
"Jangan telalu larut dalam ke-kecewaan, sayang..."
Ucapan Kenzo membuat Almira termenung yang sudah berada di taman belakang rumahnya. Saat Kenzo mengucapkan kata-kata itu tempo hari, membuat Almira berubah menjadi anak pendiam akibat berfikir keras.
Angin sejuk dan hawa dingin menyeruak di seluruh wajahnya.
Memejamkan kedua mata, menarik nafas lalu menghembuskan nafas dengan pelan.
"Apa gue sudah terlalu salah?" tanya Almira memandang langit biru diatasnya.
"Tidak."
Jawaban dari seseorang membuat Almira menoleh dengan cepat mendapati Justin yang sudah berjalan menghampirinya dengan senyuman lembut.
Almira hanya diam saat Justin sudah duduk di sampingnya sambil mengelus puncak kepala yang tertutupi hijab.
"Gue salah." lirih Almira menatap Justin yang masih mempertahankan senyumannya.
"Lo gak salah, Al. Sebaiknya sekarang lo coba memperbaiki hubungan sama Oma. Kejadian masa lalu itu bukan salah Oma, itu sudah takdir dari Allah. Kakek Zidan dan Kakek Dirga sangat menyayangi Oma lebih dari apapun, mereka tidak akan membiarkan Oma Diana merasakan sakit. Paham kan Al?" jelas Justin panjang kali lebar dengan nada lembut agar di pahami oleh sepupunya.
"Tapi gue sudah jahat sama Oma, apa Oma mau maafin gue. Yang kecewa bukan gue aja, Justin." ujar Almira dengan nada penuh penekanan di akhir kalimatnya.
Justin diam tidak membalas ucapan Almira yang sedang kesal, dia makin membuat Almira terasa tenang dan nyaman sehingga membuat sepupu cewek satu-satunya itu menghela nafas pelan.
"Perbaiki hubungan lo sama Oma, sebelum terlambat Almira Sayyida Alindra."
Setelah mengucapkat kata-kata itu, Justin pergi meninggalkan Almira sendiri dengan keheningan.
Almira membeku saat mendengar ucapan Justin yang membuat hatinya merasa tertohok.
"Gue bingung, gue harus apa?"
***
"Lilu mana?"
Pertanyaan dengan nada dingin membuat kedua gadis yang sedang duduk santai menyantap ice cream membuat mereka menoleh sambil meringis melihat tatapan yang sangat tajam, itu seperti tatapan yang akan memangsa mereka.
Dengan cepat, kedua gadis itu menghabis ice cream di genggamannya lalu menghampiri Nera dengan langkah begitu cepat.
"Gue tanya sekali lagi, Lilu mana?" tanya Nera yang makin menatap kedua sahabatnya dengan sangat tajam, datar tanpa ekspresi.
Almira ataupun Danera saling melirik meskipun rasa ketakutan dan gelisah melihat tatapan tajam itu, mencoba bersikap biasa saja lalu menyengir tidak jelas.
Nera yang memandang mereka langsung mengepalkan kedua tangan saat melihat cengiran itu.
"Kalian bawa kemana, Lilu?"
"Kita buang ke hutan!"
__ADS_1
Jawaban dari kedua sahabatnya membuat Nera melotot tidak terima. Lilu, hewan peliharaan yang sangat dia sayang dari kecil, dengan gampangnya mereka buang ke hutan.
"ALMIRA... DANERA..."
"KABUR..."
Mereka masih saling mengejar, lalu Danera mengoceh dengan minta maaf ke Nera. Tapi, itu sia-sia belaka karena Nera tidak mempedulikan masih saja mengejar kedua sahabatnya.
Almira melihat Kenzo yang keluar dari kamar langsung saja bersembunyi di belakangnya. Danera juga tidak menyia-nyiakan saat ada Rio dan Nigel yang masuk ke rumah Oma Diana. Langsung saja berada di belakang Rio.
"Sorry, Nera..."
"Sini kalian berdua." ujar Nera dengan nada dingin membuat atmosfer di sekeliling mereka tiba-tiba menjadi menyeramkan.
Almira, Danera, Rio, dan Nigel merinding merasakan aura yang sangat mencengkam itu. Berbeda dengan Kenzo yang hanya bersikap biasa saja dan acuh hanya diam.
"Sana, Dan." usir Rio mencoba menarik Danera untuk berada di depannya.
Wajah Danera langsung melotot terkejut ke arah Rio yang sudah meringis.
"LO GAK LINDUNGI GUE, PACAR MACAM APA LO, HAH." teriak Danera sangat pas di samping telinga kiri Rio.
Jangan di tanya ekspresi Rio sekarang.
Almira dan Danera langsung saja menghampiri Nera yang sedang melipatkan kedua tangan sambil memandang kedua sahabatnya yang sedang menunduk berjalan sangat pelan.
"Kalian berdua harus temuin Lilu sekarang juga, kalau tidak... Habis lo sama gue, paham kan?" bisik Nera yang hanya bisa di dengar oleh Almira dan Danera.
Anggukkan sangat cepat dari kedua sahabatnya membuat Nera tersenyum sangat tanpa ada yang tau kecuali Kenzo yang memandang senang.
"Mampus lah, kita..."
***
"Emangnya, Lilu itu siapa?"
Pertanyaan dari mulut Rio membuat mereka semua menoleh menatapnya. Apalagi Nera yang sudah menatap tajam kearah cowok itu yang baru saja melayangkan pertanyaan dengan nada bingung.
"Hewan peliharaan." jawab Danera dengan nada malas.
Almira dan Danera sudah lemas tidak berdaya, mereka sudah kehabisan energi karena mencari Lilu di manapun.
"Hewan peliharaan?" gumam Rio sangat pelan sehingga tidak ada yang mendengar.
"Hewan aja di cari, gue kira Lilu itu apaan yang berharga." gerutu Nigel sangat kencang sehingga mereka semua mendengarnya.
Nera yang sudah kesal karena Lilu tidak di temukan membuat dia emosi sekaligus sebab ucapan Nigel. Almira dan Danera hanya meringis melihat raut wajah tidak enak dari sahabatnya.
Tarikan kencang membuat leher Nigel terasa cekik akibat tarikan kera bajunya dari oleh Nera. Rasa sempit menjalar di lehernya membuat mereka meringis kecuali Kenzo.
__ADS_1
"Lo sama saja menghina gue kalau lo menghina Lilu, sialan." umpat Nera membuat Almira dan Danera menenangkan cewek itu.
Kenzo dengan cepat melepaskan kedua tangan Nera yang mencengkam Nigel membuat sahabatnya langsung menarik nafas dengan kasar.
Nigel menatap sinis kearah Nera yang di pegang oleh kedua sahabatnya dan dia berada di belakang Kenzo.
"EMANG LILU LO ITU HEWAN APA, HAH?" bentak Nigel yang sudah memerah menatap Nera yang sudah mengepalkan kedua tangan di depan dada.
"MONYET."
"HAH?" teriak terkejut dari Nigel dan Rio secara bersamaan atas jawaban Nera yang sangat kencang.
"LILU ITU MONYET." teriak Almira dan Danera secara bersamaan.
Kedua cowok itu langsung menampilkan raut wajah cengo memandang tiga gadis itu yang tersenyum aneh tidak bisa mereka artikan apa arti senyum itu.
Suara jatuh pingsan sangat nyaring dalam keadaan hening membuat mereka menatap kearah Nigel dan Rio sudah pingsan di bawah dengan wajah cengonya.
"Bodoh."
***
"NERA... KITA BAWA LILU..."
Nera yang masih berdiam di kamar mendengar teriakan dari Almira dan Danera membuat dia syok, langsung saja dengan cepat Nera membuka pintu kamar menatap Almira dan Danera yang membawa hewan Monyet sedang menatapnya senang.
Nera yang melihat Lilu langsung memeluknya sangat erat seperti tidak mau lepas takut kalau Lilu pergi lagi.
Uu... Aak... Uuaak...
Ucap Lilu sang Monyet senang berada di pelukan Nera membuat Almira dan Danera menatap senang.
"Gue sayang lo, Lilu." ucap Nera yang langsung membawa Lilu ke kamarnya membuat kedua sahabatnya mendengus kesal akibat Nera seperti tidak melihat mereka.
"Nera mulai deh." ujar Almira bernada kesal menatap Danera yang sama sangat kesal.
"Betul. Nera selalu gitu, ihh." rengek Danera yang selalu masuk ke kamar Nera dengan menghentakkan kedua kaki pertanda sedang kesal.
Almira yang melihat itu langsung berjalan menghampiri mereka, masuk ke kamar Nera.
Saat melihat Nera sedang bermain bersama Lilu dan Danera di acuhkan ole Nera membuat senyum Almira mengembang.
"Kamu tau kan, kenapa Nera sangat menyayangi Lilu?" tanya Kenzo yang tiba-tiba berada di samping Almira.
Almira mengangguk sambil menoleh kearah mereka lagi. Usapan lembut dari Kenzo membuat Almira menatap kearah si empu lalu tersenyum kecil dari mulut Almira kepada Kenzo.
"Hanya Lilu kenangan dari Kakek Dirga untuk Nera. Jangan di ulangi lagi ya?" ucap Kenzo dengan nada sangat lembut dan masih mengelus kepala Almira.
"Maaf."
__ADS_1