Suami Pilihan Oma

Suami Pilihan Oma
TIGA PULUH TIGA


__ADS_3

"Almira, bertemu lagi."


Suara dari seseorang membuat Almira dan kedua sahabatnya menoleh sambil memutar bola matanya malas saat melihat Ella bersama kedua dayangnya, tersenyum sinis kepada dirinya dan para sahabat.


Mereka sekarang berada di caffe anak zaman now yang sangat terkenal dan hits. Sehingga para pengunjung sangat ramai.


Di dalam hati Almira, mendumel kesal karena harus bertemu sama Nenek lampir yang tidak tau diri sama sekali. Berniat untuk healing agar pikiran menjadi sejuk dan santai.


Tapi, bukannya mereka yang di harapkan malah sebaliknya.


Hanya karena melihat Ella dan para dayang, Almira dan kedua sahabatnya makin emosi dan frustasi.


Bagi Almira, Ella dan kedua dayangnya adalah hama ataupun kotoran di bumi ini. Itu sebabnya harus di musnahkan secepatnya.


"Kenapa kalian memandang kami seperti ingin memangsa?" tanya salah satu dayang dari Ella menatap Almira dan kedua sahabatnya secara bergantian.


"Biasa, mereka pasti iri melihat kita atau mereka takut kepada kita saat menginjakkan tapak kaki di caffe ini. Mereka kan, miskin." sambung salah satu dayang Ella yang memakai bando bewarna merah muda.


Danera siap akan maju menghampiri mereka dengan wajah marah, tapi itu tidak jadi karena Nera mencegah menahan dengan menggenggam pergelangan tangan Danera.


Nera paham dengan cewek cengeng itu, makanya Nera tidak mau membuat sahabatnya akan merasa malu di depan umum.


Danera diam saat mendapatkan kode dari Nera untuk diam, berbeda lagi dengan Almira yang sudah mengepalkan kedua tangan di samping badannya siap akan mencakar-cakar tubuh Ella dan para dayangnya itu.


"Lo-"


"Syut... Tidak perlu banyak bicara, Almira. Gue kesini tidak ingin bertengkar dengan mu. Tapi gue disini mau kasih tau kabar yang mengejutkan buat lo." sahut Ella memotong ucapan Almira dengan nada santai.


Tanpa di suruh oleh si punya tempat meja, Ella dan para dayang sudah duduk di tempat meja Almira dan kedua sahabatnya yang sedang mengepalkan kedua tangan menahan emosi yang akan keluar kepada mereka.


"Silahkan duduk." ucap Ella mempersilahkan ketiga gadis yang masih berdiri tanpa rasa malu ataupun rasa bersalah dalam raut wajahnya.

__ADS_1


"Sialan, gue yang punya tempat meja ini." umpat Danera dengan nada gumaman pelan yang masih bisa di dengar oleh mereka.


Almira duduk berhadapan dengan Ella yang sudah menghunus tajam kearah cewek itu dengan tatapan.


Rasa kesal dan emosi masih ada di dalam tubuh Almira memandang Ella yang tersenyum menyeringai.


Almira tidak tau dengan senyuman itu, tapi dia harus berhati-hati untuk jaga-jaga bila Ella melakukan sesuatu.


"Apa yang mau lo omongin, hah?" tanya Danera yang sudah muak menatap ketuga gadis itu yang sekarang malah berada di depannya.


"Tidak sabar akan membuat kalian menderita." ucap Ella tiba-tiba sambil tersenyum sinis kearah gadis itu yang sedang bicara tadi.


Danera yang merasa di sindir sangat kesal, ingin sekali dia menjambak rambut Ella yang lusuh dengan sangat kencang. Tangan Danera sudah sangat gatal dan kepalanya sudah memanas akibat mereka yang membuat dia emosi


"Kalian pasti akan sangat terkejut dengan kabar ini." ujar Ella dengan nada menggoda kepada mereka menggantung ucapannya agar merasa makin kesal karena penasaran.


"Langsung ke intinya saja, tanpa basa-basi. Karena lo sudah basi." ujar Almira dengan nada ketus.


Saat Almira mengucapkan kata-kata itu, Ella dengan spontan terkekeh kecil sehingga membuat para pengunjung lainnya menatap meja mereka karena penasaran.


Mereka merinding.


"Dari dulu sampai sekarang, ada seseorang menyukai Roy diam-diam. Saat Roy sudah putus, dia sangat senang dan makin membuat Roy sama lo jauh, Almira." ucap Ella memandang serius.


"Lo mau tau siapa dalangnya? Dia adalah sahabat lo sendiri, Syainera Dwi Dullond."


***


"Apa ucapan Ella tadi siang, serius?"


Suara Almira menatap luris ke depan kepada dirinya sendiri, setelah ucapan Ella yang mengatakan kalau Nera menyukai Roy sejak dulu tapi akulah yang mendapatkan hati Roy.

__ADS_1


Saat ucapan Ella, Almira dan Danera diam termenung tidak ada yang mengeluarkan suara. Nera pun sama, tidak mengeluarkan suara apapun ataupun penjelasan untuk kedua sahabatnya.


Almira tiba-tiba izin ke toilet, tapi sebenarnya Almira keluar dari caffe tersebut lewat pintu belakang tanpa di ketahui Nera ataupun Danera. Almira terkejut mendengar fakta itu, dia sangat merasa bersalah kepada Nera dan dia tidak rela kalau Roy bersama cewek lain.


Sebenarnya, Almira masih sangat menyukai Roy seperti dulu.


Tidak ada yang tau rencana apa yang sedang di jalankan oleh Almira Sayyida Alindra.


"Gue, bingung." gumam Almira sambil menghela nafas lelah lalu menundukkan pandangan kearah bawah.


Sebuah elusan lembut di puncak kepala membuat Almira merasakan nyaman dan terkejut saat mendongakkan pandangan melihat si pelaku.


Dia, Kenzo. Suami Almira sedang mengelus dengan lembut dengan tiba-tiba sudah berada di samping Almira.


"Kamu kenapa bisa di tempat ini?" tanya Almira kepada Kenzo sambil menampilkan raut wajah bertanya.


Dalam pandangan Kenzo, Almira sangat imut saat menatap polos baginya. Kenzo langsung duduk di samping tubuh Almira sambil mengelus puncak kepala dengan gerakkan lembut.


"Hanya tidak sengaja lewat, terus lihat kamu sendirian disini. Kenapa, hem?" ujar Kenzo membalas pertanyaan sang istri yang sangat imut dan menggemaskan itu.


Almira hanya menggelengkan kepala dengan pelan sambil menatap kedua mata Kenzo yang menyiratkan ke khawatiran kepadanya, tiba-tiba perut Almira terasa seperti banyak kupu-kupu sedang bertebangan.


Sangat geli dan hangat bagi Almira.


"Mau ke pasar malam?" pertanyaan Kenzo membuat Almira menatap laki-laki itu dengan pandangan lekat.


Almira mengangguk mengiyakan sebagai jawaban, dengan cepat Kenzo menarik sebelah tangan Almira untuk dia genggam dengan erat dan lembut membuat si empu menatap lekat dan sendu.


"Apa aku salah kalau balas dendam ke kamu, Gara? Tapi aku sudah sangat membenci mu. Maaf, bila di suatu saat nanti kamu kecewa dengan ku. Aku tidak tau saat waktu itu tiba bagaimana dirimu, Gara." batin Almira masih menatap punggung Kenzo yang membelakanginya.


Kenzo tersenyum tanpa ada yang tau, hatinya sangat senang dan sedang berbunga-bunga hanya karena Almira menerima genggamannya dengan senang hati. Tanpa di ketahui, sebenarnya Almira sedang menyusun rencana selanjutnya.

__ADS_1


"Aku tidak akan pernah melepaskan dirimu sekali pun kamu mau, Say. Aku akan membuat kamu jatuh cinta lagi seperti dulu masih kecil. Betapa indahnya cinta kita dan aku masih sangat mencintai kamu sampai sekarang dengan rasa cinta sejak kecil ini, Say. Kamu hanya milikku, tidak akan ku biarkan kamu bersama orang lain. Kalau kamu tidak bersama ku, maka kamu juga tidak boleh bersama orang lain, sayang." batin Kenzo tiba-tiba menampilkan seringai kecil sangat seram.


Tidak ada yang tau bagaimana di masa depan kelak, hanya Allah sang maha pencipta yang tau kisah mereka selanjutnya.


__ADS_2