku akan mencoba menerima kamu dan membiar kan perasaan aneh datang di hati ku untuk kamu, Kenzo Sagara Samudra lebih tepatnya suami ku."


Setelah Almira mengucap kan kata kata seperti itu, gadis itu langsung mencium bibir Kenzo yang di balas oleh pria itu makin mendalam.


Di dalam hati Kenzo, pria itu sangat lah senang dan bahagia saat Almira menerima dirinya. Kenzo makin memperdalam ciuman mereka sampai sampai Kenzo menarik badan Almira untuk duduk dan menciumnya lagi dengan dalam yang langsung di balas oleh Almira dengan senang hati.

__ADS_1


"Aku sangat mencintai kamu, sayang. Mulai sekarang aku tidak akan membiar kan kamu pergi dari hidup ku atau pun dari sisi ku." batin Kenzo dengan perasaan bahagia.


__ADS_2