
"Mas bangun, aku mau manjat pohon mangga yang ada di tetangga. Bangun dong Mas, ayo temenin aku..."
Rengek kan keluar dari mulut Almira sambil menggoyang goyang kan badan Kenzo yang sedang tidur di sampingnya membuat pria yang sedang memejam kan kedua matanya langsung terbangun duduk karena terkejut, menoleh menatap ke arah Almira yang mengeluar kan wajah memelasnya.
"Apa sayang?" tanya Kenzo dengan mengucek ucek matanya dan mengusap pelan wajahnya karena baru bangun tidur.
"Aku mau manjat pohon mangga yang ada di tetangga sebelah, temenin aku Mas." jawab Almira dengan nada memelas menatap kw arah suaminya yang melotot kan kedua matanya tidak percaya.
Kenzo langsung melihat jam yang ada di atas meja nakas yang menunjuk kan jam dua dini hari lebih lima belas menit, lalu tatapannya beralih menatap Almira dengan tidak percaya, maksudnya apa ingin memanjat pohon mangga malam malam seperti ini?
"Sayang, sudah malam. Jangan mau yang aneh aneh, sekarang tidur." ujar Kenzo dengan nada tegas tapi sebenarnya lembut sambil mengelus puncak kepala Almira dengan lembut dan pelan juga.
"Mas, aku ingin manjat pohon mangga sekarang juga. Sepertinya aku sedang nyidam, memangnya kamau mau kalau keinginan ku tidak terpenuhi maka anak kita nanti ileran loh. Memang kamu mau hah?" ucap Almira dengan nada garang sambil berkacak pinggang di depan Kenzo yang menghembus kan nafasnya.
"Nyidamnya juga lihat lihat sayang, kamu ini nyidamnya aneh. Sekarang tidur, satu... dua... ti-"
"Ngeselin kamu." sahut Almira memotong ucapan Kenzo yang sedang menghitungnya dengan raut wajah datar dan langsung saja Almira membaring kan badannya membelakangi suaminya.
Kenzo yang melihat itu menghela nafasnya sambil membenar kan selimut ke sang istri agar menutupi badannya, lalu Kenzo ikut membating kan badan di samping Almira sambil memeluk pinggang sang istri tidak terlalu erat.
"Maaf sayang, aku khawatir sama kamu karena nyidam kamu yang aneh seperti ini. Mimpi indah istri ku yang sangat cantik." bisik Kenzo tepat di telinga Almira dan mencium pipi cubby istrinya dengan lembut lalu memejam kan kedua matanya.
Almira hanya diam saja sambil menatap lurus ke depan dengan pandangan sedihnya, tidak tau kenapa tiba tiba mengeluar kan air matanya.
Almira sangat sensitif sekarang ini. Almira hanya ingin saja merasa kan manjat pohon mangga tengah malam seperti ini, pasti sangat seru bagi dirinya. Tetapi Kenzo malah menolaknya untuk menemani, tubuhnya bergetar menanda kan kalau Almira sedang menangis membuat Kenzo langsung membuka kedua matanya dan menengok Almira yang sudah di banjiri air mata.
"Sayang, kenapa menangis hem? Hey sayang, sini lihat Mas." ujar Kenzo dengan nada khawatir dan raut wajah takut langsung saja membalik kan badan Almira ke arahnya dengan pelan.
"Hiks... Hiks... Hiks..." suara tangis dari Almira makin kencang dan tidak berhenti membuat Kenzo kelimpungan sendiri, antara khawatir dan bingung.
Grep.
Kenzo langsung membawa Almira ke dalam pelukannya sambil mengecup puncak kepala istrinya berkali kali, hatinya sangat sesak saat melihat Almira menangis. Dirinya tidak tau harus bagaimana menghadapi sang istri.
"Kenapa hem? Bilang Mas." ucap Kenzo dengan nada lembut terus saja mengecup puncak kepala Almira tanpa henti.
"Aku... Aku mau manjat pohon mangga sekarang juga, huwa...." jawab Almira dengan tangis membuat gerakan Kenzo berhenti di ganti kan dengan raut wajah cengo tidak percaya.
"Kamu nangis seperti ini hanya karena itu? Iya?" tanya Kenzo tanpa sadar dengan nada ketus karena dirinya masih cengo tidak percaya.
__ADS_1
"Iya. Aku mau manjat po-"
"ALMIRA SAYYIDA SAMUDRA, KAMU TAU KAN SEKARANG ITU MALAM HARI. SEKARANG BERHENTI MENANGIS DAN TIDUR." bentak Kenzo memotong ucapan Almira tanpa sadar membuat perempuan itu seketika berhenti menangis dan terlonjak terkejut tidak percaya.
Almira melepas kan pelukannya lalu menatap Kenzo tidak percaya yang nafasnya tersenggal senggal, saat Kenzo sudah nafasnya beraturan langsung menatap Almira yang sedang menatap dirinya dengan pandangan kecewa membuat Kenzo terkejut lalu sadar kalau dirinya sudah membentak Almira.
"Sa- sayang, aku... aku..." ucap Kenzo dengan nada terbata bata seperti lidahnya itu keluh hanya untuk bicara.
Almira memandang datar tanpa ekspresi lalu memunggungi Kenzo dan memejam kan kedua matanya untuk memasuki mimpi dengan perasaan campur aduk, mencoba untuk bersikap biasa saja.
Kenzo yang Almira seperti itu kepadanya membuat dia menghela nafas panjang dan mengusap wajahnya dengan kasar, dia kelepasan membentak Almira untuk pertama kalinya.
"Maaf." ucap Kenzo pelan dengan suasana yang hening.
***
"Ada kabar apa sekarang? Kalau tidak ada kabar, lebih baik kamu tidak perlu kesini."
Ucapan dengan nada datar sambil tatapan tajam dari seorang pria yang berada di ruangan berantak kan, tanpa melihat siapa yang datang.
"Perempuan itu ternyata sekarang sedang hamil, Tuan." ucapan dari anak buahnya menatap pria berwajah datar itu sudah membelalak terkejut menatapnya.
"Apa? Hamil?" gumam pria itu dengan nada pelan tapi masih bisa di dengar oleh anak buahnya yang ada di depannya.
"Pergilah." suruh pria itu dengan nada datar mengusir anak buahnya yang langsung keluar dari ruangan berantak kannya.
Memutar mutar pulpen yang ada di tangannya, semulanya berwajah datar sekarang menampil kan senyuman seringai lurus ke depan sehingga kedua matanya menyipit. Tiba tiba saja pria itu tertawa kencang saat sebuah ide muncul di kepalanya dengan bangga.
"Wah! Sekarang musuh ku ada dua, perempuan bodoh dan kandungannya. Pasti sangat menyenang kan saat waktu itu tiba, makin tidak sabar menanti kannya. Bersiap lah Almira, Haha..." ucapnya.
***
"Engh..."
Lenguhan keluar dari mulut Kenzo yang masih terbaring di kasur empuknya, lalu meraba di sampingnya tetapi kosong tidak ada badan Almira membuat kedua matanya langsung terbuka dengan lebar duduk menatap ke sampingnya.
"Kosong." ucap Kenzo dengan mengerut kan keningnya, tetapi saat mengingat kejadian kemarin membuat dia langsung saja bangkit menuju kamar mandi untuk mencuci wajah dan berjalan buru buru keluar kamar.
Tiba tiba saja perasaan takut muncul di hatinya, takut kalau Almira pergi darinya.
__ADS_1
Kenzo berjalan ke arah dapur dan hanya ada Bibi An saja membuatnya celinguk celinguk kesana kemari membuat wanita paruh baya itu bingung keheranan.
"Den Kenzo sedang apa?" tanya Bibi An dengan raut wajah bingung masih tercetak jelas.
"Dimana Almira, Bik?" balik tanya Kenzo yang langsung di anggukki paham oleh wanita paruh baya tersebut.
"Non Almira sedang berada di tetangga sama Den Edo, katanya lagi nyidam." jawab Bibi An yang langsung membuat Kenzo terkejut.
Tanpa menjawab lagi, Kenzo langsung saja keluar rumah untuk ke tetangga sebelah yang mempunyai pohon mangga, dirinya takut kalau Almira beneran akan manjat pohon mangga tersebut.
Mendengar suara Almira dan Edo saling bersahutan membuat Kenzo menghampiri, dan benar saja kalau Almira sedang manjat pohon dan sedang makan buah mangga dari atas langsung dengan duduk duduk santai lalu Edo hanya memandang dari bawah saja sambil bercanda ria membuat Kenzo geleng geleng kepala tidak habis pikir dengan dua orang tersebut.
"Astagfirullah sayang..." ucap Kenzo terkejut menatap ke arah Almira yang memandang ke arahnya datar dan tidak peduli malah melanjut kan gigitan demi gigitan di buah mangga yang ada di tangannya.
Edo hanya menatap ke arah Kenzo dengan santai seperti biasa, lalu menoleh ke Almira ke atas dengan santai.
"Sayang, turun sekarang juga. Kamu itu lagi hamil, jangan aneh aneh deh." ujar Kenzo dengan nada khawatir yang di acuh kan oleh Almira.
"Diem lo, Ken." sunggut Edo menatap ke arah Kenzo dengan pandangan tajamnya seperti biasa.
"Lo juga kenapa malah biarin Almira manjat pohon hah? Sudah tau kalau Almira itu sedang hamil, malah lo... Akhhh pusing gue..." ujar Kenzo frustasi di campur perasaan khawatir membuat Almira langsung tersembur tawanya karena melihat raut wajah Kenzo yang tidak pernah dia lihat, berbeda lagi dengan Edo yang hanya geleng geleng kepala melihat raut wajah Kenzo.
"Hahaha... Gila, lucu banget. Raut wajahnya ternista kan." tawa Almira terus saja menertawa kan Kenzo sambil menunjuk ke arahnya lalu membuang buah mangga yang ada di tangannya dan turun dari pohon mangga dengan pelan pelan seperti sudah pro saja.
Kenzo tidak mempeduli kan kalau dorinya di tertawa kan, tetapi Kenzo khawatir karena Almira turunnya itu dengan cara melompat kecil ke tanah pinjak kan terakhir.
"Sayang, kamu buag aku takut." ujar Kenzo sambil memeluk tubuh Almira lalu dia lepas kan oleh perempuan itu dengan menutupi area hidungnya menatap ke arah Kenzo.
"Jangan dekat dekat, kamu bau tempat pembuangan sampah." ucap Almira membuat Kenzo menampil kan wajah cengo menatap ke arah sang istri yang berlalu pergi darinya.
Puk.
Tepuk kan pelan membuat Kenzo tersadar dan menoleh ke arah Edo dengan menaik kan satu alisnya.
"Sepertinya, anak lo gak suka sama lo, Ken. Siap siap lah kalau anak lo lahir, gue pasti kan kalau dia sam lo akan selalu berantem meskipun hal hal kecil, uh sangat lucu." ucap Edo dengan pura pura bernada sedang gemas lalu berlalu pergi meninggal kan Kenzo sendiri.
"Gue ternista kan... Padahal anak gue masih di dalam perut saja sudah menjengkel kan, apalagi kalau anak gue sudah keluar... Bagaimana nasib gue..." ucap Kenzo dengan nada pelan sambil menatap pohon mangga yang ada di depannya dengan wajah cengo tidak percaya.
Tanpa di ketahui Kenzo kalau sebenarnya Almira dan Edo belum meninggal kannya, mereka sekarang berada di belakang gerbang rumahnya dengan menatap ke arah Kenzo.
__ADS_1
Almira lah yang paling lepas tertawanya, tidak tau perasaan senang di dalam hatinya saat mengerjai Kenzo menyeruak seperti ada kebanggaan tersendiri dan Edo yang menatap hanya mengusap puncak kepala yang tertutupi hijab instannya dengan gemas.
"Kamu sangat pintar sayang sudah membuat Ayah kamu frustasi." ucap Almira sambil mengelus elus perut ratanya dengan tawa yang masih keluar.