
"Apa? Gue harus jadi mata mata istri lo gitu? Gak mau gue."
Ucapan dari mulut Yogi yang berada di depan Kenzo yang mereka sekarang berada di caffe dekat Bandara, Kenzo lebih dulu berbincang dengan Yogi dari pada pulang yang akan sepi kalau tidak ada istrinya di kamarnya.
Kenzo mengepal kan kedua tangan di dalam saku celananya karena sudah merindu kan Almira, padahal baru satu jam yang lalu Kenzo sudah merasa kan kerinduan yang mendalam apalagi dua bulan yang akan datang, Kenzo akan pasti tersiksa dengan rasa rindunya kepada Almira sang istri tercinta.
"Lo mata matai istri gue, tapi saat dia sudah masuk ke apartemennya lo tidak boleh mengikutinya sampai ke dalam. Selama lo mata matai istri gue, lo harus selalu video call gue tanpa henti. Jangan khawatir kan tentang pekerjaan lo, sudah gue handle semuanya. Lo tinggal menjalan kan tugas yang gue kasih." ujar Kenzo panjang lebar membuat Yogi cengo beberapa detik lalu tersadar dari apa yang dia lakukan.
Yogi dengan cepat mendengus sebal melihat Kenzo yang sudah mulai cerewet saat menyangkut Almiranya. Pria itu geleng geleng kepala tidak habis pikir dengan sifat posesif dari Kenzo yang merupakan temannya.
"Tapi gue nan-"
"Tidak ada penolak kan."
Selesai Kenzo memotong ucapan Yogi, baru lah pria itu meninggal kan Yogi dengan kekesalan yang sekarang dia rasakan.
"MENYEBAL KAN, LO KEN..." teriak Yogi dengan wajah kesal dan memerah yang malah di acuh kan saja dengan pria yang sudah berjalan mengacuh kan dirinya.
***
"Ner, ayo berangkat. Sudah mau mulai nih acaranya."
Teriakan heboh dari mulut Danera di luar rumah Nera membuat penghuni rumah mewah itu terkejut dan membuka kan pintu.
Tapi saat mengetahui siapa yang berteriak tadi, kedua orang tua Nera hanya geleng geleng kepala yang di balas dengan cengiran tidak jelas dari Danera.
Mereka sudah hafal dengan tingkah Danera yang sangat heboh tersebut dan juga Almira tentunya. Karena yang selalu datang ke rumah mewah keluarga Nera hanya kedua gadis tersebut hanya untuk mencari seorang gadis pendiam tersebut.
Ctak.
Kaleng besi sudah mendarat di kening Danera membuat gadis itu meringis mengaduh kesakitan sambil mengelus keningnya yang sudah memerah, mendongak kan kepala menatap si pelaku dengan tatapan tajam menusuk membuat Danera menyengir memperlihat kan deretan gigi putihnya sambil menunjuk kan kedua jari bertanda peace ke hadapan Nera.
"Ayo berangkat sekarang juga." ajak Nera yang langsung menarik pergelangan tangan Danera saat melihat kedua orang tuanya yang menatap sendu.
Nera sudah sangat malas harus berhadapan dengan mereka, Nera hanya diam saat mereka menyuruh dirinya pergi ke luar negeri. Nera sudah sangat muak kalau harus bersama kedua orang tuanya, saat dulu saat masih ada Oma Diana, Nera maupun Danera pasti menginap di rumah mewah tersebut tanpa pulang ke rumah. Lalu mereka tidak akan di cari sama keluarga masing masing, karena Oma Diana sudah meminta izin kepada mereka terlebih dahulu.
Tapi sekarang saat Oma Diana sudah meninggal, Nera dan Danera tidak di boleh kan untuk tinggal di rumah mewah tersebut dengan alasan tidak mau membuat Almira repot dengan anak anak mereka. Padahal Almira malah senang kalau ada kedua sahabatnya, itu hanya alasan belaka agar anak anak mereka bisa pergi meninggal kan Almira sendiri tidak tau apa yang para orang tua rencana kan.
Selama perjalan di dalam mobil, kedua gadis itu hanya diam seperti ada yang kurang di antara mereka saat tidak ada Almira.
"Gue gak bisa bayangin, gimana perasaan Almira saat kita meninggal kan dia di kota ini." ujar Danera tiba tiba membuat Nera langsung menoleh ke arahnya.
Kedua mata Danera menatap lurus ke depan karena dia sedang menyetir. Saat Nera mengalih kan pandangannya ke arah jendela memikir kan ucapan dari Danera membuat kepalan tangan sangat erat.
"Ner, apa lo berpikiran sama dengan gue?" tanya Danera dengan nada sedikit berbisik tapi masih bisa di dengar oleh gadis yang ada di sampingnya.
Nera hanya berdehem untuk menjawab pertanyaan Danera membuat gadis itu melirik sahabatnya yang melamun seperti memikir kan sesuatu, Danera menghela nafas panjang tapi pelan dan membuat suasana menjadi hening tidak ada yang memulai pembicaraan lagi di antara mereka.
Beralih ke tempat seseorang yang sedang menyandar kan punggungnya ke sofa empuk dan merenggangkan otot ototnya memandang lurus ke depan dengan wajah sendu. Menutup laptopnya lalu menyimpan ke samping tubuhnya.
__ADS_1
"Apa gue bisa menjalani hari hari tanpa kalian berdua? Sekarang saja gue sudah tidak kuat harus pisah sama kalian, tapi bagaimana dengan kalian berdua?" gumam seseorang itu dengan pandangan sendu.
Drt... Drt... Drt...
Tiba tiba dering ponsel yang tergeletak di atas kasur empuk menyala dan berbunyi membuat seseorang itu berdiri berjalan menghampiri suara tersebut. Saat mengetahui siapa si penelpon itu, kedua matanya melotot terkejut dan menepuk keningnya karena lupa, dengan cepat seseorang itu menggeser tombol ke warna hijau dan menempel kan ponselnya ke sebelah telinga sambil duduk di kasur empuk.
"Assalamualaikum." salam si penelpon dengan nada datar membuat seorang yang berada di dalam kamar apartemen berjengit terkejut karena suara tersebut.
"Wa- Waalaikum salam. Maaf Ken, aku lupa. Ini saja baru selesai periksa dokumen dokumen di email tadi yang di kirim sama Paman." jawabnya dengan nada bersalah membuat seseorang yang di seberang sana menghela nafas.
Kenzo hanya berdehem saja membuat Almira makin ketar ketir sendiri sambil meremas tangannya sendiri.
"Kamu ke-"
"Aku sampai di sana jam delapan di bandara, jangan lupa jemput. Aku sudah di dalam pesawat sekarang, mengerti sayang?"
"APA? KOK BISA SIH?"
"Aku akan menghukum kamu, betapa khawatirnya aku di sini saat kamu tidak bisa di hubungi, hem. Jadi, jangan lupa besok jemput aku di bandara, aku tutup dulu, Assalamualaikum istri ku."
Tut... Tut... Tut...
"Waalaikum salam."
Almira memandang ponselnya yang sudah mati dengan pandangan cengo, dia masih belum bisa faham dengan ucapan Kenzo di telpon tadi.
"Padahal hanya beberapa jam yang lalu saja, ini saja belum genap satu hari. AKH.... JADI GILA GUE..." jerit Almira melempar kan badannya di kasur empuk lalu menutup kedua mata.
***
Tulisan itu sangat jelas sekali dan besar terpampang jelas karena Almira membawa kertas besar yang bertulis kan kata kata tersebut terangkat di atas membuat semua pungunjung di bandara menoleh menatap heran dan menahan gemas karena Almira sekarang memakai baju bewarna merah muda dengan rok plisket panjang dan hijab pasmina, sehingga membuat gadis itu terlihat menggemas kan di mata siapa saja yang melihatnya.
Almira sebenarnya sudah sangat malu, tapi ini semua sebenarnya untuk membuat sang suami tidak marah lagi meskipun Almira tau kalau Kenzo tidak akan marah yang sangat kejam. Almira hanya takut saja dengan hukuman dari Kenzo yang membuatnya merinding saat mendengar saja, tidak tau kenapa Almira mempunyai ide yang konyol seperti ini.
Kenzo baru saja turun dari pesawat terbang lalu menggaret koper bewarna hitam dengan memakai kaca mata hitam membuat siapa saja yang melihat ke arah pria tersebut langsung terpesona akan kharismanya dan aura tegasnya yang menempel di diri Kenzo.
Semua mata terus saja menatap ke arah Kenzo dengan pandangan kagum yang berseri seri yang hanya di acuh kan oleh Kenzo.
Tiba tiba saja Kenzo menarik sudut bibir ke atas membentuk senyuman yang sangat tipis tanpa di ketahui siapa pun, menatap ke arah depan memandang lekat gadis yang tingginya hanya 160 cm.
"Lucu." gumam Kenzo setelah itu melanjut kan langkahnya yang sempat berhenti karena seorang yang di depannya.
Tidak sengaja, tatapan mereka bertemu sebelum Kenzo sampai ke Almira, gadis itu lebih dulu lari ke arah Kenzo dengan membawa tulisan tersebut lalu memeluk lelaki yang di depannya dengan erat.
Saat Almira memeluk badannya, Kenzo langsung saja membalas pelukan mereka dengan mengelus punggung Almira dengan lembut.
"Padahal kamu yang meninggal kan aku, kenapa malah kamu yang senang, hem." ujar Kenzo dengan nada pelan sambil menjawil hidung Almira karena gemas melihat gadis itu.
Almira menyengir saja menunjukkan deretan gigi putihnya ke arah Kenzo membuat pria yang ada di depannya langsung saja menarik tubuh Almira ke pelukannya, memeluk sangat erat sambil mencium puncak kepala dengan kecil dan ringan.
__ADS_1
"Aku merindu kan mu, sayang." bisik Kenzo tepat di samping sebepah telinga Almira membuat gadis itu langsung mengelus bahu tegap Kenzo dengan lembut.
Mereka masih setia pelukan di tengah tengah bandara dan di lihat oleh semua orang yang berlalu lalang, ada pula yang sampai berhenti hanya untuk melihat kemesraan dari Kenzo dan Almira tentunya.
"Ayo ke apartemen ku, pasti kamu sangat capek berangkat semalam. Nih, buat kamu." ajak Almira sambil memberi kan kertas berukuran besar bertulisan kata kata yang membuat dirinya tadi tersenyum.
Saat Kenzo akan bersuara, Almira lebih dulu memegang telapak tangan Kenzo untuk menggenggam lalu menarik untuk keluar dari bandara, tidak lupa juga sebelah tangan Kenzo susah menarik koper bewarna hitam yang dia bawa tadi.
"Aku tadi kesini pesan taxi, tidak apa apa kan, Ken?" tanya Almira dengan nada bertanya sambil menatap ke arahnya.
Kenzo mengangguk sambil tersenyum dan mengelus puncak kepala Almira dengan lembut membuat Almira ikut tersenyum juga ke arah pria yang ada di depannya.
Seorang supir taxi sudah memasuk kan koper hitam milik Kenzo di bagasi mobilnya yang bewarna biru telur asin itu, lalu membuka kan untuk mereka berdua di tempat duduk penumpang yang berada di belakang supir.
Almira lebih dulu masuk ke dalam lalu Kenzo masuk dengan mendekat kan badannya ke badan Almira, Almira yang mengetahui itu hanya bisa geleng geleng kepala sambil tersenyum geli melihatnya.
Saat mobil taxi itu sudah berjalan, kepala Kenzo bersandar di pundak Almira membuat gadis itu menoleh terkejut karena perlakuan dari Kenzo yang tiba, Almira kan belum siap untuk menetral kan detak jantungnya yang berdebar ini.
"Ken, jangan gini ih, malu tau." bisik Almira sambil melirik ke arah depan menatap sopir itu yang tidak menatap ke arahnya, tapi meskipun sopir itu tidak melihat mereka Almira malu kalau ada orang lain di antara mereka saat dirinya dan Kenzo sedang bermesraan.
Kenzo hanya membalas dengan deheman saja sambil mendekat kan badannya ke Almira lalu kepalanya sudah berada di ceruk leher gadis itu membuat Almira makin geleng geleng kepala tidak habis pikir dengan pria yang menjadi suami sahnya ini.
Melihat Kenzo sudah memejam kan kedua mata membuat Almira tidak tega untuk memarahinya yang makin mendekat, Almira membiar kan Kenzo dengan kedekatan mereka. Almira tidak peduli dengan pandangan dari orang asing di antara mereka.
Tidak tau kenapa Almira merasa kan ada yang aneh dengan sopir di depannya, tapi saat melihat Kenzo yang malah santai saja membuat Almira mencoba untuk bersikap biasa saja meskipun ada yang aneh.
"Nona, sudah sampai." ucap sopir dengan melirik takut saat tidak sengaja bersitatap dengan pandangan tajam dari Kenzo.
"Sayang, kamu duluan saja ya, aku yang akan bayar taxi ini sayang." ujar Kenzo dengan nada lembut menatap ke arah Almira.
"Baik lah, aku duluan ya." pamit Almira yang langsung di anggukki sama Kenzo dengan senyuman di wajahnya.
Saat Almira sudah pergi sudah todak terlihat karena gadis itu sudah masuk ke dalam apartemen, Kenzo membalik kan badan menatap pria yang memakai baju sopir taxi itu dengan pandangan tajam dan datar tanpa ekspresi membuat pria yang ada di depannya menunduk takut.
"Terima kasih, Yogi. Lo sudah mengawasi istri gue dan menjaga istri gue. Tenang saja, akan gue kirim hadiah buat lo." ucap Kenzo membuat pria yang berpakaian sopir taxi mendongak kan kepala menatap Kenzo yang masih menatap datar.
Pria yang berada di depan Kenzo melepas topi dan kumis yang tebal sambil menatap Kenzo dengan senyum sumringah lalu memberi hormat senang lalu berlalu pergi begitu saja dengan wajah senang membuat Kenzo geleng geleng kepala tidak habis pikir temannya tersebut.
Kenzo membalik kan badan dengan gaya pelan, kedua mata pria melotot terkejut saat melihat Almira berdiri di depan pintu sambil menatap datar ke arahnya dan melipat kan kedua tangan di depan dada.
Kenzo berjalan menghampiri Almira dengan pelan, lalu saat Kenzo akan meraih bahu Almira tiba tiba gadis itu mundur sehingga kedua tangan Kenzo menggantung di udara.
"Ternyata kamu memata matai aku saat ada di sini, Ken. Kenapa? Apa kamu tidak percaya sama aku? Dalam hubungan harus di landasi dengan kepercayaan satu sama lain, kalau di hubungan tidak ada rasa percaya kepada masing masing, buat apa bersama. Aku kecewa sama kamu, Ken." ujar Almira langsung berlari masuk ke apartemen dan membuat Kenzo merasa bersalah sehingga kedua tangan yang sedari tadi ada di dalam kentung celananya mengepal erat.
Kenzo berlari menghampiri Almira yang ternyata sedang tiduran di kasur empuknya memaling kan dirinya dan sangat memojok di tempat tidur tersebut.
Kenzo mengusap lembut puncak kepala Almira yang masih mengenakan hijab instannya, Kenzo tau kalau Almira hanya sedang pura pura tidur saja.
"Maaf, aku minta maaf. Bukan maksud ku tidak percaya sama kamu, aku tidak bisa jauh dari kamu selama ini. Meskipun saat aku sedang bekerja, aku menyuruh bodygurd untuk mengawasi kamu dan video call hanya memperlihat kan kamu, sayang. Maaf..." lirih Kenzo sambil membaring kan badannya mendekat ke arah tubuh Almira lalu memeluk pinggang istrinya dengan erat.
__ADS_1
"Segitu besarnya cinta kamu ke aku, Ken?" batin Almira di dalam hati bertanya tanya dan tidak menyangka kalau Kenzo sangat sangat mencintai dirinya sangat dalam seperti ini.