
"Kamu berangkat saja dulu, aku nanti berangkat ke sekolah jam delapan siang."
Ucapan Almira membuat kegiatan Kenzo berhenti menatap gadis itu sedang rebahan sambil memainkan benda elektronik itu tanpa melihat kearahnya.
Kenzo merasa kesal karena di cuekki oleh Almira hanya karena sebuah ponsel, benda mati.
Dengan cepat, Kenzo menghampiri Almira lalu duduk di sebelahnya sambil memeluk bahu istrinya itu dengan erat, sehingga membuat Almira menegang karena terkejut dengan tiba-tiba yang di lakukan Kenzo.
Almira melirik kearah Kenzo yang langsung berhadapan dengan kedua mata yang sangat indah itu. Kenzo sangat tampan pagi ini, Almira akui itu benar adanya.
"Kenapa?" tanya Almira dengan nada pelan.
"Mau bareng berangkatnya. Nanti ada operasi tilang kendaraan bermotor di jalan saat kamu pergi ke sekolah. Kita berangkat bareng aja, biar kamu gak kena tilang lagi." jawab Kenzo dengan nada jelas tapi kegiatan memeluk Almira masih di lakukannya.
"Malu ambil terus kendaraan ku di sana. Kalau malu biar aku saja yang ambil, kamu tidak usah ikut campur." balas Almira sambil memutar bola matanya malas dengan nada ketus dan kesal.
"Sayang..." rengek Kenzo tidak terima dengan jawaban Almira yang ketus itu.
Kenzo makin memeluk sangat erat Almira, sampai membuat gadis itu susah nafas dan memukul lengan Kenzo dengan sedikit keras, tapi tidak ada rasa sakit apapun. Kenzo saat melihat Almira yang seperti susah nafas langsung saja dia sedikit melonggarkan pelukan mereka, hanya sedikit.
Ingat itu!
"Kenapa harus berangkat siang?" tanya Kenzo yang masih menggunakan nada tidak terima sambil menatap kearah Almira yang sedang menghela nafas lelah karenanya.
Tapi, Kenzo tidak peduli itu.
"Aku itu sudah kelas akhir, maka banyak sekali ujian sekolah yang harus ku kerjakan. Jadi aku sekarang masuk siang, mengerti?" ujar Almira mencoba bersabar menjelaskan kepada Kenzo agar faham.
Raut wajah Kenzo membuat Almira cengo dalam sekejap, karena Kenzo menampilkan raut wajah cemberut. Bagi Almira, Kenzo yang seperti ini sangat lucu dan gemas. Almira sangat suka dengan raut wajah cemberut Kenzo.
Kenzo membenamkan kepalanya ke bahu Almira membuat si empu geleng-geleng kepala sambil mengelus rambut hitam legam itu dengan sela-sela jarinya.
Almira tidak habis pikir dengan jalan pikiran Kenzo yang sangat susah di tebak.
"Udah sana berangkat."
__ADS_1
Perintah Almira membuat Kenzo menghela nafas kesal sambil menegakkan badannya dengan menatap kearah Almira yang tidak memakai hijab karena di dalam kamar. Almira tidak mempermasalahkan kalau Kenzo melihat rambut panjangnya, karena sebelum menikah Kenzo tidak sengaja melihat rambutnya saat Almira mengunci kamar.
Almira menampilkan senyuman kecil menatap kearah Kenzo yang langsung di anggukki lalu berdiri mengampil topi dinas Polisi.
Almira berjalan menghampiri Kenzo lalu mengambil kursi kecil dan menaikki menatap kearah Kenzo. Kenzo hanya diam menatap sang istri yang sekarang sedang membenarkan topi dinasnya dengan benar.
Hati Kenzo menghangat mendapat perlakuan perhatian kecil dari cewek yang di cintainya.
Kedua tangan Kenzo berada di pinggang Almira makin mendekatkan badannya ke badan Almira yang tidak tau. Almira kalau sedang fokus maka dia tidak akan merasa tsrganggu dengan apapun itu.
"Nunduk, Ken. Ini belakangnya." pinta Almira yang langsung di turuti oleh Kenzo tanpa mengucapkan kata apapun.
Saat Almira membenarkan di bagian belakang topi, hidung Kenzo mendarat di leher Almira yang sangat mulus membuat Kenzo mencium wangi badan Almira yang sangat nyaman dan candu baginya.
Betapa segar dan enaknya wangi Almira.
Kenzo makin menghirup aroma tubuh Almira dengan rakus membuat Almira menjadi geli dan menarik kepala Kenzo untuk menjaujkan dari lehernya. Kenzo mengerucutkan bibirnya tapi Almira tidak peduli.
Almira melipatkan kedua tangan di depan dada sambil menatap Kenzo dengan pandangan garang yang membuat Kenzo gemas melihatnya. Bukannya takut, Kenzo malah ingin sekali mencubit kedua pipi cubby itu.
"Sudah, sana berangkat." ujar Almira dengan nada biasa saja.
Kenzo yang melihat itu terkekeh kecil melihat istri tercinta yang sekarang bersikap sangat imut dan lucu itu.
"Aku ingin sekali kurung kamu, gemas banget." ucap Kenzo lalu mencium kening Almira dengan cepat lalu pergi meninggalkan gadis itu terdiam.
Melihat Kenzo yang mulai menghilang dari pandangan Almira. Gadis itu merubah raut wajahnya menjadi datar tidak ada ekspresi.
Sangat berbeda sekali dengan Almira yang tadi. Tersenyum seringai muncul di sudut bibirnya menatap lurus ke depan.
"Permainan ini makin sangat seru, betapa bahagianya diriku."
***
"Al, ayo berangkat."
__ADS_1
Ucapan Danera yang sedang menggedor pintu kamar Almira dengan keras tanpa mempedulikan raut wajah Nera yang kesal berada di sampingnya.
"DANERA, BERHENTI. GUE LAGI MANDI..." teriak Almira sangat kencang di dalam kamarnya agar sahabatnya bisa mendengar.
Danera memyengir tidak jelas mendengar ucapan Almira lalu menoleh kearah Nera yang sedang memandang tajam.
Melihat Almira yang sudah keluar membukakan pontu kamar, dengan cepat Danera menggandeng lengan gadis itu membuat si empu terkejut menatapnya.
"Kenapa lo?" tanya Almira sambil menaikkan satu alisnya menatap Danera.
Danera menyengir lebih dulu membuat Nera memutar bola matanya malas. "Takut sama Nera." jawab Danera membuat Almira langsung menatap sang sahabat gadis pendiam itu.
Almira diam memandang Nera yang sedang menatap Danera itu, pikiran Almira tiba-tiba muncul perkataan Ella yang berada di caffe kemarin.
Almira tidak tau harus bagaimana kepada Nera, sang sahabat.
Kemarin malam saat sedang berfikir, Almira malah melupakan pemikiran itu karena Kenzo mengajak dirinya ke pasar malam. Tidak tau harus gimana.
Danera yang berada di rangkulan Almira, menatap Almira dengan pandangan aneh. Tanpa mengucapkan suara apapun, Danera menepuk kening Almira membuat si empu tersadar dari lamunannya.
"Sorry." ucap Almira meminta maaf menatap Nera dan Danera secara bergantian memandang mereka.
Danera mengangguk mengerti, berbeda dengan Nera yang memandang intens membuat Almira tiba-tiba merinding sendiri.
"Ayo berangkat." ucap Nera dengan nada dingin dan tatapan sangat tajam beserta datar membuat Almira dan Danera mengangguk kepala mengiyakan dengan wajah takut.
Setelah melihat Nera berlalu pergi meninggalkan mereka yang masih berada di depan kamar Almira, mereka menghembuskan nafas lega saat melihat punggung Nera perlahan menghilang.
"Kaya monster." ucap Danera pelan sedikit berbisik kearah Almira.
"Betul kata lo, sangat mengeri-"
Sebelum Almira selesai berbicara ada suara teriakan yang sangat kencang dan menyeramkan membuat kedua gadis itu terlonjak kaget menatap sumber suara dengan wajah pucat.
"AYO BERANGKAT, KALAU LAMA GUE CINCANG KALIAN SATU SATU."
__ADS_1
Mendengar itu, Almira dan Danera seketika berlari sangat kencang menghampiri sumber suara itu dengan wajah tergesa-gesa.
"Mampus." umpat keduanya.