
"Loh, pak Polisi tampan disini?"
Suara dari seseorang membuat mereka semua yang berada di meja kantin menoleh mendapati seorang gadis sedang menampilkan wajah berseri-seri.
Seorang gadis itu langsung berjalan menghampiri Kenzo membuat cowok itu menatap tajam, tapi tidak di pedulikan oleh gadis itu yang terus saja tersenyum lebar kearah Kenzo dan teman-temannya.
Tanpa ada yang tau kalau Danera mengeluarkan ponsel di bawah meja, langsung saja Danera mengetikkan pesan ke seseorang dengan cepat.
[Gue langsung kesana.]
Itulah balasan yang Danera terima membuat dia tersenyum senang, lalu beralih menatap gadis yang sekarang sudah duduk di dekat Kenzo. Kenzo pun hanya diam tidak menghindar ataupun tidak marah.
"Polisi tampan, ternyata kita jodoh ya... buktinya saja kita selalu bertemu di manapun, sekarang pun sama. Kita bertemu." ucap seorang gadis membuat mereka yang berada satu meja dengannya menatap melototkan kedua mata.
Tidak ada balasan dari mulut Kenzo, dia hanya diam menatap ponsel tidak ada yang tau kalau cowok itu hanya mengalihkan dengan memainkan ponsel.
"Takdir yang sangat in-"
"Sayang..."
Panggilan yang sangat kencang membuat semua penghuni kantin rumah sakit menoleh ke ambang pintu mendapati seorang gadis berhijab menampilkan wajah cemberut.
Kenzo cengo dengan panggilan itu dari mulut Almira yang sudah berjalan kearahnya dengan cepat, tapi hati Kenzo berbunga-bunga karena senang. Betapa bahagia dirinya mendapatkan panggilan itu dari mulut manis Almira.
"Sayang, kenapa kamu kok lama membelikan aku makanan. Aku sudah sangat lapar loh, sayang." ucapan Almira membuat Justin, Danera, Nera, Nigel dan Rio cengo karena syok dengan panggilan itu dan tutur kata manja kepada Kenzo.
Almira tanpa mempedulikan kalau dirinya menjadi pusat perhatian semua orang, tanpa aba-aba Almira memeluk leher Kenzo dari belakang membuat cowok itu menegang.
"Sayang, lama..." ucap Almira tepat di telinga sebelah kanan Kenzo.
Rasa geli dan hangat menjadi saru membuat telinga Kenzo memerah karena merasakan deru nafas Almira yang mengeluarkan wangi lavender. Sangat candu bagi Kenzo.
"Mau makan apa, hem?" tanya Kenzo sambil melirik kearah wajah Almira yang masih berada di pelukan lehernya.
"Emm, sama seperti kamu saja sayang." jawab Almira dengan nada lembut tapi sedikit keras membuat mereka semua menatapnya.
__ADS_1
"Heh, cewek murahan lo. Berani sekali seperti itu dengan pak Polisi, lepasin tangan lo dari leher pak Polisi." sentak seorang gadis yang sedari tadi sudah mengepalkan kedua tangan di samping badannya dengan wajah memerah menahan emosi.
Almira menoleh kearah gadis itu dengan pandangan sok polosnya yang membuat Kenzo sangat gemas menatapnya. Berbeda lagi dengan gadis itu yang makin kesal karena merasa Almira makin mengejeknya.
"Emangnya kenapa?" tanya Almira memajukan wajahnya.
"Tidak tau diri. Oh iya, gue kasih tau ke lo. Kalau gue itu calon pa-"
"Gue istrinya."
Ucapan Almira memotong ucapan gadis itu dengan nada pelan tapi menekan setiap katanya membuat aura yang di sekitar menyekam dan menyeramkan.
Wajah gadis itu langsung memucat terkejut menatap Almira dan Kenzo bergantian.
Berbeda lagi dengan Kenzo menatap Almira yang sudah duduk di sampingnya dengan lekat, tanpa sadar Kenzo menaikkan sebelah tangan langsung mengelus puncak kepala Almira dengan senyum manis.
"Apa benar?" tanya gadis yang tidak memakai hijab dengan nada terbata-bata saat melihat perlakuan Kenzo.
"Iya, kami suami istri." jawab Kenzo tanpa melihat gadis itu malah menatap Almira tanpa beralih ke siapapun.
Setelah mengucapkan umpatan kasar itu, seorang gadis mengibaskan rambut panjangnya lalu pergi meninggalkan tempat meja mereka dengan perasaan kesal. Pupus sudah harapannya untuk memiliki Kenzo.
Almira memakan menu yang di pesan oleh Kenzo dengan nikmat tanpa mempedulikan kedua sahabatnya menatap dan sang sepupu menatap penuh curiga. Almira sebenarnya risih menjadi pusat perhatian sedari tadi, tapi dia harus menahannya untuk mengusir pelakor kecil itu.
"Gue... Gak menyangka..." ucap Danera masih menatap cengo kearah Almira yang masih melahap makanan itu.
"Almira, apa maksud ta-"
"Sudahlah, stop."
***
"Diantara kalian, dimana nama Kenzo?"
Pertanyaan dari mulut sang Dokter yang keluar dari ruangan Oma Diana membuat mereka langsung menatap Kenzo yang tidak menampilkan raut wajah apapun.
__ADS_1
Almira hanya menatap Kenzo dengan raut wajah datar tanpa ekspresi, tidak ada yang tau kalau di dalam hatinya dia mendumel kesal dengan sang Oma malah memanggil Kenzo bukan dirinya. Almira sangat merindukan Oma Diana, tapi wanita tua itu malah seperti menghindarinya dengan beralasan nama Kenzo.
Tapi mengetahui kalau Oma Diana sudah sadar, hati Almira senang dan lega secara bersamaan melihat Oma Diana sudah membuka kedua mata.
Kenzo masuk ke dalam ruang rawat Oma Diana dengan jalan tegapnya seperti biasa, tapi di mata orang lain Kenzo sangatlah kharismatik dan berwibawa sehingga mereka banyak sekali terpesona dengan Kenzo.
Tanpa sadar Almira mengikuti Kenzo, saat akan ikut masuk tiba-tiba ada sebuah tangan yang menggenggam kedua bahunya membuat Almira menoleh mendapati Justin yang geleng-geleng kepala menatap Almira. Saat mendapatkan penolakkan dari sang sepupu, Almira menghembuskan nafas dengan kasar sehingga berbunyi sedikit keras sehingga semua orang menatap Almira dengan pandangan yang berbeda.
Almira tidak mempedulikan mereka sama sekali, kedua mata Almira sedari tadi menatap cermin berbentuk oval di pintu ruang rawat menampilkan badan Oma Diana dan Kenzo.
Almira hanya bisa melihat tanpa biaa mendengar pembicaraan mereka sama sekali.
Almira sangatlah penasaran dengan pembicaraan mereka saat melihat Kenzo menundukkan kepala. Dari kecil sampai sekarang, Almira tau kalau Kenzo tidak akan menundukkan kepalanya.
Tapi kenapa sekarang Kenzo menundukkan kepalanya di hadapan Oma Diana.
"Wah, tidak beres ini." batin Almira yang terus menatap mereka berdua dengan pandangan intens.
Setelah beberapa menit, sangat memakan waktu untuk hari itu. Tidak ada yang tau kalau sedari tadi, Kenzo mengamati tubuh Almira yang seperti tidak nyaman lewat jendela yang berbentuk lingkarang di pintu tersebut.
Saat Oma Diana sudah selesai, Kenzo dengan cepat izin untuk keluar dari ruangan tersebut. Kenzo langsung saja berdiri lalu secepatnya melangkah keluar meskipun dia sedang berjalan tegap karena dirinya di lihat oleh Oma Diana.
"Dimana Almira?"
Pertanyaan dari mulut seorang pria dengan wajah datar membuat mereka yang sedang duduk di luar ruang rawat Oma Diana menatap Kenzo yang baru saja keluar dari ruangan tersebut.
"Katanya sih, ingin cari angin dan tidak mau di temani Om." jawab Danera dengan mendekat ke Rio karenatakut dengan aura dan tatapan tajam dari Kenzo.
Danera langsung menarik tangan kanan Rio untuk menutupi wajahnya dari tatapan tajam dari Kenzo. Dia sangat takut, tidak tau kenapa Danera selalu takut dengan tatapan tajam itu.
"Jangan di-" ucapan Rio berhenti karena Kenzo meninggalkan mereka dengan tergesa-gesa.
Kenzo terus saja berjalan sambil melihat kearah lain terus, berniat untuk mencari sang istri.
"Kamu dimana, sayang?" batin Kenzo dengan pandangan gusar.
__ADS_1