Suami Pilihan Oma

Suami Pilihan Oma
TUJUH PULUH ENAM


__ADS_3

"Dalam waktu dua minggu ini suasana akan sepi dan sunyi, sebenarnya tidak mau berpisah sama kamu Mas, tapi bagaimana lagi kamu disana juga ada pekerjaan. Pasti apa apa akan sendiri meskipun ada Bang Edo yang selalu berada di samping ku, tapi rasanya tetap sendirian di kota ini tanpa kamu Mas."


Suara lirih dengan nada pelan keluar dari mulut Almira saat membuka pintu kamar apartemen yang sudah berada di samping Edo yang selesai kembali dari parkiran di ruangan tersebut.


Edo yang mendengar itu langsung saja mengelus puncak kepala Almira dengan lembut membuat gadis itu seketika menoleh ke arah Edo yang sudah menampil kan senyuman tipisnya seperti biasa dan mengangguk meyakin kan sang sepupu tersayangnya.


"Hanya dua minggu saja kok Al, setelah selesai masalah pekerjaan kalian boleh kok berduaan lagi dan aku juga mempunyai hadiah buat kamu bersama Kenzo." ucap Edo dengan bada yakin membuat kerutan kening dari Almira.


"Hadiah? Hadiah apa Bang? Jangan aneh aneh deh, Bang." ujar Almira dengan tatapan penuh selidik.


"Hadiah agar kalian bisa melakukan pembuatan bocil dengan nikmat dan puas..." balas Edo langsung lari terbirit saat Almira melempas sepatu ke arahnya karena jawaban dari mulut Edo.


Wajah Almira memerah karena kesal bercampur malu menatap punggung Edo yang mulai menjauh sambil membawa kopernya yang pria itu seret.


"Maaf Bang, aku masih belum siap untuk melakukan itu dengan Kenzo. Tidak tau kenapa aku merasa kan bimbang saat akan menyerah kan mahkota ku kepada Kenzo. Maaf kan aku, makanya aku ingin pergi sendiri tanpa di dampingi Kenzo karena ingin mengetahui jawaban apa yang aku bimbang kan. Oma, Ayah, Bunda, semoga ini adalah keputusan yang terbaik buat aku dan pernikahan ini." ujar Almira dengan nada gumaman dan lirih tanpa ada yang bisa mendengar kecuali dirinya dan Allah sang maha kuasa.


Almira masuk ke apartemen dengan langkah pelan sambil menatap sekeliling yang sudah berubah karena sang kakak laki laki sepupunya ini, Almira hanya bisa geleng geleng kepala saat melihat banyak sekali lukisan abstrak di dinding.


Almira tau kalau Edo saat sedang setres pasti akan lari ke melukis dengan pola aneh aneh.


"AL, AMPUN... TATANAN APARTEMEN INI AKU KASIH LUKISAN INDAH DARI MISTER TAMPAN INI..." teriak Edo sangat kencang membuat Almira berpura pura memutah kan karena mendengar ucapan Edo yang memanggil dirinya dengan Mister Tampan.


Almira tidak habis pikir dengan sifat kekanak kanakkan dari Edo saat bersama dirinya, sangat berbeda sekali saat Edo berada di luar atau pun ke orang lain maka pria itu akan menjadi datar dan dingin seperti Kenzo.


Mengingat nama Kenzo yang tiba tiba terlintas di pikirannya membuat Almira menunduk dalam dan diam lalu duduk di depan televisi. Menatap ke foto yang berada di samping kanan televisi membuat Almira menatap sedih dan sendu, terlihat foto Almira dan Kenzo saat pernikahan berlangsung yang di bawa oleh Kenzo saat itu.


"Tadi saat aku akan pergi ke bandara, kamu berada di mana Mas? Padahal aku sangat ingin memeluk kamu untuk terakhir kalinya karena kita akan berpisah, tapi kenapa kamu pergi. Apa kamu tidak mau bertemu dengan ku untuk terakhir kalinya meskipun di bandara, sangat menyakit kan di dalam hati ini Mas. Huh..." ujar Almira dengan menghela nafas kasar dan mengambil foto pigura pernikahan Almira dan Kenzo.


Almira terus saja menatap foto itu dengan pandangan sendu, tiba tiba saja foto itu terlepas dari genggaman Almira dan gadis itu mendongak kan wajahnya menatap siapa pelaku yang berani beraninya mengambil foto figura itu.


Saat mengetahui siapa pelaku tersebut, membuat Almira melotot kan kedua matanya ke arah pelaku tersebut.

__ADS_1


Almira sangat terkejut saat melihat Kenzo yang sudah berada di depannya sambil tersenyum manis ke arahnya, Almira mengucek ucek kedua mata dan geleng geleng kepala kalau dirinya sedang bermimpi atau pun berhalusinasi karena Almira sangat merindu kan pria yang berstatus sang suami.


"Kamu... Ada disini? Sejak kapan?" pertanyaan yang lolos dari mulut Almira sambil menunjuk ke arah pria yang sedang tersenyum menyeringai karena Almira sangat lucu sekarang ini.


Almira masih menatap kosong ke arah depan dengan wajah bingung yang malah membuat pria yang berada di depannya sejak tadi menatap ke arah Almira makin tersenyum.


"Aku sudah berada disini dan aku tidak akan pernah membiar kan kamu dan aku berpisah hanya beberapa menit saja, dengar kan ini baik baik sayang... Aku tidak akan pernah membiar kan kamu sendiri tanpa aku, aku tidak akan membuat kamu jauh dari aku. Sekarang kamu mengerti kan sayang, bagaimana gilanya aku tanpa kamu hem..." ucap Kenzo dengan wajah penuh serius menatap ke arah Almira yang masih bengong menatapnya.


Cup.


Kecupan lembut yang mendarat ke di kening Almira membuat gadis itu tersadar dari lamunannya dan menatap selidik ke arah Kenzo yang malah menampil kan raut wajah santai tanpa bersalah, saat Kenzo mengetahui kalau Almira akan mengeluar kan suara protes dengan cepat Kenzo memeluk tubuh mungil Almira membawa ke pelukan hangatnya dan dengan sekejap Almira terdiam tidak jadi protes terhadap Kenzo yang membuat pria itu tersenyum kemenangan tanpa di ketahui Almira tentunya.


"Kamu benar benar gila Mas..." ujar Almira dengan nada pelan yang langsung di anggukki mantap oleh Kenzo tanpa melepas kan pelukan mereka.


"Benar, aku memang sudah gila karena kamu sayang ku, cinta ku, istri ku." balas Kenzo lalu mengecup kening Almira dengan lama lagi yang membuat gadis yang berada di pelukannya memejam kan kedua mata tidak habis pikir dengan Kenzo yang sangat tergila gila kepada dirinya.


"Benar benar gila, di luar akal." batin Almira sedikit melirik Kenzo saat kecupan di kening terlepas.


***


Teriak sangat heboh memenuhi setiap sudut apartemen dan membuat sepasang suami istri terkejut dengan teriakan yang bernada berat, lalu mereka sama sama menoleh kan ke belakang dan terpampang lah badan tegap dan raut wajah yang sudah datar tanpa ekspresi dengan melipat kan kedua tangan di depan dada menatap suami istri yang duduk di sofa empuknya dengan Kenzo yang memeluk badan mungil Almira dan Almira yang mengelus elus rambut tersebut dengan jari jarinya.


"Bang Edo..." lirih Almira dengan nada pelan karena terkejut dan takut secara bersamaan saat melihat raut wajah tidak sahabat dari kakak sepupunya.


Edo berjalan menghampiri mereka membuat Almira melebar kan kedua matanya tapi hanya bisa menunduk menyembunyi kan wajahnya, berbeda lagi dengan Kenzo yang menatap kesal ke arah Edo karena pria itu sudah merusak suasana yang sangat romantis bagi Kenzo hanya karena teriakan dari Edo.


Edo melepas kan tangan Kenzo yang memeluk badan mungil Almira dengan kasar membuat Kenzo menatap sinis dan tajam ke arah Edo lalu di balas dengan sama, aura permusuhan muncul di antara Almira membuatnya menegang meskipun sebentar lalu mendongak kan wajahnya menatap kedua laki laki dengan pandangan lelah dan kesal.


"Kata kamu tidak membawa Kenzo karena takut terganggu, kenapa kamu malah membawanya Almira? Kalau kamu tidak membawa Kenzo, pasti masalah di perusahaan ini selesai dengan cepat. Kan Abang sudah memberi kan saran untuk kamu agar tidak membawa pria gila ini Almira." ujar Edo dengan nada datar dan sinis ke arah Kenzo.


Kenzo yang mendengar itu langsung saja mengepal kan kedua tangan di dalam saku celana, akhirnya dirinya mendapat kan jawaban yang sebenarnya kenapa Almira tidak membawa dirinya. Tapi saat mengetahui kalau dirinya ternyata mengganggu Almira membuat hatinya tiba tiba merasa kan sesak yang luar biasa tidak tau kenapa, tapi saat tau kalau itu adalah rencana dari Edo membuat Kenzo sangat kesal.

__ADS_1


"Oh, ternyata ini semua itu rencana lo Edo!" tegas Kenzo sambil memaju kan badannya ke arah Edo yang membuat laki laki itu mundur seketika dengan tiba tiba tidak tau kenapa saat melihat raut wajah Kenzo yang berubah menjadi sangat menyeram kan yang sama seperti kejadian masa lalu yang di antara mereka saja yang tau membuat Edo merinding.


Bugh.


Tiba tiba saja Kenzo memukul wajah Edo sangat keras sehingga menimbul kan suara yang lumayan keras juga membuat Almira menjerit karena terkejut dengan bogeman mentah dari Kenzo untung sang abang sepupu.


Saat Kenzo akan memukul Edo lagi, dengan cepat Almira menghampiri Edo yang sudah tersungkur ke bawah dengan memegang bibirnya yang mengeluar kan darah.


Kenzo yang melihat Almira lebih memilih Edo membuatnya makin emosi dan marah sehingga rahangnya mengeras hanya melihat Almira yang sangat khawatir kepada Edo yang hanya status sepupu saja dari pada dirinya yang mempunyai status lebih tinggi yaitu Suami.


"Abang bisa obati sendiri kan? Al mau bicara sama Kenzo dulu, nanti aku jenguk Abang di kamar." ujar Almira dengan bada lembut dan raut wajah khawatir seperti sebelumnya.


Edo hanya mengangguk saja lalu berdiri menatap Kenzo yang masih menatap tajam ke arahnya, menggerak kan bibirnya mengucap kan kata maaf membuat Kenzo menatap bersalah ke arah Edo yang sudah berjalan meninggal kan mereka dengan keadaan hening.


Kenzo mencoba mengatur emosinya saat melihat Almira menghela nafas panjang dan membalik kan badan menatap ke arah Kenzo yang membuat pria itu menatap bersalah yang malah di balas dengan Almira tatapan datar dan tajam.


"Kalau lo sudah gila, jangan lebih gila lagi. Pukul bang Edo dengan masalah sepele, bang Edo maupun gue saja belum melanjut kan alasan kami tapi lo malah dengan seenaknya memukul bang Edo. Makanya, pikir pakai otak." ucap Almira dengan nada ketus membuat Kenzo sangat terkejut menatap ke arah gadis itu yang sudah kesal dan marah kepada dirinya membuat Kenzo hanya bisa menunduk dengan diam menerima semua kata kata kasar dari mulut Almira.


"Kalau gue bilang lo tidak perlu ikut, maka jangan ikut. Dasar keras kepala, gue capek Kenzo, gue capek. Gue capek hadapi semuanya dan lo malah ikut ikut goda gue juga. Gue capek sama masalah yang bermunculan, tapi kenapa lo tidak pernah faham, hah?" sambung Almira dengan nada keras dan mendorong dada Kenzo ke belakang tapi pria itu hanya mundur satu langkah saja karena dorongan dari kedua tangan Almira.


"Sekarang gue tidak peduli lagi sama apa yang lo lakukan di depan gue maupun di belakang gue, gue tidak akan peduli lagi. Gue dari tadi sudah bilang kalau lo tidak perlu ikut, tapi jawaban lo tetap sama saja. Lo memang gila Kenzo, lo memang gila." lanjut Almira dengan berontak di pelukan Kenzo yang sangat erat itu sehingga Almira tidak bisa terlepas dari pelukan Kenzo.


"Sayang, maaf kan aku sayang. Aku mohon jangan seperti ini, aku mohon sayang. Maaf dan maaf." bisik Kenzo tepat di samping telinga Almira sehingga gadis itu berhenti dari berontakannya dan terdiam.


"Gue capek, gue capek sama masalah masalah ini yang datang. Gue cuman ingin bahagia meskipun itu sederhana, gue capek Kenzo..." lirih Almira merosot lalu memejam kan kedua matanya membuat Kenzo khawatir ke arahnya lalu menggendong menuju kamarnya dengan cepat.


Cup.


Cup.


Cup.

__ADS_1


Kenzo mengecup kedua pipi Almira dan terakhir mengecup ke kening Almira dengan lembut setelah membaring kan badannya dengan pelan.


"Maaf kan aku sayang, maaf." ucap Kenzo lalu naik ke atas ranjang dan berbaring di samping Almira dengan memeluk pinggang ramping istrinya dan mendekat kan badannya ke badan Almira.


__ADS_2